“Harusnya kamu sadar kalau kamu sangat tidak pantas untuk dia.” *** BRUK! “Aw!” pekik Lana. Lana tersungkur ketika ada tangan yang amat keras mendorong bahunya dan menyebabkan kacamatanya terlepas dari tempatnya bertengger. Ia merasakan lututnya amat nyeri ketika berciuman dengan jalanan yang berisi batu-batu krikil. Gadis itu menyipitkan matanya demi menemukan kacamata yang terjatuh. Namun, tak kunjung jua dia temukan. Lana mendengus, lalu berdiri dan memutar badan. Di hadapannya kini terdapat tiga gadis yang memakai seragam serupa dengannya. Gadis itu lagi-lagi menyipitkan matanya untuk dapat melihat siapa saja yang saat ini tengah berdiri di hadapannya, derita orang berkacamata tebal ketika benda itu terlepas. Di tengah adalah perempuan yang menyerangnya tadi pagi, tetapi dia sudah

