Part 28

2473 Kata
Di pagi harinya, Steve bangkit dari tempat tidurnya, ia berjalan menuju jendela kamarnya dan membuka tirai jendelanya untuk membiarkan sinar matahari pagi masuk ke setiap sudut kamarnya. Steve melirik jam dinding kamarnya yang menunjukkan pukul tujuh pagi, setelah itu Steve memilih untuk bersiap-siap mandi. Beberapa menit kemudian, Steve masuk keluar dari kamar mandi dan mengenakan pakaian kantornya dengan rapi. Steve membuka laci koleksi jam tangannya dan memilih salah satu dari jam tersebut dan mengenakannya. Kemudian dengan hati-hati ia menuruni satu persatu anak tangga untuk menuju lantai bawah rumahnya dan terlihat Cassey yang sedang sarapan di meja makan. “Alex mana ma?” tanya Steve membuka pembicaraan “Ke kantor” jawab Cassey “Kalau papa keluar kota lagi?” tanya Steve “Iya” jawab Cassey Steve mengangguk tanda paham. “Sini, makan bareng mama” ajak Cassey Steve mengangguk dan duduk berhadapan dengan Cassey. Steve mengambil beberapa roti dan melapisinya dengan selai srikaya. Steve melirik sekilas Cassey yang terus menatapi dirinya sambil tersenyum. “Kenapa senyum-senyum gitu ma? Wajah aku aneh?” tanya Steve Cassey menggeleng. “Terus kenapa ma?” tanya Steve “Mama dengar kamu udah baikan dengan Zanna ya?” tanya Cassey Steve mengangguk tanda mengiyakan. “Akhirnya! Mama senang banget tahu!” seru Cassey “Gak sabar deh lihat kalian nikah” sambung Cassey “Kalau itu masih lama, ma” ucap Steve “Kok masih lama?” tanya Cassey “Zanna mau berkarir dulu katanya” jawab Steve “Nikah sambil berkarirkan bisa” ujar Cassey “Tapi, gak baik maksa ma. Lagian aku juga berpikir nikah itu nanti aja” jelas Steve “Terus Alex gimana? Dia kan nunggu kamu nikah dulu baru dia bisa nikah” tanya Cassey “Soal itu nanti aku bicarakan dengan Alex” jawab Steve “Kasihan anak mama, sabar ya Alex sayang” ucap Cassey Steve menggeleng-gelengkan kepalanya melihat Cassey. ***** Zanna menatap Aleeza yang dari tadi hanya termenung sambil sesekali menarik nafas dan membuangnya kembali. Ya. Mereka sekarang berada di rumah Zanna. Aleeza menginap kembali di rumah Zanna dan sekarang mereka sedang duduk-duduk di halaman depan rumah Zanna. “Anu— lo kenapa? Ada masalah?” tanya Zanna segan Aleeza tersadar dan melihat sekilas ke arah Zanna. “Enggak kok” jawab Aleeza “Lo gak kerja?” tanya Zanna “Hmmm— harusnya iya sih kerja di cafe Alvis pagi ini” jawab Aleeza “Terus kenapa gak pergi?” tanya Zanna “Lagi malas aja” jawab Aleeza ‘Gak biasanya Aleeza malas gini’ batin Zanna Zanna kemudian menggoyang-goyangkan tubuh Aleeza. “Kenapa sih?” tanya Aleeza kesal “Keluar dari tubuh sahabat gue! Aleeza gak pernah malas gini!” seru Zanna “Lebay lo” ucap Aleeza datar Zanna terkekeh pelan. “Lo berwarna dikitlah Al! Bercanda setidaknya sedikit aja, setidaknya bisa punya pacar— hihi” goda Zanna Aleeza menghembuskan nafasnya pelan kemudian menatap serius Zanna. “Kenapa?” tanya Zanna “Pacar hanya untuk tambah beban bagi gue” jawab Aleeza “Ha?” tanya Zanna bingung “Gue aja gak ada uang untuk senang-senang, Zan. Boro-boro untuk kencan atau apalah itu namanya” jelas Aleeza Zanna menatap sedih Aleeza. “Jangan tatap gue kayak gitu, risih banget” ujar Aleeza “Dekatin sugar daddy aja, Al” saran Zanna “Gak, lo pikir gue mata duitan banget?” tanya Aleeza kesal “Ya ampun, Al. Gue bercanda” jawab Zanna Aleeza hanya mengerucutkan bibirnya tidak tahu merespon apa. “Eh lagian ya kayaknya-“ Zanna menghentikan ucapannya kemudian menatap Aleeza. “Kayaknya apa?” tanya Aleeza penasaran pada ucapan Zanna yang menggantung “Kayaknya— gue harus masuk ke dalam, hehe” jawab Zanna mengalihkan pembicaraan Aleeza hanya menatap bingung Zanna yang berjalan masuk ke rumahnya. ‘Nanti aja deh gue bilang, lagian masih tebakan gue doang Alvis kayak suka sama Aleeza. Siapa tahu gue salahkan?’ batin Zanna yang masih berdiri membelakangi pintu Bukhh! Zanna terdorong ke depan saat Aleeza membuka pintu. “Ya ampun, lo gak apa-apa?” tanya Aleeza Zanna hanya tertawa untuk menertawai kebodohannya. “Lagian lo ngapain berdiri di situ sih?” tanya Aleeza “Termenung bentar doang tadi, hehe” jawab Zanna Aleeza hanya menggeleng-gelengkan kepalanya melihat Zanna. ******* Steve melirik jam tangan yang ia kenakan. Jam itu menunjukkan pukul sembilan pagi. Steve sedang berada di kantor sekarang dan baru saja menyelesaikan rapatnya. Sekretaris Steve masuk dan memberikan beberapa berkas pada Steve. “Apa ini?” tanya Steve “Ini beberapa berkas orang-orang yang lolos seleksi tahap berkas, pak” jawab sekretaris Steve Steve mengangguk paham. “Kalau begitu, saya permisi pak” pamit sekretaris itu Steve hanya membalas dengan anggukan. Steve kemudian memeriksa masing-masing berkas itu. Steve tersenyum saat melihat berkas file Zanna lolos tahap pertama. Setelah memeriksa beberapa berkas, Steve kembali memanggil sekretarisnya. “Ada yang bisa saya bantu pak?” tanya sekretaris itu “Serahkan berka-berkas ini kepada HRD” jawab Steve sambil menyerahkan semua berkas-berkas tadi “Baik pak” balas sekretaris itu “Tahap selanjutnya seleksi wawancara kan?” tanya Steve “Iya pak” jawab sekretaris itu Steve menganggukkan kepalanya. “Oke, kamu boleh pergi” ucap Steve mempersilahkan “Baik pak” balas sekretaris itu Steve kembali menatap layar komputernya. Sesekali mengusap matanya yang terasa lelah menatap layar komputer itu. Drrrtt…. Drrtt… Drrrtt... Ponsel Steve berdering tanda panggilan masuk. Steve melihat siapa yang menghubunginya dan ternyata Sam. Steve menarik nafasnya kemudian menghembuskannya secara perlahan. Lalu ia menjawab panggilan itu. “Kenapa?” tanya Steve to the point “Eh Steve lo sibuk gak?” tanya Dean “Kok lo pakai nomor Sama lagi?” tanya Steve “Duh ponsel gue lupa gue charge, padahal pas tidur gue kira udah kecolok kabelnya ternyata belum, sedih banget kalau diingat-ingat” jawab Dean “Powerbank lo kemana?” tanya Steve “Gak berisi juga” jawab Dean sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal “Hmmm— sebenarnya ponsel gue rusak bukan gak ada baterai” ucap Dean jujur Terdengar Sam tertawa. “Kok bisa?” tanya Steve “Gara-gara kejar-kerjaran sama Sam waktu itu gak sengaja kebanting, mau diperbaiki udah gak bisa lagi” jawab Dean “Beli dong” ucap Steve “Iya nanti rencananya” balas Dean “Terus ada apa hubungi gue?” tanya Steve “Gue tadi nanya, lo sibuk gak?” tanya Dean “Gak terlalu” jawab Steve “Ada yang mau ketemu lo nih” ujar Dean “Siapa?” tanya “Ana” jawab Dean “Eh— Ana udah di Indonesia?” tanya Steve “Iya nih” jawab Dean “Tadi dia bilang mau ke rumah lo sih” sambung Dean “Berarti sekarang dia lagi on the way ke rumah gue?” tanya Steve “Iya” jawab Dean “Gue lagi di kantor sih, kalau dia nanya bilang gue selesaikan urusan kantor dulu ya” ucap Steve “Oke, gue mau beli ponsel dulu” pamit Dean “Oke” balas Steve Dean mengakhiri panggilan mereka. Steve kembali fokus pada kerjaannya. ****** Steve sudah sampai di rumahnya, ia turun dari mobil dan melangkahkan kakinya masuk ke dalam rumah. Steve bisa mendengar pembicaraan di ruang tamu. Steve memutuskan untuk mengecek ke ruang tamu dan ia menemukan Cassey dan seorang perempuan cantik yang tampak tidak asing baginya. “HAI!” seru perempuan itu sambil tersenyum semangat “Udah lama sampai di Indonesia, An?” tanya Steve “Baru hari ini dan gue langsung ke rumah lo” jawab perempuan itu yang ternyata bernama Ana Anahera Angel yang biasa dipanggil Ana ini sahabat kecil Steve dan sekarang sudah berusia 25 tahun. Umur Ana dan Steve memang sama-sama 25 tahun, namun sebenarnya Steve lebih lebih tua tiga bulan dari Ana. “Mama ke dapur dulu ya, kalian bincang-bincang aja dulu” ucap Cassey “Oke, tante” balas Ana “Gue ke kamar bentar ya” pamit Steve “Loh mau ngapain?” tanya Ana “Mau ganti baju, gue kan baru pulang dari kantor” jawab Steve “Oh iya, kalau gitu gue tunggu di sini ya” ujar Ana Steve mengangguk dan segera menuju kamarnya. Beberapa menit menunggu, akhirnya Steve datang ke ruang tamu. “Emang lo gak capek langsung ke sini dari bandara?” tanya Steve Ana menggeleng. “Lagi pula gue bakalan nginap di sini” jelas Ana “Nginap? Kok nginap?” tanya Steve “Keluarga gue kan udah di Amerika semua, Steve. Ya gue di sini gak ada rumahlah!” jelas Ana Steve mengangguk paham. Dia baru ingat. “Besok lo free gak?” tanya Ana “Iya, karena akhir pekan” jawab Steve “Kalau gitu temani aku besok main sama Dean dan Sam” ajak Ana “Oke, gue lihat dulu besok. Kalau gue gak bisa, lo aja yang main sama mereka” ujar Steve sambil melangkah pergi masuk ke kamarnya “O-oke” jawab Ana sambil menatap Steve yang perlahan berjalan menjauh ******** Steve sudah tiba di kamarnya, ia mengambil ponselnya dari tas kerjanya dan melihat beberapa panggilan tidak terjawab dari Zanna. Steve segera menghubungi Zanna kembali. Butuh waktu beberapa saat sampai Zanna menjawab panggilan tersebut. “Halo” sapa Steve “Iya” balas Zanna “Maaf ya tadi aku gak dengar panggilan dari kamu” ucap Steve “Iya, gak apa-apa” balas Zanna “Ada apa?” tanya Steve “Aku mau kasih kabar bahagia, hehe” jawab Zanna Steve tersenyum. Ia sudah tahu kabar yang Zanna maksud. “Apa tuh?” tanya Steve pura-pura tidak tahu “Aku lolos tahap pertama lowongan perusahaan kamu itu” jawab Zanna senang “Seriusan?” tanya Steve lagi “Iya, walaupun seleksi berkas doang sih” jawab Zanna “Itu udah bagus kok” balas Steve “Hmmm— emangnya kamu gak tahu kalau aku lolos? Masa HRD-nya gak kasih tahu CEO perusahaannya sih” ujar Zanna “Di kasih tahu sih” balas Steve “HA? BERARTI KAMU SEBENARNYA UDAH TAHU DULUAN DONG!” seru Zanna Steve tertawa kecil. “Iya” balas Steve “Kenapa gak kasih tahu aku sih? Aku udah deg-degan nih tadi” ucap Zanna “Ya nantikan bakalan dikasih tahu sama pengumumannya” balas Steve “Iya sih, tapi siapa tahu gitukan kamu mau kasih spoiler­— hihi” ucap Zanna “Gak boleh” balas Steve “Iya-iya, lagian aku bercanda doang kok” ujar Zanna “Eh besok aku mau main ke rumah kamu ya?” izin Zanna “Boleh” jawab Steve “Aku udah ngantuk nih, aku tidur duluan ya” pamit Zanna “Oke, good night” ucap Steve “Iya, kamu juga” balas Zanna Zanna segera memutuskan panggilan itu. Tok! Tok! Tok! Ada seseorang yang mengetuk pintu kamar Steve. Steve segera membuka pintu tersebut dan menemukan Ana yang sudah mengerutkan dahinya kesal. “Ada apa?” tanya Steve “Tadi mama lo cerita sama gue” jawab Ana “Terus?” tanya Steve bingung “Kata tante lo dijodohin, terus lebih parahnya dijodohin sama Zanna!” seru Ana kesal “Gue ngerti lo kaget, tapi lo tenang aja gue gak apa-apa kok” balas Steve “Gak apa-apa gimana? Dia kan mantan kamu dan dia juga dulu udah selingkuhin kamu kan?” tanya Ana “Masalah itu udah selesai kok, semua hanya salah paham. Zanna gak pernah selingkuh” jelas Steve Ana mengepalkan tangannya kuat. “Gak. Gue gak setuju sama perjodohan ini” ucap Ana tegas “Kenapa jadi lo yang gak setuju?” tanya Steve “Lo gak ingat masalah waktu itu? Masa lo mudah banget maafkan dia sih!” seru Ana “Udah ya, An? Gue udah bilang masalahnya udah jelas, dia udah jelasin semuanya sama gue” ulang Steve “Terus lo percaya aja gitu sama penjelasan dari dia? Mudah banget!” seru Ana “An, ini udah malam. Dan gue rasa gak ada yang perlu dipermasalahkan lagi” ucap Steve tenang “Kalau gitu jelasin ke gue kenapa besok gak bisa temani gue main!” seru Ana “Padahal lo bilang besok free” sambung Ana “Oh gue kira besok Zanna ajak ke luar, ternyata besok dia mau main ke sini” jawab Steve Ana diam. “Udah selesaikan?” tanya Steve Ana hanya bisa mengangguk. Steve pun menutup kembali pintu kamarnya meninggalkan Ana yang masih berdiri di depan pintu kamarnya. ‘Gue harus bujuk Steve buat batalin perjodohan ini’ batin Ana ******** Keesokan harinya, Zanna sekitar pukul sepuluh pagi sudah sampai di depan pintu rumah Steve. Zanna segera membunyikan bel pintu rumah Steve. Beberapa detik kemudian, pintu tersebut terbuka dan Zanna menemukan seorang bibi yang merupakan asisten rumah tangga keluarga Steve yang membuka pintunya. “Eh- neng Zanna” ucap bibi itu “Iya, bi” balas Zanna sambil tersenyum “Masuk, neng” ucap bibi mempersilahkan Zanna mengangguk dan melangkahkan kakinya masuk ke dalam rumah Steve. “Steve ada di rumahkan, bi?” tanya Zanna “Ada kok, neng. Lagi di kamar, sebentar ya biar bibi panggilkan” jawab bibi Zanna mengangguk paham dan duduk di sofa ruang tamu untuk menunggu Steve. Zanna mengambil ponselnya dari tas kecilnya saat mendengar nada panggilan dari ponselnya. Ia melihat panggilan tersebut adalah panggilan dari Alvis. “Halo” sapa Zanna ketika sudah menjawab panggilan tersebut “Halo, Zan. Lo lagi di mana sekarang?” tanya Alvis “Lagi di rumah Steve, kenapa?” tanya Zanna “Oh kalau gitu nanti aja deh gue ke rumah lo” jawab Alvis “Mau ngapain?” tanya Zanna “Mau main-main aja sih, bolehkan?” tanya Alvis “Boleh” jawab Zanna “Oke” balas Alvis Alvis pun memutuskan panggilan tersebut. Zanna memasukkan kembali ponselnya ke dalam tas. ‘Lama banget’ batin Zanna Zanna melihat seorang perempuan keluar dari kamar tamu. ‘Kayak kenal’ batin Zanna Perempuan itu mendatangi Zanna. “Halo” sapa perempuan itu Zanna bangkit berdiri. “Halo juga” sapa Zanna kembali “Lo masih ingat gue kan?” tanya perempuan itu Zanna hanya mengangguk. “Gue Ana” ucap Ana memperkenalkan diri ‘Oh iya, Ana!’ batin Zanna baru ingat “Sejujurnya gue gak nyangka kita bakalan ketemu lagi” ucap Ana “Gue juga” balas Zanna “Gue juga udah dengar cerita seluruhnya dari tante” jelas Ana “Benar-benar di luar ekspetasi gue lo bisa balikan sama Steve, setelah semua yang lo lakukan ke dia” balas Ana “Soal itu-“ “Iya gue tahu, cuma salah paham?” tanya Ana memotong ucapan Zanna Zanna mengangguk. Ana tersenyum. “Tapi, kok lo di sini?” tanya Zanna “Kemarin gue baru balik dari Amerika dan gue bakalan nginap di rumah Steve untuk sementara waktu” jawab Ana “Oh” balas Zanna ‘Kenapa Steve tadi malam gak cerita ya kalau Ana udah balik dari Amerika? Malah nginap pula’ batin Zanna
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN