Zanna sudah sampai di depan minimarket tempat Aleeza bekerja.
Zanna mengintip sedikit Aleeza yang sedang melayani para pelanggan sebagai kasir.
‘Tunggu sepi aja deh’ batin Zanna melihat minimarket itu lumayan ramai
Zanna duduk di kursi yang tepat berada di samping minimarket itu.
Setelah cukup lama menunggu, Zanna mengintip sekilas suasana minimarket itu. Terlihat sepi. Hanya ada Aleeza yang sedang berdiri di bagian kasir. Para pelanggan sudah selesai berbelanja.
Zanna bangkit berdiri dan melangkah masuk ke dalam minimarket.
“Selamat dat-“
Ucapan Aleeza terhenti saat melihat Zanna yang datang. Aleeza mengalihkan pandangannya dari Zanna.
‘Ngapain dia ke sini?’ batin Aleeza
Zanna berjalan-jalan mengelilingi minimarket. Ia ingin membeli sesuatu tetapi ia bingung ingin membeli apa.
Aleeza memperhatikan Zanna yang dari tadi hanya melihat-lihat sekitar.
Merasa diperhatikan, Zanna menoleh ke belakang melihat Aleeza yang sudah mengalihkan pandangan dari dia.
Zanna memutuskan untuk mengambil sebotol minuman rasa cokelat lalu pergi menuju kasir.
“Delapan ribu lima ratus rupiah” ungkap Aleeza
Zanna mengangguk lalu mengeluarkan uang sepuluh ribu rupiah. Aleeza pun menerima uang itu dan mengembalikan seribu lima ratus rupiah lagi pada Zanna.
Setelah memasukkan kembalian belajaannya ke dalam tas, Zanna berdiri sejenak di depan Aleeza. Kemudian Zanna berdehem untuk mencairkan suasana.
Aleeza menatap Zanna sekilas kemudian mengalihkan pandangannya malas dari Aleeza.
“Halo Aleeza” sapa Zanna sambil tersenyum canggung
Aleeza hanya diam tidak menanggapi.
“Aleeza” panggil Zanna lagi
“Apa?” tanya Aleeza ketus
“Gue mau-“
“Kalau gak ada lagi yang mau dibeli, silahkan keluar” ucap Aleeza memotong ucapan Zanna
“Gak boleh galak-galak sama pelanggan bu Aleeza” ucap Zanna
“Duh pergi deh!” seru Aleeza
“Gue mau jelasin kalau Gianina itu fitnah gue, dia sendiri yang bilang” ucap Zanna
“Bukti?” pinta Aleeza
“Gak gue rekam sih percakapannya, gue bego banget” ucap Zanna
“Syukur deh lo sadar” balas Aleeza
“Heh gini-gini gue jago matematika ya!” seru Zanna
“Kan diri lo sendiri tadi yang bilang lo bego, bukan gue yang bilang” jelas Aleeza
“I-iya sih” balas Zanna sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal
“Tapi, emang bukan gue” gumam Zanna
“Kalau emang bukan lo kenapa teman yang lain juga bilang hal yang sama?” tanya Aleeza
“Kalau soal itu gue juga gak tahu, tapi emang asli bukan gue” jawab Zanna
“Berarti lo tahu dari Amanda gue ada di sini?” tanya Aleeza
“Iya— hehe” jawab Zanna
Aleeza menepuk jidatnya.
“Jangan marah sama dia, gue yang paksa tadi biar hubungi lo” ucap Zanna
“Yang marah sama dia siapa? Gue gak marah” balas Aleeza
“Kalau sama gue masih marah?” tanya Zanna excited
Aleeza hanya menatap datar pada Zanna.
“Oh masih ya” ucap Zanna sendu
“Habisnya ponsel lo tiap gue hubungi gak aktif mulu” sambung Zanna
“Gue blokir” balas Aleeza
Mulut Zanna terbuka lebar. Kenapa dia tidak sadar kalau dia diblokir?
“Tutup mulut lo!” ucap Aleeza
Zanna segera menutup mulutnya lalu mengerucutkan bibirnya.
“Lo tega banget blokir nomor gue!” seru Zanna
“Lo pergi deh, pelanggan gue udah datang” usir Aleeza
Zanna melihat beberapa orang datang dan masuk ke dalam minimarket.
“Gue tunggu di luar ya!” seru Zanna lalu melangkah keluar
“Gak usah, gue gak bakalan ke luar” balas Aleeza
“Tetap gue tunggu!” seru Zanna
Aleeza menghembuskan nafasnya secara perlahan kemudian menggeleng-gelengkan kepalanya melihat Zanna.
*******
Steve baru saja menyelesaikan rapatnya.
Baru saja ia ingin menghubungi Zanna, namun lagi dan lagi ada yangmengetuk pintu ruangannya.
“Masuk!” titah Steve
Ana bersama Dean dan Sam masuk ke dalam ruangan Steve.
“Mereka lagi” gumam Steve pelan
“Suram banget ekspresi lo lihat kita bertiga datang ke sini” ujar Sam
“Enggak tuh! Biasa aja” balas Steve
“Dih! Orang jelas banget dari wajah lo” ucap Sam
Steve kali ini tidak menanggapi.
“Lo lagi sibuk, Steve?” tanya Dean
“Lo lihat gue sekarang lagi sibuk atau enggak?” tanya Steve balik
“Menurut gue enggak sih” jawab Dean
Steve hanya diam tidak menanggapi. Steve melihat kea rah Ana yang sedang memperhatikan isi ruangannya.
“An, gue dengar lo ngajuin diri untuk jadi sekretaris gue?” tanya Steve
“Iya” jawab Ana semangat
“Ha? Serius?” tanya Dean
Ana mengangguk.
“Emang sekretaris lo mau kemana?” tanya Dean
“Dipecat” jawab Sam
“Heh mulut lo!” seru Steve
“Dia di depan” sambung Steve
“Gak dengar dia, santai aja” ucap Sam
Steve menggeleng-gelengkan kepalanya.
“Dia mau ambil cuti” ucap Steve
“Walaupun cuman sebentar, gue harap kita dapat bekerja sama dengan baik ya” ucap Ana smabil tersenyum
Steve hanya mengangguk.
“Tapi, kenapa lo kirim CV ke bokap gue? Kenapa gak ke gue secara langsung?” tanya Steve
“Biar prosesnya lebih cepat kalau dari bokap lo” jawab Ana
Steve mengangguk paham.
“Mulai kapan lo bakalan jadi sekretaris Steve?” tanya Sam
“Mulai Senin besok kayaknya” jawab Ana
“Cepat juga” respon Sam
Ana mengangguk setuju.
“Kalian gak ada kesibukan ya?” tanya Steve pada Sam dan Dean
“Gue tanpa sibuk kayak lo, uang gue tetap jalan di rekening” pamer Dean
“Gue juga” balas Sam
“Halah! Ikut-ikut gue aja sih lo!” seru Dean
“Apa sih? Kan emang iya!” seru Sam
“Siapa juga yang sengaja mau ikut-ikut lo?” tanya Sam kesal
“Ya biasa ajalah responnya!” seru Dean balik
“Ya kan lo lebih dulu yang fitnah gue ikut-ikutan lo” balas Sam
Dean menjulurkan lidahnya.
“Dean, lo terus yang mulai duluan ya! Ngeselin banget!” seru Sam
Dean tertawa pelan.
“Ribut lagi” ucap Ana
“Gue udah cukup terbiasa dengan pertengkaran mereka” ujar Steve
Ana tertawa kecil.
“Kayaknya mereka musuhan di kehidupan yang lalu” ucap Ana
“Maaf nih ya, tapi di kehidupan yang lalu gue gak kenal sama dia” ucap Sam
“Emang lo ingat kehidupan yang lalu lo jadi apa dan ngapain aja?” tanya Steve
“Enggak sih, tapi feeling gue mengatakan bahwa gue gak kenal sama si bodoh ini” jawab Sam
Dean menatap kesal ke arah Sam.
“Bahkan di kehidupan yang akan datang gue harap gak bakalan kenal sama lo!” seru Sam
“Ya ampun, tega banget kamu bang!” seru Dean dramatis
“Biasanya sih kalau berharap kayak gitu yang terjadi malah kebalikannya” balas Ana
“Kalau gitu gue berharap bisa ketemu lo lagi di kehidupan yang mendatang” ucap Sam
“Biasanya sih kalau sengaja dan gak ikhlas kayak gitu, harapan yang terkabul itu harapan yang pertama tadi” balas Ana
Dean tertawa.
“Kalau gitu, terserah sama Tuhan aja deh” ucap Sam frustasi
Steve tertawa pelan sambil menggeleng-gelengkan kepalanya melihat kelakuan teman-temannya itu.
*******
Zanna sudah menunggu hampir satu setengah jam di luar minimarket. Namun, Aleeza tidak kunjung ke luar.
Zanna mengintip ke dalam minimarket.
“Woi!” seru seseorang
Zanna memegang dadanya karena kaget dengan panggilan seseorang.
Zanna mengatur nafasnya saat melihat orang itu adalah Aleeza.
“Ngapain lo ngintip-ngintip kayak maling?” tanya Aleeza
“Habisnya lo lama banget ke luar” jawab Zanna
“Baru aja sepi” balas Aleeza
“Lagian gue gak ada suruh lo tunggu, lo sendiri yang inisiatif” sambung Aleeza
“Buktinya lo ke luar juga” guman Zanna pelan
“Apa lo bilang?” tanya Aleeza yang tidak mendengar apa yang dikatakan Zanna karena suara Zanna yang terlalu kecil
“Gak ada” jawab Zanna
“Buruan ngomong!” seru Aleeza
“Gue mau jelasin yang tadi aja sih” ujar Zanna
Aleeza menghembuskan nafas berat sambil menatap Zanna.
“Lebih baik lo pulang aja, lo datang ke sini itu gak akan mengubah apapun. Gue bakalan tetap marah sama lo dan gue bakalan makin marah kalau lo datang-datang terus ke sini. Karena itu mengganggu. Gue gak nyaman.” jelas Aleeza
Zanna menundukkan kepalanya.
“Gue jadi bingung mau gimana lagi” ujar Zanna
“Tapi, terima kasih ya” sambung Zanna
“Terima kasih untuk apa?” tanya Aleeza bingung
“Walaupun lo marah sama gue, tapi lo tetap mau ngobrol-ngobrol kayak gini” jawab Zanna
“Cara lo usir gue juga gak kasar, gue terima kasih banget” sambung Zanna
“Dan maafin gue kalau gue emang mengecewakan lo” sambung Zanna lagi
Aleeza menatap Zanna yang kelihatan sangat sedih. Akan tetapi, ia tidak punya pilihan lain. Dia memang kecewa pada Zanna dan juga kecewa pada dirinya sendiri. Ia sama sekali tidak bermaksud untuk menjadi beban bagi Zanna. Karena, hanya Zanna saja yang awalnya mau berteman dengan dirinya tanpa melihat status.
“Kalau gitu, gue pulang dulu ya” pamit Zanna
Aleeza mengangguk. Zanna pun melangkah pergi untuk memesan taxi di seberang.
“Hati-hati, Zan” gumam Aleeza pelan
*******
Sekitar tiga hari kemudian, Zanna berada di rumahnya yang sepi. Zanna duduk di sofa ruang tamunya.
Zanna memijit keningnya pelan.
Ting!
Sebuah pesan masuk terdengar dari ponsel Zanna. Zanna mengambil ponselnya dan membuka notifikasi dari sebuah e-mail.
Zanna membelalakkan matanya saat melihat isi dari e-mail tersebut. Zanna menutup mulutnya masih tidak percaya.
Tok! Tok! Tok!
Seseorang mengetuk pintu rumahnya. Zanna segera berlari untuk membuka pintu itu dan menampakkan Steve yang tengah berdiri di depan pintu.
Zanna tidak dapat menahan rasa senangnya kemudian segera memeluk Steve.
Steve yang terkejut dengan tindakan Zanna yang memeluk dirinya secara tiba-tiba hanya bisa menyerngitkan dahi bingung kenapa kekasihnya ini terlihat sangat senang.
“Kamu kenapa?” tanya Steve sambil membalas pelukan gadisnya itu
Zanna melepas pelukannya dari Steve.
“AKU LOLOS!” seru Zanna berteriak senang
“Lolos apa?” tanya Steve masih bingung
“Lolos seleksi wawancara perusahaan kamu” jawab Zanna dengan senyum yang masih mengembang
“Oh iya ya, pengumumannya hari ini” ucap Steve
Zanna mengangguk.
“Berarti kamu resmi jadi pegawai perusahaan aku dong?” tanya Steve
“IYA! MAKANYA AKU SENANG BANGET!” seru Zanna
Steve tersenyum melihat Zanna yang masih memeriksa e-mail itu di ponselnya.
“Mulai kapan kerjanya?” tanya Steve
“Mulai Senin besok, pak” jawab Zanna formal
“Pak?” tanya Steve
“Aku kan pegawai kamu, ya panggil pak” jawab Zanna
“Khusus kamu gak apa-apa deh. Gak perlu panggil bapak” pinta Steve
“Gak mau. Pokoknya kalau di kantor, aku bakalan bicara formal sama kamu” tolak Zanna
“Terserah kamu deh kalau gitu” ucap Steve
“Kalau aku ada salah, tegur aja ya. Jangan segan-segan, karena kalau di kantor status hubungan kita harus dipinggirkan terlebih dahulu. Biar lebih professional” jelas Zanna
“Iya-iya, gak bakalan pilih kasih” ucap Steve
Zanna mengangguk sambil tersenyum.
“Oh iya, kita masih di depan pintu!” seru Zanna sambil tertawa pelan
“Ayo masuk!” ajak Zanna
Steve masuk ke dalam rumah Zanna dan mereka duduk di sofa yang ada di ruang tamu.
“Aku pikir tadi kamu senang karena udah berhasil baikan sama Aleeza dan Gianina” ucap Steve
Senyum Zanna seketika pudar saat mendengar ucapan Steve.
Kemudian Zanna menggelengkan kepalanya.
“Belum, mereka masih marah” balas Zanna
“Jadi sekarang kamu gimana?” tanya Steve
Zanna mengedikkan bahunya tanda tidak tahu harus bagaimana.
Steve menghela nafasnya.
“Sekarang kamu fokus aja untuk kerja hari Senin. Jangan sampai terlambat. Biarin teman-teman kamu tenang dulu dan padam dulu amarahnya” jelas Steve
Zanna mengangguk setuju dengan ucapan Steve.
“Kira-kira pegawai kamu yang lain bakalan suka sama aku gak ya?” tanya Zanna
“Yang penting kamu di sana untuk kerja kan?” tanya Steve balik
“Tapi, lingkungan kerja penting juga” jawab Zanna
“Pasti suka kok. Yang penting kamu ramah sama mereka” ucap Steve lembut
Zanna mengangguk paham.
“Tapi, kalau ada yang ganggu kamu atau ada yang mau macam-macam sama kamu, kamu harus secepatnya lapor ke aku” ucap Steve
Zanna tertawa sambil mengangguk.
“Jangan ketawa, aku serius. Aku juga gak mau kamu kenapa-kenapa” ujar Steve
“Iya sayang iya” balas Zanna
“Ana juga kerja di perusahaan aku mulai Senin besok” ungkap Steve
“Jadi apa? Pegawai biasa?” tanya Zanna
“Sekretaris aku” jawab Steve
“Ha? Kok bisa dia jadi sekretaris kamu?” tanya Zanna
“Terus sekretaris kamu yang sekarang gimana?” tanya Zanna lagi
“Sekretaris aku yang sekarang mau ambil cuti selama sebulan” jawab Steve
“Jadi, Ana inisiatif sendiri melamar kerja jadi sekretaris aku sama papa” sambung Steve
“Padahal aku juga pengen jadi sekretaris kamu, ikut kamu ke mana-mana” ujar Zanna
Steve tersenyum tipis.
“Ana sementara aja jadi sekretaris aku, kalau kamu kan nanti bakalan jadi istri aku” jelas Steve
Pipi Zanna memerah.
“Ih kamu bisa aja ngomongnya!” seru Zanna
“Kan benar! Jadinya kamu bisa ikut aku ke mana-mana, kamu juga bakalan ketemu aku setiap hari karena kita serumah” jelas Steve
“I-iya sih” balas Zanna
“Ya udahlah, gak apa-apa” sambung Zanna
Steve hanya menanggapi dengan senyuman.
*******
Alvis kembali tiba ke minimarket tempat Aleeza bekerja.
“Selamat datang” ucap Aleeza saat Alvis masuk ke dalam minimarket
Alvis menelusuri minimarket untuk mencari pembalut luka. Namun tak kunjung menemukan pembalut luka tersebut. Alvis berjalan menuju kasir.
“Di sini ada pembalut luka kan?” tanya Alvis
“Ada” jawab Aleeza
“Di mana ya? Kok gue gak nemu” tanya Alvis
Aleeza keluar dari meja kasir dan berjalan menuju rak yang ada pembalut lukanya.
“Ini apa?” tanya Aleeza dengan ekspresi datar
“Oh iya! Padahal tadi gue udah lewat dari ini— hehe” jawab Alvis
Aleeza diam. Tidak menanggapi dan segera kembali masuk ke meja kasir.
“Terima kasih udah bantu gue cari ini” ujar Alvis
‘Apa dia marah sama gue?’ batin Alvis
“Emang tugas gue kok, santai aja” ucap Aleeza
“Gue beli ini aja ya” ucap Alvis sambil menyerahkan pembalut luka itu pada Aleeza
Aleeza segera scan pembalut luka itu dan menyebut harga yang harus dibayar oleh Alvis.
Alvis menyerahkan selembar uang dua puluh ribu rupiah kemudian memberikannya pada Aleeza. Aleeza pun mengembalikan sisa uang Alvis.
“Terima kasih. Selamat datang kembali” ucap Aleeza sambil menyerahkan kantong plastik berisikan pembalut luka tadi
Alvis mengangguk kemudian melangkah pergi. Namun, baru saja beberapa langkah ia berjalan pergi, Alvis kembali lagi menemui Aleeza.
“Ada apa?” tanya Aleeza
“Gue mau minta maaf” jawab Alvis
“Minta maaf karena apa?” tanya Aleeza
“Untuk yang camping waktu itu, gue gak bermaksud menganggap lo seperti barang. Jadi, gue minta maaf ya” jawab Alvis merasa bersalah
“Hm” balas Aleeza mengiyakan
“Gue waktu itu cuman-“
“Iya gue paham, lebih baik lo pergi aja dari sini” ucap Aleeza memotong ucapan Alvis
“Paham apa?” tanya Alvis
“Gue tahu kok lo cuman gunakan gue untuk menghindari perasaan lo ke Zanna. Makanya lo bilang di camping waktu itu kalau lo suka gue, biar Zanna gak tahu kalau lo suka dia” jelas Aleeza
“Gue emang suka sama Zanna, tapi gue gak bermaksud gunakan lo untuk-“
“Udah deh, Vis. Gue jadi kesal lihat lo ada di sini” ucap Aleeza yang lagi-lagi memotong ucapan Alvis
Alvis menghembus nafasnya berat.
“Gue tulus pengen berteman sama lo” ucap Alvis
“Gue juga” balas Aleeza
“Tapi, mood gue sekarang lagi gak bagus. Jadi tolong jangan ganggu gue dulu” sambung Aleeza
Alvis mengangguk paham kemudian permisi untuk pamit pergi pada Aleeza.
Aleeza hanya menatap punggung Alvis yang semakin menjauh.
********
Keesokan harinya, Zanna bangun dari tempat tidurnya. Ia membuka tirai jendela kamarnya dan segera bersiap-siap untuk mandi.
Setelah selesai mandi dan berpakaian, terdengar ponsel Zanna yang berdering tanda ada panggilan masuk.
“Halo, ma” sapa Zanna saat menjawab panggilan dari ibunya
“Halo, sayang. Kamu baik-baik ajakan di sana?” tanya Hanna
“Iya, ma. Mama sama papa tenang aja ya” jawab Zanna
“Papa dan mama bakalan balik besok” ucap Hanna
“Iya ma, mama sama papa hati-hati ya” ucap Zanna
“Iya, sayang” balas Hanna
“Kamu mau ke mana hari ini?” tanya Hanna
“Mau belanja pakaian, ma” jawab Zanna
“Bukannya pakaian kamu masih banyak ya?” tanya Hanna
“Masih, ma. Cuman pakaian resmi aku sedikit, hari Senin ini aku kan udah mulai kerja di perusahaan Steve” jawab Zanna
“Selamat ya sayang! Akhirnya bisa kerja juga” ucap Hanna
“Iya, ma. Terima kasih” balas Zanna
“Gimana kalau besok kita makan-makan sebagai acara syukuran kamu udah diterima kerja?” tanya Hanna
“Emang papa dan mama gak capek besok harus buat acara lagi?” tanya Zanna
“Enggak kok” jawab Hanna
“Kalau gitu, terserah mama aja deh” balas Zanna
“Jangan lupa ajak Steve dan teman-teman kamu. Kalau perlu ajak juga orangtua Steve” ujar Hanna
“Iya, ma” balas Zanna
“Oke, mama harus pergi sayang” pamit Hanna
“Iya, ma” balas Zanna
Hanna memutuskan panggilan itu. Zanna pun bergegas menuju mall untuk berbelanja beberapa pakaian.