Part 32

2849 Kata
Steve bergegas keluar dari kamarnya dan di lantai bawah ia bertemu dengan Cassey. “Eh- mama udah pulang?” tanya Steve “Udah” jawab Cassey “Papa mana, ma?” tanya Steve “Ya, seperti biasa. Masih di luar kota. Ada urusan” jawab Cassey “Jadi mama balik sendiri dari luar kota ke sini?” tanya Steve Cassey mengangguk. “Kamu nanti kalau udah menikah dengan Zanna, jangan lupa sama dia ya” ujar Cassey “Emang papa lupa sama mama?” tanya Steve “Enggak sih” jawab Cassey “Tadi aja papa kamu video call mama loh” pamer Cassey sambil tersenyum malu Steve tersenyum tipis melihat ibunya yang masih kelihatan cantik ini tersenyum. “Tenang aja, ma. Aku usahakan selalu ingat sama istri dan anak” ujar Steve “Mantap! Kayak gitu baru anak mama” puji Cassey Steve hanya menganggapi dengan senyuman. “By the way, kamu mau kemana pagi-pagi begini?” tanya Cassey “Ke rumah Zanna, ma” jawab Steve “Ada apa emangnya?” tanya Cassey “Mau main-main aja, ma” jawab Steve berbohong “Oh ya udah, hati-hati ya” ujar Cassey Steve mengangguk kemudian melangkah pergi dengan mobil miliknya. Sesampainya di rumah Zanna, Steve turun dari mobil dan segera mengetuk pintu rumah Zanna. Butuh waktu beberapa saat sampai Zanna membuka pintu itu. “Kamu-“ Ucapan Steve terhenti saat Zanna memeluk dirinya dengan erat. Steve tidak jadi berbicara. Ia membiarkan Zanna memeluknya. Tidak lupa, Steve juga membalas pelukan Zanna sambil mengusap pelan bahu Zanna agar gadis itu merasa tenang. Zanna melepas pelukannya dengan Steve lalu mengajak Steve untuk berbicara di sofa yang berada di ruang tamu. “Mama kamu mana?” tanya Steve “Ke luar kota lagi” jawab Zanna Steve mengangguk paham. Ia bisa melihat kantung mata Zanna yang sedikit hitam karena kurang tidur. “Kenapa? Ada masalah apa?” tanya Steve “Aleeza pinjam uang dari aku terus kemarin tiba-tiba dia balikin semua uangnya. Aku hubungi untuk nanya alasannya tapi dia gak jawab panggilan aku” jelas Zanna Flashback On ‘Duh kok gak diangkat-angkat sih’ batin Zanna Zanna kembali mencoba menelepon Aleeza berkali-kali sampai gadis itu mengangkat panggilan dari Zanna. “Syukurlah lo angkat panggilan dari gue” ujar Zanna “Ck, kenapa?” tanya Aleeza ketus “Kok nada bicara lo ketus gitu?” tanya Zanna kaget “Jangan banyak bacot! Ada apa?” tanya Aleeza yang lagi-lagi dengan nada ketus ‘Dia lagi badmood kali ya?’ batin Zanna “Gue mau nanya, kenapa lo kembalikan duit yang kemarin?” tanya Zanna “Biar gak nyusahin lo” jawab Aleeza “Ha? Kan gue udah bilang gak nyusah-“ “Zan, kalau menurut lo gue ini beban. Kenapa lo selama ini sok baik sama gue?” tanya Aleeza “Ha? Maksud lo apa ngomong gitu?” tanya Zanna bingung “Gue udah tahu semuanya, jadi lo gak usah sok baik lagi sama kita” jawab Aleeza “Kita? Siapa?” tanya Zanna “Gue dan Amanda” jawab Aleeza “Apa sih? Maksud lo apa? Gue gak paham” tanya Zanna bingung “Lo gak usah pura-pura bodoh deh” jawab Aleeza Aleeza memutuskan panggilan itu. Zanna menyerngitkan dahinya karena bingung. ‘Amanda?’ batin Zanna Zanna kembali mencoba menghubungi Aleeza namun tidak dijawab. Zanna memutuskan untuk menghubungi Amanda. Dan untungnya dijawab oleh Amanda. “Halo, Man” sapa Zanna “Kenapa?” tanya Amanda ketus “Gue mau nanya, tadi Aleeza kok kayak marah ya sama gue?” tanya Zanna “Ya salah lo sendiri sok baik sama kita” jawab Amanda “Sok baik gimana?” tanya Zanna “Ya lo suka ceritain kita di belakang. Padahal kita udah sahabatan lama” jawab Amanda “Jangan-jangan selama itu juga lo sering ceritain kita di belakang?” tanya Amanda “Jangan-jangan lo gak pernah anggap kita sebagai sahabat lo?” tanya Amanda lagi “Gue anggap kok!” seru Zanna “Terus kenapa ceritain kita dari belakang?” tanya Amanda “Gak pernah! Sejak kapan gue ceritain kalian dari belakang? Lo tahu dari siapa?” tanya Zanna “Gianina yang bilang” jawab Amanda “HA? KOK DIA FITNAH GUE SIH?” tanya Zanna kesal “Maling mana ada yang mau ngaku, teman-teman kita yang lain juga pada bilang lo itu suka ceritain orang lain” jawab Amanda “Teman-teman siapa?” tanya Zanna “Teman kuliah kita dulu” jawab Amanda “Gianina bilang apa?” tanya Zanna “Gianina cerita kalau Lo bilang Aleeza itu berteman sama lo karena uang doang, tiap susah minta duit mulu. Nyusahin dan beban banget! Terus lo bilang kalau ayah gue dulu pernah korupsi makanya sekarang kaya. Apa-apaan lo? Gue bahkan gak pernah dengar rumor bokap gue korupsi!” jelas Amanda dengan penuh emosi “Lo juga cerita ke dia kalau bokap gue pernah selingkuh, apa sih ngarang lo ya?” tanya Amanda “Manda, dengarin gue ya. Gue gak pernah cerita tentang itu ke dia” ujar Zanna “Dia aja kali yang ngarang” sambung Zanna “Buktinya teman-teman kuliah kita juga bilang lo ngejelekin gue sama Amanda” balas Amanda “Gak ada, Man. Gue serius-“ “Bodo amat. Gue kecewa besar sama lo!” seru Amanda memotong ucapan Zanna “Man, bukan gue-“ Amanda memutuskan panggilan itu. Zanna mulai menangis. Ia tidak tahu kenapa bisa jadi begini, padahal ia memang tidak pernah menceritakan sahabatnya dari belakang. “Enggak bisa! Gue harus hubungi Gianina” ucap Zanna Zanna mengusap air matanya dan mulai menghubungi Gianina. “Halo” sapa Gianina “Gia, lo cerita apa aja sama Aleeza dan Amanda?” tanya Zanna “Ya sesuai dengan yang lo pernah ceritain ke gue lah” jawab Gianina “Gue gak pernah ya ceritain yang buruk-buruk sama lo tentang mereka!” seru Zanna membantah “Ups!” seru Gianina “Emang gak ada sih” sambung Gianina “Terus kenapa lo fitnah gue?” tanya Zanna “Gue iri” jawab Gianina “Iri? Iri kenapa?” tanya Zanna “Karena hidup lo sesempurna itu, sementara gue enggak” jawab Gianina “Lo punya keluarga yang harmonis, punya pacar kayak Steve, sahabat yang baik kayak Aleeza dan Amanda” sambung Gianina “Lo kenapa sih? Lo sahabat gue juga” ucap Zanna “Udah deh! Lo gak paham!” seru Gianina “Keluarga gue hancur, orangtua gue juga pisah. Gue iri sama lo yang semuanya ada!” sambung Gianina Zanna menutup mulutnya, ia tidak menyangka selama ini menganggap orang seperti Gianina sebagai sahabatnya. “Padahal gue udah senang lo putus sama Steve, eh malah balikan lagi! Hadeh!” seru Gianina “Jadi, selamat menikmati kehilangan persahabatan” ucap Gianina lalu memutus panggilan itu Menyisakan Zanna yang sudah tidak tahan lagi membendung air matanya. ‘Kenapa tadi gak gue rekam percakapan gue sama dia biar ada bukti?’ batin Zanna menyesal sambil terisak Flashback Off Steve menatap Zanna yang kembali menangis. “Aku beneran gak tahu kalau dia orang yang kayak gitu” ujar Zanna “Kamu percaya aku kan?” tanya Zanna “Iya, aku percaya sama kamu” jawab Steve “Sebenarnya aku kaget lihat kamu masih sahabatan sama Gianina” sambung Steve “K-kenapa?” tanya Zanna “Dulu waktu kita SMA, kamu ajak aku untuk have fun sama teman-teman kamu, tapi waktu itu baru aku aja yang datang sama dia. Tiba-tiba dia cerita kalau kamu pernah bilang sama dia kalau kamu gak suka aku, kamu sebenarnya playgirl dan banyak lagilah dia cerita” jelas Steve “Terus kamu gimana?” tanya Zanna “Ya aku lebih percaya kamu dari pada dia. Sejak itu aku gak terlalu suka sama dia” jawab Steve Zanna tersenyum karena sedikit terhibur dengan ucapan Steve yang mempercayai dirinya. “Dia juga pernah bilang kalau dia suka sama aku” ujar Steve “Pantasan dia kemarin bawa-bawa kamu, dia bilang dia iri karena punya pacar kayak kamu” ucap Zanna Steve mengangguk. “Aku kira dia udah berubah” ujar Steve “Aku bahkan gak tahu kalau dia orang yang kayak gitu” ucap Zanna “Bayangin aja, aku udah berteman sama dia udah bertahun-tahun dan aku baru tahu sekarang sikap dia kayak begitu” sambung Zanna “Kenapa waktu SMA kamu gak bilang ke aku?” tanya Zanna “Kita di situ baru pacaran, ya jelas kamu lebih milih sahabat kamu” jawab Steve Zanna menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. “Jadi menurut kamu gimana?” tanya Zanna “Kamu pengen baikan sama mereka?” tanya Steve “Iya” jawab Zanna “Kalau gitu temui mereka, jelasin yang dibilang Gianina itu” ujar Steve “Kalau mereka gak percaya gimana?” tanya Zanna “Usaha aja dulu” jawab Steve Zanna tersenyum kembali dan memeluk Steve. Steve dengan senang hati membalas pelukan dari kekasihnya itu. “Doain aku berhasil ya” ucap Zanna “Kamu pasti berhasil” balas Steve sambil mengecup singkat kening gadis itu ******** “Gimana?” tanya Steve pada Zanna yang mampir ke ruangannya setelah selesai seleksi wawancara Zanna mengerucutkan bibirnya saat mendengar pertanyaan dari Steve. “Aman sih” jawab Zanna “Tapi” ucap Zanna menggantung “Tapi apa?” tanya Steve penasaran “Ada satu pertanyaan yang aku bingung jawabnya, jadi pandai-pandai aku aja jawabnya. Gak tahu nyambung atau enggak sama pertanyaannya” jawab Zanna Steve tertawa kecil. “Gak apa-apa. Aku yakin kamu lolos” ujar Steve “Kamu jangan ikut campur ya! Harus adil!” seru Zanna Steve mengangguk tegas. “Nanti ada yang bilang kalau aku pakai orang dalamlah, gak kasihan sama pegawai dan peserta seleksi lain” ucap Zanna dengan nada mengejek “Kamu nyindir aku ya?” tanya Steve “Gak tuh!” bantah Zanna Steve bangkit berdiri dan memeluk gadis itu dari belakang. “Iya, kamu nyindir aku!” seru Steve Zanna tertawa kecil sambil merasakan kehangatan dari pelukan laki-laki yang ia cintai itu. “Kapan kamu mau temui teman-teman kamu?” tanya Steve sambil melepas pelukannya pada Zanna Zanna membalikkan badannya menghadap Steve. “Setelah pulang dari sini” jawab Zanna “Aku masih ada rapat habis ini, gak aku antar gak apa-apa?” tanya Steve “Iya gak apa-apa” jawab Zanna Steve tersenyum. “Kalau gitu aku mau ke rumah mereka dulu ya” pamit Zanna Steve mengangguk. “Hati-hati” ucap Steve Zanna mengangguk kemudian melangkah pergi. ******** Zanna sudah tiba di rumah Aleeza. Ia mengetuk pintu rumah Aleeza. Namun tidak kunjung ada yang membuka pintu itu. ‘Kayaknya gak ada orang’ batin Zanna Zanna mengambil ponselnya dan memilih untuk menghubungi Alvis. “Halo” sapa Zanna “Ada apa, Zan?” tanya Alvis “Gue mau nanya, sekarang Aleeza ada di cafe lo gak?” tanya Zanna “Gak ada, Zan. Dia udah berhenti dari dua hari yang lalu” jawab Alvis “Oh gitu ya” balas Zanna “Emang kenapa? Ada masalah?” tanya Alvis “Kenapa gak hubungi Aleeza aja langsung?” tanya Alvis lagi “Gak diangkat” jawab Zanna “Kalian berantam?” tanya Alvis “Enggak kok, hehe” jawab Zanna canggung “Terus kena-“ “Vis, taxi gue udah datang. Udah dulu ya?” tanya Zanna memotong ucapan Alvis “Oh oke, hati-hati” ucap Alvis “Iya” balas Zanna kemudian memutuskan panggilan itu Zanna menghembus nafas pelan kemudian masuk kembali ke dalam taxi yang ia pesan dan menuju rumah Amanda. Tok! Tok! Tok! Zanna mengetuk pintu Amanda yang berwarna cokelat muda itu. Butuh waktu yang lumayan lama hingga pintu itu terbuka dan menampakkan Amanda. “Halo, Man” sapa Zanna hangat “Mau ngapain?” tanya Amanda datar “Gue mau jelasin soal permasalahan kita” jawab Zanna “Terus?” tanya Amanda “Gue kemarin hubungi Gianina dan ternyata benar dia itu fitnah gue” jawab Zanna “Bukti?” tanya Amanda singkat “Gak gue rekam sih” jawab Zanna “Ya udah kalau gak ada yang penting lagi” ucap Amanda sambil menutup pintu rumahnya “Eh bentar-bentar!” ucap Zanna menghentikan Amanda yang ingin menutup pintu “Apa lagi?” tanya Amanda kesal “Gue baru datang kok pintunya ditutup?” tanya Zanna “Menurut lo dengan status kita sekarang gue bakalan persilahkan lo masuk terus sambil buatin kopi buat lo?” tanya Amanda Zanna menggeleng. “Ya udah! Lo seharusnya tahu posisi dong!” seru Amanda kemudian kembali menutup pintu namun lagi dan lagi Zanna menghentikannya “Ada apa lagi sih?” tanya Amanda kesal “Gue mau nanya— hehe” jawab Zanna Amanda menghembuskan nafas pelan. “Nanya apa?” tanya Amanda “Lo tahu Aleeza ada di mana?” tanya Zanna “Gak” jawab Amanda “Masa sih?” tanya Zanna merasa tidak percaya “Kalau gue bilang gak tahu ya gak tahu” jawab Amanda “Kalau gitu tolong hubungi dia dong, tanya lagi ada di mana” bujuk Zanna dengan tatapan penuh harap “Kok lo jadi nyuruh-nyuruh gue sih?” tanya Amanda “Bukan nyuruh, tapi minta tolong” jawab Zanna Amanda menatap mata Zanna yang sudah sangat memelas. Kemudian Amanda menghembus nafas kasar. “Nyebelin banget sih!” seru Amanda sambil mengeluarkan ponselnya untuk menghubungi Aleeza “Bentar, gue hubungi Aleeza” ucap Amanda Zanna mengangguk. “Halo” sapa Amanda saat Aleeza sudah menjawab panggilannya “Halo, Man. Ada apa?” tanya Aleeza “Lo lagi di mana sekarang?” tanya Amanda “Lagi di minimarket” jawab Aleeza “Loh ngapain?” tanya Amanda “Kerja” jawab Aleeza “Bukannya kemarin udah berhenti?” tanya Amanda “Kalau yang ini enggak dulu, gak ada uang gue” jawab Aleeza “Padahal gue udah tawarin pakai uang gue” ujar Amanda “Gak usah repot-repot, Man. Gue gak mau lo kayak Zanna” ucap Aleeza Deg! Amanda secara reflek menatap Zanna sekilas yang tampaknya sakit hati dengan ucapan Aleeza barusan. Amanda mengalihkan pandangannya agar tidak kasihan dengan Zanna. “Oh gitu ya, kalau gitu semangat ya Al” ucap Amanda “Iya, terima kasih loh” balas Aleeza “Ada pelanggan, gue matikan ya panggilannya?” pamit Aleeza “Oke” balas Amanda Aleeza memutuskan panggilan itu. “Dia di minimarket. Udah kan?” tanya Amanda “Iya” jawab Zanna “Terima kasih banyak karena udah mau nanyain” sambung Zanna “Hm” balas Amanda singkat kemudian menutup pintu rumahnya Dari jendela, Amanda masih bisa melihat bahwa Zanna masih menatap pintu rumahnya dengan pandangan sedih. ‘Duh kok gue jadi kasihan gini sih’ batin Amanda ikutan sedih Setelah beberapa menit masih berdiri, akhirnya Zanna pun pergi dengan menggunakan taxi. ******* Di dalam taxi, Zanna hanya bisa termenung. Kemudian Zanna tersadar saat ada panggilan masuk dari ponselnya. Zanna tersenyum tipis saat melihat yang menelepon dirinya adalah Steve. “Halo” sapa Zanna “Gimana?” tanya Steve “Ya gitu deh” jawab Zanna pahit “Gitu gimana?” tanya Steve “Ya mereka masih marah dan gak percaya” jawab Zanna “Terus sekarang kamu udah pulang ke rumah?” tanya Steve “Enggak, aku mau temui Aleeza di minimarket” jawab Zanna Steve menghembus nafas berat. “Kamu udah selesai rapat?” tanya Zanna “Lima menit lagi mau mulai kembali” jawab Steve “Kalau gitu, nanti aku hubungi lagi ya?” tanya Zanna “Soalnya aku udah mau sampai ke minimarket” sambung Zanna “Iya” balas Steve “FIGHTING SAYANG!” seru Steve dan memutuskan panggilan itu Zanna tersenyum tipis. ‘Tumben banget panggil sayang’ batin Zanna ******** Steve menutup mulutnya merasa malu. Pipinya memerah. Itu pertama kali ia memanggil Zanna dengan panggilan sayang. Padahal dia yang mengatakan namun malah dia yang salah tingkah sendiri. ‘Apa sih gue lebay banget?!’ batin Steve Tok! Tok! Tok! Ada orang yang mengetuk pintu ruangan Steve. Steve segera menetralkan ekspresinya. “Masuk!” titah Steve Seorang perempuan masuk yang ternyata adalah sekretaris Steve. “Pak, rapat akan segera di mulai” ujar sekretaris itu “Iya, kamu bawa apa yang penting ya” ucap Steve Sekretaris itu mengangguk. “Mohon maaf sebelumnya pak, tapi kemungkinan sebentar lagi saya akan mengambil cuti sekita sebulanan” ucap sekretaris itu “Kamu udah izin sama siapa?” tanya Steve “Sama pak Manuel, kebetulan beliau kemarin menghubungi saya” jawab sekretaris itu “Jadi, saya bermaksud untuk meminta izin kembali kepada bapak” sambung sekretaris itu “Iya, silahkan” balas Steve “Tapi, pengganti kamu siapa?” tanya Steve “Pak Manuel menjadwalkan bahwa pengganti saya adalah ibu Ana” jawab sekretaris itu “Ana? Ana mana?” tanya Steve “Ibu Anahera Angel” jawab sekretaris itu ‘Oh iya sih, jurusan Ana sesuai dengan posisi sekretaris’ batin Steve “Bu Ana juga sudah menyerahkan CV pada pak Manuel secara langsung, pak. Di situ tertera bahwa ia berpengalaman mengurus perusahaan ayahnya” jelas sekretaris itu “Oh begitu, baiklah” balas Steve “Silahkan pak, kita akan memulai rapat kita” ucap sekretaris itu mempersilahkan Steve mengangguk dan segera melangkah pergi menuju ruang rapat.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN