Part 31

2381 Kata
“EH KITA GAK HIDUPKAN API UNGGUN?” tanya Sam berteriak agar semuanya mendengar “Boleh” jawab Gianina “Iya, biar hangat” ucap Dean Steve mengambil bagian-bagian untuk membuat api unggun. Setelah kayu-kayu terkumpul dan sudah dirapikan, Steve mengambil korek api dan menghidupkannya. Setelah itu, Steve membakar kayu-kayu itu. “Wah cantik banget ya rasanya, apalagi di sekitar kita gelap jadinya cantik api unggunnya” puji Zanna Mereka mengangguk setuju kemudian berkumpul mengelilingi api unggun agar hangat. “Main game yuk!” ajak Zanna “Game apa?” tanya Sam “Gimana kalau truth or dare?” tanya Zanna “Boleh” jawab Ana Yang lain juga mengangguk setuju. Zanna mengambil botol kosong dan memutarnya di tengah-tengah mereka. Bagian tutup botol berhenti ke arah Sam. ‘Waduh! Malah gue’ batin Sam “Truth or dare?” tanya Zanna Sam berpikir sejenak. “Truth” jawab Sam “Gak seru! Pilih dare biar seru!” ucap Dean “Diam lo!” seru Sam Dean tertawa pelan. “Siapa yang nanya?” tanya Sam “Kita putar lagi botolnya ya?” tanya Zanna Sam mengangguk. Zanna kembali memutar botol kosong itu untuk mencari siapa yang akan bertanya dan botol itupun berhenti menunjuk Ana. “Buruan tanya gue!” ucap Sam “Lo pernah suka sama gue kan?” tanya Ana Sam terdiam. “Lo tahu dari mana?” tanya Sam “HA? BENERAN? JUJUR! JAWAB GUE!” seru Ana “Iya pernah” jawab Sam “Padahal tadi gue asal nanya” ucap Ana sambil menutup mulutnya tidak percaya “Biasa aja kali, kan udah gak lagi” ucap Sam “Gue kan tetap kaget, jangan berharap lebih sama gue ya Sam. Gue cuman anggap lo sahabat doang” ujar Ana “Ya kan gue bilang gue udah gak suka lagi” balas Sam “Udah lanjut!” seru Steve Zanna mengangguk dan kembali memutar botol. Kali ini, berhenti pada Gianina. “Truth or dare?” tanya Zanna “Dare” jawab Gianina “Nah gini dong seru!” ucap Dean Zanna kembali memutar botol untuk memilih siapa yang bisa memberi tantangan. Dan berhenti ke arah Ana. “Lah gue lagi?” tanya Ana Mereka mengangguk. “Kasih tantangan apa ya?” tanya Ana pada dirinya sendiri “Jangan yang sulit dong!” bujuk Gianina “Ucapin I love you sama orang yang lo suka” ucap Ana sambil tertawa “Gak ada yang gue suka” balas Gianina “Bohong!” seru Ana “Serius! Gak ada!” seru Gianina Steve menatap Gianina dengan pandangan malas. “Kalau gitu gue ganti!” ucap Ana “Gak bisa dong! Kan sekali permintaan” tolak Gianina “Ih enak banget lo kalau gitu” ucap Ana “Gak bisa! Harus bilanglah I love you, ke siapa gitu” sambung Ana tidak terima “Ya udah, I love you Ana” ucap Gianina Ana menatap Gianina datar. “Udah lanjut!” seru Steve Zanna kembali memutar botol kosong itu dan berhenti pada Aleeza. “Truth or dare, Al?” tanya Zanna “Truth” jawab Aleeza Zanna kembali memutar botol kosong untuk mencari tahu siapa yang akan bertanya dan botol itu  berhenti arah Alvis. “Jujur nih ya, gue penasaran lo suka sama siapa?” tanya Alvis Steve melirik Zanna yang sedang melihat Aleeza. “Gak ada” jawab Aleeza “Gak bohong?” tanya Alvis “Ngapain bohong?” tanya Aleeza balik Alvis mengangguk paham. Zanna kembali memutar botol itu dan berhenti pada dirinya sendiri. Steve mengulum senyumnya melihat Zanna terkejut botol itu berhenti ke arahnya. “Truth or dare?” tanya Dean “Truth” jawab Zanna Dean memutar botol kosong itu dan berhenti pada Alvis. “Oke. Apa pertanyaannya?” tanya Zanna Steve melihat Alvis yang sedang tersenyum saat melihat Zanna sudah sangat bersemangat menunggu pertanyaan darinya. “Apa first impression lo waktu pertama kali lihat gue?” tanya Alvis “Lo sombong dan banyak gaya, playboy pula” jawab Zanna Alvis membelalakkan matanya saat mendengar jawaban Zanna. “Seriusan gue dulu kayak gitu di mata lo?” tanya Alvis Zanna terkekeh kemudian mengangguk. ‘Pantas dulu dia pernah sinis banget lihat gue’ batin Alvis Zanna kembali memutar botol itu dan mengenai Alvis. “Truth or dare?” tanya Zanna “Truth” jawab Alvis “Gak seru! Dare dong, laki-laki gak lo?” tanya Rian “Berisik lo!” seru Alvis Rian tertawa pelan. Zanna memutar kembali botol kosong itu dan kali ini mengenai Steve. Steve dan Alvis aling menatap satu sama lain. “Siapa orang yang lo suka di sini?” tanya Steve to the point Alvis terdiam sejenak. “Gak ada” jawab Alvis “Gak ada atau gak mau jawab?” tanya Steve “Gak mau jawab” jawab Alvis “Berarti yang lo suka ada di sini?” tanya Zanna Alvis menatap Zanna kemudian mengangguk. “Aduh, gue kepo!” seru Zanna ‘Pasti Aleeza!’ batin Zanna yakin “Bertanggungjawab dong setelah memilih truth. Lo kan laki-laki, masa gak pegang omongan?” tantang Steve Alvis mengepal telapak tangannya. “Gue suka Aleeza” ucap Alvis yang membuat semua orang di sana terkejut termasuk Rian dan Aleeza ‘Tuhkan gue benar!’ batin Zanna senang Zanna melihat Aleeza yang menatap Alvis dengan kerutan di dahinya. “Gue mau ke tenda” ucap Aleeza kemudian bangkit berdiri dan masuk ke dalam tenda Sam dan Dean tertawa canggung. “Yuk tidur! Udah malam nih” ajak Dean “Iya, gak terasa udah jam segini aja” sambung Sam Steve dan Alvis masih saling menatap satu sama lain. Termasuk Rian yang juga menatap Alvis. “Kalau gitu good luck!” ucap Steve sambil menarik tangan Zanna untuk bangkit berdiri Steve mengantar Zanna sampai ke depan tenda Zanna. Setelah Zanna masuk ke dalam tenda, barulah ia masuk ke dalam tenda satu lagi yang berisikan Sam dan Dean. ******* “Gue gak tahu lo suka sama Aleeza” ucap Rian Sekarang sudah pagi dan mereka akan kembali pulang ke rumah masing-masing. “Sorry ya, gue gak bermaksud larang lo untuk suka sama Aleeza” ucap Alvis “Kalau lo mau sama dia, ambil aja” sambung Alvis “Aw!” ringis Alvis saat seseorang sengaja menabraknya “Lo pikir gue barang!” seru Aleeza kesal kemudian beralih pergi menuju parkiran ‘Aduh! Dia malah dengar lagi’ batin Alvis Rian tertawa canggung. “Gue udah mau tunangan sama anak teman nyokap gue” ucap Rian “Gue tertarik sama Aleeza, tapi bukan untuk jadi pacar” sambung Rian “Good luck ya kalau lo emang suka sama Aleeza” sambung Rian lagi menyemangati kemudian Rian beralih menuju parkiran ****** Steve menatap Zanna yang dari tadi tidak mau berbicara padanya. “Kamu kenapa?” tanya Steve “Aku kesal sama kamu” jawab Zanna “Kok kesal?” tanya Steve bingung sambil mengerutkan dahinya “Aku tahu aku juga kepo, tapi seharusnya camping kita gak gini. Jadi marah-marahan sana-sini” jawab Zanna “Maaf ya” ujar Steve “Enggak-enggak, aku yang salah. Gak seharusnya aku ajak kita camping!” seru Zanna Steve melihat Zanna yang sedang mengatur nafasnya. “Emang Aleeza respon gimana?” tanya Steve “Dia gak suka sama pengakuan Alvis” jawab Zanna “Tapi, yaudahlah ya. Lagian Aleeza bakalan ngundurin diri juga dari cafe Alvis” sambung Zanna Steve mengangguk paham. Ting! Sebuah notif pesan terdengar dari ponsel Zanna. Zanna membuka ponselnya dan membaca isi pesan itu. “STEVE!” teriak Zanna “Kenapa?” tanya Steve dengan nada khawatir “Aku bakalan tes wawancara, jadwalnya udah dikirim” jawab Zanna Steve tersenyum. “AKU DEG-DEGAN BANGET! GAK SABAR JUGA!” seru Zanna “Bisa kok, kamu pasti bisa” ucap Steve “AKU GAK SABAR SATU KANTOR SAMA KAMU— HIHI” seru Zanna senang “Aku juga gak sabar” balas Steve tersenyum “Ya ampun, pacar aku ganteng banget!” seru Zanna memuji Steve yang tersenyum “Pacar aku juga cantik banget” balas Steve “OH JELAS DONG!” seru Zanna bangga Steve tertawa pelan. “Tapi pacar kamu yang mana? Siapa?” tanya Zanna “Jangan-jangan pacar kamu lebih dari satu” sambung Zanna “Zanna namanya” jawab Steve “Hanya Zanna dan akan terus bernama Zanna” sambung Steve Pipi Zanna memerah. Zanna tidak bisa menahan senyumnya saat mendengar ucapan Steve. Steve ikut tersenyum saat melihat Zanna yang salah tingkah. “Udah ah! Kamu fokus nyetir aja” ucap Zanna mengalihkan topik Steve mengangguk. ****** Steve tiba di rumahnya setelah tadi mengantar Zanna. Ia masuk ke dalam rumah dan menemukan Alex dan Karina sedang menonton televise bersama. “Eh udah pulang kak?” tanya Alex Steve mengangguk. “Lo gak jadi ke luar kota?” tanya Steve “Gak jadi kak” jawab Alex “Kenapa?” tanya Steve “Yang pergi jadinya papa, bukan aku” jawab Alex Steve mengangguk paham. “Ya udah, gue ke kamar dulu ya” pamit Steve Alex mengangguk. Steve kemudian melangkah pergi menuju kamarnya. “Kamu udah baikan sama kakak kamu?” tanya Karina Alex mengangguk. “Bagus! Aku ikut senang!” seru Karina Alex tertawa pelan kemudian mengacak pelan rambut Karina. ******* Sesampainya di kamar, Steve langsung pergi bersih-bersih seperti mandi dan sebagainya. Setelah selesai, barulah ia merebahkan badannya di atas kasur. Baru menutup mata sejenak, terdengar ketukan pintu. Steve bangkit berdiri untuk membuka pintu kamarnya. Kemudian ia menemukan Ana. “Kenapa lagi?” tanya Steve “Bathroom shower gue kok gak nyala ya?” tanya Ana “Gak nyala?” tanya Steve Ana mengangguk. Steve berjalan menuju kamar Ana dan masuk ke dalam kamar mandi untuk mengecek shower itu. Dan benar saja, bathroom shower itu tidak mengeluarkan air. “Kayaknya macet deh gara jarang dipakai” ujar Steve “Tapi kemarin baik-baik aja” ucap Ana “Nanti gue panggilin tukang memperbaikinya” ucap Steve Ana mengangguk. “Terus gue mandi di mana dong?” tanya Ana “Di lantai bawah juga ada kamar tamu, lo mandi di situ aja” jawab Steve Ana menundukkan kepalanya. “Kenapa?” tanya Steve “Jauh banget harus turun naik tangga” jawab Ana Steve menghembus nafas pelan. “Ya udah lo mandi di kamar mandi di kamar gue” ujar Steve “Emangnya gak apa-apa?” tanya Ana Steve mengangguk. “Gue tunggu di lantai bawah, kalau udah siap bilang ya” ucap Steve Ana mengangguk. “Steve, tunggu!” seru Ana membuat Steve memberhentikan langkahnya “Kenapa?” tanya Steve “Soal perjodohan lo-“ “Lo gak ada hak untuk maksa gue batalin” ucap Steve memotong ucapan Ana “Iya loh! Gue cuman mau bilang kalau gue jadinya dukung lo, hehe” jelas Ana “Oh baguslah!” ujar Steve Ana tersenyum pahit. “Lo tadi pulang bareng Dean kan?” tanya Steve Ana mengangguk. “Oke” balas Steve kemudian berlalu pergi Ana menghembus nafas pelan sambil melihat kepergian Steve. ******* Zanna teringat dengan Aleeza kemudian menelepon Aleeza. “Halo” sapa Aleeza “Al, lo udah sampai di rumah?” tanya Zanna “Udah” jawab Aleeza “Uangnya udah geu transfer lewat banking” ucap Zanna “Eh serius?” tanya Aleeza “Iya, serius” jawab Zanna “Sebentar gue cek” ucap Aleeza Aleeza memutuskan panggilan itu. Beberapa menit kemudian, Aleeza kembali menelepon. “ZANNA! INI BANYAK BANGET!” seru Aleeza “Gak banyak itu!” seru Zanna balik “Dua puluh lima juta ya kebanyakan sama gue” balas Aleeza “Gue malah mau kasih lebih dari itu tadi” balas Zanna “HEH JANGAN!” seru Aleeza “ADUH, GUE BALIKIN DEH!” seru Aleeza “GAK! KALAU LO BALIKIN GUE TRANSFER LAGI” tolak Zanna “Tapi-“ “Udah gak apa-apa. Kalau lo mau ganti ya ganti, kalau lo gak mau ya udah gak apa-apa gak usah ganti” jelas Zanna memotong ucapan Aleeza “Terima kasih banyak ya, Al. Gue gak tahu mau ngomong apa lagi” ucap Aleeza “Udah gak usah ngomong lagi, lo istirahat aja” ucap Zanna “Lo juga jangan lupa istirahat” ucap Aleeza “Iya, ya udah gue matikan ya panggilannya” ujar Zanna “Iya, terima kasih banyak sekali lagi, Al” ucap Aleeza “Oke” balas Zanna Zanna memutuskan panggilan itu dan mulai menidurkan dirinya di kasur miliknya. ‘Enak banget rebahan’ batin Zanna ******** Dua hari sudah berlalu, Steve terbangun dari tempat tidurnya saat mendengar panggilan telepon dari ponselnya. Steve melirik jam dinding kamarnya yang menunjukkan pukul tiga pagi. Steve mengambil ponselnya dan melihat bahwa Zanna yang menelepon dirinya. ‘Tumben jam segini’ batin Steve sambil menjawab panggilan itu “Halo” sapa Steve Tidak ada suara. “Zan, ada apa?” tanya Steve Lagi-lagi tidak ada suara dari Zanna. Steve mulai khawatir. “Zan, kamu gak apa-apa?” tanya Steve Terdengar suara isakan tangis dan sepertinya itu dari Zanna. “Zanna, kamu kenapa? Ada yang sakit atau apa? Kamu kenapa?” tanya Steve panik “Aku harus gimana?” tanya Zanna “Apanya yang harus gimana?” tanya Steve balik “Teman-teman aku” jawab Zanna “Teman-teman kamu kenapa?” tanya Steve yang mulai kesal karena Zanna bicara setengah-setengah “Mereka mendadak marah sama aku” jawab Zanna “Tapi kamu gak luka kan?” tanya Steve “Enggak” jawab Zanna Barulah Steve bernafas lega. “Kamu nangis karena itu?” tanya Steve “Sampai jam segini? Kamu gak dari tadi gak tidur?” tanya Steve lagi “Aku bingung hrus gimana” jawab Zanna sambil menahan tangisnya Steve memijat keningnya pelan. “Zanna, dengarin aku. Oke?” tanya Steve lembut “Iya” jawab Zanna “Kamu sekarang tidur dulu, nanti pagi aku ke rumah kamu” ucap Steve Zanna diam. “Nangis sekarang pun gak selesaikan masalah, kamu gak tidur dari malam sampai pagi, itu gak bakalan selesaikan masalah” ujar Steve “Jadi, besok kita cari solusinya. Makanya, kamu tidur dulu.biar besok bisa berpikir jernih cari jalan keluarnya” sambung Steve “Oke” balas Zanna dengan suara parau Zanna memutus panggilan itu. Steve yang tadi tidur nyenyak menjadi sedikit gelisah karena Zanna. ‘Semoga Zanna memang tidur dan ngelakuin hal yang aneh-aneh’ batin Steve khawatir
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN