“Kamu ngapain?” tanya Hanna
Zanna menoleh dan menemukan Hanna berdiri di depan pintu kamarnya.
“Beres-beres untuk besok ma” jawab Zanna
“Emangnya kamu mau kemana?” tanya Hanna
“Camping bareng yang lain” jawab Zanna
“Kok kamu baru bilang?” tanya Hanna
Zanna menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
“Aku lupa, ma. Hehee” jawab Zanna
Hanna menggeleng-gelengkan kepalanya melihat putrinya.
“Kamu camping kapan? Besok?” tanya Hanna
Zanna mengangguk.
“Siapa aja yang pergi?” tanya Hanna
“Teman-teman aku, teman-teman Steve sama teman Alvis” jawab Zanna
Hanna mengangguk paham.
“Hati-hati ya besok, kebetulan mama sama papa mau ke luar kota besok sampai lusa” ujar Hanna
“Oke ma, mama dan papa juga hati-hati ya besok” ucap Zanna
Hanna mengangguk kemudian melangkah pergi dari kamar Zanna. Zanna melanjutkan kegiatannya mengemasi pakaian-pakaian untuk besok. Ia membereskan pakaiannya hari ini karena tidak ingin besok ada yang ketinggalan karena buru-buru.
Setelah selesai, Zanna mengambil ponselnya untuk mengirim pesan pada grup yang ia buat kemarin. Grup camping yang berisi orang-orang yang ikut besok. Zanna mengirim pesan untuk mengingat jadwal besok.
*******
Hari Rabu tiba, Zanna sibuk mengemasi tasnya untuk masuk ke dalam bagasi mobil Steve.
Ya. Ia akan berangkat dengan Steve.
Steve melirik jam tangan miliknya yang menunjukkan pukul delapan pagi.
“Udah semua?” tanya Steve
Zanna mengangguk.
“Orangtua kamu di mana? Aku mau pamit” tanya Steve
“Tadi pagi-pagi subuh udah berangkat ke luar kota” jawab Zanna smabil mengunci pintu rumahnya
Steve mengangguk paham.
“Ayo!” ajak Steve
Zanna kembali mengangguk dan masuk ke dalam mobil Steve.
Steve melajukan mobilnya menuju camping area.
Butuh waktu sekitar setengah jam untuk sampai di sana. Steve dan Zanna turun dari mobil setelah selesai memarkirkan mobil. Terlihat Alvis dan yang lainnya sudah tiba lebih dulu di sana.
“Lama ya kalian” tegur Amanda
Zanna hanya terkekeh pelan sementara Steve hanya menatap datar.
Mereka menyewa beberapa tenda dan alat-alat lain kemudian memilih tempat yang sesuai dengan mereka.
“Tenda cowok sebelah sana aja” ucap Amanda
“Gak usah, sebelah sana aja!” tolak Sam
“Eh ngalah dong sama cewek! Cowok sebelah sana aja!” seru Amanda
Sam melototi Amanda yang mulai membangun tenda.
“Apa? Gue duluan!” seru Amanda
“Kalian baru ketemu tapi udah ribut aja!” seru Gianina
“Dia nih duluan!” seru Sam dan Amanda berbarengan
Zanna mengulum senyumnya melihat kelakuan Sam dan Amanda.
“Hati-hati nanti jodoh loh!” seru Zanna menggoda Sam dan Amanda
“OGAH!” seru Sam dan Amanda yang lagi-lagi berbarengan
“Udah ngalah aja kenapa sih?” tanya Steve melerai
“Dasar cewek egois!” seru Sam
Amanda mengangkat lengan bajunya siap untuk berkelahi menantang Sam namun dihentikan oleh Zanna.
“Udah! Kita di sini untuk menenangkan diri bukan ribut!” lerai Zanna
“Awas ya lo! Dasar laki-laki keras kepala!” seru Amanda sambil melangkah pergi untuk mengambil tasnya yang ada di seberang
“Eh— lo lihat Ana di mana?” tanya Dean
Steve melihat ke arah sekitar dan tidak menemukan Ana.
“Dia di mana ya?” tanya Steve
“Nah itu dia!” seru Dean saat melihat Ana yang baru saja muncul
“Lo dari mana aja sih?” tanya Dean
“Ada yang ketinggalan tadi, jadi gue ambil dulu” jawab Ana
“Lo ambil di mana?” tanya Dean
“Di mobil lo, kan gue bareng lo tadi” jawab Ana
“Emang kunci mobil gue sama lo?” tanya Dean
“Iya, pikun banget sih lo” jawab Ana
“Oh iya” balas Dean sambil terkekeh
Ana hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya.
Beberapa menit kemudian dua tenda untuk laki-laki sudah siap terpasang.
“Lama banget kalian masangnya” ucap Sam
“Bantuin! Jangan ngomong doang!” seru Amanda
Sam menatap datar saat mendengar ucapan Amanda
Steve dan Alvis muncul dan segera membantu Zanna yang sedang kesulitan.
Steve dan Alvis saling menatap satu sama lain.
“Gue mau bantu teman gue” ucap Alvis
Steve hanya membantu Zanna mendirikan tenda tanpa menanggapi ucapan Alvis.
Setelah semua selesai, mereka duduk berkumpul di depan tenda.
“Capek juga” ucap Amanda sambil meregangkan badannya ke kanan dan ke kiri.
Gianina mengangguk setuju mendengar ucapan Amanda.
“Kamu capek?” tanya Steve
“Enggak kok” jawab Zanna
“Kamu haus? Biar aku ambilin minum” tanya Steve
“Boleh” jawab Zanna
Steve bangkit berdiri dan mengambil satu kotak yang berisi botol minuman mineral dan meletakkannya di tengah-tengah mereka. Tidak lupa, Steve mengambil dua botol minuman dan memberikan salah satunya pada Zanna.
“Terima kasih, sayang” ucap Zanna
Steve tersenyum untuk menanggapi ucapan Zanna.
“By the way, kenalin ini teman gue. Namanya Rian” ucap Alvis memperkenalkan temannya
Rian hanya tersenyum.
“Kenalin gue Rian” ucap Rian
“Halo, Rian. Gue Zanna” sapa Zanna
“Iya, Zanna” balas Rian
Rian menatap satu persatu setiap orang yang ada di situ. Pandangannya terpaku pada seorang perempuan yang sedang meminum air. Perempuan itu adalah Aleeza.
“Eh itu siapa namanya?” bisik Rian
Alvis melihat perempuan yang ditunjuk oleh Rian.
“Eh kalian juga kenalin diri dong! Biar dia kenal” ucap Alvis
“Gue Dean, bro. Salam kenal” ucap Dean
“Gue adalah Sam” ucap Sam
“Gue Gianina dan ini Amanda” ucap Gianina
“Yang sebelah gue namanya Aleeza” sambung Amanda
‘Oh Aleeza namanya’ batin Rian
“Steve” ucap Steve singkat
“Pacar gue” sambung Zanna
Rian mengangguk.
“Nama gue Ana” ucap Ana
“Gue Alvis” ucap Alvis
“Kalau lo gue udah kenal” ucap Rian
Alvis tertawa.
“Terima kasih atas perkenalannya” ucap Rian
“Eh gue lapar” ucap Amanda
“Cepat banget lo lapar” ujar Gianina
“Gue gak sarapan” balas Amanda
“Siapa suruh gak sarapan!” gumam Sam
“Eh gue dengar ya lo ngomong apa barusan” ucap Amanda
Sam menjulurkan lidahnya mengejek Amanda.
“Nih anak benar-benar cari ribut sama gue!” seru Amanda
Sam hanya diam tidak peduli.
Aleeza menatap Steve yang dari tadi memperhatikan Zanna. Aleeza tersenyum tipis.
Alvis melihat Rian yang tampak terpukau dengan senyuman Aleeza.
“Suka lo sama dia?” bisik Alvis
Rian langsung tersadar kemudian menggeleng.
“Gue haus, mau ambil minum dulu ya” pamit Rian dan pergi menuju tempat penyimpanan minum mereka
Alvis kembali melihat Aleeza yang masih tersenyum melihat interaksi Steve dan Zanna.
‘Gue ngapain lihatin Aleeza?’ batin Alvis tersadar kemudian melangkah masuk ke dalam tenda untuk merebahkan badan
Steve melihat Zanna yang dari tadi hanya diam.
“Kamu kenapa?” tanya Steve
“Bosan” jawab Zanna
“Baru juga sampai, masa udah bosan?” tanya Steve
“Gimana kalau nanti malam kita adakan game yok!” ajak Zanna
“Game apa?” tanya Steve
“Truth or dare gitu atau yang lain kalau mereka ada saran lain” jawab Zanna
“Aku ikut kamu aja sih” balas Steve
Zanna tersenyum sambil menatap Steve.
“Sayang” bisik Zanna
“Kenapa?” tanya Steve
“Kayaknya Alvis suka sama Aleeza gak sih?” tanya Zanna berbisik
Steve diam dan tidak menanggapi.
“Aleeza lagi di tenda bentar ya aku ke sana” pamit Zanna
Steve mengangguk dan melihat Zanna masuk ke dalam tenda.
‘Alvis itu suka kamu bukan Aleeza’ batin Steve
Steve bangkit berdiri untuk istirahat di dalam tenda. Saat masuk ke dalam, Steve melihat Alvis yang sedang tertidur.
Steve menghembuskan nafas pelan kemudian keluar dari tenda itu. Kemudian Steve masuk ke dalam tenda satu lagi yang masih kosong dan akhirnya bisa merebahkan badannya.
*******
“Lo kemarin gak jadi cerita, sekarang aja cerita!” seru Zanna
Aleeza melihat Ana yang masih ada di dalam tenda.
“Iya-iya gue keluar” ucap Ana yang peka kemudian keluar dari tenda menemui Amanda dan Gianina yang ada di tenda sebelah
“Gue gak tahu sih harus di mulai dari mana” ucap Aleeza
“Emangnya ada apa?” tanya Zanna
“Gue mau berhenti dari semua tempat kerja gue” jawab Aleeza
“Loh kenapa?!” tanya Zanna dengan suara agak keras
“Ssstt! Pelan-pelan suara lo” tegur Aleeza
“Maaf-maaf, gue kaget” ucap Zanna
“Gue capek kerja sana-sini, itupun penghasilannya gak seberapa. Bukannya gue gak bersyukur ya” ucap Aleeza
“Gue mau minta tolong sama lo, Zan” sambung Aleeza
“Minta tolong apa?” tanya Zanna
“Gue mau minta tolong pinjamkan gue uang” jawab Aleeza
“Gue bakalan berhenti dari tempat kerja dan melamar ke perusahaan resmi. Untuk sementara, gue gak ada penghasilan. Jadi tolongin gue ya” jelas Aleeza
Zanna melihat mata Aleeza yang memelas.
“Iya-iya gue tolong, kayak sama siapa aja sih lo!” seru Zanna
“Gue gak enak sama lo! Lo bahkan pernah bayarin rumah sakit nenek gue, walaupun akhirnya nenek gue meninggal” ucap Aleeza sedih
Ya. Sekarang Aleeza hanya sendiri. Ibunya meninggal karena melahirkan dia dan ayahnya juga kabur entah kemana. Ia tinggal bersama neneknya sejak kecil dan tahun kemarin baru saja neneknya meninggal dunia karena sakit.
“Gue ikhlas kok!” seru Zanna
“Santai aja, oke?” sambung Zanna
“Nanti gue ganti setelah dapat gaji pertama” ucap Aleeza
“Gak usah ganti!” seru Zanna
“Gue gak bakal gue terima, gue udah bilang kalau gue ikhlas” sambung Zanna
“Tapi-“
“Gak apa-apa, Al. Orangtua gue pun bakalan gak masalah kok” ucap Zanna memotong ucapan Aleeza
“Terima kasih banyak ya, Zan. Gue gak tahu lagi harus balas lo dengan apa?” ujar Aleeza
“Doain orangtua gue selalu sehat” balas Zanna
Aleeza tersenyum kemudian mengangguk.
“Gue kemarin sebenarnya mau cerita sama lo tentang Ana yang udah balik ke Indonesia. Gara itu kemarin gue canggung banget” jelas Zanna
“Kayaknya dia sama deh kayak lo” sambung Zanna
“Kok gue?” tanya Aleeza
“Lo gak suka sama Steve dan dia juga gak suka sama gue semenjak kejadian gue putus waktu itu” jawab Zanna
“Bedanya gue gak benci lagi tuh!” seru Aleeza
“Udah biasa aja gue lihat Steve!” sambung Aleeza
“Tadi pas baru sampai sebenarnya gue sinis sama dia, terus Steve tatapannya kayak bingung gitu. Lucu juga dia” sambung Aleeza lagi
“Lo suka ya sama Steve?” tanya Zanna cemburu
“Lo gila ya? Gak mungkinlah gue suka sama pacar sahabat gue sendiri” ketus Aleeza kesal
“Soalnya gak biasanya lo puji cowok segitunya, wajar dong gue curiga” ucap Zanna
“Santai aja! Dia bukan tipe gue” ucap Aleeza
“Beneran? Steve ganteng loh!” seru Zanna
“Masih banyak cowok ganteng” balas Aleeza
“Iya sih” balas Zanna sambil terkekeh
Aleeza menggeleng-gelengkan kepalanya melihat Zanna.
*******
“Dingin juga ya” ucap Ana
Sekarang sudah hampir pukul tujuh malam. Ana duduk di samping Steve yang asik memainkan ponselnya.
“Lo gak kedinginan?” tanya Ana
Steve menggeleng.
“Steve, pinjam jaket lo dong! Lo kan gak kedinginan” pinta Ana
“Emang lo gak bawak jaket?” tanya Steve
Ana menggeleng.
Steve membuka jaketnya dan memberikannya pada Ana.
“Lo beneran gak kedinginan kan?” tanya Ana untuk memastikan
“Enggak” jawab Steve
“Nanti lo malah sakit pula” ucap Ana
“Gak apa-apa, lo pakai aja” balas Steve
“Makasih banget loh” ucap Ana senang
Zanna datang melihat Ana dan Steve yang sedang duduk berdua. Zanna melihat jaket yang dikenakan oleh Ana. Ia tahu itu adalah jaket Steve.
Steve menoleh ke belakang dan menemukan Zanna sedang berdiri memperhatikan ia dan Ana.
Steve mendekati Zanna.
“Kamu gak kedinginan? Kok pakai baju lengan pendek?” tanya Steve
“Enggak apa-apa kok, aku suka cuaca dingin” jawab Zanna
“Iya aku tahu, tapi kalau kamu nanti sakit, gimana?” tanya Steve
“Engga kok, aku udah biasa sama cuaca dingin” jawab Zanna
Steve memilih masuk ke tenda dan mengambil jaket yang sengaja ia bawa kemudian memberikannya pada Zanna.
“Loh bukannya jaket kamu-“
“Aku bawa dua jaket” ucap Steve memotong ucapan Zanna
“Gak usah, sayang. Aku ada jaket kok, cuman aku yang lagi gak mau pakai” tolak Zanna
“Pakai!” pinta Steve tegas
Zanna meneguk ludahnya saat melihat tatapan Steve dan memilih segera memakai jaket yang diberikan oleh Steve.
Steve tersenyum kemudian mengusap pelan kepala Zanna. Pipi Zanna memerah saat Steve mengusap kepalanya.
“Pikirin yang jomblo dong! Aduh!” tegur Dean
“Siapa suruh lo jomblo?” balas Steve
“Gila! Steve lo benar-benar ya!” seru Dean tidak menyangka Steve mengatakan itu
Zanna hanya terkekeh.
“Oh jadi lo sama Steve udah kenal dari lama?” tanya Gianina
Ana mengangguk. Setelah Steve tadi meninggalkan Ana, Gianina dan Amanda datang menghampiri Ana.
“Bukan kenal lagi, tapi udah dekat banget. Kita aja sempat mau dijodohin loh waktu kecil!” seru Ana
“Ah masa sih?” tanya Gianina
“Terus kenapa gak jadi?” tanya Amanda
“Gara gue pindah kali ya?” tanya Ana
“Bercandaan orangtua gak sih? Gue juga dulu waktu kecil pernah dijodoh-jodohin sama anak teman orangtua gue, buktinya sekarang gak jadi tuh” tanya Amanda
“Iya gue juga pernah” sambung Gianina
“Gak tahu deh, intinya pernah!” seru Ana
‘Untung Steve sukanya sama Zanna— hehe’ batin Amanda senang
Dari kejauhan, Aleeza bisa melihat beberapa orang yang berkumpul masing-masing.
‘Untuk apa camping bareng-bareng kalau berkumpul masing-masing gini?’ batin Aleeza
“Hai” sapa seorang laki-laki
Aleeza menoleh ke arah sumber suara dan menemukan Rian yang menyapa dirinya.
“Hai” balas Aleeza
“Lo gak kumpul sama mereka?” tanya Rian menunjuk Amanda dan yang lain
Aleeza menggeleng.
“Kenapa?” tanya Rian
“Mereka udah bicarain topik duluan, nanti gue gak paham mereka ngomong apa” jawab Aleeza
Rian mengangguk paham.
“Kalau gitu gue bareng lo aja deh” ujar Rian
Rian duduk di samping Aleeza.
“Lo gak kedinginan?” tanya Rian
“Kedinginan sih walaupun udah pakai jaket” jawab Aleeza
“Gue ada jaket satu lagi, lo mau pakai double jaket?” tanya Rian
“Gak perlu, gue gak apa-apa kok” jawab Aleeza
Rian tersenyum. Awalnya, ia pikir Aleeza sangat susah diajak komunikasi, namun ternyata tidak.
‘Tuh kan apa gue bilang? Gue yakin dia tertarik sama Aleeza’ batin Alvis yang sedari tadi memperhatikan mereka