Part 13

1292 Kata
Steve dan Zanna tiba di restoran yang tidak jauh dari kantor perusahaan Steve. Steve dan Zanna duduk saling berhadapan. Steve mengangkat tangannya memanggil seorang pelayan. “Lo pesan apa?” tanya Steve “Lo sukanya apa?” tanya Zanna balik “Kenapa malah nanya balik?” tanya Steve “Gue sekalian mau tahu makanan kesukaan lo udah berubah apa enggak” jawab Zanna Steve memesan makanan dan minuman sesuai dengan keinginannya. Jujur, Zanna tidak pernah mendengar nama pesanan itu. Setelah pelayan itu pergi, Zanna menangkupkan dagunya dengan telapak tangan kanannya. Ia menatap Steve. Steve yang tahu dirinya ditatap langsung merasa risih. Zanna terkekeh palan melihat Steve yang merasa risih. “Alis lo makin tebal ya” ucap Zanna “Perasaan dulu gak setebal itu” sambung Zanna Steve tidak menanggapi ucapan Zanna dan memilih untuk diam. Zanna kembali menatap Steve yang sedang diam. Beberapa menit kemudian, pesanan mereka datang. Mata Zanna terbuka lebar saat melihat makanan dan minuman yang datang. “Mas, kayaknya ini pesanannya salah deh” ucap Zanna “Udah benar kok, mbak” ucap pelayan itu Zanna hanya tersenyum kaku. ‘Ini kenapa menunya terbuat dari sayuran semua?’ batin Zanna Zanna menatap kesal pada Steve. Setelah pelayan itu selesai, Steve mulai menikmati makanannya. ‘Sial, gue mual’ batin Zanna Steve melihat Zanna yang enggan melirik makanan dan minuman yang sudah tersedia. “Kenapa gak makan?” tanya Steve “Kenapa pesannya itu sih? Lo kan tahu gue gak suka sayur” ucap Zanna “Gue gak tahu” balas Steve “Ha?” tanya Zanna “Gue gak tahu lo gak suka sayur” jawab Steve “Tapi kan dulu-“ “Oh dulu? Lupa gue” potong Steve Mata Zanna mendadak pedih. ‘Padahal dulu dia ingat banget’ batin Zanna Zanna meremas ujung bajunya. Ia mulai memakan makanan itu sambil menahan mual yang semakin menjadi jadi. Steve menatap Zanna tanpa ekspresi. ‘Gue gak bakalan mati kan?’ batin Zanna yang merasa sangat tersiksa “Gue gak tahu kalau lo suka banget sama sayur sekarang” ucap Zanna Steve tidak menanggapi ucapan Zanna. Ia hanya menatap Zanna yang sudah berkeringat dingin hanya karena memakan makanan yang terbuat dari sayur sayuran. Steve berusaha menahan senyumnya saat melihat Zanna mengipas wajahnya dengan tangannya seperti orang kepedasan. Padahal makanan itu sama sekali tidak pedas. ‘Serius, gue pengen nangis. Nih makanan kenapa pahit banget di mulut gue?’ batin Zanna ‘Mau minum tapi minumnya dari bahan yang sama juga’ batin Zanna mengeluh Zanna melihat Steve yang sudah selesai dengan makanan dan minumannya. “Kayaknya lo harus ganti makanan kesukaan sama minuman kesukaan lo deh” saran Zanna “Kenapa?” tanya Steve menanggapi “Gue gak kuat” jawab Zanna “Yang suruh lo kuat siapa?” tanya Steve “Kita kan bakalan nikah, mana kuat gue kalau makanannya kayak gini setiap hari” jawab Zanna “Yang mau nikah sama lo siapa?” tanya Steve dingin Mulut Zanna langsung tertutup saat mendengar perkataan Steve. Bukannya sakit hati, Zanna malah kesal. Bukan kesal pada Steve, ia lebih kesal pada makanan yang sekarang ia makan. ‘Kapan selesainya sih ini?’ batin Zanna “Lo suka sama cewek yang suka sayur juga?” tanya Zanna Steve mengangguk. Zanna tiba menepuk dadanya. “Gue bakalan suka sayur” ucap Zanna dan lebih semangat memakan makanannya Setelah semua selesai, Steve dan Zanna keluar dari restoran itu. Steve melihat Zanna yang sudah putih pucat. “Lo pulang aja, gue mau balik ke kantor” ucap Steve Zanna mengangguk. Ia enggan berbicara. Steve pergi meninggalkan Zanna sendiri di depan restoran itu. Zanna segera mencari tempat sepi dan mengeluarkan sebuah plastik yang selalu ia bawa kemana-mana. Zanna memuntahkan isi perutnya. ‘Please, kenapa gue kayak orang penyakitan cuman karena sayur doang?’ batin Zanna Zanna mencari kedai terdekat untuk mencari minuman manis. Setelah membeli minuman itu, Zanna segera menghabiskan minuman itu. Ia baru bisa bernafas lega. Zanna memesan taksi, sambil menunggu taksi itu datang, Zanna termenung. ‘Gue kayaknya harus latihan makan sayur deh’ batin Zanna ‘Kenapa sayur di lidah gue pahit banget ya rasanya?’ batin Zanna lagi ******* Steve kembali di ruangannya dan duduk di kursinya. Steve kembali mengingat Zanna yang putih pucat. ‘Dia gak apa-apa kan?’ batin Steve Steve mendadak merasa bersalah. Karena sebenarnya ia tahu Zanna sangat benci dengan sayuran. Steve menghembuskan nafas kasar. Ia tidak akan melakukan itu lagi. Steve kembali fokus pada laptopnya namun lagi dan lagi ia teringat dengan Zanna yang dihubungi oleh seorang laki-laki. Steve mengenal Alvis. ‘Gue gak nyangka sampai sekarang mereka hanya sekedar teman’ batin Steve Steve ingat betul bagaimana tatapan Alvis pada Zanna. Steve tahu kalau Alvis menyukai Zanna sejak SMA. Dulu, Steve sangat bersyukur karena Zanna yang tidak peka pada Alvis. Steve kembali menyadarkan dirinya lagi saat menyadari ia mulai memikirkan Zanna. Ia tidak boleh memikirkan Zanna. Steve pun memilih kembali fokus pada laptop dan kerjaannya. ******* Zanna sampai di rumahnya dan menemukan Hanna yang sedang duduk di sofa. “Tadi Alvis kesini” ucap Hanna “Iya ma” balas Zanna “Tapi dia balik lagi nanya soal pacar kamu” ucap Hanna “Ha? Apa ma?” tanya Zanna “Waktu mama bilang kamu gak dirumah, dia pamit keluar kayaknya mau menghubungi kamu, tapi setelah itu masuk tiba-tiba nanya tentang pacar kamu” jawab Alvis “Terus mama jawab apa?” tanya Zanna “Ya mama jelasinlah, kalau kamu itu udah dijodohin sama Steve, eh ternyata dia kenal sama Steve” jawab Hanna “Baru deh mama ingat kalian dulu kalian satu sekolah waktu SMA” sambung Hanna Zanna terdiam. “Wajah kamu kenapa pucat gitu?” tanya Hanna “Gak apa-apa ma” jawab Zanna “Oh iya ma, nanti malam menu kita sayuran gimana?” tanya Zanna “Kamu kan gak bisa makan sayur, kamu selalu bilang pahit sampai mual-mual gitu” jawab Hanna “Justru itu ma, aku mau belajar makan sayur” ujar Zanna “Tiba-tiba gini?” tanya Hanna “Iya” jawab Zanna semangat “Ya udah, nanti dibuat” ucap Hanna “Oke ma, terimakasih banyak” ucap Zanna Hanna mengangguk. Kemudian, Zanna pamit masuk ke kamarnya. Di dalam kamar, Zanna langsung menghubungi Alvis. Dan untungnya, langsung dijawab. “Halo” sapa Zanna “Kenapa?” tanya Alvis “Lo gak marah kan?” tanya Zanna “Marah soal apa?” tanya Alvis “Karena gue gak kasih tahu soal perjodohan itu ke lo” jawab Zanna “Oh itu, santai aja kali” balas Alvis “Beneran? Serius, gue niatnya mau kasih tahu lo pas ketemu” ucap Zanna “Seharusnya lo kasih tahu aja dulu ke gue, gue juga butuh persiapan” ujar Alvis “Persiapan apa?” tanya Zanna “Persiapan hati” jawab Alvis “Emang hati lo kenapa?” tanya Zanna “Ya gue kaget lah lo mau dijodohin sama Steve” jawab Alvis “Gue juga gak tahu awalnya bakalan dijodohin sama dia” ucap Zanna “Gue sakit hati” gumam Alvis sangat pelan “Apa lo bilang?” tanya Zanna “Gue butuh tambatan hati” jawab Alvis berbohong “Cari dong makanya” ucap Zanna “Udah ada sih” balas Alvis “Oh ya? Siapa?” tanya Zanna “Rahasia” jawab Alvis “Ih kok lo gak mau kasih tahu gue sih?” tanya Zanna “Soalnya dia masih suka orang lain, jadi gue gak bisa bilang dulu ke dia” jawab Alvis “Owh kasihan banget Alvis gue” ucap Zanna “Udah dulu deh, gue ada urusan” ucap Alvis “Urusan apa?” tanya Zanna “Lagi ketemuan sama teman” jawab Alvis “Oh gitu, oke deh” ucap Zanna Alvis pun memutuskan panggilan itu. ‘Sial, sakit banget’ ~ Alvis Dean
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN