CHAPTER 1

1395 Kata
    LANGIT kelihatan berkabut, sedikit banyak mengelirukan indra penglihatnya. Rembulan di atas pemuda itu—yang menumpahkan bagian terdalam netra hitamnya dengan sang sinar, terasa sama sekali tidak nyata. Maka dari itu, selain untuk memastikan benda langit tersebut bukan rembulan artifisial bekas imajinasi sampahnya, Tristan Baxter mengerjap-ngerjap.     Pemuda itu baru sepenuhnya sadar saat udara kosong terembus dari arah utara, mengotori pipinya dengan debu yang terbawa dari tanah. Cepat-cepat, ia menampik kotoran serbuk halus itu menggunakan tangan, sekaligus menghalau netra hitamnya dari mereka. Begitu semilir angin tidak lagi terasa, Tristan menarik tangannya sekadar merenggangkan tubuh. Alas keras membuat sekujur tubuhnya terasa pegal dan kebas.     Tidak ingin kelepasan berleha-leha lebih lama lagi—dan Tristan juga tidak terlalu nyaman dengan lantai beraspal keras, ia segera beranjak dari posisi telentang dan duduk di atas sana. Pemuda itu memegang bagian belakang lehernya sejenak, menelengkan kepalanya ke arah kanan dan kiri, kemudian netra hitam Tristan baru mulai mengedari sekitar untuk memeriksa situasi di seputar lokasi.     Beberapa tubuh familier tergeletak tak menentu di sekitarnya. Napas Tristan tersekat, bukan cemas—lebih ke arah bingung. Ingatan pemuda itu lantas terlempar kembali saat-saat di mana si pemimpin b******n Organisasi Harapan, ia tak sudi untuk menyebutkan nama aslinya lagi, melegalkan segala cara demi menuntaskan pembalasan dendam kepada makhluk-makhluk tak bersalah seperti mereka.     Tristan juga mengingat cara kematiannya sendiri; tertimpa puing-puing langit gua demi melindungi gadisnya. Ia kira insiden kala itu merupakan akhir dari kehidupan seorang pemilik dua darah sepertinya. Akan tetapi, ia cukup tahu bahwa saat ini, mereka semua—yang terkhianati oleh Tedros Tiberias, nyatanya belum mati. Perkara ini membuat Tristan bertanya-tanya. Jadi, siapa yang mati?     Satu nama kontan terlintas di dalam kepalanya. Buru-buru netra hitam pemuda itu jelalatan mencari si pemilik nama di antara kubangan para tubuh familier. Napas Tristan tersekat akibat terlalu panik. Ia baru bisa bernapas dengan sangat lega begitu netranya jatuh kepada tubuh Candice. Gadis itu tergeletak paling jauh dari semuanya, sehingga dengan gerakan impulsif, Tristan lekas beringsut dan menjamah gadisnya.     Tanpa mengurangi kehati-hatian, ia mengambil langkah lebar selagi melangkahi satu demi satu tubuh—mulai dari para anggota Organisasi Harapan, objek Sindikat Pergantian Darah, serta Rhett dan Shane selaku mitranya. Saat Tristan berhasil melampaui tubuh Shane, ia hampir tersandung Rhett apabila tidak segera berkelit karena terlampau gegabah untuk menjamah Candice.     Penampilan Candice jauh lebih memprihatinkan dari jarak dekat. Paras gadis itu terlampau pucat—dengan peluh menetes dari kulit kepalanya. Tristan tergugah untuk berlutut di depan Candice, perlahan-lahan mengangkat kepala si gadis bersurai cokelat ke sisinya, lalu menopangnya dengan lengan kukuh pemuda itu.     Sentuhan dingin dari kulit tubuh Candice mengejutkan Tristan. Untuk memastikan ada atau tidaknya kehidupan pada gadisnya, Tristan menaruh jari telunjuk di depan hidung Candice. Jantung Tristan masih berdebar, tetapi tidak bertalu-talu seperti barusan. Candice masih bernapas—dan itu sudah cukup melegakan sedikit dari kerisauannya.     “Candice? Hei, bangunlah.”     Lengan kanan Tristan melingkari pinggang gadis itu. Otaknya terus berputar mencari cara agar Candice dapat siuman, tetapi tidak ada reaksi apa pun—sampai Tristan berhenti memanggil namanya saat tremor hebat mendera sekujur tubuh Candice. Gigi bagian atas dan bawahnya gemertak dengan tidak karuan. Cairan merah berbau anyir meluruh dari rongga hidung Candice sedetik setelahnya.     Napas Tristan kembali tersekat karenanya. Pemuda itu menarik telapak tangannya yang sempat mengusap pipi Candice, berpindah ke rongga hidung gadisnya untuk mengusap darah yang mengalir dari sana.     “Jawab aku, Candice,” lirih Tristan, serak. “Jangan membuatku takut ….”     Tristan tahu benar, tidak akan ada jawaban yang dapat terucap dari bibir Candice. Ia terlalu lemah untuk itu, setidaknya saat ini. Kening Candice tercetak dengan begitu banyak kerutan. Darahnya kian meluruh, sangat deras—dan ironisnya, tidak ada secuil pun gejolak nafsu yang tercipta dalam diri Tristan untuk seukuran pemilik dua darah. Tristan menampik rasa penasaran itu terlebih dahulu, lantaran keadaan Candice jauh lebih penting daripada dirinya.     Rengkuhan di tubuh Candice semakin erat, dengan harapan lingkaran tangan Tristan akan cukup membantunya untuk menormalkan suhu gadis itu. Ia tidak berhenti mengusap surai cokelat Candice, mencondongkan wajahnya sendiri untuk menghirup aroma gadis itu dalam-dalam—dan kala itu juga, Tristan merasakan suatu kenyamanan signifikan yang tebersit di dalam benaknya.     Tidak lama setelah itu, Candice berangsur tenang. Deru napasnya kembali teratur—tidak lagi meluruhkan cairan merah berbau anyir, menggertakkan gigi, atau mengalami tremor parah seperti tadi.     “Candice? Ada apa dengan si gadis terpilih itu?” Marianne Alan tahu-tahu saja sudah berdiri di dekat mereka. “Oh, astaga! Dia barusan mimisan?”     Tristan memutuskan untuk tidak merespons. Ia rasa pertanyaan tersebut merupakan pertanyaan retorik. Lagi pula, Tristan terlalu malas untuk berinteraksi dengan musuhnya—walaupun sebagian dari dirinya sempat tergugah untuk mencelakakan sang pemilik sihir spesial manipulasi tersebut.     Berdiam mungkin satu-satunya cara terbaik untuk saat ini, demi kesejahteraan gadis yang kini tengah berada di dalam rengkuhannya.     Tahu Tristan tidak akan merespons, Marianne mendengkus. “Kau tahu di mana kita saat ini?” tanyanya, berusaha mengabaikan rasa muak lantaran terabaikan oleh pemuda itu.     “Entah.”     Marianne berdecak-decak. Ia melipat kedua tangan di depan d**a selagi merotasikan sepasang matanya. Tristan berpura-pura untuk tidak melihat saat Marianne mengentak-entakkan tungkainya, menghampiri salah satu tubuh mitranya—Graham Simon. Dengan mengerahkan seluruh tenaga, Marianne menendang Graham untuk membangunkan pemuda itu.     Akan tetapi, pemuda itu tidak menunjukkan gelagat akan sadar.     “Bangun, Pemalas! Ini bukan lokasi yang tepat untuk tidur!”     Akibat teriakan melengking dari Marianne, atensi Tristan langsung terjatuh kepadanya. Ia mendapati gadis itu masih mengarahkan tendangan kepada tempurung lutut Graham tanpa henti. Tristan pikir sia-sia saja Marianne melakukan itu, namun teriakannya cukup membangunkan yang lain. Mungkin karena terusik oleh u*****n Marianne—yang akan membuat telinga siapa pun bengal, Graham dan dua anggota Organisasi Harapan lainnya—Carlice Lewis dan Charlotte Bennett—berhasil siuman.     “k*****t! Kepalaku pening bukan main,” umpat Graham. “Berhenti menendangku, bocah!”     Selagi memegang kepala dengan harapan dapat menetralkan kepeningannya, Graham mendelik kepada Marianne—yang masih menempatkan kaki kirinya di atas lutut pemuda itu. “Sebentar. Kenapa kita masih hidup?”     Mendengar pertanyaan Graham tampaknya membuat ingatan Marianne kembali, sebab ia tak sadar tumpuan kaki di atas tempurung lutut pemuda itu semakin kuat. Ringisan segera lolos dari bibir Graham, tidak lupa disusul dengan u*****n kasarnya.     “Kau benar! Bukankah kita sudah mati?!”     Tristan membuang tatapan ke arah lain, mendengus geli. Ia berusaha menulikan indra pendengarnya meskipun terkadang suara Marianne masih bisa tertangkap olehnya lantaran terlampau cengking. Lalu, Tristan mulai menerawang ke sekeliling. Rembulan masih menggantung di atas sana dengan sinar yang sama, satu-satunya benda paling bercahaya di antara semuanya.     Dengan bermodalkan sinar rembulan, netra hitam Tristan bisa menangkap siluet yang terdiri atas barisan bangunan tak berpenghuni.     Rhett, Shane, dan Arthur sudah terjaga. Mereka tampak kelimpungan selagi menerawang ke sekitar. Baik Tristan maupun mereka semua tidak ada yang tahu di mana mereka terdampar—sebuah alam asing dengan perbedaan atmosfer yang begitu kental dari Nightfall Land, dan mereka cukup tahu bahwa tempat ini bukan bagian dari EveFalls Sky.     Netra Tristan lagi-lagi jatuh kepada Candice. Ia menghela napas, memandangi gadisnya sebentar, baru menidurkan Candice kembali di lantai beraspal. Sembari menahan miris lantaran tidak mampu melakukan apa pun untuk menarik kesadaran gadis itu, Tristan beringsut dari posisi berlutut setelah mengusap pipinya. Pemuda itu merasa ia perlu bergerak. Mustahil untuk terus-terusan berada di sana sampai menunggu Candice siuman.     Suhu dingin yang menguar di sekitar mereka hanya akan memperparah kondisinya.     “Kau ingin ke mana?” Rhett bersuara selagi menghampiri Tristan.     Gurat kewalahan mendominasi wajah Rhett, kendati mimik wajahnya terlalu datar untuk terlihat demikian. Netra pemuda itu berkilat cemas saat ia mendaratkan pandangan kepada sang adik. Meski terkadang Tristan merasa marah ketika Rhett dapat menunjukkan afeksinya secara terang-terangan terhadap Candice, kali ini Tristan memakluminya.     Secara, sejak awal Rhett terlatih untuk menjadi seorang pelindung, mengayomi Candice—dan sekarang tidak ada yang bisa ia lakukan selain menatap sang adik beda darahnya yang tidak berdaya.     “Mencari jalan keluar.” Deru napas Tristan terdengar berat. “Udara di sini tidak begitu baik.”     “Baiklah. Aku akan menyuruh mereka untuk—”     “—Tidak,” selat si pemilik dua darah. “Akan lebih baik bila kau dan yang lain tetap di sini.”     Rhett mengangkat satu alisnya. “Kenapa?”     Membuang pandangan ke arah lain, Tristan segera berkata, “Kita tidak akan tahu mara bahaya di luar sana. Adikmu bisa saja berada dalam bahaya.” Melontarkan kalimat sepanjang itu membuat Tristan jauh lebih lelah ketimbang mempelajari bakat anginnya kala itu. “Dan—apa? Kenapa kau tersenyum seperti itu?”     “Tidak ada. Hanya saja, kau sudah banyak berubah.” Rhett terkekeh sejenak. “Setelah kau bertemu dengan adikku, maksudku.”     “Diamlah.”     “Yah, terserah. Omong-omong, aku ikut.” Rhett menarik sudut bibirnya, kemudian menepuk pundak Tristan. “Jangan salah sangka, bukan karena aku mencemaskanmu—ini demi adikku.”     Tristan mendelik. “Tidak ada yang berpikiran seperti itu,” sanggahnya.     “Tahu tidak? Saat kau mati, aku hanya dapat melihat redupan di netra Candice.” Rhett tersenyum miris, tetapi sorotnya berganti dengan cepat saat tatapan mereka saling bertemu. “Jadi, bohong sebenarnya kalau aku tidak mencemaskanmu. Mau diapakan adikku kalau kau mati untuk kedua kalinya?”     “Dan, satu lagi.” Rhett cepat-cepat meneruskan, bagaikan tidak memberi kesempatan bagi Tristan untuk menanggapinya. “Kulihat kau dan adikku cocok juga.”     Pemuda itu tersenyum penuh arti—yang mana membuat lawan bicaranya salah tingkah kala itu juga.[]
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN