CHAPTER 2

1770 Kata
SECARA kebetulan, semua makhluk yang ada di sana sudah terjaga sepenuhnya—belum semua, melainkan baru objek Sindikat Pergantian Darah, anggota Organisasi Harapan, serta kakak beradik Arthur dan Shane. Petanda Candice akan siuman hampir nihil. Rupa Candice laiknya kunarpa. Putih pucat—tidak ada unsur sehat yang terlihat dari penampilannya. Rhett dan Tristan menunda keinginan untuk mengeksplorasi seputar tempat asing tersebut, masih juga mengharapkan kesadaran Sang Terpilih, menunggu sebentar lagi. Akan tetapi, Rhett akhirnya angkat tangan. Guratnya hampir putus asa begitu ia mengatakan, “Candice tidak akan siuman dalam waktu dekat. Untuk itu, kurasa kita tidak bisa lagi diam—yah, sekadar mengurangi waktu yang terbuang.” Ia lekas memakukan netranya menuju Tristan. “Jadi, bagaimana? Keberatan bila kita menelusuri lokasi sekarang, Baxter?” tanyanya, meminta pendapat. Tanpa berpikir panjang, yang ditanya lantas beringsut bangkit pasca bertelut di dekat Candice. “Itu lebih baik,” jawab Tristan, final. Rhett turut beringsut dari posisi bertelutnya, memandangi sang adik sekali lagi, baru beranjak dari sana. Beragam pasang mata lantas terarah kepada dua pemuda tersebut, sebagian besarnya kebingungan, sampai-sampai mengabaikan atmosfer tak menyenangkan yang merebak di seputar blok bangunan tak berpenghuni. “Kalian ingin ke mana?” Graham paling pertama berkicau, mewakili keheranan makhluk-makhluk itu. “Kami berniat menelusuri bangunan-bangunan itu, siapa tahu akan menemukan jalan keluar dari alam asing ini,” Rhett mengedikkan dagu ke arah udara kosong di depan sana—lebih tepatnya barisan bangunan yang sebagian besarnya berselimut kabut tipis. “Kalian tetap di sini dan tolong jaga adikku. Kalau sampai aku kembali dan ia terluka, aku tidak akan segan menghabisi kalian di sini.” Ringis kengerian kontan terlontar dari bibir mereka begitu mendengar ultimatum dari Rhett—sadar tidak ada nada main-main dalam kalimatnya. Arthur mendeham. Kali ini, seluruh atensi memusat kepada pemuda itu. Ia beringsut maju satu langkah, kemudian mengangkat satu tangan di udara. “Aku akan ikut dengan kalian,” katanya. Terlepas dari kemurkaan Tristan terhadap Arthur—pasca pengkhianatan pemuda itu kepadanya atau Candice dahulu, Tristan tahu ia tidak ada hak untuk mencegahnya. Dan sepertinya Rhett memiliki pendapat yang sama, sebab ia langsung berkata, “Untuk pemuda semacam kau yang hampir mencelakakan adikku—ya, kau bisa ikut dengan kami. Lalu, akan kubiarkan kau tersesat dan menjadi bahan pemuas hasrat para penghuni tak kasatmata.” Arthur mendengkus. Di matanya, Rhett masih sempat-sempatnya saja berkelakar di situasi tak mendukung seperti saat ini. “Ambrose, aku benci mendengarmu berkata seakan-akan aku ini adalah pemuda b***t yang—” “Kau memang bejat.” Tiga kata hasil lontaran Tristan membuat Arthur sedikit menjengit di tempatnya. “Akan kutarik ucapanku untuk ikut bersama kalian,” pemuda itu memberi jeda sejenak usai menghela napas kasar—barangkali sedang membayangkan bagaimana Rhett dan Tristan akan membuatnya tersesat dan berakhir menjadi pemuas hasrat para penghuni tak kasatmata yang sempat dimaksud oleh Rhett tadi, “ayolah, saat itu aku tidak memiliki pilihan lain selain membawa Candice kepada Tedros. Maafkan kebejatanku saat itu, oke?” Begitu mendengar permohonan maaf dari mantan koleganya, seringai Rhett merekah lebar, membuat pemuda itu terlihat tiga kali lebih kejam dari biasanya. “Ayo, Baxter. Mari kita membuat pemuda b***t ini mengalami kejadian setimpal laiknya yang sudah ia lakukan kepada gadis kesayangan kita,” katanya, tanpa merasa canggung sama sekali, sedangkan Tristan sendiri kontan menahan napasnya begitu mendengar kata terakhir. Gurat Arthur menjadi pias. Sorot ngeri tampak begitu kentara saat ia menilik Rhett dan Tristan secara bergantian. “Hei, hei. Kalian tidak serius, bukan?” tanyanya, setengah panik. Rhett mengangkat sebelah alisnya. “Tidakkah kau melihat keseriusan—” “Ayolah, kalian bertiga ….” Graham—secara mengejutkan—menengahi perang dingin di antara ketiga pemuda itu. Selagi merotasikan netranya, ia meneruskan, “Bisa serius sedikit? Ingat, ini bukan tempat kita.” Baru kali ini, baik Rhett, Tristan, atau Arthur membenarkan penuturan pemuda itu. Mereka menganggukan kepala sesaat. Baru saja ingin kembali mengeksplor lokasi tak berpenghuni dan melupakan perbincangan tak berarti tadi, niat ketiga pemuda itu lagi-lagi tertunda lantaran keributan kembali pecah. Vernisse Chaplin, Darin Sebastian, dan Aiden Averill merupakan dalang di balik semua itu. Mau tidak mau, Tristan harus menahan kejengkelan karena waktu mereka kembali terhambat. “Kalian tetap berada di sini.” Dari nada bicara Vernisse, salah satu objek Sindikat Pergantian Darah itu tidak menerima bantahan. “Apa yang membuat kalian tergerak untuk mengikuti mereka, sih?” “Sama dengan mereka.” Aiden terlihat menengadahkan kepala, kewalahan dalam mengatasi sikap Vernisse yang kerap berlebihan. “Kami tidak bisa diam saja. Tidak ada di antara kita semua yang tahu akan ada ancaman apa di luar sana.” Vernisse mendengkus. “Mengapa kalian tidak pernah mendengar ucapanku lagi?” tanyanya. Dilihat dari sorot matanya, ia tengah menahan murka dan kecewa dengan pilihan kedua kawannya yang tidak sejalan dengan miliknya. “Apa ini karena si gadis terpilih itu?!” “Kau selalu melibatkan Candice ke dalam kalimatmu, Vernisse.” Darin bereaksi sama seperti Aiden—juga menengadah penuh kewalahan, mengusap wajahnya frustrasi. “Dengar. Kami hanya ingin bergabung dengan mereka untuk mempercepat penelusuran—bukan karena siapa pun. Semakin cepat penelusuran, maka akan semakin mudah untuk kita pergi dari sini.” “Bagaimana jika kalian berhadapan dengan para penghuni tak kasatmata dan—” Darin hampir menepuk keningnya. “Tidak ada penghuni tak kasatmata di sini, Vernisse.” “Namanya juga tak kasatmata, maka kau tak mungkin bisa melihatnya,” timpal Carlice. Ia menghampiri mereka dengan putaran bola mata, melipat kedua tangannya dengan malas. Seluruh atensi kini tertuju kepada gadis itu, termasuk Tristan. “Hentikan pertengkaran kalian di sini, karena aku akan membicarakan sesuatu yang jauh lebih krusial daripada ocehan kalian semua yang tidak ada titik ujungnya.” Charlotte menyusul dan berdiri di samping gadis itu—seperti tidak pernah bisa dipisahkan. Sejak tadi, Tristan mendapati mereka duduk berdua dan berbisik-bisik, terkadang juga menggamit tangan satu sama lain dalam rangka saling menenangkan. Sedikit mengejutkan karena Tristan hampir—bahkan tidak pernah melihat interaksi dari sepasang sesama jenis dengan begitu intim. “Apa? Kalian jadian?” tanya Marianne, memandangi kedua koleganya dengan sorot antusias. “Diamlah. Kami akan membicarakan yang satu itu nanti,” jawab Charlotte, melihat ke arah lain dengan sedikit rona merah di pipi pucatnya. “Kita sudah bukan lagi seorang penyihir atau vampir.” Carlice menyoroti mereka semua dengan tatapan tak terbaca. “Aku tidak bisa membaca satu pun pikiran kalian.” “Kupikir hanya aku saja yang merasakan itu,” gumam Graham, tetapi tidak cukup kecil untuk tidak terdengar oleh indra pendengar makhluk-makhluk itu. “Sebelumnya, aku berniat untuk menggunakan sihir spesialku—barangkali bisa mencari kehidupan lain di sini. Namun, teleportasiku tidak berfungsi. Sama sekali.” “Oh ya? Apa karena kau terlalu d***u dan tidak bisa mengendalikan sihir spesialmu sendiri tanpa sihir hitam?” ejek Marianne. Ia mengabaikan sorot jengkel pada lirikan Graham, lalu kembali berkata, “Kemari. Biarkan aku mencoba untuk mengendalikanmu.” “Coba saja kalau kau bisa.” “Mati.” “Hah?” Hanya satu kata itu yang mampu pemuda itu lontarkan. Setelah ia sepenuhnya sadar, pemuda itu langsung berkata, “Kau memanipulasi pikiranku untuk membunuh diriku sendiri?!” Tristan menahan dengkusan. “Bisakah kita serius sedikit?” Mereka semua memandangi pemuda itu dengan sorot netra yang selaras—membeliak seakan-akan Tristan baru saja mengaku pernah menelanjangi seorang gadis. “Apa?” tanya Tristan, lagi. Kali ini, suaranya tidak terdengar berhati—dan akan terdengar seperti marah walaupun sebenarnya tidak. Ia sudah berdiri di sini tanpa melakukan apa pun—kecuali menyimak ocehan tak berarti dari mereka, sedangkan dirinya masih dan semakin tidak bisa sabar untuk melakukan penelusuran. “Jujur. Aku hampir melupakan eksistensimu,” aku Graham. Tristan enggan mengindahkan, alih-alih melirik Rhett dan Arthur secara bergantian, “Jadi, bagaimana? Apa kita akan terus berada di sini atau mulai bergerak?” “Ayo,” kata Rhett. “Untuk Aiden dan Darin, kurasa kalian tidak perlu ikut dengan kami. Kalian harus menjaga para gadis ini—terlebih adikku. Apabila sesuatu terjadi padanya, ingatkan aku tentang peringatan tadi.” Aiden lantas bertanya—dengan polosnya, “Peringatan yang mana?” “Pemuas hasrat para penghuni tak kasatmata,” balas Arthur, mewakili sebuah peringatan bodoh yang sempat dilontarkan oleh Rhett sebelum ini—dan yang sebenarnya bukanlah peringatan yang itu. “Terima kasih. Kau telah membuatku teringat kembali dengan niatku satu itu—peringatan yang sesungguhnya ditujukan untukmu.” Sebelum Arthur akan membuka suara, Tristan cepat-cepat berbicara dengan nada mengancam, “Jangan membuatku pergi dan meninggalkan kalian bersama dengan pembicaraan bodoh itu sekarang.” Ancaman pemuda itu ternyata efektif. Baik Arthur maupun Rhett tidak ada lagi yang membuka suara. Merasa sekarang adalah waktu yang tepat untuk bergerak, Tristan kontan meneruskan langkahnya yang sempat tertunda—kali ini sangat berharap tidak akan ada lagi yang mampu menahan penelusuran ketiga dari mereka untuk menuju blok barisan bangunan itu. Ia berjalan paling depan, disusul oleh Rhett di belakang, serta Arthur yang berjalan paling jauh dari keduanya. Kemungkinan besar, ia masih terlalu bodoh untuk menganggap serius peringatan Rhett. Oleh karena itu, Arthur enggan berjalan di dekat kedua pemuda tersebut. Dan itu memang benar, sebab ia kembali bersuara dari belakang—dengan jarak jauh dan nada cemas serta panik terselip di sana. “Kalian tidak benar-benar membawaku ke kandang para penghuni tak kasatmata, bukan?” tanyanya. “Akan kulakukan dengan senang hati jika mereka memang a—” Ucapan Rhett tertahan di ujung lidah. “Baru kali ini aku menyesal dengan ucapanku sendiri,” imbuhnya, sepelan mungkin agar tidak terdengar oleh siapa pun kecuali dirinya sendiri dan dua koleganya. Kening Tristan berkerut keheranan, sebab ia melihat wajah Rhett dan Arthur yang sama pucatnya—barangkali melebihi pucat mereka ketika berhadapan dengan b***k Organisasi Harapan. Jadi, Tristan kembali menoleh ke depan, berniat menatap sesuatu yang terlihat oleh mereka dari balik tubuhnya. Pada detik itu juga, Tristan tertegun sempurna. Mereka benar-benar ada. Sekali lagi. Penghuni tak kasatmata itu benar-benar nyata—dan mereka bergerombol di depan sana.[]
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN