TERJADI pertimbangan sejenak antara ketiga pemuda itu saat hendak bersemuka dengan para penghuni tak kasatmata. Kembali ke titik awal sama sekali bukan keputusan tepat. Itu berpotensi dapat menimbulkan kekacauan untuk kolega ketiganya yang masih menetap di titik awal, kendati figur makhluk-makhluk itu sudah tertelan oleh jarak. Maka dari itu, keputusan tak masuk akal pun dibuat.
Sebagai tindakan preventif, Rhett, Tristan, dan Arthur bersedia meneruskan langkah untuk melintasi kawanan penghuni tak kasatmata tersebut. Jarak ketiganya hanya berkisar beberapa meter saja dengan mereka. Tristan bisa merasakan kekakuan dalam dirinya, seperti ada kumparan kawat yang tengah membelenggu tubuhnya—tidak memberikan pemuda itu tempat untuk bergerak dengan lasak.
Roma halus si pemilik dua darah tertarik naik. Bukan hal yang mudah untuk bersemuka dengan para penghuni tak kasatmata, serta merasakan belasan tatapan kosong menghunjam retina hitamnya bertalu-talu. Akan tetapi, reaksinya lebih baik ketimbang dua koleganya; Arthur yang secara terang-terangan bergidik atau Rhett yang terus mengusap kulit lengannya dengan risau.
Tristan sendiri justru menahan mati-matian untuk tidak menampakkan gelagat mencurigakan di mata para penghuni tak kasatmata. Sejauh ini, belum ada yang berminat untuk mendekat—dan jangan sampai terjadi. Kawanan penghuni tak kasatmata itu hanya bergeming, masih dengan tatapan kosong yang sama, seakan-akan mereka hidup sekadar menatap dan membisu saja.
“Berlagak tidak bisa melihat mereka,” Rhett mengingatkan dengan suara hampir mendesis, “usahakan jangan kelihatan mencolok.”
Seakan-akan tahu mengusap lengan bisa menarik atensi kawanan itu, Rhett akhirnya menurunkan tangan ke pinggang, membetulkan pundaknya agar terlihat tegap dan percaya diri, lalu menatap lurus jalan di depan sana. Tristan dan Arthur turut bertindak serupa dengan Rhett, menolak untuk bertemu pandang dengan makhluk-makhluk itu.
Satu per satu dari para penghuni tak kasatmata mulai bergerak menyebar. Cara mereka melangkah sangat kontras dengan b***k Organisasi Harapan—peliharaan Charlotte. Jika biasanya langkah para b***k tidak terstruktur dan agak timpang, penghuni tak kasatmata itu sendiri berjalan seperti makhluk pada umumnya. Akan sangat menjebak bila saja tubuh mereka tidak transparan, terlepas dari tatapan kosong dan wajah pucat mereka, tentunya.
u*****n Arthur berhasil menarik atensi Tristan secepat kilat. Netra hitamnya segera melongok ke balik pundak, mendapati salah satu penghuni tak kasatmata tahu-tahu sudah berdiri di belakangnya. Rupa dari makhluk itu seperti seorang pria. Ia tampak memajukan bibirnya, melontarkan tiupan kecil dari dalam mulut menuju tengkuk Arthur.
Arthur menahan mati-matian untuk tidak bertindak lebih selain mengumpat. Ia buru-buru menaikkan kecepatan langkah, bahkan melebihi Tristan. Arthur tidak repot-repot menunggu kendati ia tahu mantan kawannya turut menyusul. Ia ogah berhadapan dengan pria-transparan-tukang-tiup tadi. Begitu ia dan Tristan sudah bersisian, sepasang netra kedua pemuda itu tertuju pada Rhett.
Rhett tengah bertelut membelakangi mereka. Arthur kontan melirik Tristan, mendapati pemuda itu juga tengah menatapnya datar. Tanpa ada perbincangan lebih lanjut, kedua pemuda itu lekas menghampiri Rhett.
“Kau sedang apa?” tanya Arthur, menahan kengerian—takut bahwa Rhett saat ini bukan Rhett yang itu.
Tristan sedikit mencondongkan kepala untuk melihat lebih jelas. Rhett tampak sedang mengikat tali sepatu, kemudian bangkit dan menatap kedua koleganya dengan gurat malas. “Salah satu bocah ingusan membuka tali sepatuku,” jelasnya.
Di samping, Arthur menimpal seraya mengusap tengkuknya yang masih meremang—belum juga mereda, “Itu lebih baik ketimbang tengkukmu ditiup,” kata pemuda itu, meringis sebentar.
Rhett mengurungkan niat untuk menanggapi Arthur, alih-alih menjatuhkan pandangan menuju Tristan, sedangkan Arthur malah memakukan pandangan menuju ke balik pundak mantan kawannya. Ada isyarat di binar netra kedua pemuda itu, membuat Tristan cukup tahu akan ada sesuatu yang sedang mendekati ketiganya—terlebih saat ia merasakan pundak kanannya sedikit lebih berat seperti ada yang menekannya di sana.
Kepala Tristan kontan menoleh ke belakang, melupakan sejenak peringatan Rhett tadi; berlagak tidak bisa melihat mereka. Ia mendapati sebuah tangan dingin—yang tembus pandang—dengan kuku lancip berada di atas anggota tubuh antara leher dan pangkal lengan kanannya. Napas Tristan tersekat, sebab netranya lekas jatuh kepada seorang wanita dalam jarak terlampau dekat.
Wanita itu tersenyum—tak lebih dari senyum kucing yang kerap dipamerkan oleh kaum hawa demi menarik atensi lawan jenis. Bukan sesuatu yang akan membuat Tristan terlena dalam senyuman itu. Ia justru risi jika mendapatkan ukiran semacam itu di bibir, menurutnya terlalu dibuat-buat.
“Kau sangat tampan.” Wanita itu kini telah bersemuka dengan Tristan, terlampau dekat sampai Tristan mau tidak mau beringsut mundur. “Namun, sayang sekali kau bukan termasuk salah satu dari kami.”
“Pergi.”
“Suaramu bahkan terdengar seksi, Tampan.”
Netra hitam Tristan menutup frustrasi begitu si wanita transparan lagi-lagi mencondongkan wajah untuk mendekat. Jika ia makhluk biasa, mungkin Tristan bisa merasakan embus napasnya—namun si pemilik dua darah tersebut tidak merasakan apa pun selain sebuah tangan yang kini berada di permukaan pipinya. Pemuda itu refleks menahan dan menurunkan tangan si wanita dari sana, menatapnya sekali lagi.
“Menjauh.”
Nada rendah si pemilik dua darah terdengar tidak menerima bantahan secuil pun. Kali ini, ia berhasil membuat wanita transparan itu menjauh darinya. “Kapan-kapan, akan kupastikan kau menjadi nekrotous dan bukan lagi seorang demontus!” kata si wanita, mengerucutkan bibirnya, kemudian berlenggang menjauh bersama kawanan penghuni tak kasatmata lainnya.
“Nekrotous? Demontus?” Arthur menggumam pasca menjauhnya makhluk-makhluk itu dari pandangan ketiganya. “Mamalia macam apa itu?”
“Entah.” Tristan mengedikkan pundak. “Mari teruskan perjalanan.”
Kali ini, si pemilik dua darah segera mengepalai jalan lantaran netra hitamnya menemukan suatu bundaran di depan sana. Tristan memicing—bundaran air mancur?
Air mancur itu sama tidak hidupnya dengan blok bangunan di sekitar mereka, dalam keadaan mati dan berkarat. Begitu Tristan meniliknya lebih cermat, lapisan bundaran itu ternyata terdiri atas lusinan batu pualam yang telah usang, sedikit banyak terhias oleh parasit dan lumut-lumut. Bundaran air mancur itu sepertinya tidak pernah lagi terurus oleh siapa-siapa, meninjau dari betapa matinya tempat ini.
Langkah ketiga pemuda itu tertahan begitu mendapati ada tiga jalur tepat di depan bundaran air mancur. Lipatan lantas tercetak di permukaan kening Tristan. “Sebaiknya kita berpencar,” usulnya.
“Bukankah bersama-sama akan lebih baik?” Arthur melirik dua koleganya secara bergantian.
“Berpencar akan lebih menghemat waktu. Lagi pula, Draziel—” Rhett memberi jeda sejenak, “—kau masih menganggap serius tentang peringatanku tadi? Rasanya aneh melihatmu bersikap paranoia seperti ini.”
“Bukan begitu,” sanggah Arthur, semburat halus terbit di permukaannya begitu ia menggerakkan jemarinya salah tingkah. “Hanya saja, berhadapan dengan mereka membuatku agak … terganggu.”
Tristan mengangkat suara, “Jadi, bagaimana?”
“Kita berpencar.”
Keputusan akhir telah ditetapkan usai ketiganya merunding selama beberapa menit. Rhett mengambil jalur kiri dan Arthur mengambil jalur kanan—sedangkan Tristan sendiri akan mengeksplor jalur tengah. Atmosfer jalur tengah masih sama hampanya, tidak ada kehidupan pasti. Bagian terbaik, tidak ada para penghuni tak kasatmata yang tertangkap di indra penglihat Tristan, dan bagian terburuknya, semilir angin kian menggila ketika menerpa tubuh jangkungnya itu.
Barisan bangunan tersusun secara epik dan seperti domino. Setiap siluet yang bersumber dari sinar rembulan membuat atmosfer yang merebak semakin terasa mencekam, seolah-olah dari balik siluet tersebut menyimpan kepingan peristiwa kelam yang sudah terjadi beberapa waktu silam. Sebenarnya tidak mengherankan juga untuk Tristan, sebab kehadiran para penghuni tak kasatmata selalu identik dengan masa lalu yang suram.
Ia menarik napas dalam-dalam. Langkahnya kian memasuki daerah terpelosok, terkadang indra pendengar si pemilik dua darah menangkap jeritan pilu—terasa begitu dekat, akan tetapi tidak tampak. Mengiktikadkan jeritan tersebut bukan menjadi urusannya, Tristan lekas beringsut dengan langkah lebar untuk menghemat waktu.
Sejauh ia melangkah, belum ada tanda kehidupan lain atau akses untuk keluar dari lokasi tak berpenghuni. Lipatan di permukaan kening Tristan semakin dalam. Usai menghabiskan waktunya sekadar menelusuri jalur tengah, ia lagi-lagi berakhir di titik yang sama—bundaran air mancur. Netra hitam pemuda itu jelalatan, meneliti detail kecil bundaran yang nyatanya sama persis dengan bundaran tadi; batu pualam dengan lumut dan parasit lain, berkarat, serta menguarkan bau tak sedap.
Tristan bersumpah tidak pernah sekali pun ia berbalik arah saat penelusuran tadi, bahkan menengok saja tidak. Yang ia lakukan sepanjang perjalanan hanya menatap ke depan, sesekali melirik kanan dan kiri untuk memperhatikan bangunan. Tetapi, terdengar mustahil apabila ia kembali ke titik awal—kecuali kalau mereka membangun bundaran air mancur dengan detail sedemikian rupa.
Dan itu merupakan spekulasi paling bodoh dan mustahil yang pernah ada.
“Bukankah ini tempat tadi?” Suara Arthur mendadak bermuara di indra pendengar Tristan.
Tristan kontan menengok ke belakang, mendapati figur mantan kawannya tengah berjalan menghampirinya. Meninjau dari gurat wajahnya, Arthur tampak sama bingungnya dengan pemuda itu. “Seharusnya begitu,” balas Tristan, singkat.
Helaan napas terlontar dari pemuda di samping Tristan, namun Arthur urung untuk berbicara lebih. Keheningan lantas merebak cepat—hanya ada semilir angin yang terdengar sayup-sayup, dan setidaknya suara itu berguna untuk menyamarkan dua pemuda itu dari kecanggungan.
Berinteraksi hanya empat mata merupakan perihal yang jarang terjadi di antara keduanya, terlebih semenjak persahabatan Tristan dan Arthur agaknya merenggang.
Ekor netra Tristan sempat menangkap Arthur hendak berbicara, namun suara Rhett dengan cepat menginterupsinya. “Kita kembali ke tempat yang sama.” Itu pernyataan, terlihat dari cara Rhett yang langsung mengerang singkat, hampir frustrasi. “Alam macam apa—”
“Siapa di sana?!”
Suara feminin terdengar dari kejauhan, cukup berkumandang dan mengisi kekosongan atmosfer alam asing yang begitu hening. Ada nada tegas terselip dari suaranya, seperti menitahkan ketiga pemuda itu untuk tidak melarikan diri. Lantaran tak ada tempat untuk bersembunyi—dan mungkin saja pemilik suara itu dapat menginformasikan sesuatu yang membuat mereka berakhir di tempat ini, ketiganya memilih untuk menetap.
Derap langkah kaki mendekat. Siluet seseorang mendatangi Tristan, Rhett, dan Arthur. Mengingat indra penglihat ketiga makhluk itu tidak lagi berfungsi di balik kegelapan—dan hanya bermodalkan sinar rembulan saja, figur siluet itu masih belum tampak secara menyeluruh.
“Sedang apa kalian di Blackburn?” Suara itu kembali terdengar, jauh lebih tajam dan penuh waspada.
Figurnya kian terlihat jelas seiring mengecilnya jarak, kemudian rupa aslinya mulai terekspos. Seorang gadis dengan tubuh ramping. Ia mengenakan busana hitam ketat yang menutupi lengan dan kaki jenjangnya, membuat gadis itu terlihat lebih tinggi dari yang seharusnya.
“Siapa kau?” tanya Arthur, menaikkan sebelah alisnya.
“Itu adalah kalimatku.” Yang ditanya segera mendengkus, mengintai ketiga pemuda itu dengan cermat. “Kalau saja aku tidak sedang berpatroli, besar kemungkinan kalian tidak akan selamat dari Blackburn dan meninggalkan kota mati ini.”
Merasa keheranannya belum juga terjawab, Rhett akhirnya angkat bicara, “Kau siapa?”
“Trisella Gardner.” Gadis itu menelengkan kepalanya—entah ia sengaja mengibaskan surai oranye kucir satunya atau bagaimana, yang jelas suaranya terdengar bangga saat ia meneruskan, “Sang Kapten Klan Baja.”[]