CHAPTER 4

1172 Kata
    HAMPIR kedengaran mustahil untuk memercayainya sebagai kapten dari suatu klan-entah-apa. Trisella Gardner tidak lebih dari seorang gadis berusia belasan tahun—hampir memasuki kepala dua—dan kelihatan begitu bangga usai melafalkan kedudukan tingginya bak sebuah kalimat sakral. Memercayai Trisella mungkin pilihan terakhir untuk Tristan, Rhett, dan Arthur. Lantaran tidak ada lagi opsi lain, mengikuti gadis yang mengaku sebagai kapten mungkin ada baiknya juga.     Ia hanya satu-satunya pilihan bagi ketiga pemuda tanpa arah itu—entah berpotensi menuntun mereka keluar dari sana atau justru masuk ke lubang petaka.     Yang lain sedang berkerumun begitu Tristan, Rhett, dan Arthur kembali ke titik awal bersama pendamping baru. Para koleganya belum repot-repot menatap kedatangan keempat makhluk itu atau sadar dengan eksistensi si gadis bersurai oranye. Perasaan Rhett tidak tenang. Ia paham sesuatu sedang terjadi kepada adiknya, maka pemuda itu lantas merangsek dan bersatu dengan kerumun untuk melihat keadaan Candice.     Arthur sempat melirik Tristan, baru keduanya turut membaurkan diri ke dalam sana—meninggalkan Trisella bersama keheranan yang mengawang di dalam benaknya. Setiba ketiga pemuda itu di bagian terdalam kerumunan, Graham, Darin, dan Aiden tampak berdiri di barisan paling depan. Begitu mereka sadar Rhett sudah datang, ketiganya lantas beringsut mundur beberapa langkah, memberikan akses kepada Rhett untuk menjamah sang adik.     Aiden mengangkat suara, “Candice sempat mengejang selama beberapa menit.”     Sekujur tubuh Rhett terasa kaku. Ia menggamit jemari dingin Candice, berusaha keras untuk mengerahkan sihir spesial penyembuh miliknya—dan berakhir sia-sia. Ia tidak pernah sekali pun melepaskan pandangan dari Candice, meremas telapak tangan sang adik untuk menguatkannya. Persentase kecemasan Rhett terhadap Candice mungkin telah melebihi seratus, kendati keadaan adiknya sendiri sebenarnya lebih baik ketimbang saat pertama kali Tristan terjaga dan disambut oleh gadis itu yang mimisan.     Shane mendatangi Rhett dan Candice. Ia paling sedikit bersuara ketika mereka terdampar di Kota Blackburn. Gadis pirang itu masih terpukul usai mendapati fakta mengejutkan bahwa Benjamin Ryker merupakan sosok lain dari Tedros Tiberias, pemimpin Organisasi Harapan. Akan tetapi, itu tidak mengurungkan niat Shane untuk mendekati sepasang kakak beradik Rhett dan Candice. Ia juga begitu cemas dengan keadaan kawan terdekatnya selama di Nightfall.     “Kau tidak bisa menggunakan kekuatanmu di sini.” Jemari mungil Shane menepuk pundak Rhett. “Yang secara harfiah, kita semua tidak bisa menggunakannya. Sihit kita raib. Kita bukan lagi penyihir atau vampir—kita mungkin hanya makhluk fana.”     Rhett mengiakan perkataan Shane dalam diam. Ia dapat merasakan lirikan netra Shane terhadap Candice sama cemasnya dengan pemuda itu. Pada akhirnya, Rhett menarik kembali tangannya dari sang adik, beranjak dari posisi bertelut sekadar berbalik untuk menujukan arah pandangnya ke balik pundak Tristan—menatap Trisella dengan tatapan penuh intimidasi.     Trisella sama sekali tidak merasa terintimidasi ketika menerima tatapan tersebut. Ia justru melintasi Tristan dan Rhett, lalu berdiri tepat di depan tubuh Candice yang sekarat. “Aku akan membantu kalian keluar dari Blackburn,” katanya.     Graham mengernyitkan kening. Dari tatapannya, sudah jelas pemuda itu tidak familier dengan figur si gadis bersurai oranye. “Kau siapa?”     “Namaku Trisella Gardner.” Ia tidak repot-repot melafalkan kedudukan tingginya lagi. “Sebaiknya kita mulai bergerak sebelum tubuh gadis ini kembali mengejang.”     Mereka semua setuju—tidak ada lagi yang mempertanyakan asal-usul Trisella. Selain karena keadaan Candice cukup buruk, suhu di seputar lokasi juga begitu rendah. Tiada penghangat di sini. Udara kosong menerpa tubuh mereka bertalu-talu. Mereka semua mustahil betah untuk menetap lebih lama lagi. Jadi, tanpa pikir panjang, makhluk-makhluk itu segera memulai perjalanan bersama Trisella sebagai pemimpinnya.     Tristan hampir beringsut maju untuk mengangkat tubuh mungil Candice, akan tetapi pergerakan Rhett jauh lebih cepat. Ia setengah hati memberi Rhett ruang untuk menggantikan perannya. Kecemburuan pemuda itu tidak etis, memang—mengingat Rhett sendiri merupakan kakak beda darah dari Candice. Akhirnya, Tristan hanya dapat mengikuti Rhett dari belakang selagi netranya memandang intens wajah pucat gadis itu.     “Berada di Blackburn sangat memungkinkan nekrotous untuk mengusik kalian—dengan catatan, kalau kalian menarik.” Suara lantang Trisella berhasil menarik atensi seluruh makhluk yang berada di sana.     “Nekrotous?” Vernisse menimpali. Ia berjalan di antara Aiden dan Darin, membuat kedua pemuda itu lebih terlihat seperti penjaga, alih-alih dua kawannya. “Sama sekali tidak terdengar menarik,” imbuhnya.     “Perhatikan ucapanmu, Vernisse.” Aiden memberikan tatapan peringatan, kemudian mendeham pelan sambil sesekali melirik Trisella yang masih berjalan, tampaknya tidak merasa tersinggung dengan ucapan si vampir buangan itu. “Mohon maaf apabila ucapan Vernisse mengusikmu, Trisella.”     Dari depan, gadis bersurai oranye itu mengibaskan tangan kanannya, lalu membenahi kucir satunya. “Nekrotous merupakan penghuni Kota Blackburn yang sudah lama terasingkan—bukan sesuatu yang akan membuatmu senang apabila kau menistakan derajat mereka,” urainya.     “Aku tidak menistakan mereka barang sedikit pun.” Vernisse tidak ingin kalah. Ia berjalan lebih cepat dan mungkin akan menghampiri Trisella apabila Darin tidak cekat menahan pergelangan tangan gadis itu. “Hanya membicarakan fakta kalau sebutan untuk mereka itu terdengar bodoh.”     “Bisakah kau diam dan jangan banyak tingkah?” Darin bertanya dengan suara rendah.     “Aku bahkan tidak—”     “Vernisse!”     Bibir si objek Sindikat Pergantian Darah terkatup rapat ketika Aiden menaikkan oktaf suaranya sedikit lebih tinggi dari yang sudah-sudah. Vernisse kontan membuang wajahnya ke arah lain, secara tidak sengaja membuat tatapannya dengan Tristan bertumbukan. Ia adalah yang paling awal memutuskan kontak mata, setelahnya kembali memusatkan perhatiannya pada jalur di depan mereka—sedangkan Tristan sendiri tetap memandangi Vernisse dengan tajam.     Bagi Tristan, makhluk bermulut besar semacam Vernisse—terlebih ia kerap kali melibatkan nama gadisnya pada setiap kalimat tanpa makna, membuat Tristan perlu memberinya sedikit tikaman maut melalui netra hitamnya. Vernisse mungkin tidak sadar benar betapa muaknya pemuda itu atau bahkan kedua kawannya sendiri terhadap sikapnya yang tidak bisa ditoleransi.     “Setelah kaum kami—para demontus—telah melakukan imigrasi beberapa ratus tahun silam, Blackburn resmi menjadi tempat tinggal nekrotous.” Trisella masih lanjut bercerita tanpa mengacuhkan perkataan Vernisse yang mulai melampaui batas. “Kaum kami kini singgah di Mavratera—tepatnya di sini.”     “Selamat datang di Kota Mavratera!”     Ia berbalik seraya merentangkan kedua tangannya lebar-lebar. Sebuah gerbang berwarna hitam dengan cat yang agak rentan berdiri menjulang ke atas—berhasil menyaingi tinggi blok bangunan tak berpenghuni di sekeliling mereka. Ada semacam ukiran tangan di permukaan gerbang tersebut dan tercantum kalimat ‘SELAMAT DATANG DI MAVRATERA’ di sana—sebatas kalimat penyambut formalitas.     “Sekarang namanya jauh lebih aneh,” celetuk seseorang—kali ini bukan Vernisse, melainkan Marianne.     Persamaan dari Vernisse dan Marianne terletak di cara berbicara keduanya; sama-sama tak berbobot.     Vernisse melongok dengan seringai lebar, memamerkan dua taring yang mencuat di sisi kanan dan kiri mulutnya—taring hasil sindikat bersifat traumatis kala itu. “Tidak bisa lebih setuju dari ini, Penyihir.”     Suara Arthur berhasil mengurungkan niat Marianne untuk membalas. “Ini membuatku bertanya-tanya. Bila kau adalah demon—demontus, mengapa kau tidak bersayap?” tanyanya.     “Itu tidak penting.”     “Jawabanmu terdengar meragu—”     Arthur mengatup rapat bibirnya usai mendapat tatapan maut dari si Kapten Klan Baja. Tristan refleks mendengkus. Inilah salah satu alasan mengapa ia sebisa mungkin menghindar dari penyuaraan pendapat. Kau mungkin tidak akan pernah tahu kelanjutan hidupmu apabila berani meragukan omongan para kaum hawa.     “Sebaiknya kau berhenti mencurigaiku sebelum aku meninggalkan kalian semua di sini bersama para nekrotous dan menjadi objek kejahilan mereka.” Trisella menatap Arthur sekali lagi, kali ini tanpa emosi—sebelum akhirnya menujukan pandangan kembali ke jalur depan. “Dan untuk apa memiliki wajah tampan apabila hidupmu terus dipenuhi oleh keraguan?”     Tristan tidak dapat menebak apakah tadi itu adalah sebuah pujian atau tamparan untuk mantan kawannya, tetapi dilihat dari cara bagaimana Arthur bereaksi, agaknya perkataan Trisella sukses menohok hatinya. Ia kemudian melirik Tristan saat dengkus geli lolos dari bibir pemuda itu secara tak sengaja.     Ia merotasikan netra, namun tidak mengatakan apa-apa—sepertinya terlalu malu dan kapok untuk bersuara lagi. Tak lama setelahnya, samar-samar Tristan bisa mendengarnya bergumam kepada diri pemuda itu sendiri, “Baru kali ini harga diriku seperti ditampar secara verbal.”     Perkataan dari mantan kawannya membuat Tristan tidak bisa untuk tidak mengangkat salah satu sudut bibirnya kala itu juga.[]
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN