GUMUK pasir berhasil menguasai atensi kawanan makhluk Nightfall sepenuhnya. Langkah kaki Trisella tampak begitu ringan saat Kapten Klan Baja itu mulai mendaki gumuk pasir dengan sepatu bot kulit hitamnya, masih mengepalai mereka semua menuju suatu tempat yang ia sebut sebagai Markas Klan Baja. Segala bentuk keluhan Vernisse menjadi selingan mereka selagi siap menanjak timbunan pasir tersebut.
Butuh usaha dan energi besar untuk mendakinya—mewaspadai bila ada bagian dari pasir yang licin dan landai lantaran kontur kemiringan cukup terjal.
Setiba kawanan makhluk Nightfall beserta Trisella di kulminasi gumuk pasir, gambaran Tristan mengenai gua sebagai Markas Klan Baja, seperti halnya dengan Markas Organisasi Harapan, raib seketika dari benaknya. Ia malah mendapati tenda-tenda beratap kerucut yang telah didirikan di bawah sana, dataran yang membentuk berpetak-petak tanah pasir.
Semilir angin cukup keras menerpa mereka dari atas puncak. Jadi, untuk meredakan atmosfer dingin, Trisella bergegas mengepalai mereka turun untuk menjamah Markas Klan Baja yang tidak lebih seperti pusat perkemahan pada umumnya. Ada kawanan makhluk terlihat sedang berseliweran menenteng berbagai perkakas, mulai dari perkakas kecil sampai perkakas besar. Trisella menyebut makhluk-makhluk itu merupakan anggotanya.
Setiap anggota Klan Baja mengenakan properti yang seragam; ikat kepala, satu set pakaian dan sepatu bot berbahan kulit—semua serba hitam, identik dengan para kaum demontus.
“Sebenarnya, aku tidak sabar menginterogasi kalian.”
Begitu tungkai mereka telah berpijak di dataran seutuhnya, pengakuan itu segera Trisella muntahkan seraya menatap satu per satu makhluk Nightfall dengan kernyitan samar pada permukaan keningnya. “Tetapi, kalian terlihat memprihatinkan. Akan lebih baik kalau kalian segera membersihkan diri terlebih dahulu—” Trisella mengacungkan jari telunjuknya ke arah Timur, “—di sana.”
Kalimat itu mengundang tatapan tanya dari semua pihak. Mereka memicingkan netra, tidak menemukan apa-apa kecuali pekatnya arah Timur. Tanpa insting kaum Nightfall, melihat sesuatu ke balik sana merupakan hal yang sia-sia. Si Kapten Klan Baja akhirnya menguraikan kepada mereka bahwa terdapat dua pondok untuk para anggotanya membersihkan diri—satu untuk kaum adam dan satu untuk kaum hawa.
“Dan aku butuh satu dari kalian untuk mengusung gadis sekarat itu menuju tenda medis.”
Rahang Rhett mengeras begitu mendengar Trisella menyebut adiknya sebagai gadis sekarat. Ia tidak menerimanya, namun ia juga terlalu lelah untuk membantah. Ia segera membenarkan tubuh lesu Candice di atas lengan kekarnya, hendak mengikuti Trisella yang telah berlenggang pergi—akan tetapi, pandangannya sudah lebih dulu jatuh kepada Tristan yang masih juga berdiri di sisi mereka.
Rhett sangat paham koleganya juga mencemaskan Candice. Jadi, ia segera berkata, “Di sini, Candice juga tanggung jawabmu, Baxter. Keberatan bila kau menggantikan peranku sebentar?”
Gurat bingung mendominasi netra hitam Tristan. Begitu ia mengerti maksud Rhett, pemuda itu tentu saja tidak merasa keberatan. Rhett segera mengalihtugaskan Tristan untuk mengusung Candice menuju tenda medis. Tubuh mungil gadis itu terasa sangat solid untuk kedua lengannya. Rhett menepuk pundak Tristan satu kali, kemudian beringsut menuju pondok untuk lebih dulu membersihkan diri bersama kolega lainnya.
Tristan meneruskan langkahnya, menyusul si Kapten Klan Baja yang ternyata masih terlalu baik untuk menunggu kedatangan mereka. Gadis bersurai oranye itu melipat kedua tangannya di depan d**a dengan gurat malas—mungkin lebih ke arah muak lantaran Tristan dan Rhett terlalu banyak ulah. Untungnya, ia tidak mengatakan lebih saat Tristan sudah bersisian dengannya bersama Candice yang belum siuman.
Mereka membelah kerumunan tenda, sesekali berpapasan dengan anggota Klan Baja yang kerap tegur sapa dengan Trisella. Tristan tidak tahu mengapa ia tetap terkejut saat mendapati anggota-anggota itu menyebutkan gelar kapten pada si gadis bersurai oranye. Kini ia baru bisa percaya bahwa Trisella tidak berdusta—ia memang seorang kapten, terlepas dari usianya yang terbilang sepantar dengannya.
Setiba mereka di salah satu tenda, Trisella segera menyingkap penutup tenda agar memudahkan Tristan untuk masuk. Pemuda itu lekas merunduk selagi beringsut ke dalam sana bersama Candice yang masih terbaring di lengan kekarnya. Ia segera menurunkan Candice ke sebuah matras yang digelar sedemikian rupa dengan ukuran tenda. Trisella melihat keduanya sejenak, baru kembali berlenggang ke luar untuk memanggil pihak medis.
Selagi menunggu, Tristan mendudukkan bokongnya di atas matras, bersisian dengan Candice. Ia mengulurkan tangan untuk mengusap surai cokelat gadisnya, kemudian embusan napas kasarnya lolos dari bibir. Candice jauh dari kata kuat—bahkan hampir mendekati lemah.
“Kau harus bangun, Candice,” ia berbicara kepada udara kosong, “aku merindukanmu.”
Bertepatan ketika bibir Tristan menyentuh kening Candice, Trisella kembali bersama seorang pemuda—yang langsung membuat Tristan refleks membidik kedua netranya tajam. Ekspresinya mengeras, namun ia tidak berkata lebih meski Tristan sendiri ingin meminta si Kapten Klan Baja untuk mencari anggota medis lain. Siapa saja, asal bukan kaum adam. Teringat dengan kebaikan Trisella untuk membawakan Candice seorang anggota medis lantas membuat Tristan urung.
Tanpa berbicara apa-apa, Tristan berdiri dan memberikan angguk singkat kepada kedua makhluk demontus itu—keluar dari dalam tenda untuk merilekskan tubuh.
*
Pasca serangkaian peristiwa tak menyenangkan yang sempat terjadi, otak Tristan terasa lebih dingin dan jauh terkendali saat luncuran air hangat mengguyur tubuhnya dari atas kepala sampai bawah kaki. Yang lain turut merasakan hal serupa, akan tetapi fakta bahwa mereka terdampar di alam asing dan Sang Terpilih yang masih juga belum sadar merupakan lain cerita.
“Entah mengapa, aku tidak bisa memercayai Trisella begitu saja.” Aiden bersuara. Ia membasuh rambutnya di bawah guyuran air, kemudian melihat ke arah koleganya satu per satu. “Menurut kalian, apakah ia bisa dipercaya?”
“Setelah serangkaian peristiwa ini terjadi?” Sebelah alis Graham terangkat, hampir muak. “Tidak sama sekali.”
Graham menghela napas. Guratnya terlihat kewalahan, sementara netranya menatap kosong ke arah luncuran—penuh sarat akan kerinduan terhadap Maeve dan putranya. “Setelah b******n itu membunuh istriku, membuang putra kami di pusat rehabilitasi, dan aku hampir mati karenanya—apa lagi yang bisa kupercaya? Si Kapten Klan Baja? Tidak. Ia lebih mirip seperti seorang disiden.”
Tristan bisa mendengar kegetiran di dalam nada Graham. Selanjutnya, ia tidak lagi mendengar percakapan tersebut, berusaha keras menghindar dari segala perbincangan mengenai Tedros Tiberias. Si pemilik dua darah itu akhirnya menyandarkan kepala pada permukaan dinding, memejamkan sepasang netra, serta menikmati setiap guyuran dari luncuran air tersebut.
Suara percakapan para koleganya sudah teredam dari indra pendengarnya kala itu juga.
Satu tepukan berhasil menyadarkan Tristan dari lamunan. Netranya langsung membaur cepat dengan si pemilik tangan di pundak kanannya—Arthur. “Kau masih ingin di sini?” tanyanya, agak kikuk.
Dengan sarat keheranan, Tristan memandanginya aneh. Tetapi, akhirnya pemuda itu paham dengan maksud dari ucapan Arthur. Luncuran air di atas mereka semua telah dimatikan—serta-merta Tristan memutar tuas ke sebelah kiri yang bertengger sejajar dengan dadanya untuk mematikan luncuran air yang telah sedikit banyak mendinginkan otaknya.
Ia keluar lebih dulu, tidak ada niat untuk menunggu para koleganya. Netra hitam pemuda itu membaur cepat dengan sosok Shane, Marianne, Carlice, Charlotte, dan Vernisse yang tengah berkumpul tidak jauh dari pondok—duduk melingkari sebuah api unggun. Tristan menghela napas, berpikir setidaknya Incubus Sphere masih mengenal api.
Rhett dan yang lain sudah membaurkan diri, sedangkan Tristan memilih untuk duduk terasing dengan mereka. Bukan seperti ia ingin menghindar. Suasana ramai membuat energinya terasa berkurang alih-alih bertambah. Lagi pula, ia belum kedinginan—api unggun kecil itu tidak akan memberikannya dampak signifikan.
Tristan duduk di salah satu batu yang tertanam oleh permukaan tanah pasir selagi mengintai atmosfer di Markas Klan Baja. Beberapa anggotanya terlihat sedang bercengkerama santai, sisanya berbaring pulas di dalam tenda yang masih tersingkap.
“Tidak ingin bergabung dengan yang lain?”
Suara Arthur memecahkan lamunan Tristan kala itu juga. Mantan kawannya itu menenteng dua gelas berbahan kertas di tangan, menyerahkan salah satunya kepada Tristan. Tristan menatap benda itu cukup lama, baru menerima uluran gelas tersebut dari tangan Arthur.
“Teh hangat dari si kapten.” Arthur mendudukkan bokongnya di samping Tristan, menyesap asupannya. “Aku berani bersumpah, tidak ada racun. Mereka sudah mencobanya lebih dulu.”
Tristan mengangguk sekali. “Trims,” katanya.
Percakapan kedua pemuda itu berhenti sampai di sana. Arthur sibuk memperhatikan Shane—adik sedarahnya yang sedang bercengkerama seru dengan Rhett, kadang kala tertawa cekikikan semata-mata untuk melupakan pengkhianatan Ben terhadapnya. Sorot Arthur melunak melihat Shane. Ia tahu adiknya masih menyimpan rasa kepada monster itu.
“Apa saja yang dibicarakan oleh kalian tadi?”
Arthur hampir tersedak, tetapi ia hanya terbatuk sekali dan meletakkan gelasnya di atas tanah. “Rhett sempat bilang kita akan tinggal di sini selama Candice belum siuman,” katanya. “Kalau ia telah siuman dalam kondisi yang cukup baik, kita harus sesegera mungkin keluar dari sini. Kita tidak bisa memercayai kebaikan Klan Baja dalam memelihara kita begitu saja.”
“Oh.”
“Oh? Hanya itu?” Nada Arthur hampir terdengar frustrasi.
Tristan meliriknya malas. “Lalu, jawaban apa yang kauharapkan?”
“Ck!” Arthur balas menatap mantan kawannya itu dengan kesal, namun selanjutnya gurat wajah pemuda itu menjadi kosong. “Asal kau tahu, Baxter. Aku benar-benar menyesal atas semua yang sempat terjadi—kematian Hermosa yang berakhir mengambinghitamkan adikku sendiri atau meruntuhkan kepercayaan kau dan Candice.”
Tarikan napas terdengar setelah ia berkata demikian. “Maaf,” imbuh Arthur.
Pada akhirnya, Tristan meruntuhkan ego supaya ia bisa kembali membuka kepercayaan untuk mantan kawannya itu. “Jadi, bagaimana rasanya?”
“Kosong.” Senyum kecut masih belum sirna di wajahnya, apalagi ketika ia menatap Tristan. “Aku telah kehilangan banyak sekali sosok yang berharga untukku.”
Roma tengkuk Tristan tiba-tiba meremang setelah mendengar pengakuannya—yang entah mengapa terdengar menjijikkan. “Hentikan. Kau terdengar seperti berusaha menggodaku.”
“Memang itu tujuanku.” Ia mengeluarkan seringai lebar, seolah-olah Arthur tidak pernah menampakkan senyum kecutnya satu detik yang lalu. “Oh, Bung. Kau masih seorang Baxter yang kukenal.”
“Diam atau kupatahkan lehermu sekarang juga.”
“Itu mengerikan, tetapi aku tidak gentar.”
Dengan mudahnya, ia melenyapkan atmosfer kikuk yang menguar di sekeliling mereka sebelumnya. Tetapi, dari cara ia berbicara, setidaknya Tristan dapat bernapas lebih lega karena—perlahan namun pasti—perkawanan di antara mereka akan kembali terikat. Ia memang sempat masuk ke Organisasi Harapan, namun masih juga memiliki kesamaan sifat terhadap usia kecilnya. Pemuda itu masih seorang pengganggu cilik yang acap kali melontarkan kalimat klise dan tidak masuk di akal—meski dirinya tidak pernah menunjukkan kebiasaan kecil itu secara terang-terangan setelah ia mulai tumbuh besar.
Arthur berhenti tertawa, serta-merta menghabiskan minumannya. Ia beringsut bangkit dari batu di samping Tristan dan merenggangkan tubuhnya sesaat. “Si kapten telah datang. Kurasa ia akan menginterogasi kita dengan pertanyaan bodohnya sebentar lagi.”
“Hentikan percakapan tak bermutu kalian dan segera angkat b****g kalian. Ikut aku!”
“Nah, kubilang apa coba?” Dan lagi, Arthur tersenyum miring detik itu juga.[]