SHANE DECLAN
BESAR rembulan teramat tidak wajar. Ia begitu dekat dengan permukaan—namun berlari mendekat dan memegangnya adalah suatu kemustahilan. Netra biruku kerap mendongak ke langit, mengamati setiap kilauan yang hilang-hilang timbul seperti susunan lampu hias. Selebihnya, langit terlihat kosong melompong dan nyaris memprihatinkan.
Kemudian, raut ramah Ben terlukis di sana. Aku mengejap sekali. Atmosfer yang menguar di sekelilingku terasa lebih menyesakkan. Parasnya terlalu manis untuk kulupakan. Terlepas dari perbuatan tak beradabnya, aku tidak memiliki alasan lain untuk membenci sosok Benjamin Ryker—yang berkedok sebagai Tedros. Kubayangkan wajah Ben, lalu si pemimpin Organisasi Harapan.
Katakan aku d***u, akan tetapi kedua rupa itu tidak ada sama-samanya. Mulai dari cara mereka tersenyum, memandang dunia, membicarakan seluruh omong kosong seakan-akan sebuah realita, dan terus kuulang bak video butut. Kalau saja ia tidak mengubah penampilannya secara terang-terangan di hadapanku, aku akan terus meragukan identitasnya. Ia menjeratku dengan senyum palsu—yang apesnya terlalu indah untuk dikenang.
“Langit tidak perlu kautatap seperti itu, Declan.” Rhett tahu-tahu saja telah duduk tepat di sampingku ketika para gadis sedang bercengkerama santai—minus aku. “Kudengar-dengar, setiap kaum hawa yang menatap langit sebenarnya sedang mengenang sesuatu—katakan kalau aku salah.”
“Kau tidak salah,” balasku. Bibirku mendekati bibir gelas, lalu menyesap teh hangat pemberian Trisella secara perlahan-lahan agar tidak membakar indra pengecapku.
Rhett masih menatapku dari samping—terasa begitu intens dan mampu menciptakan gelenyar aneh di dalam dadaku. Mau tidak mau, aku berpura-pura melihat kepulan asap yang menguar dari dalam benda bundar di tanganku semata-mata agar tidak tampak gugup. Terkadang, aku benci melihatnya begitu santai memperhatikanku ketika aku sendiri sedang mati-matian menormalkan mimik wajah agar tidak terlihat salah tingkah.
Dan terkadang, aku benci melihat kecemasan pemuda itu dapat tersamarkan dengan begitu sempurna—pun ketenangan yang terlampau tidak wajar untuk seukuran makhluk yang dikelilingi oleh atmosfer mencekam Incubus Sphere.
Sesaat kemudian, ia bertanya lagi, “Mengenangnya, hm? Si telekinesis.”
“Tidak!”
Aku berniat memberanikan diri untuk menatap Rhett tepat di manik mata—namun nyaliku sudah telanjur ciut begitu netra kami membaur cepat. Aku berhasil terhanyut di dalam sana. Bisa kulihat sorot kecemasan pemuda itu yang hampir dominan.
“Ben tidak pantas kukenang,” imbuhku, menjaga suara agar terdengar yakin.
“Oh ya? Tidak begitu percaya.” Ia memiringkan senyumnya. Bisa-bisanya Rhett masih terlihat tampan dengan mimiknya yang tidak etis itu. “Cinta itu membutakan. Tidak peduli bagaimana ia memperlakukanmu dengan buruk kala itu, hatimu tetap akan memilihnya—dan lama-kelamaan ia juga siap meluluhlantakkan segalanya dari sebagian besar dirimu. Selain membutakan, cinta juga dapat membunuhmu secara perlahan-lahan.”
“Terima kasih atas wejangannya, Tuan Ambrose.” Ingin sekali bagiku untuk terdiam pasca mendengarnya, namun artinya aku akan kalah. Rhett sendiri juga agaknya sadar kalau perkataannya tadi cukup menghunjam, jadi aku tidak akan membiarkan salah satu sudut bibirnya terangkat lagi. “Tanpa kauberi tahu, aku juga sudah tahu dan cukup cerdas untuk menyadari gagasanmu sejak dulu,” kataku.
“Dasar, gadis.”
Aku tertawa sebentar. “Kau sendiri … pernah merasakannya?”
“Hm?”
“Jatuh cinta.”
“Belum.” Rhett menyunggingkan senyum tipis kala ia mendongak untuk menatap langit. “Candice masih jadi—tidak, ia akan terus menjadi prioritas. Selama itu, aku tidak membutuhkan apa-apa.”
“Kau sangat menyayangi Candice, ya?” Tebersit perasaan iri di benakku. Gadis itu tentu saja sangat beruntung. Ia memiliki Tristan dan Rhett yang bersedia melindunginya sampai darah penghabisan. Kasih sayang selalu menyertai Candice di mana pun ia berada, bahkan walau ia masih belum siuman. Kawanku satu itu betul-betul tahu cara membuatku iri karena tidak pernah bisa merasakan hal yang serupa—tetapi aku tidak bisa membencinya.
Rhett agaknya sadar dengan perubahan nada di kalimat tanyaku—lirih dan pelik, serta tidak bisa digambarkan bagaimana aku berekspresi sekarang, sebab ia langsung mengusap puncak kepalaku begitu lembut dan mampu menciptakan kehangatan di sekujur tubuhku. Aku bersumpah cara pemuda itu menatapku saat ini jauh lebih hangat dari biasanya—dan ada sedikit keprihatinan di sana.
Ia mengerti perasaanku meski aku tidak mengatakan apa pun lagi.
“Arthur menyayangimu,” katanya, “kalau ia tidak menyayangimu, maka biarkan aku menjadi kakakmu.”
Walaupun terkadang sinting, Rhett memiliki watak seorang pemuda yang telah masuk ke jenjang dewasa muda. Sejauh pengamatanku, ia lebih menunjukkan kepedulian terhadap orang-orang di sekitarnya dengan cara yang berbeda. Rhett lebih ahli dari kebanyakan orang—dan aku lebih senang menghindar dari sosok semacam pemuda itu karena hanya bisa menyebabkan lelah hati.
Tetapi, tidak ada yang bisa kulakukan selain mengangguk kecil atas perkataan Rhett tadi—entah pernyataan pertama atau pernyataan kedua.
Untunglah, atmosfer kikuk yang merebak di sekeliling aku dan Rhett lekas sirna begitu Trisella memanggil kami untuk penginterogasian. Rhett dan yang lain lantas beringsut bangkit, pun denganku. Tetapi, sebelum aku dan pemuda itu akan menyusul, aku mencekal lengan Rhett dan agak salah tingkah.
Aku perlu menelan liurku beberapa kali dan tidak berani menatapnya tepat di mata—namun bisa kurasakan sepasang matanya yang menatapku kebingungan.
Saat aku mendongak sekaligus balik menatapnya, nyaliku kembali menciut. Di balik pakaian serba hitamnya—yang memang telah disediakan secara baik hati dan cuma-cuma oleh Trisella tadi kepada kami—pemuda itu terlihat tinggi dan berisi. Juga keren dan tampan, penuh dengan karisma.
“T-terima kasih,” ungkapku.
Lidahku dengan tololnya menjadi kram dan membuat Rhett kontan mendengkus geli. Pemuda itu lagi-lagi menepuk puncak kepalaku, kali ini sedikit condong ke arah depan untuk menyetarakan tinggi kami. Rhett betul-betul memperlakukanku seperti adiknya sendiri—perlakuannya lebih manis jika disandingkan dengan paras manis Ben.
Untuk kali pertama, Rhett tersenyum tanpa ada makna terselubung sama sekali—sangat tulus.
“Sama-sama, Shane.”
*
Tenda atap kerucut berukuran besar ini ternyata dapat menampung kami semua—jumlahnya sebelas dan belum berikut Trisella. Kami duduk depan belakang bak seorang murid dan Trisella sebagai gurunya yang akan menerangkan pelajaran. Posisi duduk seperti ini mengingatkanku pada Asrama Nightfall. Memang tidak ada yang istimewa, sebenarnya. Tetapi, aku jauh lebih memilih asramaku ketimbang alam asing dengan penghuni pecinta warna hitam—dan kecintaan mereka terhadap warna itu sinting.
Trisella terus menatap kami untuk mencari-cari dusta di mata kalau-kalau kami adalah kaki tangan penjahat atau apalah itu. “Dari alam mana kalian berasal?” tanyanya—sebagai tanda menuju penginterogasian yang sebenarnya.
“EveFalls Sky.”
Kami menjawab serempak, tetapi dengan cara yang berbeda. Carlice, Charlotte, dan Vernisse merespons dengan nada malas—atau Tristan yang hanya diam saja—sisanya dengan keyakinan penuh. Dari keyakinan inilah yang barangkali mampu menggantikan skeptisnya terhadap kami menjadi sebuah kepercayaan.
“Makhluk apa kalian?”
Terdengar kasar, namun masih tetap sebuah pertanyaan waras. “Penyihir,” jawabku, bersamaan dengan Vernisse, Marianne, Carlice, Rhett, dan Graham. Selebihnya—kecuali Tristan—menjawab vampir.
Bicara soal Tristan, ia hanya diam saja dan memasang raut bosan setengah mati. Tidak heran, sebab pemuda itu tidak memiliki ekspresi jika di depan publik—lain arti apabila berada di dekat Candice. Identitas Tristan sebetulnya cukup rumit; mengalirkan dua darah sekaligus. Penyihir dan vampir. Dan kemungkinan besar penyebab pemuda itu terlalu pasif dalam berbicara karena adanya perbedaan darah dalam satu tubuh—yang mana bisa mengatur kepribadian dan ketertarikan Tristan sendiri.
Aku tidak begitu tahu banyak tentangnya dan tidak peduli juga.
“Mengapa kalian dapat berakhir di sini?” Trisella bertanya lagi.
Kurasakan pergerakan tepat di sampingku. Marianne mengangkat bicara—masih dengan tabiat pongahnya. “Kalau kami tahu, mungkin kami sudah memberi tahu kau sejak tadi,” kata gadis itu.
“Bagaimana dengan kekuatan kalian?”
“Kami tidak lagi memiliki kekuatan,” kakakku menimpali.
Karena aku memandanginya secara terang-terangan, Arthur juga melihat ke arahku—tetapi tidak lama. Ia langsung menatap Trisella kembali, yang mana membuatku segera menelan bulat-bulat kekecewaanku terhadap kakakku untuk sekian kalinya. Kami memang sudah baik-baik saja dan bukan berarti hubungan kami telah kembali seperti sebelumnya—kisah hidupku lebih rumit.
“Sepertinya kita semua mengalami permasalahan yang nyaris serupa.” Trisella menepuk kedua tangannya sekali, membuat atensiku teralih saat itu juga. “Kaum kami—para demontus—tidak dapat lagi menggunakan kekuatan kami. Dan semua ini terjadi karena—” Ia berjalan ke sudut tenda dan menyingkap selubungnya cukup besar untuk memperlihatkan sesuatu kepada kami, “—rembulan ini.”
“Apa yang terjadi dengan rembulan?” Graham menyuarakan sekaligus mewakili kebingungan kami. “Tidak ada yang berbeda dengan rembulan di EveFalls Sky.”
Kami semua mengangguk—membenarkan perkataan Graham. Trisella berbalik untuk menghadap kami bersebelas, dengan tangan masih menahan selubung tenda agar tidak menutup wujud rembulan. “Sekilas memang tampak seperti rembulan biasa—untuk kalian dan tidak untuk kaum kami. Dahulu, rembulan di Incubus Sphere berfungsi sebagai mentari. Efeknya sama dengan raja langit itu. Kami beraktivitas seperti kaum kalian pada umumnya dan hal-hal lain yang tidak perlu kusebutkan satu per satu. Intinya, rembulan adalah sumber kehidupan kami.”
Tatapan Trisella agak meredup, seperti tengah mengenang sesuatu yang terlampau menyedihkan untuk dikenang—hampir sama ketika aku mengenang pemuda berparas manis itu. Trisella masih mengitari kami semua saat si Kapten Klan Baja melanjutkan, “Tetapi, cakrawala yang seharusnya berwarna biru muda, lambat laun berganti menjadi hitam pekat seperti saat ini. Incubus Sphere kini tidak lagi mengenal pagi dan siang. Seiring dengan redupnya cahaya rembulan, kekuatan kaum demontus maupun kaum lain di alam ini sirna.
“Kini—seperti yang kalian lihat dan rasakan—kami hanya dapat mengandalkan cahaya rembulan saja untuk mengemban seluruh aktivitas kami.”
“Itukah salah satu alasan mengapa kau tidak memiliki sayap?” Pertanyaan bodoh itu tentu diajukan oleh Arthur. Kakakku sama sekali tidak mengerti atmosfer, selalu saja bertindak memalukan seperti ini.
Trisella mengangguk, sama sekali tidak terlihat jengkel dengan pertanyaan tak berbobot milik Arthur. “Benar. Kalau sampai ini terjadi secara berkesinambungan, kami khawatir Incubus Sphere akan mati sepenuhnya. Akhir dari peradaban—kiamat, kata kasarnya.”
“Kalau begitu, bagaimana cara kau dan mereka bisa bertahan hidup tanpa sayap maupun kekuatan? Apakah itu tidak berpengaruh dengan kelangsung hidup kalian semua?” tanya Darin.
“Itulah satu-satunya tujuan pembentukan Klan Baja.” Trisella kali ini tersenyum, tetapi masih bisa kurasakan kegetiran di wajah gadis itu. “Dengan terciptanya klan ini, aku harap kami masih bisa bertahan hidup—meski hanya berbekal fisik dan bela diri.”
Semua terdiam. Tidak ada yang bertanya lagi, lebih tepatnya bingung. Si Kapten Klan Baja kemudian mendeham untuk memecahkan keheningan yang mulai merambat, kemudian kembali ke posisi awalnya dan membiarkan rembulan tidak lagi tampak di indra penglihat kami. “Mungkin berakhirnya kalian di Incubus Sphere karena kesalahan pada salah satu portal yang rusak—mengingat keadaan alam ini sudah mulai kacau. Jadi, sebaiknya kalian menetap di sini selama beberapa waktu sampai kami berhasil menemukan dan membetulkan portal tersebut,” urainya.
Sebelum kami sempat menjawab dengan pernyataan terima kasih kepada Trisella, seseorang merangsek ke dalam tenda dan berdiri tepat di depan si Kapten Klan Baja seraya membungkuk hormat. Kedatangan pemuda itu membuat kami semua kebingungan, sebab ia baru saja seperti habis berlari dari suatu tempat hanya untuk mengutarakan kabar penting kepada pemimpinnya.
“Gadis tadi telah siuman.”
Perasaan bahagia kontan mengucur deras di setiap aliran tubuhku usai mendengar penuturun pemuda itu—dan perasaan ini tentunya tidak kurasakan seorang diri.[]