AKU berbau mulut. Perkara satu ini memang paling kentara di antara semuanya, terlepas dari betapa melekatnya aku dengan kematian; bangkar, pucat, dan bernapas berat laiknya kunarpa hidup. Pekat masih tersuguh jelas di dalam indra penglihatku. Dari sana, aku baru menyadari netraku masih dalam keadaan tertutup. Aku kesulitan untuk membukanya, sebab terasa lengket dan basah oleh kotoran.
Usai menggosok netra, akhirnya aku berhasil memisahkan kelopak bagian atas dan bawahku sampai terekspos sempurna. Indra penglihatku masih buram, belum langsung bekerja seutuhnya. Aku segera mengejap beberapa kali untuk menyesuaikan visual dengan temaram lampu corong.
Tidak lama, suara singkapan terdengar. Sekujur tubuhku terlampau kaku untuk beringsut dan melihat ke arah sumber suara. Alih-alih, aku mengerang begitu mencoba merenggangkan punggung sampai terdengar suara kertak. Aku menahan malu, masih juga melenturkan setiap anggota tubuh yang tidak lagi sekaku mayat hidup nan beku.
Aku kini tidak lebih dari seorang sepuh yang baru saja selamat dari strok ringan—atau seorang bayi yang sedang belajar menelungkup.
Saat kurasakan seluruh kinerja dari saraf otak sampai ujung kesepuluh jemari kakiku telah mumpuni, baru kutoleh wajah ke arah samping. Dua figur langsung menguasai atensiku kala itu juga, salah satunya berdiri menjulang di depanku dalam arogansi nyata. Alih-alih dia, aku lebih mengharapkan terbangun dalam kesenyapan yang signifikan.
“Gadis Ungu,” ketusku, mendengkus ogah-ogahan.
Tessa Merrick meletakkan sepasang jemari lentik kebanggaannya di sisi pinggang, kemudian berdecak selagi merotasikan netra. Di samping Gadis Ungu, terdapat seorang pemuda dengan tinggi melampaui kepala ungu Tessa. Ia tampak serbaciut—dan aku apa lagi. Sorot netranya masih sama dengan yang lalu, ketika masih berada di Asrama Nightfall, maksudku; angkuh dan selalu memandang rendah makhluk lain.
Hanya saja, saat ini tidak ada sarat kebencian yang kutemukan di manik matanya.
“Kau masih sama pongah saja dengan kemarin-kemarin, Emrys.”
“Kurasa kau perlu berkaca, Gadis Ungu. Tetapi, trims—kuanggap itu sebagai pujian.” Seringai terlukis dari bibirku secepat bayang, bersiap melontarkan kalimat yang ironisnya masih bisa tertahan di ujung lidah. “Memang siapa yang sempat melakukan percobaan pembunuhan terhadap Sang Terpilih hanya karena merasa dengki dan mendewakan kekuatan sendiri, huh?”
Voilà! Persis dengan prakiraanku, Tessa naik darah. Kemerahan mulai mengambil alih suhu tubuhnya dari urat leher sampai ke kepala. Berangnya mungkin tidak akan sebanding dengan betapa besar jengahnya ia karena teperdaya oleh rayuan bodoh Tedros. Kala itu, ia masih terlampau haus akan kemenangan. Tidak apa, setidak-tidaknya kematian pertama ini bisa memberikan efek kapok untuk menghantam harga dirinya.
Katakan aku jahat, namun si Gadis Ungu akan berterima kasih kepadaku sebab aku telah memberikannya—memberikan mereka—kesempatan kedua.
Tessa melipat kedua tangan di depan d**a. Indra penciumnya kempas-kempis, mungkin sedang mengatur napas agar tidak terbawa emosi. Secara mengejutkan, ia berhasil. Itu sudah menjadi suatu kemajuan besar untuk si gadis penaruh dengki. Kulihat ia justru menegok ke pemuda di sampingnya, membuatku teringat dengan posisi saat ini. Masih telentang bebas dan tidak ada etis-etisnya untuk dipandang kaum jantan.
Segera kuubah posisi telentang menjadi duduk. Tulang punggungku terasa remuk. Matras yang—entah sejak kapan—sudah menjadi alas tidurku ini sungguh keras seperti susunan batu bata dan berbanding jauh dengan alas dipan di Asrama Nightfall.
“Roan Ivanor.” Tessa merentangkan tangan di depan si pemilik nama—tidak jauh beda dengan seorang pengasong yang sedang mempropagandakan seorang b***k malang yang bernilai tinggi. Ia cocok juga. “Roan merupakan salah satu anggota medis yang menanganimu. Ada satu lagi, Fraser Mowgli. Ia sedang mengabari kawan-kawan bodohmu pasca kau siuman.
“Oh ya, kau juga harus berterima kasih kepadaku lantaran aku turut membantu Roan dan Fraser dalam menggantikan pakaian murahmu itu.”
“Ah, terima kasih—” aku menjatuhkan pandangan menuju satu titik, “sudah menanganiku, Roan. Dan jangan berharap kau akan mendapat dua kata itu dari mulutku, Gadis Ungu.”
“Hei, Emrys. Kau betul-betul kurang ajar dan tidak tahu diri. Di mana moralitasmu?”
“Setidak-tidaknya aku enggan melakukan percobaan pembunuhan.”
Geram lolos dari bibir Tessa. “k*****t kau!”
Roan terkekeh-kekeh. Ia sudah pasti sadar benar hubungan kami tidak pernah baik, mungkin berandai-andai ada onggokan jagung kembang untuk dinikmati selagi menyaksikan drama banyolan—percekcokan—kami.
“Sama-sama, Emrys.” Lalu, dagu Roan terangkat dan tertuju ke arah sebuah meja kecil di mana sebuah teko dan satu gelas kosong terletak di sana. “Kau ingin teh hangat?”
Mustahil aku menolak. Kerongkonganku betul-betul terasa kering dan aku perlu cairan untuk menetralisasikan bau mulut yang menguar setiap kali aku berbicara. Itu pasti akan sangat memalukan bila aroma tak sedap itu tersebar sampai ke mana-mana.
“Tentu. Trims atas tawarannya, Roan.” Aku mengukirkan senyum kecil di bibir sebagai sopan santun saja, tidak lebih dari itu—meski paras Roan sebenarnya tergolong oke. Terkadang aku tidak habis pikir. Pasti ada saja pemuda-pemuda berparas tampan dengan tubuh berisi di dalam ruang lingkupku.
Ketika Roan selesai menuangkan teh hangat dari dalam teko ke gelas itu, ia mendatangiku. Segera saja kuterima dan menelan cairan tersebut sampai habis, membuat kerongkonganku sudah jauh lebih baik. Ia masih berada di depanku, tetapi kali ini ia duduk. Roan mengamatiku lamat-lamat, bahkan ketika aku memiringkan kepala, ia turut melakukan hal yang serupa—seolah-olah aku tengah menghipnotisnya.
Kebingungan, aku segera mengejapkan kedua netraku sekali dan pemuda itu langsung tersadar. “Sudah habis?” tanyanya, menutup salah tingkahnya dengan cengiran kikuk.
Aku mengangguk dan menyerahkan gelas kosong punyaku kepadanya. “Apa ada yang salah dengan wajahku?”
“Tidak. Tidak ada,” Roan tersenyum—tetapi aku meragukan makna senyum dari pemuda itu. “Kau terlihat jauh lebih cantik ketika siuman.”
“Jangan menggodanya, Ivanor.” Seorang gadis bersurai oranye dengan tubuh tegap datang dari selubung tenda yang tersingkap, lalu menjewer cuping Roan—tanpa repot-repot membungkuk. Seratus persen yakin, pemilik surai oranye itu pasti sudah terlatih dengan fisiknya. “Kau tidak akan tahu kalau-kalau salah satu di antara kaum penyihir dan vampir ini merupakan kekasihnya.”
Keningku berkerut saat mendengar dua kaum yang familier untukku dari mulutnya. Begitu gadis tersebut menggeserkan tubuhnya, baru aku sadar di belakangnya terdapat figur-figur yang kukenal sewaktu masih di EveFalls Sky. Mengabaikan Roan yang tengah meringis, aku tersenyum semringah dan akan beranjak dari posisi duduk, namun ternyata kedua tungkaiku belum bisa diajak berkompromi.
Pada akhirnya, mereka berjalan ke arahku, mengabaikan eksistensi Tessa—yang masih berdiri di posisinya, sedang merotasikan mata muak.
“Candice.” Rhett berlutut di depanku dan menangkup kedua pipiku. Aku benci melihatnya memandangiku seolah-olah aku baru saja bangkit dari liang kubur. “Kau sudah bangun,” imbuhnya. Kehangatan menjalari ragaku ketika kakakku mendekapku dengan erat—bagaikan untuk kali terakhirnya kami saling bersua. “Kau hampir membuatku menjadi sinting karena kondisimu betul-betul kacau saat itu.”
“Lihatlah bayi besar ini.” Aku terkikik-kikik dibuatnya. “Rhett, aku baik-baik saja. Kau bisa melihatnya sendiri.”
“Kau mimisan.”
Pasca mendengar penuturan dari pemuda itu, aku hampir membentuk bibirku segaris horizontal kalau saja tidak ada yang lain di sana. Sepasang netraku sempat saling bertumbuk dengan milik Tristan, namun ia segera melihat ke arah lain dengan ekspresi andalan pemuda bersurai hitam itu. Kuperhatikan wajah mereka semua satu per satu—dengan Rhett yang masih mendekapku untuk meminimalisasi kerinduan besarnya.
Setidaknya anggota kami lengkap.
Setelah puas memperhatikan, aku memiringkan sedikit bibirku untuk mendekati cuping telinga Rhett, lalu membisikinya, “Setidaknya, sekarang aku baik-baik saja. Coba lihat saja, kak.”
“Jangan sok manis.” Bukan Rhett Ambrose namanya apabila ia tidak mampu menjungkirbalikkan atmosfer haru menjadi kesebalan dengan begitu entengnya. Pemuda itu bisa-bisa saja menjitak kepalaku yang masih pening dan membuatnya semakin runyam.
“Kau membuat kepalaku semakin pening!”
Tebersit secercah rasa bersalah ketika ia menatapku, kontan membuatku sedikit tidak enak hati. Rhett menarik kepalaku dengan lembut. Kubenamkan kepalaku di lehernya seraya menikmati usapan lembut pada puncak kepalaku dari tangan kukuh Rhett. Ia memperlakukanku seperti sebuah harta berharga untuknya—namun, pada hakikatnya aku memang harta berharga itu.
Mengesampingkan perilaku semena-mena Rhett yang tidak tentu, pemuda itu benar-benar hangat dalam memperlakukan seseorang.
“Bukan hanya aku saja,” kata Rhett. Terselip nada jenaka saat ia melanjutkan dengan intensitas suara yang lebih besar, “Baxter juga panik begitu kondisimu buruk—bahkan paniknya pemuda itu lebih-lebih dari aku sebagai kakakmu sendiri.”
Sepasang netraku kontan mendarat pada Tristan kembali. Ia melengos, namun samar-samar aku bisa melihat mulutnya komat-kamit seperti menahan u*****n di ujung lidah. Tampaknya, Tristan dibuat salah tingkah oleh Rhett karena penuturan pemuda itu—namun aku sungguh tersanjung ketika mendapatkan fakta bahwa ia begitu mencemaskanku. Tristan yang notabene seorang pemuda apatis menunjukkan kepanikannya secara terang-terangan?
Patut kuberikan apresiasi dengan tepukan tangan.
“Tristan.” Begitu kupanggil namanya, pemuda itu serta-merta menoleh untuk menatapku—kali ini bibirnya telah mengatup sepenuhnya. “Terima kasih.”
Ia mendeham, namun tidak berkata lebih.[]