ADA pembatas tipis yang menghalangi Tristan untuk menaruh atensi kepada Sang Terpilih yang telah siuman—mereka kerap menyebutnya gengsi. Pada hakikatnya, Tristan memang bukan seorang pemuda ideal, di mana ia akan mencurahkan segala perhatian secara terang-terangan kepada si gadis yang telah menjadi bagian dari benih afeksinya. Rhett memprovokasi Tristan dengan kalimat hiperbolisnya sudah cukup membuat pemuda itu tidak bisa menahan u*****n salah tingkahnya.
Terutama pasca Candice menyebut namanya dengan lembut, serta seulas senyum tipis yang memikat. Tristan ingin langsung menjamah, mendekapnya erat, tetapi untungnya ia mampu mengontrol diri. Candice niscaya tidak akan mengerti; hanya dengan dua kata sebagai pernyataan terima kasih, ia kian menjerat Tristan ke dalam pesona kuatnya. Kalau ini terus berkesinambungan, pemuda itu ragu afeksinya terhadap Candice akan berganti menjadi obsesi.
Meniliknya berbincang-bincang dengan Roan Ivanor—anggota medis yang datang bersama Tristan usai menaruh Candice di tenda saat itu, serta mendengar rayuan memuakkan dari Roan terhadap gadisnya cukup membuat emosi Tristan hampir tersulut. Kalau saja ia tidak langsung melengos dan Trisella tidak menjewer koleganya, pemuda itu sendiri tidak tahu apa yang akan terjadi selanjutnya.
Dari sana, Tristan sadar rasa ingin memiliki Candice kian besar.
“Bagaimana kau bisa berada di sini?” Marianne bertanya, menatap figur Tessa dengan kebingungan.
Mereka semua baru menyadari eksistensi Tessa, kecuali Tristan yang sudah melihatnya pasca masuk ke dalam tenda, tetapi memilih untuk diam.
Atmosfer di dalam tenda atap kerucut—tenda medis—menjadi ricuh dan membuat kepalanya terasa pening. Tessa menyeringai, sepertinya terlihat bangga karena sebagian besar kolega gadis itu masih mengingatnya. Dan tentu saja mereka ingat—maksudnya, siapa yang tidak akan ingat dengan raganya yang terbakar oleh sihir spesial gadis itu sendiri, terlepas dari adanya intervensi dari Tedros dalam mautnya?
“Aku terbangun lebih dulu dari kalian semua.” Masih tetap saja terdengar bangga, meski sebenarnya tidak ada yang perlu dibanggakan sama sekali.
“Itu tidak mengherankan,” sahut Graham. “Kau mati duluan.”
Tessa melirik jengkel Graham, mantan koleganya saat ia masih hidup. “Namun, setidaknya aku bisa langsung keluar dari Blackburn seorang diri—tanpa bantuan Trisella dan tanpa usilan nekrotous,” ia membela diri. “Dan sewaktu aku berjalan menelusuri Mavratera, tanpa sadar aku melangkahi wilayah Markas Klan Baja. Setelahnya, aku dianggap mencurigakan dan seperti kalian, aku perlu melakukan penginterogasian. Mereka menjadikanku sebagai peliharaan di sini.”
“Sebagai privilese, maksudmu.” Fraser Mowgli—anggota medis lain—menimpali sekaligus mengoreksi perkataan Tessa, membuat kejengkelan gadis itu semakin meletup saja.
“Privilese—hak istimewa—dari mana?!” cibir Tessa, melipat kedua tangan seraya menatap Fraser dengan sorot kesal.
“Menjadi anggota Klan Baja berarti tergolong istimewa,” Trisella merotasikan sepasang netranya. “Kau bisa beredukasi dan mengolah kekuatan fisikmu di sini. Itu namanya privilese.”
“Bicara soal kekuatan,” Tessa menjentikkan jemari dan menatap lurus ke arah Candice. Sarat netranya mengandung skeptis dan intimidasi, meyakini siapa pun bahwa gadis itu siap melontarkan kalimat tidak etis yang lain. “Kau melenyapkan kekuatanku, ya?”
“Sihir spesialmu juga hilang?” celetuk Carlice.
“Ya! Pasti gadis terpilih itu yang melenyapkan kekuatan kita semua!”
Tessa sedang bermain hakim sendiri—mengacungkan telunjuknya dari jarak jauh namun sejajar dengan hidung Candice. Tristan menjadi lebih sigap, bersiap menuju Candice untuk membela gadisnya, tetapi lekas urung karena Rhett masih duduk di samping sang adik dan menggamit-gamitkan jemarinya dengan milik Candice.
Tristan perlu berpaling—mengedarkan penglihatan ke mana pun kecuali mereka berdua. Setelah mengiktikadkan Rhett merupakan kakaknya—meski beda darah—akhirnya ia kembali memusatkan penglihatan kepada Candice. Gelagat anehnya tertangkap sekilas di indra penglihat Tristan. Ia bisa mendeteksi terbitnya sorot cemas di dalam netra gadisnya.
“Kau menudingku seenaknya. Memang apa yang membuatmu berpikir soal itu?” tanya Candice.
“Peranmu, Emrys. Kau adalah Sang Terpilih dan kau memiliki akses untuk bertemu Sang Penguasa, meminta agar kekuatan kami dihilangkan.” Tessa masih saja berkukuh. Ia bahkan tidak acuh dirinya menjadi pusat perhatian—atau memang itu yang diinginkan olehnya. Masih mengacungkan telunjuk, Tessa berjalan menghampiri Candice dan hampir menyentuhnya kalau saja Rhett tidak menarik Candice semakin dekat.
Oleh karena itu, Tessa menarik tangannya dan berdiri tepat di hadapan mereka, lalu mengimbuh dengan nada final, “Kau juga yang membuat kami semua di sini.”
Candice menatapnya tanpa gentar. “Aku bahkan tidak tahu apa pun!”
“Sihir spesialmu adalah sihir pelenyap.” Kali ini, suara baru muncul dan tidak kalah cekingnya dari Tessa. Si empunya suara—Vernisse—turut berdiri di samping si gadis bersurai ungu, siap memanas-manasi keadaan dan membuat atmosfer semakin runyam. “Itu poin terpentingnya.”
Hawa dingin menyelinap masuk di antara kerunyaman begitu Tristan membaurkan diri dengan percakapan sengit para gadis itu. “Hentikan,” ucapnya, mengontrol suara serendah mungkin. “Candice tidak tahu apa-apa.”
Rhett beringsut bangkit dari sisi Candice, turut berdiri di samping Tristan. Bersemuka dengan kedua pemuda itu membuat nyali Tessa dan Vernisse sedikit menciut. “Sekali lagi menuding adikku yang tidak-tidak, kalian tentu tahu akan berurusan dengan siapa, Merrick, Chaplin.”
Pelemparan ultimatum dari Rhett tidak membuat Vernisse kapok, sebab ia langsung menggertak, “Kami hanya memberi tahu!”
Aiden dan Darin menariknya menjauh—keduanya merupakan satu-satunya kawan terdekat Vernisse yang dapat menjadi pawangnya. Tessa sendiri mengentak-entakkan kakinya seraya bersungut kesal dan keluar dari tenda dengan amarah yang mendidih. Sedangkan Vernisse, ia sudah pergi lebih dulu karena ditarik oleh Aiden dan Darin.
Kalau tidak ada mereka, Tristan tidak akan segan untuk maju paling depan sekadar menyeret kedua gadis itu keluar.
“Jangan mendengar kata mereka.” Shane berlari kecil menghampiri Candice dan mendekap kawannya. “Aku sangat merindukanmu, Candice.”
“Kita bahkan baru saja bertemu, Shane.” Gadis itu menyengir dan mendekap balik Shane.
“Manis sekali,” cibir Rhett.
Ketika Tristan menoleh ke arahnya, sepasang netra pemuda itu sedang menatap lurus ke arah sepasang kawan yang tengah melepas rindu dengan penuh arti. Ada sebuah binar yang tidak bisa ia deskripsikan pada manik mata koleganya—sesuatu yang berarti. Sewaktu Rhett menatapnya balik, ia mengimbuh dengan senyum miring terlukis di bibir, “Kau dan Arthur seharusnya begitu juga, bung.”
“Keparat.” Membayangkan saja langsung membuat roma kuduk Tristan meremang, sementara Rhett mendengkus geli karena turut membayangkan kebodohan itu.
“Aku telah mempersiapkan tenda untuk kalian.” Tepukan beberapa kali membuat atensi keduanya teralih kepada sang pemilik suara. Trisella. Ia kini berdiri di antara selubung tenda yang tersingkap, membuat sinar rembulan menyelinap masuk dan menciptakan pantulan tubuh para makhluk di dalamnya. “Sebaiknya ikut denganku sekarang dan biarkan gadis itu kembali beristirahat.”
Merasa ada pergerakan di sampingnya, Tristan menengok dan menemukan Rhett tengah mengusap puncak kepala Candice. Ketika ia mulai berdiri, Tristan bisa melihat jemarinya menggamit Shane untuk mengikuti koleganya yang mulai bubar dan mengikuti Trisella dari belakang. Mereka keluar secara bergilir dan penuh antusias, mungkin tidak sabar untuk menempel di atas matras dan masuk ke alam mimpi.
Sementara itu, Tristan sendiri masih di sini tanpa rasa kantuk sedikit pun, beringsut duduk di hadapan gadis itu.
“Kau masih di sini?” Candice bertanya.
Sepasang netra Tristan menatapnya intens. Kemudian, ia segera bertanya balik, “Kau mengusirku?”
“Bukan begitu,” jawabnya. Nada Candice agak tinggi, mungkin saja takut kalau-kalau Tristan tersinggung dengan pertanyaannya. “Jangan menatapku seperti kau ingin membunuhku.”
Tatapan pemuda itu melunak dan mengandung sorot kebingungan. Padahal, ia selalu merasa biasa saja ketika menatap Candice—karena tatapan itu selalu sama dengan tatapan yang selalu ia lemparkan kepada siapa pun.
Tidak lama, Candice balas menatapnya tanpa kedip, namun menahan diri untuk tidak tersenyum. Sesekali Tristan melihat kedua sudut bibir gadisnya terangkat.
Candice sedang bermain-main. Usai mengerti maksudnya, Tristan kian menatapnya lamat-lamat. Kemenangan berakhir di tangan pemuda itu, sebab Candice langsung menunduk saat itu juga.
“Aku tidak akan pernah bisa menang dalam menghadapimu,” gerutunya—entah mengapa berhasil membuat sudut bibir Tristan terangkat kecil.
Tristan mengulurkan tangan untuk membelai surai cokelatnya. “Kau pernah menang,” katanya.
“Uh, kapan?”
“Sekarang.” Dalam hati, ia segera melanjutkan, kau berhasil memenangiku, Candice.
Gadis itu merotasikan sepasang matanya. “Jangan bercanda!”
Sebelah alis Tristan terangkat. Ia memilih untuk mengabaikan Candice yang menganggapnya tidak serius. Ketika tangannya berhasil meraih pipi gadisnya secara tanpa sadar, tubuh Candice menjadi kaku. Keduanya lagi-lagi bertatapan—kali ini bukan karena permainan yang sempat dimainkan oleh Candice tadi. Mereka saling mendalami netra satu sama lain. Tristan mencari-cari rahasia di dalamnya, sementara Candice mencari-cari sesuatu yang abstrak.
“Kuharap kau akan terbuka kepadaku,” kata Tristan. Ia tahu ada sesuatu yang disembunyikan oleh Candice meski ia enggan mengatakannya. Namun, Tristan berharap gadis itu akan memberi tahu masalah yang menjadi beban pikirannya. Kendati masih belum jelas, ia cukup yakin dengan itu.
“Tris, aku tidak—”
“Candice, aku menyayangimu.” Tanpa ia duga-duga, bibirnya sendiri dapat mengatakan dua kata itu dengan begitu enteng. Dan semakin tidak ia duga-duga lagi, Tristan menarik tangan kanannya—tubuh Candice mencondong ke depan dan sesegera mungkin pemuda itu mencium puncak kepalanya cukup lama.
Kepala Candice menggeliat di d**a bidangnya. Jemari lentik gadis itu mulai memainkan pakaian Tristan dengan cengkeraman mungilnya.
“Kau tidak perlu mengatakan sekarang kalau kau belum siap.” Setelah itu, Tristan berdiri—meninggalkan Candice yang duduk kaku, menatap kepergian pemuda itu dengan beragam emosi yang berkelibangan di pancaran matanya. “Istirahatlah, Candice.”[]