CHAPTER 9

1512 Kata
    PUTARAN kalimat bernada rendah itu terus mengiang-ngiang di benak selagi ingatanku memvisualisasikan sorot hangat yang berpendar di netra Tristan. Aku menghabiskan waktu semalaman dengan kelopak mata yang enggan melekat, beragam pikiran yang berkelibangan di otak, berpindah posisi secara tak menentu, dan seterusnya begitu hingga hari berikutnya tiba—mungkin sebuah konsekuensi setelah terlelap dalam periode yang terbilang lama.     Otakku buntu, sulit menyamarkan kekalutan pasca perihal pemuda itu yang entah-bagaimana-bisa mendeteksi adanya sesuatu yang abstrak tengah kusembunyikan dengan susah payah. Tidak ada satu pun dari mereka yang mengendus kecurigaan, kecuali Tristan. Terlepas dari tudingan Tessa kepadaku, aku tahu benar ia hanya menggunakan nalar dan tidak benar-benar curiga terhadapku, alih-alih sekadar iri hati yang basi.     Meninjau dari perkara ini, aku sadar benar tidak bisa bermain-main dengan intuisi Tristan.     Kulipat tempurung lutut sampai menyentuh bibir. Pendar dari suar oranye pada api unggun menari-nari di antara kesenyapan. Bayangan api terpantul di permukaan tanah pasir. Jemariku dengan lasak meraup butiran pasir dan menjatuhkannya lagi, mengamati gravitasi itu lamat-lamat. Atmosfer saat ini begitu kondusif, mendukungku untuk terlelap seiring kantuk mulai menyergap.     Namun, aku tidak membiarkan diri untuk kembali tidur, sebab rasa takut akan tidak terbangun lagi terus merangsek seperti gelombang air yang akan menerobos kanal dengan ganasnya.     Cahaya rembulan masih tetap sama semenjak aku terbangun di Incubus Sphere. Benda langit itu terasa kosong meskipun di bawahnya ada banyak sekali populasi penduduk yang mendiami. Tenda-tenda masih belum tersingkap, membuatku cukup yakin para anggota Klan Baja masih terlelap di alam mimpi yang indah.     Baru saja aku mengira tidak ada yang terjaga kecuali aku sendiri, derap ritmis dari arah belakangku terdengar mendekati. Atensiku lekas teralih dari butiran pasir menuju ke balik pundak. Netra hijauku membaur cepat dengan seorang pemuda bersurai kelabu dengan sinar rembulan tumpah ruah di setiap helaiannya. Ingatanku langsung terlempar menuju momen di mana ia meruntuhkan segala kepercayaan yang telah kubangun untuknya—menuntunku bersemuka dengan jelmaan Meredith Oz.     Arthur menggaruk tengkuk. Gerakannya terlihat lebih kikuk. Ini memang kali pertama kami berinteraksi secara empat mata sebelum Tedros mengurungnya bersama sang adik, sehingga aku tidak heran-heran amat ketika mendapati gelagatnya seperti ini. Ia hanya merasa bersalah, tidak enak hati, atau mungkin gugup.     “Hei,” sapaku, memutuskan untuk memecah kesenyapan lebih dulu.     Arthur membenahi seragam Klan Baja yang membebat tubuh pemuda itu, baru duduk di sampingku. Aku meliriknya, berpikir bila bukan karena seragam tersebut, Arthur hanya akan terlihat seperti seorang pemuda ingusan dan amatiran—mengingat dirinya bukan lagi seorang penyerap andal. “Hei. Kau belum tidur?”     Pertanyaan klise, batinku, hampir merotasikan bola mata.     Suara batin itu ironisnya bertolak belakang dengan jawabanku, sebab aku langsung tersenyum dan berkata, “Tidak mengantuk. Aku sudah tertidur lebih lama daripada kalian.” Netraku melengos ke arah lain ketika Arthur masih tidak melepaskan miliknya dariku sama sekali. “Kau sendiri?” tanyaku balik.     “Entahlah. Aku dibuat pusing karena sihir penyerapku sama sekali tidak berfungsi.”     Bahkan sebelum ia mengangkat pundak dan merespons, aku sudah tahu jawabannya. Tanpa sihir spesial, Arthur hanya bisa mengandalkan kekuatan fisiknya—sementara ia berakhir di alam lain tanpa tahu-menahu akan seluk-beluknya. Namun, aku tidak bisa menyalahkan pemuda itu, sebab kehilangan kekuatanmu akan terdengar bodoh, pengecut, dan sama sekali tidak masuk akal untuk kaum berkekuatan spesial.     “Benar.” Bibirku hampir gemetaran dengan sendirinya, namun segera kututup dengan seulas senyum tipis dan deham singkat. Buru-buru aku menambahkan sebelum Arthur curiga, “Kabar baiknya, kita semua telah kembali berkumpul di sini, bukan? Barangkali dapat menjadikan pengkhianatan Tedros sebagai pembelajaran supaya kita tidak lagi memercayai orang lain dengan mudahnya.”     Kurasakan sorot netra Arthur mendadak intens. Lengannya terulur untuk menjamahku, namun ia mengurungkan niat tersebut begitu aku langsung memandanginya terang-terangan. Ia menarik lagi lengannya, kemudian berkata dengan gurat salah tingkah, “Apa kau … masih marah denganku?”     “Marah untuk apa?”     “Maksudku, aku sempat—” Arthur tampak kesulitan mengolah kalimat tanyanya, “—berkhianat. Menculik dan mengusungmu kepada Tedros.”     “Mengapa juga aku harus marah?” Sudut bibirku terangkat kecil, mendongak ke arah pekatnya langit malam. “Saat itu, kau tidak memiliki pilihan lain. Kau terjebak di pihak yang salah. Lagi pula, kita semua tidak pernah luput dari kesalahan, Arthur.”     Aku memusatkan atensi lagi menuju Arthur saat semilir angin malam berembus dari samping kami. “Asal kau telah berubah dan tidak menyakiti Shane, aku telah memaafkanmu sepenuhnya. Di Incubus Sphere, posisi kita semua sama-sama terkhianati. Jangan ada rasa kebencian bodoh itu agar kita dapat keluar dari alam ini dan kembali menuju dunia kita. Intinya, kau, aku—dan para kolega kita, harus bekerja sama untuk menaklukkan Tedros.”     Arthur terdiam cukup lama, mengamatiku lamat-lamat. Tidak tahu apa yang tengah ia cari dari netraku membuat jantungku kembali berdesir. “Kautahu, Candice? Aku seperti sedang berinteraksi dengan Candice yang berbeda,” katanya, tiba-tiba.     Aku segera mengulangi kata terakhirnya, “Berbeda?”     “Ya, berbeda. Pertama kali aku menjumpaimu, kau bermulut tajam, sarkastis, dan mirip bocah.” Netra hijauku refleks memelototinya, sedangkan Arthur sendiri mengukir senyum miring. Tidak ingin mendengar ocehanku, ia kembali meneruskan, “Dan sekarang? Aku seperti sedang berbicara dengan seorang sepuh sok bijak yang murah hatinya.”     Tanpa mau berpikir lama-lama, aku langsung menghunjamkan perut dan pinggang Arthur dengan cubitan bertalu-talu. Arthur terkekeh-kekeh dan menggeliat, kemudian menjauhkan diri dariku setelahnya. Aku belum berhenti ketika ia menjamah lenganku, mencengkeramnya dengan subtil. “Ada satu lagi yang belum sempat kuutarakan—dan itu membuatku sedikit takut.”     “Nah, maka dari itu, lebih baik kau tutup mulut supaya aku tidak perlu memberimu—”     Bibirku terkatup seketika begitu telapak tangannya tahu-tahu saja sudah menelusuri pipiku.     “Kau jauh lebih dewasa.” Sorot netra Arthur menggelap. “Aku takut … karena sepertinya, aku telah melihatmu sebagai seorang gadis—bukan lagi sebagai kawan terdekat adikku, Candice.”     Pengakuan itu berhasil menutup segala akses udara yang hendak memasuki rongga indra penciumku. Alhasil, aku hampir tersedak liur sendiri. Baik aku maupun Arthur sama-sama belum beringsut dari posisi kami. Aku masih terlampau terkejut sekadar menarik diri, dan dengan bodohnya, benakku malah memvisualisasikan wajah lain alih-alih si pemuda bersurai kelabu yang baru saja memberikan pengakuan tentang perasaannya.     Lamunanku pecah ketika erangan lolos dari bibir Arthur. Ia segera menarik diri dan tertawa kikuk. “Maaf, aku hanya—entahlah, menaksir kekasih dari kawanmu sendiri terkadang bisa membuatmu gelap mata.”     “Ar—”     Yang dipanggil segera mengangkat satu tangan, menandakan aku tidak diizinkan untuk membuka suara. “Tidak apa, Candice. Kau tidak harus mengatakan apa pun,” ujar pemuda itu, memaksakan diri untuk cengar-cengir. “Terima kasih karena—setidaknya—telah membuatku berhasil mengutarakan sesuatu yang nyata.”     “Aku yakin kau akan menemukan yang lain suatu saat nanti.” Kuulurkan tangan menuju pundak Arthur, lalu meremasnya sebentar. “Dan … Ar?”     Arthur menarik napas dalam, baru memandangiku lagi. “Kenapa?” tanyanya.     “Bukan hanya kau. Tristan—”     Sorot atensi di netra Arthur terpecah. Ia menatap ke sampingku dengan gurat terkejut. Aku lantas mengikuti arah pandang, mendapati figur seorang pemuda menguasai pandanganku seketika. Debar jantungku kini bertalu-talu usai bertemu pandang dengan netra hitam yang mengilat tajam bak sebilah belati itu. Belum lagi, sinar rembulan turut memantul dari sana, menambahkan kesan dingin dari dalam diri si pemiliknya.     Sungguh momentum yang tidak tepat untuk menyebutkan namanya ketika sang pemilik nama justru muncul dari arah berlawanan. Pusat atensi Tristan kini tidak lagi kepadaku, melainkan Arthur yang dengan sintingnya sedang cengar-cengir tidak jelas. Namun, bibirku malah mengukir senyum tipis. Tampaknya hubungan sepasang kawan itu sudah kembali berbuah manis.     “Ada apa kau kemari, Baxter? Untuk menemuiku?” tanya Arthur, lebih kepada mengejek.     Tristan mendengkus. Ia segera mengalihkan atensinya kepadaku. “Ingin mengelilingi Pusat Mavratera?” tanya pemuda itu.     “Aku mau.” Itu Arthur. Bukan aku.     Arthur mengerling kepada kami, tergelak puas. “Terima kasih sudah menawarkan,” imbuhnya, masih terkekeh-kekeh.     “Ya sudah.” Tristan meliriknya setengah malas. “Ayo.”     Usai Arthur benar-benar puas dalam mengisengi Tristan, ia segera menatap geli kawannya. “Aku tidak ingin menjadi pengganggu kencan kalian, Bung.”     “Terserah kau, Draziel.” Untuk kali sekian, Tristan dibuat mendengkus. Ia akhirnya melirikku lagi. “Bagaimana?”     “Memangnya boleh?”     “Boleh.”     Kedengaran meragukan. Mustahil Klan Baja akan mengizinkan kaum tidak jelas semacam kami menjelajahi alamnya secara leluasa. “Dengan siapa?” tanyaku, memastikan kembali Tristan tidak sedang berdusta.         Mana tahu, ia sedang mencari cara agar aku dapat menjauh dari Arthur dan menikmati waktu berdua, kan?     “Shane, Rhett, Roan, dan Fraser.”     Mendengar dua nama tidak asing membuatku langsung terlompat dari duduk dan beranjak dari tanah pasir untuk mendekati Tristan. Secara mengejutkan, jemarinya menemui milikku dan langsung menggamitnya. Ia menatapku sebentar, sebelum atensi kami berpaling kepada Arthur yang mendadak terlihat kaku. Aku tahu arah pandangnya tertuju kepada jemari kami, maka aku langsung melepaskan tanganku dari Tristan kala itu juga.     Jangan di sini. Ingin kukatakan hal itu kepada Tristan saat kurasakan kekecewaan mendominasi sorot pandang si pemuda dua darah.     Tristan sudah telanjur menjauh, bisa jadi karena ia marah—muak dengan perlakuanku tadi yang semata-mata tidak ingin membuat Arthur menderita atas perasaannya. Kupaksakan diri untuk tersenyum kecil dan menatap Arthur sekali lagi.     “Kami duluan, Ar,” kataku, yang kemudian dibalas anggukan kecil dari pemuda itu.     Buru-buru, aku menyusul langkah besar si pemuda dua darah. Tidak ada perbincangan. Atmosfer begitu senyap—dan menyiksa. Ketika aku sudah memastikan kami tidak terpantau oleh Arthur jauh di belakang sana, aku lekas menggamitkan jemariku kepada milik Tristan yang terasa solid. Langkah pemuda itu langsung terhenti. Ia membalikkan tubuh sampai aku benar-benar bisa melihat raut kewalahannya yang begitu kentara.     “Maaf,” kataku, tertunduk lesu. “Atas yang tadi. Aku hanya tidak ingin—”     Ucapanku terbungkam. Tristan merengkuhku sangat erat, enggan melepaskan.     “Kau membuatku marah, Candice.”     Kurasakan ada gigitan kecil di cuping telingaku. Tristan menarik bibirnya dari sana, kemudian mengangkat daguku dengan subtil. Netra hitamnya mulai mengorek bagian terdalam retinaku tanpa kecuali. Aku merasa terintimidasi, namun ironisnya juga tebersit sedikit kegembiraan. Mengetahui ia benar-benar takut kehilangan hatinya-seorang-Candice-Emrys membuatku mau tidak mau menahan senyum.     Tidak tahan, bibirku akhirnya meloloskan seringai, “Cemburu? Bilang, dong!”     Aku ogah membiarkannya merespons. Lenganku sudah lebih dulu mengalungkan leher si pemuda dua darah, menariknya mendekat—hingga di antara kami, tidak ada lagi sesuatu yang bernamakan jarak.[]
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN