CHAPTER 10

1542 Kata
SHANE DECLAN     ADA perbincangan lebih dari dua orang begitu aku terjaga. Kendati suaranya terdengar sayup—teredam oleh selubung tenda, aku lumayan terusik. Baru terlelap dalam beberapa jam tampaknya tidak berdampak apa-apa untuk membuat kantuk di netraku mereda. Lantaran aku kesulitan untuk kembali terlelap, akhirnya kuputuskan untuk melawan kantuk dan beranjak dari matras.     Netra biruku masih setengah memicing saat aku membawa tungkai menghampiri selubung tenda. Dari celahnya, aku mengintip dan mencari-cari sumber suara, namun hasilnya nihil karena pekat lebih mendominasi ketimbang rembulan di atas sana. Akhirnya, tangan kananku terulur untuk mengekspos celah pada selubung tenda agar kian melebar.     Aku meluangkan waktu lebih dulu untuk memakukan atensi kepada kawan-kawan satu tendaku yang masih tertidur dengan lelap, terkadang dengkuran lolos dari kelima makhluk itu. Kapasitas tempat singgah kami memang tergolong besar dan cukup untuk menampungku, Tessa, Vernisse, Carlice, Charlotte, dan Marianne. Akan tetapi, ukuran tidak menjamin kami semua dapat tidur di posisi sendiri.     Sudut bibirku refleks terangkat saat mendapati formasi merebah Vernisse dan Tessa. Aku yakin Candice juga akan tertawa begitu melihat keempat anggota tubuh saingannya sama-sama terentang lebar dan saling menindih satu sama lain. Tidak ada etis-etisnya sama sekali. Aku tergoda untuk mengambil gambar posisi si Objek Sindikat Pergantian Darah dan si mantan anggota Organisasi Harapan, sayangnya tidak ada perlengkapan mendukung di Incubus Sphere.     Akhirnya, aku keluar dari tenda dengan langkah terseok-seok—belum ada tenaga yang cukup untuk berjalan tegap. Usai beradaptasi dengan kepekatan, indra penglihatku mendapati siluet tiga figur sedang berdiri di samping tenda kami, lebih tepatnya di depan tenda yang sama besarnya dengan milik kami. Aku mengenal mereka semua. Si Kapten Klan Baja, dua anggota medis yang menangani Candice, dan kabar mengejutkannya, Rhett juga berada di antara mereka.     Suara mereka tidak terlalu kedengaran. Jelas saja, pasca terjebak di alam tanpa cahaya ini, kemampuan kami sebagai kaum Nightfall tidak berfungsi sama sekali—entah bagaimana caranya. Ada keinginan untuk menghampiri keempatnya, jadi segera saja aku melangkah mendekat. Derap kakiku ironisnya dapat terdengar oleh Trisella. Ia paling pertama mengalihkan atensi dari lawan bicaranya untuk melihat kedatanganku.     Aku mengangkat tangan sekadar melambai sekali, baru menurunkannya lagi usai aku telah membaurkan diri dengan yang lain. Roan dan Fraser melemparkan senyum manis—keramahan mereka lagi-lagi mengingatkanku dengan Ben. Kuharap itu bukan ukiran terselubung. Sama halnya dengan Ben yang menutup sisi tergelapnya dengan senyum paling manis yang pernah kukenal.      “Ada apa di pagi-pagi buta ini?” tanyaku.     Dari ekor netraku, dapat kurasakan Rhett menjatuhkan tatapannya kepadaku. Netra kami kontan membaur begitu aku juga menatapnya. “Jadwal membeli pasokan di pusat kota. Aku mengajukan diri untuk ikut dengan Ivanor dan Mowgli ke sana. Kau ingin ikut?” tutur pemuda itu.     Skeptis, aku memandangi keempat makhluk itu satu per satu. “Apabila kalian tidak keberatan,” kataku, pada akhirnya mengangguk singkat. Lagi pula, aku tertarik untuk mengenal alam gelap ini lebih dalam lagi. Barangkali, aku bisa melihat sisi lain dari Incubus Sphere yang mungkin saja lebih indah dari EveFalls Sky.     Yah, bukan berarti aku tidak ingin kembali ke dunia asalku.     Fraser merespons cepat, “Tentu saja tidak.”     Di sisinya, Roan turut mengangguk sependapat. “Akan lebih baik apabila kita pergi sekarang—sebelum Pusat Mavratera ramai dengan lautan kepala,” sarannya.     Yang lain, termasuk aku, mengangguk setuju. Lalu, netraku tertuju kepada si Kapten Klan Baja. “Kau tidak ikut?” tanyaku, begitu kami sedang berberes-beres.     Trisella menggelengkan kepalanya, membuatku baru sadar kali ini ia tidak mengikat surai oranye miliknya. Si Kapten Klan Baja jauh terlihat lebih feminin dan cantik dengan gaya rambut seperti itu. “Tidak, Shane. Seorang kapten tidak diperkenankan untuk meninggalkan markas sekadar urusan sepele semacam ini,” jawabnya.     “Tanggung jawabmu besar sekali, ya?” balasku.     “Aku bertanggung jawab penuh atas seluruh keamanan markasku.”     Hati kecilku sedikit tergerak begitu mendengar penuturan dari Trisella. Mengesampingkan pangkat tingginya di Klan Baja, ia tetap saja masih seorang gadis dewasa muda yang perlu merilekskan diri.     “Shane.”     Suara maskulin Rhett memecahkan atensiku dari Trisella. Aku segera menolehkan kepala menuju pemuda itu, mendapatinya sedang menenteng sepasang sepatu bot tepat di belakangku. Begitu aku menurunkan pandangan menuju tungkainya, ternyata ia telah mengenakan sepatu bot yang serupa.     “Untuk aku?” tanyaku, menunjuk hidungku sendiri.     Rhett mendengkus geli, “Tentu saja.”     Jemari kami tanpa sengaja bersentuhan ketika aku akan menerima sepatu bot itu dari tangan Rhett. Aku hampir tersedak oleh liur sendiri. Untungnya, aku bisa meredakan keinginan untuk terbatuk dengan deham singkat. Indra pendengarku sayup-sayup mendengar tawa geli lolos dari bibir Rhett begitu aku sedang mengenakannya.     “Sudah? Ay—oh, Baxter.” Rhett mengalihkan atensi dariku, mengangkat satu tangannya dengan pandangan tertuju kepada Tristan yang baru saja keluar dari tenda. “Kami ingin ke Pusat Mavratera. Ikut tidak?”     Saat Tristan sudah berdiri tegap sepenuhnya—ia perlu merunduk ketika keluar dari dalam sana supaya tidak terantuk atap, pemuda itu segera menggelengkan kepala. Tanda penolakan, sudah pasti. Kukira ia akan kembali masuk ke dalam, namun Tristan tahu-tahu saja telah mengalihkan atensi kepadaku seorang.     “Candice masih tidur?”     “Entah. Kurasa masih?” Aku menggaruk kepalaku sejenak, kemudian dengan skeptis aku meneruskan, “Kami, kan, tidak satu tenda.”     Tanpa perbincangan lanjutan, Tristan melengos dariku dengan apatis, kemudian berlalu begitu saja untuk menuju tenda medis Candice, mungkin. Netraku dibuat mengejap sejenak, masih heran juga dengan sifat apatisnya yang tidak kunjung raib. Menampik pikiran tersebut karena tidak ada penting-pentingnya, akhirnya aku, Rhett, beserta kedua anggota medis itu segera beranjak dari Markas Klan Baja menuju Pusat Mavratera. *     Stan penjualan tersebar merata di sepanjang jalur Pusat Mavratera. Jauh berbeda dengan Kota Blackburn, kehidupan di pusat begitu meriah. Penduduk berhiliran menenteng kemasan, berpapasan dan saling bertegur sapa dengan sesama. Tanpa melupakan jati diri mereka sebagai demontus—makhluk yang identik dengan kegelapan, aku cukup tersanjung saat melihat keharmonisan mereka.     Bangunan tua serbahitam memancang puluhan meter dari permukaan tanah. Fondasinya masih kuat walau termakan usia. Visualku berusaha menembus ke bagian dalam sana, mencari-cari kehidupan yang mustahil terlihat, sebab tiap jendela bangunan memiliki lapisan gelap dan belum lagi terhalang oleh tirai kelabu. Hiruk pikuk mengisi perjalanan kami selama menuju stan langganan anak-anak Klan Baja di penghujung jalan.     “Di sini kelihatan sangat harmonis,” aku beropini.     “Ya, salah satu dampak positif dari raibnya kekuatan demontus.” Roan melirikku sebentar. “Kami jauh lebih solid. Selain itu, persaingan mengenai siapa yang terkuat minim terjadi.”     Aku manggut-manggut, sama sekali tidak heran. Terkadang, kemampuan tersendiri dapat mengundang pongah dari berbagai pihak. Ini akan membuat daya saing menjadi ketat. Tidak menutup kemungkinan juga dapat berakhir menjadi ajang pamer, atau bagian terburuknya, ajang saling bunuh. Asrama Nightfall juga pernah seperti itu, namun semenjak Menteri Shawn membuat beberapa regulasi mengenai etika bersaing, penerapan ajang pamer ini sudah jarang diterapkan.     Lupakan tentang Asrama Nightfall. Itu hanya akan membuat kerinduanku kian menderas saja. Untuk menampiknya, segera kualih atensi menuju ke sisi kanan dan kiri jalanan. Stan penjualan dengan produk yang bervariasi masih berderet, tiada petanda akan penghujungnya, membuatku mulai berspekulasi kapan kami akan tiba di stan langganan Roan dan Fraser.     Karena terlalu sibuk berkutat dengan benakku sendiri, aku kehilangan figur ketiga pemuda itu. Gurat wajahku mulai pias, mencari-cari keberadaan Rhett, Roan, dan Fraser semata-mata mendapati fakta bahwa aku sudah tertinggal jauh di belakang mereka. Aku agak waswas setiap kali berpapasan dengan demontus yang kerap menatapku dengan beragam ekspresi, untungnya tidak ada satu pun dari mereka membangun interaksi denganku.     Puluhan kepala dan pundak memenuhi visualku. Bahkan ketika aku berjinjit, tidak kutemukan satu pun kepala yang familier. Pusat Mavratera terlampau padat dan sesak, mau tidak mau, bibirku mengap-mengap untuk mencari pasokan udara.     Rembulan masih menghias cakrawala yang hitam ketika aku terus berjuang menemukan ketiga pemuda itu, menerangi makhluk-makhluk di bawahnya dengan sinar raksasa yang meruah. Otakku mereka ulang mengenai paparan Trisella tempo lalu—rembulan yang redup mengindikasikan kiamat bagi kaum demontus.     Kendati aku masih sedikit panik karena kehilangan jejak Rhett, Roan, dan Fraser, namun paparan gadis itu ternyata lebih mengusik. Otakku terdorong untuk menerka seberapa tingginya intensitas rembulan kala itu—sebelum ia mulai meredup bagi kaum demon. Namun untukku sendiri, intensitas cahaya rembulan di sini benar-benar selaras dengan cahaya rembulan di EveFalls Sky.     Memilih untuk tidak ambil pusing, akhirnya kupusatkan kembali atensiku ke jalanan di depan. Tidak ada yang dapat kutemukan selain puluhan kepala—membuatku langsung mengalihkan pandangan menuju stan. Langkah kakiku terhenti di salah satu stan yang berhasil menarik perhatianku. Ada beberapa patung Cerberus di atas meja stan, terdiri atas ukuran kecil, sedang, bahkan besar.     Cerberus—makhluk berwujud anjing berkepala tiga—mengingatkanku kembali dengan Tedros.     Hela napas berat lolos dari bibirku. Ingatan tentang si pemimpin Organisasi Harapan mustahil luput dari sana. Fakta mengenai Benjamin Ryker menjalankan kontrak dengan Cerberus—Dewa Kegelapan—untuk bertopang kepada sihir hitam, sampai detik ini belum bisa kuterima dengan nalar.     Bodoh, memang—bisa-bisanya kau menaksir musuhmu sendiri, Shane. Di mana letak akal sehatmu?!     Sudut bibirku terangkat miris kala mengamati patung-patung itu dengan saksama, sembari menerka-nerka apa maksud di balik adanya penjualan produk semacam ini. Entah sekadar menambah nilai estetis di halaman rumah atau kaum demontus memang menyembah makhluk tersebut.     "Mereka terlalu menjunjung tinggi Dewa Kegelapan."     Tubuhku terperanjat. Segera kutolehkan kepala, menemukan seorang pemuda bersurai merah berdiri tepat di sampingku. Ketika kupikir ia sedang berbicara dengan makhluk lain, netra kelabunya ternyata tengah memandangiku tepat di manik mata. Peluh membasahi wajahnya, sementara d**a bidangnya bergerak naik dan turun. Ia terlihat seperti baru saja berlari sejauh lima kilometer, tetapi pemuda itu masih sanggup tersenyum ketika pandangan kami saling bertumbuk.     "Kau tidak termasuk salah satu di antara mereka?" tanyaku.     Ia mengusap peluhnya sejenak menggunakan punggung tangan, kemudian berkata, "Tidak. Menurutku, Dewa Kegelapan tidak becus melakukan tugasnya—sampai-sampai kekuatan kita semua raib." Pemuda itu tiba-tiba menepuk pundakku dan mengedipkan sebelah matanya, "Jangan membicarakan hal ini kepada siapa pun. Ini rahasia kita berdua saja."     "Siapa kau?" tanyaku, skeptis.     "Kai Riverdous."     Pemuda bermata kelabu itu terlihat bangga dengan namanya—kentara benar dari sorot angkuh yang terkandung di indra penglihatnya. Namun, itu tidak berlangsung selamanya. Jauh di belakang sana, riuh pecah dan kudengar seseorang meneriakkan namanya. Belum sempat otakku bekerja maksimal, Kai telanjur menggamit lenganku menjauhkan diri dari stan kala itu juga.[]
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN