CHAPTER 11

1529 Kata
    “BERHENTI, tikus-tikus kecil!”     Kendati ia mungil, pundak Shane tidak luput dari tabrakan para demontus yang sedang akan berpapasan dengannya—mungkin lebih tepat jika ia lah yang sebenarnya bersedia menabrakkan diri. Ia terdesak untuk itu, sebab posisi si gadis pirang saat ini mirip dengan buron atau memang begitu lah faktanya.     Netra biru Shane tertuju kepada tangan kiri. Patung Cerberus itu masih berada di genggaman tangannya yang memutih. Lalu, ia mengalihkan atensi menuju tangan kanan, di mana jemari Kai Riverdous masih menggamit miliknya erat selagi keduanya membelah padatnya Pusat Mavratera. Entah bagian mana yang lebih ia inginkan apabila diperbolehkan untuk memilih; Patung atau Pemuda-Merah-Yang-Tampan.     Tidak sepertinya, Shane bisa melihat sebelah sudut bibir Kai terangkat tinggi. Pemuda itu tidak bereaksi apa-apa saat pengejarnya bertambah menjadi dua—satu menargetkan Kai dan satu menargetkan Shane.     Mau tidak mau, dengkus lolos dari bibir si gadis pirang kala itu juga. Ia niscaya takut jika Kai menelantarkannya sendirian di tengah kepadatan. Apa lagi yang lebih menyenangkan selain tertangkap oleh si penjual patung Cerberus dan berakhir di kantor petugas keamanan atas tuduhan pencurian? Maka dari itu, Shane mengizinkan si pemuda bersurai merah itu untuk terus menggamit jemari mungilnya yang berkeringat dingin.     Dua pengejar itu tertinggal jauh di belakang saat Shane menyempatkan diri untuk melongok ke balik pundak. Begitu arah pandangnya sudah kembali ke depan, mendadak Kai berbelok tajam ke kanan. Shane belum mempersiapkan diri, hampir tersandung tungkainya sendiri. Untungnya, ia dapat langsung mengimbangi bobot tubuh mungilnya dengan cepat dan kembali mengejar langkah Kai kala itu juga.     Usai mengambil belokan tajam untuk menyelat di antara celah salah satu stan, pandangan Shane menerawang sekali lagi untuk mencari-cari keberadaan Rhett, Roan, dan Fraser. Hasilnya tetap nihil. Ketiga pemuda itu mungkin sedang mencarinya juga di suatu tempat, namun peluang untuk menemukannya di tengah kekalapan dan kepadatan Pusat Mavreta sepertinya hampir mustahil.     Selama lima menit terakhir, Shane terus berlari tanpa henti, bahkan ia sendiri hampir tidak percaya bahwa gadis itu dapat melalui pelarian melelahkan semacam ini. Betisnya terasa menggelenyar perih. Apabila Kai tidak semakin mengeratkan cengkeramannya, Shane bisa saja langsung berhenti saking tidak tahan untuk kembali melangkahkan tungkainya.     Pemuda bersurai merah itu mengepalai pelarian kedua makhluk itu ke sebuah kolong salah satu bangunan serbahitam yang terbengkalai, mengasingkan diri dari kemeriahan Pusat Mavratera. Kai baru melepaskan cengkeraman setelah keduanya sudah berada di dalam sana. Shane segera melempar patung Cerberus ke sembarang arah, menciptakan suara kelontang cukup keras di sekitar kolong bangunan.     Ia merunduk sembari menempatkan kedua tangan di atas tempurung lutut, meraup udara sebanyak mungkin untuk mengisi rongga dadanya yang sesak dan berdebar hebat. Sedangkan Kai, pemuda itu terlampau santai, sama sekali tidak terlihat kewalahan—kentara ia sudah terlatih dan terbiasa melalui pengejaran ini. Kai bersandar pada salah satu pilar yang masih kukuh, melipat kedua tangan selagi sorot netranya tertuju kepada Shane.     "Sial!" umpat si gadis pirang di pertengahan deru napas. "Kau membuatku menjadi buron!"     Kai cengar-cengir, "Kau sendiri menjadikan dirimu sebagai buron. Coba jika kau tidak sedang memegang patung kebanggaan tersebut."     "Hei!" Netra biru Shane memandanginya bengis. "Jadi, maksudmu yang salah di sini adalah aku?"     "Bisa jadi," balas Kai. Kemudian, ia meneruskan dengan nada santai, "Kaum hawa memang selalu sensitif."     "Kau—" Jika Shane tidak dapat mengendalikan emosinya, sudah pasti ia akan melayangkan bogem mentah kepada Kai. Kabar baiknya untuk pemuda bersurai merah itu, ia masih mempunyai hati untuk mengetahui belas kasihan. "Hah, sudahlah. Jadi, apa yang akan kita lakukan sekarang?"     “Berkenalan?” Kai mengusul. Ia menegakkan punggungnya kembali, kemudian beringsut mendekati Shane dengan tangan kanan terulur. “Aku belum tahu namamu.”     Shane memicingkan netranya, masih kesal dengan tindakan Kai yang berhasil membuat keselamatannya kini terancam. “Kau tidak perlu tahu,” ujarnya final, mengabaikan tangan besar lawan bicaranya.     “Mari kutebak.” Pemuda itu menjentikkan jemari. “Nama kau memiliki keterkaitan dengan cahaya—Iluminasi?”     “Taksiranmu payah.”     “Salah?” Satu alis Kai terangkat naik. “Aku menebak berdasarkan warna suraimu, tahu.” Pemuda itu kembali meneruskan dengan nada protes, “Ayolah, aku belum tahu namamu, Iluminasi.”     Dengkus lolos dari bibir si gadis pirang. “Shane. Shane Declan,” balasnya, setengah enggan.     “Sudah kuduga namamu ada relevansinya dengan cahaya.”     Ekor netra Shane mendapati Kai sedang membusung dadanya bangga. “Terserah,” timpalnya, singkat.     “Kautahu, langka sekali melihat kaum demontus bersurai terang di Mavratera.”     Dalam sekejap, Shane mencondongkan tubuhnya, mulai tertarik dengan pembahasan saat ini. “Memang kenapa?” tanya gadis itu, penasaran.     “Yah, mengingat alam ini tidak mengenal cahaya—selain sinar rembulan ini,” Kai mendongak ke atas langit bangunan yang berlubang-lubang, di mana cahaya membias turun dari sana, “surai pirangmu terlihat paling bercahaya di antara lainnya.”     “Apa aku harus berbangga diri untuk itu?”     “Tergantung—kau menyukai pusat perhatian atau tidak,” ujar pemuda bersurai merah itu, tertawa geli saat sepasang netra kedua makhluk tersebut bertemu kembali. “Maaf, tadi siapa namamu, Iluminasi?”     “Ck, berhenti memanggilku itu!” Shane memelototi lawan bicaranya, kesal. “Shane.”     “Namamu unik juga.”     “Yah, kuharap itu adalah kalimat pujian,” gumam si pemilik nama, merotasikan netra dengan jengkel.     “Dasar, sensi—”     “Di mana dua tikus kecil itu?!”     Seruan itu berhasil menginterupsi kalimat ejekan Kai, seiring mengecilnya jarak suara dengan posisi kedua makhluk itu saat ini. Secara impulsif, Kai menarik lagi pergelangan tangan Shane untuk menaiki tangga spiral berlapis beton di bagian belakang kolong bangunan. Undakan spiral itu akan membantu mereka untuk menjamah lantai satu bangunan. Shane dan Kai mengintip dua figur pengejar mereka melalui celah puing-puing bangunan.     Indra pencium Shane kempas-kempis, menciptakan suara bunyi yang bisa saja menarik atensi dua figur pengejar keduanya. Kai merapatkan kepala Shane di depan dadanya, membungkam bibir gadis pirang itu dengan telapak tangannya. Tidak terima, Shane melayangkan pukulan bertalu-talu, akan tetapi tidak ada reaksi signifikan dari pemuda itu. Alih-alih, Kai malah mendesis tepat di samping telinganya.     “k*****t! Ini patungku!” Salah satu figur, pengejar Shane, merenggut kasar benda jualannya dari lantai berdebu—yang sebagiannya telah hancur berkeping-keping. “Mujur benar hari ini. Belum juga laris, sudah rugi di modal saja.”     Figur lain, pengejar Kai, menerawang sekeliling kolong bangunan. “Tikus-tikus itu pasti ada di sini!”     Kepala si pengejar Shane mengangguk sependapat. “Mari kita cari dua tikus itu sampai dapat. Kau cari di sini, aku akan cari di lantai—”     “—Mau apa kalian di rumahku?!”     Dalam waktu singkat, sekujur tubuh kedua figur itu menjadi kaku. Sumber suara berada tepat di belakang mereka, terdengar begitu mengintimidasi. Secara bersamaan, mereka menoleh ke balik pundak masing-masing, kemudian tidak mampu menahan jerit di penghujung lidah. Jeda sebentar, baru keduanya langsung kocar-kacir untuk berlari keluar dari kolong bangunan—tidak lagi peduli dengan target pencarian mereka detik itu juga.     Lantaran terhalang oleh puing-puing, Shane memandangi Kai melalui ekor netranya—terheran-heran atas tingkah laku kedua pengejar itu. Baru ia ingin berbicara, Shane teringat jemari Kai masih membungkam bibirnya. Gadis itu langsung saja menggigit paksa telapak tangan pemuda itu, disusul oleh ringisan pelan dari si pemuda bersurai merah.     “Sinting!” Kai memprotes selagi memegang telapak tangannya. “Untuk apa kau menggigitku, Iluminasi?!”     “Namaku bukan Iluminasi, Riverdous!” Shane mengerang kesal. “Dan kenapa aku menggigitmu? Sudah pasti karena kau membuatku hampir mati!”     “Ck, niatku untuk menyelamatkanmu, Nona Declan.” Kai segera mengusap telapak tangannya di permukaan celana. “Untung saja Nami muncul di waktu yang tepat.”     Shane mengulang satu kata asing tersebut, “Nami?”     Kai mengangguk. Ia beringsut dari posisi berjongkok, kemudian menawarkan Shane untuk berdiri. Gadis pirang itu tidak menolak, lantaran ia memang sedang membutuhkan bantuan tersebut. Jadi, ia segera menerima tangan Kai dan membiarkan pemuda itu untuk kembali mengepalai perjalanan mereka—menuruni undakan spiral dan menjamah kolong bangunan lagi.     Di pertengahan undakan, langkah Kai terhenti. Ia membiarkan Shane menumpukan telapak tangan di pundak pemuda itu. Dari pandangan Shane, ia bisa melihat seorang figur transparan berdiri membelakangi mereka. Figur itu terus memakukan pandangan ke luar bangunan yang sangat pekat, tidak berkutik sama sekali dari tempat berdirinya.     Shane menyetarakan posisi netra birunya dengan netra kelabu Kai, semakin dibuat bingung oleh pemuda itu. “Nekrotous?” taksirnya, skeptis.     “Nami Maguire.” Kai menahan senyum geli saat ia melihat kebingungan yang begitu kentara dari lawan bicaranya. “Nekrotous yang telah singgah sangat lama di sini—katakanlah, ia merupakan penghuninya.”     Shane segera menimpali, “Bagaimana dengan Kota Blackburn?”     “Yah, aku membantu Nami kemari—menyelundup, lebih tepatnya.”     “Imigran gelap?”     “Tepat sekali.” Kai menepuk puncak kepala Shane beberapa kali. “Anak pintar.”     Mendapat perlakuan seperti itu, mau tidak mau membuat d**a Shane berdesir malu. “Jadi, apa keuntunganmu dalam menyelundupi sesosok nekrotous?” tanyanya, berusaha untuk tidak terdengar salah tingkah.     Kai hampir menyeringai. “Seperti tadi. Ia membantuku bersembunyi dari pengejaran,” jawabnya, terdengar sangat bangga.     “Sinting.” Shane mulai kembali menuruni undakan saat pemuda itu juga beringsut dari sana. “Mengapa pula kau dikejar?”     “Katakanlah …,” Kai berpikir sesaat, meletakkan telunjuk di depan dagu, “tanganku usil—melihat dalaman sudah biasa untukku.”     Shane kontan berhenti, menatap ngeri surai kelabu acak-acakan Kai di depannya. “Kau—”     Ucapan gadis itu terputus. Suara derap langkah terdengar kembali, hendak menjamah bagian dalam kolong bangunan. Kai beringsut mundur beberapa langkah, lagi-lagi menaiki undakan dengan hati-hati. Shane sendiri juga turut beringsut mundur tanpa melepaskan atensi dari akses masuk kolong bangunan. Nami masih di sana—tanpa pergerakan, namun mungkin siap untuk memberikan ancaman kembali.     Setiap derapnya terasa begitu mengintimidasi. Secara tanpa sadar, Shane mencengkeram erat pakaian Kai. Pemuda bersurai merah itu menyadari ketakutan si gadis pirang. Ia menatap tajam kepekatan akses masuk di sana, mulai menjamah tangan Shane dan meremasnya dengan subtil. Perlakuan itu membuat Shane sedikit lebih tenang. Ia segera memejamkan netranya pada detik itu juga.     “Siapa kau?” Suara bahana Kai lekas mengisi kekosongan kolong bangunan. Intonasinya begitu rendah, namun juga sinis di waktu yang sama. “Apa maumu?”     “Lepaskan Shane.”     Mendengar namanya tersebut oleh sebuah suara familier, Shane cepat-cepat membuka netra birunya kembali. Degup jantungnya masih belum stabil, namun kelegaan berhasil menyamarkan semuanya pasca ia melihat sosok yang kini tengah berdiri di ambang akses dengan raut datar dan sorot tajam. Sedangkan Kai, ia masih memandang skeptis sosok asing tersebut—kian mengeratkan cengkeraman di pergelangan tangan Shane, namun gadis pirang itu sudah lebih dulu melepaskan diri darinya.     Sorot netra biru Shane lekas bersinar saat ia meneriakkan sebuah nama, “Rhett!”[]
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN