CHAPTER 12

1339 Kata
    BERBUTIR-BUTIR tanah pasir terbawa oleh arus angin saat kami tiba di depan tenda. Pelatarannya kosong melompong. Netraku tidak menemukan jejak eksistensi Shane, Rhett, Roan, atau Fraser—hanya ada suara mendengkur dari dua tenda berkapasitas lumayan besar tersebut. Aku menduga salah satunya milik Tessa Merrick (jangan lupakan fakta bahwa aku pernah satu kamar dengannya di hari pertamaku tiba di Nightfall Land).     Omong-omong, ingatkan aku untuk menertawakan si Gadis Ungu itu selepas hari berikutnya tiba.     “Tris.” Segera kusebut nama si pemuda dua darah di sampingku, baru meneruskan usai ia merespons dengan gumam singkat, “Kau membohongiku, ya?”     Yang ditanya lantas menumbukkan netra hitamnya kepadaku. Aku bisa menangkap sorot bingung Tristan meski raut wajah pemuda itu terlampau datar. Ia tidak merespons, alih-alih menungguku angkat bicara lagi. Jadi, aku segera meluruskan intensi awalku dengan berkata, “Kau menggunakan nama Shane, Rhett, Roan, dan Fraser agar aku tidak berduaan dengan kawanmu itu.”     “Tidak juga.” Seringai di bibirku memudar kala Tristan mengangkat dagu ke salah satu sudut pelataran. Rupanya, kami kedatangan figur Trisella dari sana. “Di mana mereka?”     “Sudah pergi. Kau terlambat,” balas Trisella, kemudian menjatuhkan tatapan menujuku. “Bagaimana kondisimu, Emrys?”     “Cukup baik, karena aku sudah bisa merenggangkan tubuh.” Lalu, dengkuran asal tenda lagi-lagi terdengar. Aku lantas tertawa, kembali mengimbuhi kalimatku yang masih tergantung bebas di udara, “Dan mentertawai dengkuran Tessa.”     Trisella merespons dengan geleng kepala beberapa kali. Bisa jadi, ia sedang menahan tawanya juga. Usai kami melalui jeda sebentar dengan keheningan yang masih merebak, akhirnya Tessa menujukan pandangan kepada si pemuda dua darah, dan berkata, “Kalau kau ingin merilekskan tubuh di luar markas, silakan. Asal kau tahu jalan pulang dan tidak mengundang atensi signifikan dari para nekrotous.”     Aku lantas melirik si pemuda dua darah. Ironisnya, kami bertemu pandang pada detik itu juga. Hening kembali merebak sesaat. Aku berusaha untuk memahami sorot netra hitamnya, sebab Tristan tidak lagi mengangkat suara semenjak ucapan Trisella terhenti sampai di sana. Astaga, apa sulitnya untuk langsung berbicara saja?     Begitu aku mengerti maksudnya—ia ingin aku memutuskan, lantas saja aku segera merespons, “Mau!”     “Sungguh, Baxter?” Netra Trisella memelototi pemuda di sampingku, tampak tidak habis pikir akan suatu hal yang tidak kupahami. “Lucu sekali percintaan para penyihir. Tidak ada inisiatif-inisiatifnya.”     “Lidahmu tajam juga,” kataku, menahan kedut di sudut bibir.     Angin malam mengibar-ngibarkan surai oranye Trisella selagi ia mengibaskan tangan di dekat wajah. “Lidahku lihai dalam melatih mental. Jadi, maaf-maaf saja kalau itu membuat kalian tersinggung,” tuturnya, santai dan sedikit mengandung arogansi di sana.     “Oh, tidak sama sekali.” Pada akhirnya, aku tidak dapat menahan seringai singkat. “Justru aku suka entitas macam kau, Kapten—ketimbang dinding berjalan di sampingku ini.”     Segera kulirik netra hitam si pemuda dua darah. Ia tentu saja merasa tersindir, kentara dari caranya merotasikan netra sebentar, lalu menghunjamku dengan sorot tajamnya. Sungguh, aku boleh saja sudah sangat terbiasa mendapati tatapan semacam itu dari Tristan, namun bukan berarti adrenalinku tidak terpacu. Ia masih—dan akan terus berperilaku seperti itu. Sudah mendarah daging.     Kami berpamitan dengan si Kapten Klan Baja, baru keluar dari markas. Gundukan tanah pasir raksasa menguasai atensiku kala itu juga. Cara cukup jitu supaya makhluk-makhluk dari luar markas malas kemari, eh? Aku pun demikian. Ada secercah keinginan untuk berbalik dan kembali rebahan di dalam tenda, tetapi aku ternyata lebih tertarik untuk mengetahui sisi lain dari alam ini.     Jadi, segera kuseret tungkaiku mendaki gumuk pasir. Dari puncak, netraku langsung bertumbuk kepada sejumlah bangunan serbahitam jauh di depan sana. Kabut asap menutupi sejumlah tampuk bangunan hingga terlihat mengabur. Lalu, aku mendongak ke atas—mendapati rembulan masih bersinar terang, memakukan cahayanya ke arah bangunan-bangunan itu, namun tidak cukup terang untuk mengusir kabut.     Jemari Tristan perlahan-lahan menyusup di antara sela-sela jemariku. Begitu aku menoleh, alih-alih rupa dindingnya, netraku malah terpaku dengan bentuk rahang pemuda itu yang tercetak dengan begitu solid. Aku hampir tidak berkedip kalau saja Tristan tidak langsung menengok ke arahku. Sial. Ia tersenyum samar. Pemuda itu tentu sadar aku nyaris terpikat—tidak, selalu terpikat dengan semua tentangnya.      “Apa?!” sahutku, secara impulsif menarik tanganku kembali.     d***u. Kentara benar kau sedang salah tingkah, Candice, batinku, langsung berniat menggulingkan diri ke bawah sana.     Tristan menelengkan kepala, merenggut tanganku yang sudah berada di sisi tubuh, kemudian menggamitnya lagi. Ia merunduk sebentar. Saat bibirnya sudah sejajar dengan cuping telingaku, pemuda itu lantas berbisik, “Perhatikan langkahmu, Candice.”     Usai berkata demikiran, si pemuda dua darah mengepalai perjalanan untuk menuruni undakan tanah pasir. Ia tidak pernah melepaskan jemariku, mungkin paham aku sedikit kesulitan untuk mengimbangi tubuh di turunan gumuk pasir yang cukup terjal. Ada jalur panjang yang tersambung ketika turunan berakhir. Itu mungkin akses utama menuju Pusat Mavratera. Jadi, tanpa berpikir lama, kami mulai menyisiri jalur kosong—memantapkan diri untuk mencari tahu sisi lain dari Incubus Sphere.     Detik ini atau tidak sama sekali. *     “Hei, berhen—”     Peringatan itu terlambat kumuntahkan, sebab satu detik kemudian, tubuhku telanjur oleng—melangkah mundur tanpa bisa kukendalikan sampai akhirnya punggungku menubruk Tristan. Seakan-akan tidak terpengaruh dengan bobot tubuhku, tungkai pemuda itu tidak beringsut dari tempat secuil pun. Ia malah mencengkeram kedua pundakku dari belakang, menahanku agar tidak terjatuh.     Ekor netraku melirik ke arahnya sebentar, mendapati pemuda itu tengah menujukan pandangan kepada dua bocah di depan kami. Satu ketakutan dan satu cengengesan. Ada bagian kecil dari hatiku ingin sekali untuk merontokkan gigi putih s**u si bocah cengengesan. Aku turut memakukan pandangan ke arah kedua bocah itu, memelototinya hingga mereka buru-buru melarikan diri dari kami pada detik itu juga.     Tidak lama, terdengar dengkus dari sosok di belakangku. “Hati-hati,” katanya.     “Aku sudah berhati-hati. Mereka saja yang menubrukkan di—” kalimatku tergantung sebentar di udara begitu netraku menyoroti bagian belakang pundak Tristan, “—aku baru tahu, Incubus Sphere tak ubahnya seperti alam lain.”     Tristan mengangkat satu alis ketika aku menatapnya. “Ada panti asuhan. Di sana.” Jari telunjukku mengarah ke balik pundaknya. Baru saja aku ingin kembali meneruskan perjalanan untuk membelah kemeriahan Pusat Mavratera, dalam selayang pandang, suar api hitam dari antah-berantah menguasai atensiku kala itu juga.     Otakku tergolong lamban. Aku tidak beringsut secuil pun dari titik berdiri. Baru setelah suar api hitam itu secepat kilat memasuki bagian panti asuhan, tungkaiku secara impulsif langsung tergerak untuk mengejarnya. Indra pendengarku mengabaikan sahutan Tristan, meski aku sadar benar pemuda itu sedang berusaha menyusulku di tengah kepekatan dan kepadatan Pusat Mavratera.     Untuk saat ini, penjelasan bisa di lain waktu.     Kepalaku celingukan, mencari-cari keberadaan si suar api hitam. Nihil. Aku malah mendapati segenap bocah penghuni panti asuhan di pelataran yang menatapku dengan tatapan selaras; kebingungan. Baru saja aku hendak beringsut keluar, tatapanku memaku ke sudut pelataran di samping kiri panti. Ada setapak lorong yang penuh dengan mawar hitam—bermekaran di sisi kanan dan kiri.     Tidak lama, siluet bocah transparan tertangkap di retinaku—muncul di ambang mulut lorong. Nekrotous? taksirku, langsung tergerak untuk menghampiri sosoknya.     “Candice.”     Suara tersebut berhasil menginterupsi niatku detik itu juga. Aku menatap ke belakang pundakku—dengkus seketika lolos dari bibir. Lagi-lagi seorang bocah. Penampilannya sebenarnya sedikit mirip dengan Shane, serta paling mencolok di antara para bocah panti asuhan lainnya. Ia memiliki surai pirang yang terurai gamblang sampai ke punggung, berkulit putih pucat dan berhidung bangir.     Dan, sebentar—dari mana ia tahu namaku?     “Kawanku ingin bertemu denganmu, Candice.” Sorot netra birunya terasa menembusku, mengintai ke balik tubuhku. “Ikut aku.”     Aku sadar benar ada yang keliru. Pertama, ia tahu namaku. Kedua, ia berkata kawannya ingin menemuiku. Untuk seukuran makhluk yang baru terdampar di sini, niscaya bocah itu memiliki keterkaitan sendiri dengan Sang Penguasa Kegelapan. Namun, aku bersedia mengikutinya tanpa melucutkan sedikit pun kesadaran bahwa aku bersiap untuk menghadapi bahaya.     Ia menuntunku kepada lorong tadi. Kali ini, tidak kutemukan sosok nekrotous di dalam sana—hanya ada mawar hitam berduri.     “Kau pernah kemari?” tanya bocah pirang itu, secara mengejutkan.     “Tidak.” Aku mulai kelimpungan. “Kau—”     Ekor netranya melirikku sebentar, kemudian bertanya, “Aneh. Bagaimana Iris bisa mengetahuimu?”     “Iris?” Lipatan kontan tercetak di permukaan keningku. Kami kian dekat dengan penghujung lorong. “Siapa Ir—”     “Ay, ay! Terima kasih, Una.”     Ketibaan kami disuguhi oleh tawa cekikikan. Una—mungkin nama bocah pirang itu—mendongak ke atas magasin panti di seberang lorong. Aku turut mengangkat kepala, mendapati sosok nekrotous tengah duduk di atap magasin. Kedua tungkainya menendang udara. Lalu, netra kami tahu-tahu saja membaur cepat. Aku menelan liur, sedangkan tawa cekikikan nekrotous itu belum kunjung raib.     Ia melompat turun dari atap. Lagaknya melangkah persis seperti bocah, tertatih-tatih—namun untuk kecepatan, ia jauh lebih lasak. “Kerjamu bagus, Una. Tetapi, aku ingin meminta satu hal lagi. Boleh?” tanyanya, menunjuk d**a lawan bicaranya dengan ceria.     Una memiringkan kepalanya. “Ya, tentu saja. Kena—I-Ivy?”     Netraku membeliak ketika tubuh Una mulai mengejang. Dan Ivy—nekrotous tadi—langsung merasuki tubuh lawan bicaranya pada detik itu juga.[]
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN