UNA mengamuk di bawah kendali Ivy. Candice belum mencerna apa pun, namun mendapati netra biru Una tengah mengintainya dengan penuh kebengisan, ia sudah paham dirinya akan bersemuka dengan sesuatu yang berbahaya dalam waktu dekat. Ironisnya, Una mengamuk bukan dalam konteks kalap. Cara berjalan Una bahkan mirip dengan b***k Organisasi Harapan; timpang dan tidak teratur. Ia sedang di luar kendali.
Candice mengambil mundur beberapa langkah. Ia segera membangun tameng dalam diri gadis itu sendiri agar siap menangkis serangan apa pun dari Una. Bocah itu membawa telapak tangan tepat di depan netranya sendiri, memusatkan atensi sebentar ke sana dengan tawa sinting yang masih terpatri jelas di bibirnya. Pasca ia puas mengamati telapaknya sendiri, Una langsung mengatupkan tangan secepat kilat.
Ia menelengkan kepala, menujukan atensi lagi kepada Candice. “Hati-hati dengan sekelilingmu, Candice,” kata suara Ivy. “Kelengahan dapat membunuhmu, tahu.”
Gema ultimatum dari Ivy membuat adrenalin Candice mulai teruji. Ia lekas mengintai sekelilingnya, baru menoleh ke belakang semata-mata mendapati kumparan mawar hitam berduri yang tertanam melingkar di sisi kanan dan kiri lorong telah mengatupkan kelopaknya. Tidak lama, ia lagi-lagi memusatkan indra penglihat ke depan, menemukan telapak tangan Una mulai membuka secara perlahan-lahan seiring kuncup mawar kembali mengalami pemekaran.
Candice langsung bisa mengambil kesimpulan dengan cepat. Bunga mawar itu mengimitasi setiap arah dan keadaan tangan Una selagi ia bergerak. Candice tidak tahu pasti bagaimana Ivy bisa mengendalikan dua entitas sekaligus—niscaya ada intervensi dari Dewa Kegelapan. Cerberus bisa melakukan apa saja dengan menghalalkan segala cara. Mau bagaimanapun, Incubus Sphere merupakan alamnya, alam yang bertopang pada keotoriterannya.
Instingtif Candice sedang berfungsi dengan baik. Begitu kuncup mawar hitam sudah terekspos sempurna, saat itu juga Candice langsung jempalitan di udara tanpa menyentuh tanah—melompati setiap serangan brutal dari duri-duri mawar yang tidak kenal ampun. Saat tapak kakinya sudah menjejaki tanah, Candice segera berkelit ke samping.
Ia lekas membawa tungkai gadis itu sejauh mungkin dari pantauan kumparan mawar hitam yang belum menarik kembali ranjau-ranjaunya. Netra hijau Candice jelalatan mencari-cari tameng—dan ia akhirnya memilih satu bongkah batu besar seukuran setengah dari tubuhnya untuk menamengi diri. Gadis itu bertelut di balik sana, melongok kepada Una yang belum beringsut dari tempat meski duri-duri itu hendak menusuk sang tuan satu meter kedepan.
Bocah di luar kendali itu mengatupkan telapak tangan. Dalam waktu singkat, duri-duri itu berhenti di udara. Tanpa banyak bicara, Una mengarahkan anggota tubuhnya kepada Candice. Ia mengangkat telunjuk kiri ke atas kepala dengan gerakan spiral selagi menghampiri targetnya yang mustahil dapat berkutik di balik bongkahan batu.
Duri-duri mulai membelit udara kosong, mengikuti arah spiral telunjuk kiri tuan mereka dan membentuk gugusan bor. Deru napas Candice terengah-engah. Ia belum sempat mengerahkan seluruh energinya ketika Una tahu-tahu saja sudah membuka telak telapak tangannya. Lalu, vibrasi keras datang menghampiri, tamengnya meretak, dan tubuh belakang Candice langsung terdorong oleh angin bertekanan kuat dari arah depan sana.
Mercu kepala Candice terantuk dinding pertama kali. Indra pendengarnya kontan berdesing hebat, sedangkan visualnya mengabur sempurna. Cairan kental merah mengaliri pelipis gadis itu. Candice refleks memegang kepala selagi mencari cara untuk mengabsen kembali sisa-sisa kekuatannya. Dari balik buramnya penglihatan, Candice masih bisa melihat kedatangan Una.
Siluet Una melangkah dengan begitu santai, kontras dengan bahana tawa bocah itu yang berhasil menghantui pikiran Candice. Netra hijau Candice setengah berpicing kala mendapati sesuatu menguar di sekeliling tubuh Una laiknya aura. Otak gadis itu sedang tidak mumpuni untuk menebak apa-apa. Akhirnya, begitu kinerja indra penglihat Candice mulai stabil, ia baru dapat melihat sesuatu itu dengan sempurna.
Aura Una—atau Ivy—persis dengan suar api hitam yang sempat ia temukan di luar panti asuhan. Kehadiran Candice di tempat ini sudah pasti jebakan dari Dewa Kegelapan. Gadis itu langsung memejamkan netra. Kepalanya sengaja dientakkan kepada dinding sandarannya pada detik itu juga. k*****t. Sekarang apa? Ia sudah tidak lagi berdaya.
“Kau naif sekali, Sang Terpilih.” Una terkikik-kikik satu meter di hadapannya. Candice lekas membuka kembali indra penglihatnya, refleks menjatuhkan pandangan kepada tangan kanan Una yang melipat ke belakang. “Pantas saja kau selalu gagal menaklukkan pion Dewa Keagungan.”
Sorot kewalahan mendominasi netra Candice. “Siapa kau, Ivy?” tanyanya, lirih. “Kau memanipulasi kawanmu—demi ini?”
“Aku bukan Ivy. Aku adalah sukma ciptaan Dewa Cerberus Yang Agung—” Una menatap tepat di manik hijau Candice, “—katakanlah, yang merasuki nekrotous ilegal ini, kemudian tersalur menuju raga kawan bodohnya itu.”
Hela napas lolos dari bibir Candice. “Katakan, apa maumu?”
“He’em, mari kita lihat.” Dikeluarkannya tangan kanan Una yang sempat melipat ke belakang. Setangkai bunga mawar hitam langsung menguasai atensi Candice kala itu juga. “Aku ingin menguji kemampuan Sang Terpilih lebih dulu sebelum menghabisinya.”
Deru napas Candice memberat. Ia bisa merasakan arus nadinya bergelora, mendesak sukma dan raganya untuk kembali bangkit. Begitu jarak dari ujung tangkai mawar dengan netra hijaunya berkisar sepuluh senti, visual Candice lagi-lagi mengabur. Debar jantungnya memukul kesadaran gadis itu bertalu-talu. Sampai akhirnya, Candice tidak dapat lagi menahan perasaan menggebu-gebunya untuk bangkit dan—
Kilat kemerahan yang sempat hadir di netra Candice raib dalam waktu cepat. Tristan muncul dari belakang Una—merenggut paksa tangkai mawar hitam di tangan bocah itu dan membuangnya ke sembarang arah. Atensi Una lantas teralih. Candice mengambil momentum ini sebaik mungkin. Ia menarik tangan lain bocah itu, mengentak kuat tubuh lawannya ke permukaan tanah, kemudian menindih punggungnya dengan tempurung lutut gadis itu tanpa kenal ampun.
Candice segera memusatkan atensi kepada arus nadinya. Ia mulai mengabsen satu-satu energi yang sempat terkuras akibat rasa sakit—ironisnya, sekarang ia malah mati rasa, bisa jadi gadis itu sudah kebal dengan kesakitan. Yang ia lakukan setelahnya hanya satu; memfokuskan energi supaya berkerumun di telapak tangan, siap memunahkan sukma hitam dengan sihir spesial berskala besarnya.
Jeritan pilu Una, Ivy, dan sukma ciptaan Dewa Kegelapan memenuhi daerah magasin kala itu juga—laiknya sebuah elegi sumbang. Dalam sekejap, suar hitam tampak meluruh dari raga Una menuju udara kosong. Sukma Ivy terenggut ke luar seperti ada sebuah magnet yang menarik nekrotous tersebut. Lalu, ada Una yang siuman—dan ada Candice yang pingsan.
*
Aroma lavendel merebak ke rongga hidung Candice, menghasut seluruh kesadarannya untuk kembali ke permukaan kala itu juga. Candice siuman semata-mata mendapati dirinya terbaring di atas dipan sebuah ruang sepetak yang sama sekali asing. Netra hijaunya segera menerawang ke sekeliling, langsung bisa beropini kapasitas ruangan ini cukup besar untuk hanya menampung satu makhluk.
Satu buah kandelir menggantung di tengah langit ruangan. Cahayanya sedikit remang-remang, membentuk refleksi siluetnya sendiri di dinding bagian depan. Akan tetapi, ada refleksi lain di samping gadis itu—tampaknya sedang merunduk di sisi dipan Candice. Ia mungkin sempat terlena dengan ruangan asing tersebut sampai-sampai tidak sadar dengan kehadiran entitas lain di dekatnya.
Rhett? Candice langsung membatin nama sang kakak usai ia memakukan pandangan tepat ke sisi kirinya. Kepala Rhett terbenam di antara lipatan tangan pemuda itu. Permukaan keningnya sedikit terekspos. Ada butiran air seukuran biji jagung di sana. Sedari tadi ia menungguku?
Rasa bersalah lekas tebersit dalam hati kecil Sang Terpilih kala itu juga. Candice segera mengamati surai kakak beda darahnya yang acak-acakan, kemudian dengan waswas ia segera membenahinya. Pergerakan itu berhasil mengundang geliat dari sang kakak. Jemari Candice refleks terhenti di udara ketika jemari Rhett meraihnya cepat. Pemuda itu lekas memelototi sang adik.
“Kau bangun.” Itu pernyataan. Candice hampir tertawa mendengar tutur kata Rhett jika saja kakaknya tidak mengubah sorot netranya dari pelototan menjadi kecemasan. “Apa yang sedang kaurasakan saat ini? Kepalamu? Pendengaranmu? Atau penglihatan—”
Candice segera menyelat, “Kak, santai. Aku oke.”
Bibir Rhett hendak memprotes. Tak lama kemudian, ia urung. Sebagai gantinya, pemuda itu malah mengacak surainya sendiri. “Kau harus berhenti membuat kami cemas, Candice,” lirihnya, serak.
Atmosfer di sekeliling sepasang kakak dan adik itu mulai terasa tidak mengenakkan. Candice segera saja berkelakar sekadar mengusir atmosfer itu jauh-jauh. “Tidak ada yang meminta kalian untuk mencemaskanku, tahu,” katanya, kemudian mengimbuh lagi dengan menyelipkan nada bangga, “Tetapi, trims. Aku terkesan untuk itu. Kau bisa lihat, sekarang aku sudah dan akan selalu baik-baik saja—omong-omong, kita di mana?”
“Celestial Orphanage.”
Atensi Candice dan Rhett sama-sama teralih begitu suara baru menyelat di antara perbincangan keduanya. Pandangan Candice langsung saja memusat pada kedatangan dua bocah familier—Ivy dengan tangan kosong, Una dengan nampan di tangan. Gelagat mereka saat ini teramat wajar, tidak seperti pertemuan pertama mereka kala itu. Lalu, atensi Candice lagi-lagi dibuat teralih menuju Tristan.
Pemuda itu datang bersama mereka, hanya saja memutuskan bersandar di kusen pintu, alih-alih mendekati dipan gadisnya.
Candice perlu menahan rasa kecewa begitu Tristan secara terang-terangan tidak ingin netra mereka bertumbukan. Ia memejamkan mata sesaat, meraup udara sebanyak mungkin, kemudian segera melupakan pemuda itu dengan berpaling kepada dua bocah yang kini sudah berdiri tidak jauh darinya—menggantikan posisi Rhett tadi sebelum kakaknya memberikan kedua bocah itu tempat.
“Bagaimana keadaan kalian?” tanya Candice.
“Seharusnya itu kalimat kami, Candice.” Ivy mendengkus. Ia segera melipat kedua tangan di depan dadanya yang transparan, kemudian memiringkan kepala “Untunglah ada kakak pucat di sebelah sana yang bersedia mencengkeram bunga mawar hitam itu sampai telapak tangannya terluka parah. Kalau tidak—”
“Tris,” Candice menoleh ke balik pundak Ivy dan Una, “apa benar kau terluka?”
Yang ditanya segera menegakkan punggung. “Tidak—”
“Kata seseorang yang langsung menggeram meminta pertolongan,” Ivy menyelat lagi, “efek dari memegang sesuatu yang teracuni oleh sukma gelap untuk makhluk lemah kekuatan dapat menyebabkan rasa terbakar. Namun untuk kau, Candice—” bocah itu menjatuhkan tatapan tepat di manik mata gadis itu, “—bisa berakibat fatal, seperti lelah berkepanjangan atau bagian terburuknya, kematian.”
Di samping Ivy, Una segera memberi Candice secangkir teh dan berkata, “Minum lah, Candice. Agar pikiranmu bisa lebih tenang.”
Usai berterima kasih, Candice lekas menerima cangkir tersebut, kemudian menenggaknya untuk memuaskan dahaga. Tidak lama, Una dan Ivy segera berlenggang ke luar ruangan—meninggalkan gadis itu bersama Rhett dan Tristan. Rhett memandangi Candice sekali lagi. “Kau benar-benar sudah membaik?” tanya sang kakak. “Aku agak frustrasi mengingat sihir spesialku tidak berguna di sini, Candice.”
Selama ini, Rhett selalu menghabiskan waktu dengan memulihkan makhluk lain. Ia memiliki sihir spesial yang tentu sangat bermanfaat—namun tempatnya bukan di sini. Incubus Sphere memunahkan sihir spesial penyembuhnya. Itu salah satu alasan mengapa ia terus mencemaskan sang adik. Rhett takut jika suatu saat nanti ia akan gagal menjadi figur pelindung untuk adik beda darahnya itu.
Namun, bagi Candice sendiri, keberadaan Rhett di sisi gadis itu sudah lebih dari cukup. Ia selalu merasa terlindungi dan terkasihi oleh sosoknya. Jika suatu saat nanti Candice perlu menghadapi situasi krusial yang berpotensi merenggut nyawanya, bukan Rhett maupun kolega lain yang akan ia salahkan. Candice selalu siap mengambil risiko apa pun—jika itu memang terbaik untuk peruntungan mereka semua.[]