BENAR kata Ivy. Luka bakar terpatri kentara di permukaan telapak tangan si pemuda dua darah kala Candice melepaskan bebat dari sana. Visual gadis itu mengabur. Ia lekas mengejapkan netra berkali-kali, menghalau cairan bening lolos dari retinanya. Hati kecil gadis itu tebersit rasa bersalah. Deru napas Candice memberat. Ia kesulitan untuk meraup udara yang merebak di sekitar.
Usai napasnya mulai stabil, Candice mendongak tanpa melepaskan tangan Tristan dari sisi gadis itu. “A-Aku—”
Ucapan Candice tergantung bebas di udara begitu Tristan tahu-tahu saja menariknya ke dalam dekapan paling erat yang pernah ia dapat. Punggung Candice menegak, menunggu Tristan berbicara. Namun, pemuda itu malah diam membisu. Tidak ada keluhan apa-apa sekalipun gelenyar perih tidak pernah luput dari sana. Ia hanya ingin menikmati waktu sebentar saja untuk meminimalkan jejak kecemasan di benak pemuda itu.
Akhirnya, Candice turut melingkarkan lengan ke leher Tristan. Ia mengendus bagian leher Tristan dengan hidungnya semata-mata agar atmosfer kikuk menguap detik itu juga. Alih-alih menerima reaksi terduga dari Tristan, Candice malah mendapatinya menarik diri dan memandangi gadis itu dengan sorot paling mengerikan yang pernah ditampakkan oleh pemuda itu. Ia terlihat tidak menerima bantahan atas apa yang akan ia bicarakan selanjutnya.
“Kau keras kepala, Candice.” Suara rendah Tristan mampu menaikkan roma halus di permukaan kulit gadis itu. Ia segera menangkup wajah Candice, mendesak gadis itu untuk memakukan pandangan hanya kepadanya. “Berhenti menghadapi kegelapan.”
Candice lekas menggeleng. Ia paham makna dari perkataan lawan bicaranya. Mendapat respons sanggahan dari gadis itu, sorot netra hitam Tristan kian menggelap. “Candice—” Permukaan kening pemuda itu berkerut tidak suka, “—Incubus bukan tempat kita. Kegelapan di sini melebihi kapasitas kemampuanmu.”
“Aku rasa tidak,” jawab Candice. Ia tetap menjaga sorot netra hijaunya agar gadis itu tampak berani. “Mengapa kau bisa berpikir seperti itu?”
“Insiden tadi sudah cukup menggambarkan alasanku untuk melarangmu.” Tristan memejamkan netra sejenak usai mendapati sorot tidak terima dari gadisnya. “Candice, kau—kita—tidak mumpuni dalam hal ini.”
Candice mengusap dan menurunkan kedua tangan Tristan ke atas pangkuan gadis itu. “Aku mumpuni, Tristan,” bibir Candice mengap-mengap sesaat untuk mencari kalimat yang tepat, “ketimbang kau dan kolega kita, aku paling mampu di sini. Aku bisa mengandalkan kekuatan—”
“—Kekuatan yang berhasil mengancam keselamatanmu,” selat Tristan.
Secara tidak sadar, kukunya menusuk kasar telapak tangan Candice. Ia bahkan melupakan keberadaan luka bakar di sana. Emosi kemurkaan dan kecemasan kini menguasai raga pemuda itu, membuatnya seketika gelap mata. Ekspresi Tristan masih sama meski Candice sendiri sudah meringis dan mencoba untuk lolos dari kuku tajam pemuda itu.
“Tris, tanganmu—”
“Jangan naif. Kau hampir mati. Dengar itu?”
Candice sekali pun tidak pernah menduga akan mendapat ucapan menyesakkan itu dari lidah Tristan. “Sial. Ada apa denganmu?!” Gadis itu memandangi lawan bicaranya dengan netra berkaca-kaca. Ia mendorong pundak Tristan menjauh begitu cengkeraman kuku si pemuda dua darah merenggang, kemudian mengimbuh dengan parau, “Ucapanmu keterlaluan, Tris ….”
Retina Tristan seketika membulat. Ia baru sadar sepenuhnya begitu cairan bening lolos dari netra Candice. Berengsek. Ini di luar kendalinya. Dengan cepat, ia mencoba untuk meraih jemari Candice lagi, namun gadisnya cepat-cepat menghindar. “Candice—”
“Angkat kaki dari sini. Aku butuh istirahat.” Candice kembali membaringkan diri, berbalik memunggungi pemuda itu. “Dan satu lagi, kau tidak berhak ikut campur atas semua tentangku, Tris. Aku bukan pecundang.”
Lalu, kelengangan merebak di antara kedua makhluk itu secepat kilat.
*
“Bung, kau kelihatan kusut.”
Opini Fraser sama sekali tidak membantunya dalam berpikiran jernih. Ekspresi Tristan masih sama gusarnya, bahkan lebih dari situasi tadi. Ia menolehkan kepala semata-mata memandangi Fraser yang kebetulan duduk bersisian dengan pemuda itu. Lantaran si pemuda dua darah sedang tidak dalam keadaan ingin bicara—tidak seperti ia selalu ada dalam fase tersebut saja, Tristan memilih untuk tidak merespons.
Merasa diabaikan, Fraser tidak mau diam. Ia langsung mengimbuh cepat, “Atau kau terlibat hal semacam empati berlebih dengan gadis menarik itu?”
Tristan tidak sekali pun terusik dengan pertanyaan tak berbobot Fraser. Namun, mendengar pemuda itu memanggil Candice dengan sebutan gadis menarik, mau tidak mau membuat emosinya tersentil. “Kau bilang apa?” tanya si pemuda dua darah, melemparkan tatapan tajam menuju sang lawan bicara.
“Empati berlebih dengan gadis menarik bernama Permen itu?” Fraser menatap langit-langit ruang tamu Celestial Orphanage. “Hm, aku lupa namanya. Permen boleh juga, karena gadis itu manis—”
“Sebut Candice menarik satu kali lagi dan aku tidak segan untuk mematahkan tulang hidungmu.”
Kalimat ultimatum itu dimuntahkan oleh Tristan serendah mungkin, menciptakan sensasi ngeri merambat ke balik permukaan lengan Fraser. Fraser lantas menerawang ke sekeliling ruangan, di mana mereka—Ivy, Una, dan seluruh koleganya—memang sedang terlibat dalam perbincangan krusial mengenai demontus dan nekrotous. Ia sendiri memang sempat mengikuti topik sebelum Tristan datang dan merenggut atensinya dalam waktu singkat.
Dengan cepat, Fraser segera menginterupsi perbincangan mereka, “Hei, ada apa dengan kawan kalian satu ini?”
Tristan bisa merasakan seluruh atensi tertuju kepadanya. Ia menahan diri untuk tidak mengumpat. Fraser cengar-cengir di samping pemuda itu, tidak merasa bersalah sedikit pun. Tristan benci menjadi pusat perhatian, sehingga ia berpaling ke langit-langit ruang tamu dan menarik napas dalam-dalam agar gelenyar tidak nyaman di benaknya dapat raib.
Di sisi lain, Rhett tahu ada yang keliru dengan Tristan dan Candice. Namun, ia bisa menginterogasi si pemuda dua darah setelah perbincangan krusial mereka berakhir. Maka dari itu, Rhett lantas melibatkan diri kembali kepada topik mengenai insiden yang baru-baru ini terjadi di Incubus Sphere. Ivy, nekrotous bocah itu menceritakan secara detail apa saja yang telah ia ketahui selama dirinya menjadi imigran gelap di Kota Mavratera—sama seperti Nami.
“Kami menyebutnya sukma kegelapan.” Ivy mengayunkan kaki di sandaran tangan sofa, persis seperti bocah kalau saja tubuhnya tidak transparan. “Sukma kegelapan ini berwujud suar api hitam—kemungkinan Candice memang sempat melihat sampai berniat mengejarnya ke Celestial. Sukma kegelapan kerap mencari tempat untuk bersemayam di tubuh nekrotous. Dampaknya, nekrotous akan berada di luar kendali. Persis sepertiku tadi.”
“Kau merasuki tubuh Una,” timpal Rhett. “Bagaimana bisa?”
Ivy mengangguk sekilas. “Begitu lah cara kerja sukma kegelapan. Anggap saja demontus menjadi pusat dan nekrotous sebagai perantara,” jelasnya.
“Aku sama sekali tidak tahu Ivy berada di luar kendali ketika tiba-tiba saja memintaku menemui Candice,” Una menimpali. Tebersit rasa bersalah pada nada lesunya. “Maka dari itu, maaf—atas Candice dan kakak di depan sana yang terkena luka bakar.”
Merasa terpanggil, Tristan lantas menatap Una. “Kau tidak salah,” balasnya, singkat.
Ada hening sesaat, lalu suara Roan terdengar. “Insiden ini merupakan salah satu alasan mengapa Trisella membentuk Klan Baja,” kata si anggota medis itu. “Ia takut bila peperangan terjadi di antara kedua kaum.”
Fraser segera menimpali, “Terlebih, keadaan Incubus Sphere semakin tidak tertata—saat ini sedang marak pelelangan serbuk ekstasi yang bisa menyebabkan delusi dan euforia oleh oknum-oknum tertentu. Efeknya, visual mereka bisa mencitrakan kekuatan-kekuatan demontus yang sudah lama hilang.”
“Sungguh?” Shane membulatkan sepasang netra birunya. “Ada hal seperti itu di Incubus?”
Kai merapatkan kedua tangan di kepala selagi memerosot sedikit dari sandaran sofa. “Kau masih terlalu muda untuk terlibat dalam perbincangan serbuk ekstasi, Iluminasi,” timpal pemuda itu. “Namun, yah, memang tidak akan bisa dihindari hal semacam itu.”
“Trims atas jawabanmu—sangat berguna.”
“Ck, kau masih dendam dengan pengejaran tadi?” Kai mengerucutkan bibir. “Aku dikejar akibat kebenaran dan kau dikejar akibat pencurian.”
“Kebenaran,” Shane mengulang salah satu kata dengan nada mengandung sarkasme selagi manggut-manggut sejenak, “dengar, aku mustahil menjadi buron apabila kau tidak menarik tanganku untuk ikut bersamamu saat aku masih memegang patung dewa bodoh itu, Riverdous!”
“Aku—”
“Jangan berdebat,” titah Roan. Kai seketika mengatupkan bibir. “Kita masih berada di Celestial—bukan di markas.”
“Ini bukan perdebatan, Ivanor,” Kai mengangkat suara, “ini namanya defensi.”
Roan mendengkus dan mengedikkan pundak. “Terserah kau saja.”
Rhett melirik Kai sebentar. Ia masih tidak suka dengan keberadaan pemuda itu di tempat ini. Rupanya, Kai merupakan salah seorang anggota Klan Baja yang secara kebetulan sedang melaksanakan tugasnya di Pusat Mavratera—mencuri serbuk ekstasi yang dibeli oleh para demontus. Bagian terburuk, ia bertemu dengan Shane dan melibatkan gadis itu ke dalam pengejaran atas tindakan kriminalnya.
Bukan seperti Rhett tidak suka apabila Shane beradu mulut dengan Kai. Ia hanya tidak ingin kawan dari adiknya itu terlibat dengan hal yang mungkin akan mengancam keselamatan. Mendadak, Rhett skeptis dengan dirinya sendiri. Benarkah hanya itu?
“Jadi, sudah selesai?” Shane menerawang ke sekeliling ruangan. “Aku ingin membesuk Candice—kira-kira, kapan ia bisa pulang?”
“Ia sudah pulih.”
Shane hampir terperanjat di sofa begitu mendengar respons dari si pemuda dua darah. Langsung saja ia membatin, Oh? Pemuda itu sudah bisa merespons, rupanya.
“Baiklah, aku akan sekalian mengajaknya pulang.”
Una dan Ivy mengawani Shane untuk bersua dengan Candice, sedangkan ketiga anggota Klan Baja lekas keluar dari Celestial Orphanage karena sudah tidak betah berada di dalam sana. Sisa Rhett dan Tristan di ruang tamu. Rhett beringsut dari tempat untuk duduk bersisian dengan Tristan, kemudian menyerahkan satu kaleng soda untuk pemuda itu.
“Sesuatu terjadi?” Rhett segera mengawali percakapan. “Atau kau cemburu dengan Fraser yang tampak tertarik dengan Candice—sehingga wajahmu kusut begini?”
“Cemburu?” Salah satu sudut bibir Tristan terangkat naik sebentar, kemudian ia mendengkus geli. Bagaimana bisa? Ia hanya sebatas tidak suka bila Fraser secara terang-terangan menyebut Candice menarik. Si pemuda dua darah menghela napas sebentar, lalu berkata dengan jujur, “Kami bertengkar.”
“Kau dan adikku—bertengkar?” Lipatan tercetak jelas di permukaan kening Rhett. “Tumben.”
Sudah? Begitu saja reaksi Rhett ketika mendengar sang adik bertengkar dengan kekasihnya?
Tristan akhirnya menelengkan kepala, setengah frustrasi. “Maksudmu?”
“Ya, mengingat kau selalu mencari aman dengan Candice—tidak ingin menyakiti hati mungilnya.”
Mendapat respons tak terduga dari Rhett, mau tidak mau, Tristan meremas kedua pelipisnya. “Aku melarangnya bersemuka dengan kegelapan,” aku si pemuda dua darah.
“Kedengaran sulit. Pantas saja adikku marah.”
“Berengsek.” Tristan refleks menatap lurus netra Rhett. “Kau—”
“Dengar, Baxter.” Rhett menghela napas, siap memuntahkan wejangan untuk pemuda di hadapannya saat ini. “Aku paham kau tidak ingin Candice terluka—dan aku cukup tersentuh dengan afeksimu kepada adikku itu.” Kemudian, ia tersenyum miring. “Tetapi, bukan begitu caramu mengekspresikan kecemasan. Dengan melarangnya, kau pikir gadismu akan bersedia menurutinya?”
Tristan bergeming. Ia mendongak dan mengacak surai hitamnya detik itu juga. “Aku tidak memiliki pilihan lain. Candice bebal,” gumam si pemuda dua darah.
“Nah, cara pantas untuk menangani kaum betina yang bebal hanya satu—dampingan.” Rhett mengukirkan senyum sangat tipis di bibir. “Dalam hal ini, Candice tidak butuh apa pun selain kau dan aku—mungkin. Intinya, ia tidak butuh laranganmu. Ia membutuhkan dampinganmu, Baxter.”[]