DINGIN malam ini terasa mematikan. Jemari Candice menahan gelas di depan bibir, membebaskan kepulan asap teh hangat untuk menghangati permukaan wajahnya. Itu tidak terlalu memberikan efek signifikan. Ia masih tremor. Mencari kehangatan di tengah pekat dan beku mematikan Incubus Sphere hampir kedengaran mustahil.
Sialnya, peranan gadis itu sebagai Sang Terpilih tidak memungkinkan gadis itu untuk memiliki kulit tebal.
Lidah Candice terasa kelu saat ia mengecap teh. Sengatan panas menjalar sebentar, baru ia mulai menenggaknya pelan-pelan tanpa melepaskan pandangan dari bias rembulan di atas gumuk pasir. Letak tenda medis rupanya mempunyai titik strategis dan paling menarik di Markas Klan Baja. Ia bisa menikmati keelokan rembulan beserta butir-butir dari gumuk pasir yang gemerlapan di sana.
Semilir angin datang kembali. Candice segera menutup netra hijaunya. Ada rasa lega begitu ia meraup udara dingin yang menguar dalam jumlah besar. Setengah beban pemikiran gadis itu mulai mengabur. Batinnya sudah mulai terkendali. Baru saja ia membuka netra dan hendak mencecap teh di gelas, derap sebuah langkah sayup-sayup terdengar sampai ke telinga.
“Candice.”
Suara itu membuat jemari Candice langsung tergantung di depan gelas. Dengan gerakan stagnan, ia melirik ke sisi kanan. Perawakan Tristan sudah duduk di sampingnya. Candice menahan diri untuk tidak menoleh, kendati ekor netranya mendeteksi ada perbedaan cukup kentara dengan penampilan si pemuda dua darah. Surai hitamnya acak-acakan. Gurat wajah pemuda itu masih sama sulitnya untuk Candice baca, namun tebersit kewalahan di sana.
Candice cepat-cepat menunduk begitu Tristan menoleh. Ia mengontrol tatapan agar terus memusat kepada gelas. Sebenarnya, ia tidak ingin terlihat seperti sedang merajuk atas ucapan Tristan kala itu. Candice cukup paham si pemuda dua darah hanya mencemaskan dirinya. Hanya saja, Tristan salah dalam mengolah kalimat. ‘Jangan naif’ dan ‘Kau hampir mati’. Bukan seperti Candice terlalu bodoh untuk tidak menyadari bahwa ia sudah terlalu dekat maut.
Intinya, tidak perlu ada titahan.
Helaan napas hampir lolos dari bibir Candice jika saja Tristan tidak tiba-tiba mendekatkan diri. Pemuda itu merenggut gelas Candice dari sisi gadisnya. Candice masih tidak beringsut dari tempat. Ia mempersilakan pemuda itu untuk meletakkan gelasnya jauh dari kedua makhluk itu. Baru setelahnya, Tristan tahu-tahu saja menaruh telapak tangan di pipi Candice.
Sorot netra hitamnya terasa intens. “Aku—”
Candice menenggak liur dengan kikuk. Ia cepat-cepat menurunkan lengan Tristan, lalu menunduk semata-mata tak ingin melihat pemuda itu. Tidak lama, visual Candice menemukan luka bakar di telapak tangan Tristan yang sudah mulai mengering. Ada jeda sejenak. Tristan tidak kunjung meneruskan bicaranya, mungkin ia berpikir Candice tidak ingin mendengar suaranya usai mendapati reaksi demikian dari gadis itu.
“Kau tidak mengenakan pembebat.” Candice mendadak bersuara. “Kenapa?”
“Sudah sembuh,” balas Tristan, namun deru napasnya tidak sejalan dengan respons pemuda itu.
Kentara sekali, ia tidak berani menggerakkan tangan saat Candice mulai memutari bagian luar luka bakarnya dengan jari telunjuk. Gadis itu tentu paham si pemuda dua darah baru saja memuntahkan dusta. Ia segera melupakan rasa kemanusiaan sejenak, kemudian dengan pergerakan tidak terduga, jemari Candice lantas menjentik permukaan luka bakar tersebut—tidak terlalu kasar, namun cukup bagi Tristan untuk mengekspresikan rasa sakitnya.
“Jangan naif. Kau masih kesakitan. Dengar itu.”
Candice menahan diri untuk membusung bangga. Ia menatap puas ke arah lawan bicaranya usai mengimitasi kalimat si pemuda dua darah di Celestial Orphanage kala itu. Namun, binar kepuasan yang sempat tersorot di netra hijau Candice raib. Alih-alih mendapati gurat marah, kesal, atau reaksi manusiawi Tristan yang termanifestasi dari kedongkolan atas tindakan iseng gadis itu, Candice malah mendapati sorot Tristan semakin intens dan memprihatinkan saja.
“Tunggu di sini.” Candice menghela napas, hendak beringsut dari posisi duduknya. “Aku akan mengambil perban—”
Dengan cekatan, Tristan menarik lengan Candice begitu gadisnya sudah setengah berdiri. Keseimbangan Candice goyah kala itu juga. Ketika ia berpikir bokongnya akan mencium tanah pasir, Candice justru mendapati dirinya berada di atas pangkuan si pemuda dua darah. Ia ingin mengeluarkan suara, akan tetapi indra pengecapnya terlalu kelu untuk itu.
“T-Tris?”
Hanya satu kata yang berhasil lolos dari bibir ranumnya. Ia bisa merasakan kepala Tristan naik turun di ceruk lehernya. Usai mengalami pergolakan ego dan batin, Candice segera memeluk kepala pemuda itu dan mengusapnya lembut.
“Jangan pergi.” Nada bicara si pemuda dua darah terdengar parau dan memilukan di indra pendengar Candice. Mau tidak mau, gadis itu dibuat panik. Ia berniat mengangkat wajah pemuda itu, namun urung begitu Tristan tiba-tiba menambahkan, “Maaf—soal aku telah mencampuri urusanmu, Candice.”
Candice segera mengeratkan dekapan. “Kau tidak salah apa-apa, sungguh,” bisiknya, ada sedikit tekanan dalam nada kalimat gadis itu.
“Aku marah dengan diri sendiri.” Tristan masih terus berbicara. Lingkar lengan kukuh pemuda itu semakin erat di pinggang gadisnya. “Karena tidak ada kekuatan—menjadi seorang pecundang.”
“Kau bukan!” timpal Candice, menggeleng cepat. Lalu, ia mengubah nada menjadi lebih teduh, “Kau bukan pecundang ….”
“Jika aku terlambat sedikit saja, kau akan—”
“Tristan, ada kau.” Jemari lentik Candice menggapai kedua pipi pemuda itu. Netra keduanya kini membaur cepat. “Dan sekarang, lihat. Aku baik-baik saja. Sedang duduk manis di pangkuanmu. Apa lagi yang lebih baik dari ini?” Ibu jari Candice segera mengusap permukaan pipi Tristan selagi ia terkekeh pelan. “Melihatmu juvenil seperti ini membuatku gemas, tahu.”
Sekali lagi, Candice merengkuh kepala si pemuda dua darah. “Setidaknya beri aku waktu untuk mengambil perban di dalam agar aku bisa menangani luka bakarmu, ya?” pintanya.
Beberapa detik kemudian, ia segera menarik diri dari pemuda itu. Bibir ranumnya mengecup sejenak sekeliling luka bakar di telapak tangan Tristan. Begitu netra hijau gadis itu bertumbukan dengan milik Tristan, Candice segera mengulaskan senyum tipis dan menggigit bagian bawah bibirnya dengan maksud untuk menggoda.
Kemudian, dengan gerakan cepat, ia langsung mendaratkan ciuman di permukaan bibir pemuda itu.
Sentuhan bibir Candice terasa manis dan lembut. Belum sempat Tristan merespons gadisnya, Candice sudah telanjur menarik diri dan beranjak dari pangkuan. “Tunggu aku,” bisik gadis itu.
Dengan subtil, ia mengusap cuping telinga Tristan. Atensi si pemuda dua darah tidak pernah teralih, bahkan setelah sosok Candice menghilang di balik selubung tenda medis. Lalu, ia menghela napas kasar. Intuisinya terus mengatakan bahwa gadis itu semakin lama, terasa semakin tidak terjamah.
*
Sabetan bilah terdengar. Candice disuguhi pemandangan serdadu Klan Baja yang sedang berada dalam pelatihan usai jemarinya menahan selubung tenda medis agar ia bisa melihat ke luar. Lagi, masih ada rembulan di atas sana. Sinarnya meruah sampai Candice bisa melihat jelas wajah-wajah asing para anggota Klan Baja.
Atribut mereka masih sama dengan saat-saat di mana Candice baru siuman, sampai-sampai ia menduga para anggota Klan Baja sebenarnya tidak pernah mencuci pakaian.
Di tengah keributan pelatihan, netra hijau Candice jatuh kepada sosok pemuda yang duduk di pelataran—tidak jauh dari tenda medisnya. Hanya dengan melihat dari punggung dan pundak tegapnya, Candice sudah mengenal sosoknya; Fraser Mowgli. Ia kerap mengantarkan kudapan dan sesekali memeriksa keadaan Candice kendati gadis itu sendiri sudah merasa dirinya benar-benar pulih.
Cukup melelahkan untuk mendapat kepercayaan dari anggota medis tersebut, namun ia juga berterima kasih untuk itu.
Candice lantas saja berdiri di samping Fraser selagi mengusap lengan kiri untuk meminimalkan atmosfer dingin yang merebak. “Ingin bergabung dengan yang lain?” tanyanya.
Yang ditanya sedikit terlompat dari duduk. Fraser tidak menduga akan ada sosok lain berdiri di samping pemuda itu. Ia menghabiskan waktu dengan melamunkan sesuatu di pelataran, sampai akhirnya kedatangan Candice berhasil menginterupsi dan mengalihkan atensinya secepat kilat. Untuk menutup perasaan jengah lantaran tertangkap basah tengah melamun, Fraser mendeham singkat.
“Kau bangun terlalu awal.” Ia lekas memandangi netra hijau sang lawan bicara.
“Kerjaanku molor selama berada di sini. Aku terlalu lelah untuk istirahat lebih lama.” Candice tidak terusik sama sekali saat ia menerima tatapan dari pemuda itu. Ia malah menatap lurus ke arah serdadu Klan Baja, mengintai setiap pergerakan dalam pelatihan mereka—mana tahu ia dapat mengimitasi gerakan manuver tersebut jika suatu saat ia memerlukan defensi. “Apakah anggota medis tidak diizinkan untuk berlatih?”
Fraser segera mengangkat satu alis. “Siapa bilang?”
“Hanya menebak.” Candice tersenyum kecil begitu tatapan mereka bertumbukan. “Kau sedari tadi menatap ke arah sana—dan itu terlihat memprihatinkan.”
Tawa geli lolos dari bibir Fraser. “Aku bisa saja mengikuti pelatihan,” ia memutuskan kontak mata dengan memandang lurus ke arah pelatihan para kubunya, “hanya saja, aku tidak sedang dalam fase untuk latihan.”
“Sesuatu mengusikmu?” terka Candice.
“Tidak juga.” Ada jeda sebentar, baru akhirnya Fraser menghela napas selagi menepuk tanah pasir di samping pemuda itu, “Yah, sedikit. Duduk dulu, sini.”
Candice membetulkan pakaian atas terlebih dahulu, lalu segera menuruti instruksi dari lawan bicaranya.
Usai bokongnya mencium tanah pasir, Fraser segera melirik Candice. Tanpa menunggunya menagih jawaban, Fraser langsung berkata, “Terhitung beberapa hari lagi akan terjadi Purnama Hitam di Incubus Sphere.”
“Purnama Hitam?”
“Hari kebebasan para nekrotous. Purnama Hitam berarti tidak akan ada sumber sinar dan mereka menyukai itu.” Fraser mengangkat kedua sudut bibir saat ia menemukan lipatan terpampang di kening Candice. “Dalam artian, selama Purnama Hitam berlangsung, para nekrotous berhak keluar dari Kota Blackburn selama satu hari dan memutari Kota Mavratera.”
Candice menenggak liur. “Bukankah itu berarti sukma kegelapan sangat berpotensi dalam mengacaukan peradaban?” tanyanya, hampir tidak bisa mengendalikan nada frustrasi di kalimat gadis itu usai mendengar uraian dari lawan bicaranya.
“Sudah kuduga, kau memang gadis cerdas—dan menarik.” Ironisnya, senyum Fraser merekah. Ia mengangkat telapak tangan kanan ke udara dan menepuk tiga kali surai cokelat gadis di sampingnya. Namun, Candice tidak bereaksi apa-apa. Selagi menelan kekecewaan, Fraser segera meneruskan, “Sukma kegelapan niscaya menjadikan ini sebagai momentum. Dan selama itulah tugas kami sebagai anggota Klan Baja berlaku ketika Purnama Hitam berlangsung. Memunahkan para sukma.”
Candice menghela napas. “Kapan Purnama Hitam akan muncul?”
“Sekitar—”
“Emrys?”
Ada suara lain menginterupsi kalimat dari pemuda itu. Baik Fraser dan Candice lekas menengok ke arah pundak masing-masing. Netra mereka langsung menemukan perawakan sang Kapten Klan Baja sedang berdiri menjulang di belakang sana dengan pandangan terpaku kepada Sang Terpilih.
“Bisa kupinjam waktumu sebentar? Aku butuh asistensimu.”
*
Trisella mengepalai Candice untuk menuju sudut markas yang terasing. Mereka benar-benar di luar jangkauan visual para anggota Klan Baja. Ada dinding beton yang memisahkan wilayah markas dengan wilayah di luar markas. Si Kapten Klan Baja bertelut di dekat dinding usai Candice puas menelaah sekeliling.
Jemari kukuh Trisella tampak mengetukkan tanah pasir. Ironisnya, suara dentingan kontan merebak ke indra pendengar Candice.
Usai suara itu raib, Trisella lekas mengais-ngais permukaan tersebut sampai Candice dikejutkan dengan keberadaan sebuah roda rantai berdiameter belasan lebih tertanam di permukaan. Segera, gadis bersurai oranye itu memutari roda rantai. Mula-mula, ia agak kesulitan. Candice sempat ingin mengajukan diri untuk membantu, namun sebelum ia sempat menawarkan, suara gemuruh dari bawah permukaan terdengar.
“Ada apa di bawah sana?” bisik Candice, kentara skeptis dengan sosok yang sedang bertelut di depan gadis itu.
“Ruang bawah tanah.” Trisella meliriknya sekilas. “Tidakkah kau pernah melihat hal semacam ini di duniamu?”
“Yah, aku hanya berta—”
Napas Candice tersekat. Ia beringsut mundur saat kontur permukaan tanah pasir mulai miring ke bawah. Trisella beranjak dari posisi bertelutnya. Ia mengikuti jejak Candice dengan lagak santai. Undakan menurun mulai tampak. Dan kepekatan atmosfer di bawah sana mulai menggetarkan adrenalinnya.
Trisella baru menginjak undakan teratas kala ia menolehkan kepala menuju lawan bicaranya. “Apa lagi yang kautunggu? Ayo, masuk!” titah si Kapten Klan Baja.
Cara sangat ‘sopan’ untuk mengundang tamu, batin Candice, hampir muak. Adab santun demontus itu sepertinya sudah termakan oleh kedudukan.
Pada akhirnya, Sang Terpilih segera beranjak turun—membiarkan gadis itu menjadi b***k sementara waktunya si Kapten-Terhormat-Klan-Baja.[]