Dengan aku yang meninggalkan mereka seperti ini pasti ibu mertua akan marah, tapi hatiku pun sudah tak kuat mendengar apalagi sampai membayangkan hal itu terjadi.
"Lihat istrimu Ryan. Aisyah sudah tidak lagi menghargai ibu." Ujar Ibu mertua dengan nada begitu emosi.
Kedua ibu dan anak itu terus berdebat. Ibu mertua tetap kekeh ingin putranya menikahi janda kaya itu, namun suamiku menolak dengan tegas, sehingga ibu malah menyalahkan aku, gara-gara menantu miskinnya ini putranya menjadi durkaha padanya.
'Apakah? aku harus mengalah lagi, dan lagi, membiarkan suamiku menikah dengan wanita lain.
'Apakah aku akan kuat atau justru malah tersiksa dan akhirnya mundur.
Tak mau di anggap suamiku menjadi durhaka karena istrinya, dengan berat hati, aku mengizinkannya untuk menikah lagi, ini demi bakti dan untuk kebahagiaannya.
Wajah ibu mertua langsung berseri, ia tersenyum penuh kemenangan, alasan penolakan dari Mas Ryan sudah tak bisa mematahkan impiannya untuk menjadi orang kaya.
Namun tak ku sangka, tak di duga, ibu mertua sudah merencanakan lamaran itu dalam tiga hari.
Apakah? harus secepat itu. Rasanya perih, sakit hati mendengarnya.
___
Tiga hari sesuai rencana lamaran. Ibu mertua, aku ikut mengantar suamiku.awalnya Mas Ryan terus menolak untuk menikahi Marni, ia tak sanggup menyakiti hatiku, namun aku berhasil menyakinkanya, dengan mengatakan hatiku kuat dan aku ikhlas di madu, dengan syarat ia harus adil.
Akhirnya Mas Ryan bersedia, Ibu mertua serta Bapak dan adik tiri suamiku, turut serta ikut saat acara lemaran di buka, entah kenapa di ruangan yang luas ini aku merasa sesak.
Kedua keluarga berbincang mereka sepakat akan melaksanakan pernikahan. Mas Ryan, dan Marni satu bulan ke depan, seserahan yang kami berikan hanya seratus ribu sebagai maharnya.
Wanita yang akan segera menjadi maduku itu terus mengembangkan senyumnya, walau mahar yang di berikan terbilang sangat rendah, mungkin ia benar-benar mencintai suamiku.
_____
"Kenapa kamu menyetujui permintaan. Ibu?" Tanya Mas Ryan.
Saat kami baru saja pulang kerumah.
"Mas. Aku nga mau kamu di cap sebagai anak durhaka kerena ku, dan aku tidak bisa membahagiakan mu." Jawabku.
"Biarlah seperti ini, tapi aku mohon kamu bisa bersikap adil nantinya." Sambungku.
Walaupun hati berat untuk percaya, akan Mas Ryan bisa bersikap adil pada kedua istrinya, namun jika memang ini yang terbaik, aku akan mencoba bertahan namun jika hati ini sudah tak sanggup. Maka aku harus bisa mengikhlaskan untuk meninggalkannya.
Hari terasa begitu cepat berganti, aku menjadi was-was dan hati merasa ketakutan.
Ya Robb, lapangkan dadaku untuk menerima segala ujian ini.
"Jika kamu tidak kuat, aku akan membatalkan pernikahan ini," Ujar Mas Ryan.
"Insyaallah. Aku kuat mas, emm aku izin mau beli telur di warung, ya mas persediaan di dapur ternyata sudah habis," Kataku mengalihkan topik pembicaraan kami.
"Ya," Balasnya singkat.
Aku mengucapkan salam dan langsung berlalu dari hadapan.
Saat sampai di depan warung, ku dengar para ibu-ibu tengah membicarakan seseorang namun saat mereka melihatku semua terdiam.
"Bu beli telurnya setengah kilo" Kataku pada ibu Eha pemilik warung.
"Aisyah. Apa benar suami kamu mau nikah lagi sama si Marni?" Tanya si ibu yang sama berbelanja.
"Terus neng Aisyah mau gitu di poligami?"
"Emang ya. Bu Harti, kalau sama harta kalap sama anak-nya aja dia jadikan tumbal, maksudnya tumbal buat nikahin janda kaya itu," Kata ibu-ibu yang lainnya.
"Iya, ihhh kalau jadi mertuaku sudah ku racuni dia pake sianida"
"Saya kasihan sama neng-nya, udah uang gaji suami di ambil terus sama mertua, di kasih 20ribu sehari jaman sekarang serba mahal, ya mending kalo buat makan doang, lah ini kan harus beli sabun mandi, token listrik, minyak, gas, sabun cuci dll, terus ibu mertuanya malah minta jatah lagi, haduh kalau jadi saya udah saya tinggalin suami kaya gitu."
"Perasaan kurang apa? neng Aisyah ya, bisa bertahan bertahun-tahun dengan kondisi sulit dan selalu di recoki mertua, eh mertuanya malah semakin kurang aja nyuruh suami nikah lagi."
"Jangan mau di bodohin dengan kata cinta dan bakti neng, itu bakal ngiksa diri kita sendiri"
"Neng. Mending cegah, batalin aja pernikahannya, jangan sampai suaminya nikah sama si Marni, percaya sama saya, nga bakal enak di poligami"Ujar Bu Eha. Dia memberikan keresek hitam pesananku.
Aku tersenyum lalu menyerahkan uangnya." Bu saya minta doanya aja, semoga saya bisa kuat menjalani pernikahan poligami ini, permisi." Ucapku, berlalu meninggalkan mereka.
'apakah aku bisa? Ku serahkan hati ini pada mu Ya Allah.