Pernikahan Ryan pun berjalan dengan lancar. Aisyah tersenyum getir saat menyaksikannya, sungguh sebenarnya, ia tidak kuat menghadapi kenyataan bahwa dia bukan lagi satu-satunya istri dari suaminya.
"Akhirnya kamu jadi menantu ibu juga. Marni," Ujar Ibu Harti. Ia begitu bahagia saat ini.
"Selamat ya. Bu Harti roman-romannya sebentar lagi jadi orang kaya nih" Ucap Ibu-ibu yang tengah menyalami pengantin serta kedua keluarga nya.
"Ibu-ibu bisa aja. Marni ini menantu nantinya bakal menjadi kesayangan saya. Bu," Ujar Bu Harti.
Marni yang mendengarnya hanya tersenyum sipu, dia menatap Ryan yang di sampingnya, dengan tatapan memuja, melihat itu ada rasa cemburu di hati Aisyah.
"Terus Aisyah gimana? Dia kan sudah banyak berkorban untuk kalian, kasihan loh Bu. Si Aisyah nga di anggap,"
"Halah dia itu menantu tidak berguna, tidak bisa ngasih apa-apa sama mertuanya, nih lihat menantu saya yang ini, baru nikah saja. Marni sudah kasih saya emas," Katanya. Ibu Harti memperlihatkan gelang emas yang ada di tangannya, pada para tamu undangan.
" Kenapa sih harus si Ryan. Rina dan Rini kan belum menikah kenapa tidak mereka saja yang di nikahkan?" Tanya Ibu Eha yang hadir di sini.
"Rina dan Rini itu belum siap menikah, mereka masih ingin menikmati masa mudanya,"
"Lah terus ibu ngorbanin pernikahan anak ibu sendiri, demi anak tiri ibu, sadar bu Ryan ini anak kadung ibu, jangan buta kerena cinta sama suami yang bisanya jadi benalu hingga nyiksa anak sendiri"
"Heh ibu-ibu jangan sok tahu, saya ngelakuin ini juga demi kabahagian anak saya, sepuluh tahun dia hidup sama Aisyah dapat apa? Bahkan dia makan saja hanya sama telur," Ujar Ibu Harti.
"Sekarang anak saya sudah menikah dengan wanita yang sempurna. Marni, akan memberikannya makanan yang enak setiap hari, lihat semua yang di pakai saya, ini barang mahal, kalian pasti iri kan,"Lanjutnya.
Sebagian ibu-ibu terlihat geram, mereka meninggalkan ibu mertuaku yang masih memamerkan pemberian dari menantu kesayangannya,.
Hati Aisyah benar-benar hancur, ia m milih kembali ke belakang melanjutkan aktivitas nya di sana.
Sedari tadi ia hanya mencuci piring kotor serta sibuk mempersiapkan acaran pernikahan suaminya, ia keluar hanya ingin melihat wajah Ryan, tidak ada binar atau senyuman yang nampak di wajahnya.
"Gimana mau kasih emas, orang gaji anaknya dia ambil semua"
"Iya kasihan ya Bu. Aisyah, saya kalau jadi dia udah ngamuk kali di injak-injak sama di recokin terus sama mertua." Bisik ibu-ibu lainya.
Aisyah yang tengah mencuci tumpukan piring di belakang, masih bisa mendengarnya
"Aisyah!. "Teriak Alifah sahabat lamanya, ternyata dia hadir dan menyaksikan acara pernikahan ini.
"Alifah. Kamu di sini? Kapan pulang?" Tanya Aisyah. Sudah beberapa tahun ini dia tidak bertemu dengan sahabatnya, di karena kan Alifah harus menjalankan kuliahnya di kota.
"Ya baru kemarin. Syah bukankah itu Ryan?" Tanya Alifah.
Aku hanya mengangguk lirih.
"Gil@, kamu tidak mencegahnya,? Aku tidak percaya Ryan bisa melakukan itu. Atau jangan-jangan Ini ulah ibu mertua mu, " Ujar Alifah.
"Aku bingung. Fah, posisiku saat ini benar-benar sulit, semoga saja Mas Ryan bisa adil dalam pernikahan ini" Ucapku.
"Kamu jangan lemah Syah
Jangan mau di injak-injak kaya gini, ibu mertua kamu sudah keterlaluan, lebih baik kamu tinggalkan Ryan dan keluarganya. Syah kamu akan lebih tersakiti jika terus bertahan dalam pernikahan tak sehat ini,"Ucap Alifah.
"Lagian apa kamu yakin Ryan bakal adil, sementara selama ini saja ia tidak tegas memperjuangkan haknya, aku sudah dengar dari gosip dari ibu-ibu sini, bahwa Bu Harti selalu mengambil gaji Ryan, sementara dia hanya diam saja."
Ku rasanya yang Alifah ucapan ada benarnya, bagaimana jika mas Ryan mengingkari janjinya, lalu dia mengabaikan ku, apa aku kuat?.
"Syah. Buka mata kamu, ini seperti bukan Aisyah sahabat, dia selalu tegar, cerdas, kuat, tidak lemah seperti ini."
Aisyah menatap tajam wajah Alifah "Kamu benar. Fah, aku tidak akan bertahan jika Mas Ryan tidak adil, aku akan memilih melepaskannya."
" Bagus, ini baru yang namanya Aisyah. Ini nomorku simpan jika ada sesuatu telpon saja, aku pamit dulu." Ucap Alifah lalu melenggang pergi.