Satu Telur Mata Sapi ( Part 6 )

753 Kata
"Kok malah asyik ngobrol?. Kapan selesainya? Itu juga tamu-tamu besar di depan, kasih kue atau aoa?," Ucap Bu Harti. Ia sengaja kebelakang untuk memantau pekerjaan Aisyah. "I-ya, Bu." Aisyah langsung dengan cekatan mencuci semua bekas piring dan gelas kotor di wastafel, sementara Alifah sahabatnya terus memandang Bu Harti tajam, lalu berlalu pergi. Aisyah beranjak mengambil satu persatu jenis kue-kue, lalu di tarus di atas beberapa piring, dengan segera dia mengantarnya ke depan sana, untuk di suguhkan pada para undangan. Aisyah berjalan ke depan, semua mata tamu undangan menyaksikan dengan menatapnya iba. Ryan yang melihatnya merasa geram. Dia menatap tajam ka arah ibu serta bapak dan saudara tirinya, Wajah mereka sama sekali tidak ada rasa bersalah, manusia macam apa mereka ini?. "Aisyah. Apa yang kamu lakukan, hah?" Tanya Ryan. Ia turun dari pelaminan dan mengahampiri istri pertamanya. "Mas. A-ku, " "Ryan. Mau kemana kamu " Teriak Ibu dan yang lain, saat pengantin pria meninggalkan pelaminan. "Ikut aku." Ryan tak mengubris teriakan mereka ia langsung menarik tangan Aisyah. Lalu membawanya ke belakang. Ryan butuh waktu berdua dengan istri pertamanya ini. "Kenapa kamu jadi pelayan?, kamu istriku. Siapa yang menyuruhmu melakukan ini?" Tanya Ryan. Wajahnya mengeras, istri pertamanya jelas sudah sangat tersakiti oleh pernikahan ini, lalu sekarang di tambah dengan ia menjadi pelayan untuk para tamu undangan. "Nga ada, mas. Ini aku yang mau" Jawab Aisyah. Ia tak mungkin mengatakan hal yang sebenarnya, jika mengatakan itu Ryan pasti akan marah besar. Tak lama keluarga suaminya datang memanggil, Ryan. "Ryan. Apa-apaan kamu, seenaknya meninggalkan pelaminan, kalian itu baru menikah jangan bikin malu kami." Ujar Bu Harti. "Lalu aku harus diam, saja? melihat istri yang aku cintai ini, malah menjadi pelayan di pernikahan suaminya." Ryan menatap wajah semuanya dengan kilat amarah." Sekarang siapa? Dari kalian yang menyuruhnya melayani para tamu itu?" Tanya Ryan. Tangan nya mengepal kuat. "Tidak ada yang menyuruhnya, Aisyah sendiri suka rela melakukannya, Ry. Sudahlah ayo kita kembali ke sana, kasihan Marni." Jawab Bu Harti. Ryan menatap wajah sang istri yang memberikan kode untuk ia menuruti permintaan ibunya. Ryan akhirnya menurut, ia berjalan dengan mata terus menatap Aisyah. Sebenarnya ia sangat berat meninggal istri pertamanya. "Awas, kalau kamu bilang sama, Ryan. Bahwa kamilah yang menyuruhmu untuk menjadi pelayan!!" Ucap Pak Anton. Bapak tiri dari Ryan. "Iya, Mbak. Biarkan Mas Ryan bahagia, lagian apa susah nya melayani tamu, dari pada Mbak di depan, dapat sakit hati dan bikin malu keluarga, mending di belakang aja." Ucap Rini. Wanita yang usianya sudah 23 tahun itu. Tanpa sadar sudah menyakiti hati kakak iparnya. "Mas Ryan, itu lebih cocok sama Mbak Marni, Mbak. Udah cantik, kaya raya lagi. Sedangakan, Mbak. Nga punya apa-apa, bikin malu dan susah keluarga kami saja," Kali ini Rani yang berbicara. "Iya. Sebaiknya kamu minta pisah aja setelah ini, sebab saya juga malu punya menantu jelek, dan lusuh, kaya pengemis, di lampu merah seperti kamu," Ucapan itu keluar dari mulut Pak Anton begitu saja. Nyesss Hati Aisyah bagai di tusuk belati, sakit. Sakit sekali rasanya. Dari pagi hingga menjelang malam. Aisyah sama sekali tidak ada waktu untuk beristirahat, ia terus bekerja tanpa lelah. "Aisyah nanti subuh, panasin itu semua makanannya." Pesan Bu Harti pada menantunya. "Iya, Bu." Semua orang langsung beristirahat di kamar rumah Marni. Tinggal sedikit lagi, dia bisa membereskan semuanya. "Alhamdulillah, selesai juga" Ucap Aisyah. Lantas masuk ke dalam kamar pembantu, yang ada di belakang rumah Marni. Ya semua sudah di atur oleh Ibu Harti. Sebab beliau tak mau jika malam pertama putranya, terganggu oleh menantu yang paling dia benci, maka dia meminta Aisyah untuk tidur di belakang. Tubuh Aisyah benar-benar sangat letih, baru saja ia terlelap suara ketukan dari luar kamarnya terdengar. Tok Tok Tok "Siapa yang mengetuk pintu?" Gumam Aisyah lalu ia berjalan untuk membukakan pintu. Ceklek. "M-as. Kamu ngapain kemari?" Tanya Aisyah. Ia terkejut atas keberadaan sang suami di hadapannya. "Aku nga bisa lihat kamu kaya gini, aku nga kuat, Syah. Aku akan segera menceraikan Marni." Ujar Ryan. Ia memeluk tubuh istrinya begitu erat. "Kamu baru saja menikah, Mas. Kamu tak perlu melakukan itu, lihat aku baik-baik saja, tidak ada yang perlu di khawatir lagi." Aisyah melepaskan pelukannya lalu menatap wajah sang suami dengan senyuman manis, menandakan bahwa saat ini ia baik-baik saja, dan berlapang d**a menerima takdir. "Kamu wanita kuat, sudah banyak yang kamu korbankan demi kebahagiaan keluarga dan suami pengecutmu ini" "Aku ikhlas, Mas. Sudah lebih baik kamu kembali lagi ke kamar pengantin." Pinta Aisyah. Tanpa sadar permintaan itu pun menyakiti hatinya, kamar pengantin, ya saat ini suaminya akan menikmati masa pengantin baru dan malam pertama untuk kedua kalinya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN