"Ryannnnnn!
Teriak Ibu Harti pada putranya.
"Lancang, kenapa kamu ada di sini?"Tanyanya.
"Kenapa? Kenapa aku ada di kamar bersama istriku sendiri? Pertanyaan macam apa itu, Bu." Tanya balik Ryan.
"Aisyah memang istri kamu, tapi kamu juga memiliki istri yang lain, apalagi kalian baru menikah. Apa kamu tidak kasihan? Meninggalkan Marni sendirian di malam pertama kalian"
Saat Ryan akan membatah ucapan ibunya Aisyah menggenggam tangan suaminya untuk diam, dan menurut.
"Mas. Benar apa yang di katakan ibu," Ucap Aisyah.
Ryan semakin tak percaya, bahwa istrinya malah mendukung ibunya yang meminta suaminya untuk tidur dengan wanita lain.
Apakah istrinya sudah tak mencintainya? Apakah setelah ini dia akan merencanakan untuk meninggalkannya? Ryan bisa gila jika terus memikirkannya.
Lagi-lagi Ryan harus menuruti keinginan ibunya, padahal Ryan sudah beberapa kali menolak dan membantah, namun istri malah mendukung untuk Ryan turuti kemauan ibunya.
Ryan kembali ke kamar pengantin, tanpa ia sadar Marni sudah merencanakan sesuatu. Tubuh yang sudah memakai lingerie berwarna merah menantang itu di tutupi oleh selimut.
Saat Ryan tertidur di sampingnya, Marni yang pura-pura terlelap segera membuka bagian atas selimut, sehingga pemandangan indah dengan tubuh seksi itu, terlihat di kedua mata Ryan.
Ryan hanya lelaki biasa, ia juga punya hasrat dan gairah tersendiri.
Dia laki-laki normal, istilahnya jika kucing di kasih ikan asin dia tidak akan pernah menolak.
Ryan langsung mengukung tubuh seksi, Marni. Ryan yang tengah di kuasai oleh nafsu, tanpa sadar langsung menerkamnya, ia melepaskan semua pakaian, Marni. Dan terjadilah ritual malam pertama.
Marni merasa sangat bahagia, karena rencananya berhasil, meskipun di setiap desahan suaminya selalu menyebut nama istri pertamanya.
Namun dalam hati, Marni bertekad akan menyingkirkan siapapun yang ada di hati suaminya, dia merasa bahwa dia lah yang berhak menjadi wanita satu-satunya mendapatkan cinta dari Ryan, bukan wanita lain.
Di kamar lain, Aisyah yang terbangun karena kehausan, ia berjalan ke arah dapur yang akan melewati kamar pengantin baru itu.
Saat di depan kamar itu, langkah kaki Aisyah terhenti, tak sengaja ia mendengar suara desahan yang bersahutan di dalam sana.
Tess.
Tanap sadar ia menitikan air mata, mengahadapi bahwa tubuh suaminya sekarang sudah di baginya untuk wanita lain.
Tubuhnya gemetaran saat suara itu semakin jelas di pendengarannya, hatinya bergemuruh, bagai tombak yang menusuk tepat di ulu hati.
Sudah Aisyah tak kuat untuk lebih lama mendengarnya, ia kembali ke dalam kamarnya dan tidak jadi mengambil.
____
Setelah shalat subuh, Aisyah memanaskan semua lauk dan sayur sisa kemarin.
Setelah semua sudah, Aisyah menatanya di meja makan.Tak lama Bu Harti datang dan menyuruh Aisyah membuat makanan yang baru.
"Ini makanan yang kemarin? Kenapa tidak masak yang baru?" Tanyanya.
"Iya, Bu. Aisyah akan masak makanan yang baru"Jawab Aisyah ia tak berani membatah mertuanya.
Aisyah membuka kulkas. Dia bingung akan memasak apa?.
"Aisyah. Kamu masak sayur bayam, sama ayam goreng, biar penggantin baru, pada sehat dan kuat malam-nya,"
Nyes..
Ucapan ibu mertuanya langsung membuat pikiran Aisyah, berkelana dengan kejadian yang ia dengar tadi malam, di mana suami dan madunya itu melakukan ritual mantap-mantap, rasanya dadanya , seperti ada pisau yang menusuk tepat pada ulu hati.
"Malah ngelamun, cepetan masak. Sebentar lagi Ryan dan Marni bangun," Titah Bu Harti.
Aisyah langsung mengambil tiga ikat bayam sekaligus, ia juga mengambil satu ekor ayam potong di sana.
Rasanya sudah lama, Aisyah tidak memasak menu seperti ini. Namun sekalinya ia memasak kenapa suaminya harus memiliki wanita lain.
Semua sudah tersaji. Semua orang rumah, sudah duduk di meja makan, hanya kedua pengantin yang belum keluar kamarnya.
"Manten baru udah bangun," Ucap Bu Harti.
"Ayo sini makan dulu, di isi tenaganya biar full energi pas tempur lagi," Ujar Pak Anton menggoda pengantin baru itu.
Aisyah yang melihat sang suami dan madunya yang baru keluar dari kamar. Dengan rambut basah, dan leher yang masing-masingnya memiliki dua noda merah, sisa pertempuran mereka semalam.
Aisyah membuang napas panjang, ia mencoba menguatkan hatinya, memang tak mudah menerima semuanya, namun ia harus ikhlas menjalaninya.
Kedua pengantin baru itu berjalan dengan lengan saling menggenggam. Di wajah mereka memancarkan penuh kebahagiaan melalui senyuman.
Ryan yang tak menyadari istri pertamanya ada di antara mereka, terus menggenggam tangan Marni.
Ia pikir Aisyah sudah pulang kerumah sejak pagi subuh, tapi nyatanya tidak istrinya menyaksikan kemesraannya saat ini.
"Selamat pagi semua" Sapa Marni. Namun tangannya terus bergelayut manja di tangan Ryan.
"Aduh auranya pengantin emang beda, semoga cepat dapat momogang," Ucap Bu Harti. Tangannya mengelus perut rata Marni.
"A-isyah. " Lidah Ryan kelu, ia bodoh tidak menyadari bahwa istri yang dia cintai pasti terluka, saat melihat kemesraannya.
Aisyah tak menjawab. Dia menunduk, enggan untuk menatap suaminya yang dulu sering mengucapkan kata cinta dan setia. Namun itu hanya bohong belaka. Apa mungkin ini semua salahnya? Aisyah saat ini hanya belum bisa menerima semuanya.
Setelah semua hadir. Mereka langsung menyatap makanan itu, suasana di sana terasa hening, sesekali Ryan menatap Aisyah dengan tatapan bersalah.
Namun istrinya sama sekali tak mau menatapnya, ia seakan menghindari kontak mata di antara mereka.
"Syah. Kamu duduk dekat Rani aja, ibu mau duduk dekat mantu kesayangan," Pinta ibu.
Aku mengangguk, lalu pindah ke samping Rani.
"Kasihan banget ya, Mbak. Sudah di poligami, tidak di hargai juga." Ucap Rani. Dengan nada mengejek.
"Sini duduk samping ibu." Ajak Bu Harti pada Marni.
Marni hanya tersenyum sipu di perlakukan sedemikian rupa oleh mertuanya.
"Mau lauk apa? Ibu ambilkan, Ya."
"Nga usah repot-repot, Bu. Aku bisa sendiri" Ucap Marni.
"Aduh pengantin baru nga boleh ngapa-ngapain, nanti bisa kecapean, kalau selain di dalam kamar." Ucap Rani. Menggoda mereka tanpa merasa bersalah, ia telah menyakiti hati kakak iparnya.
"Mbak, Marni. Aku minta uang dong buat beli motor." Pinta Rini. Pada iparnya yang baru.
"Kenapa tidak membeli mobil saja, kalo motor bisa kepanasan di jalan" Ucap Marni.
Mata Bu Harti langsung berbinar, " Aduh mantu kesayangan ibu, ini paling bisa nyenengin hati keluarga suami."
"Iya. Mbak iparku yang satu ini memang yang terbaik," Seru Rani dan Rini.
"Iya. Mantu baru kita beda, nga kaya yang itu" Ucap Pak Anton. Menujuk Aisyah mengunakan dagunya.
Degh!
Aisyah sama sekali tak di hargai di sini, ia terus di banding- bandingkan dengan adik madunya. Walaupun hatinya sakit, ia mencoba untuk membalas semua dengan senyuman.
Semua orang terus memuji dan menganggumi Marni. Sementara Aisyah mereka seperti tidak melihat keberadaan nya.
Bahkan Ryan sekarang hanya diam, bak patung. Tak ada sepatah katapun yang keluar dari mulutnya.
Apa suaminya sudah berubah dalam satu malam?. Entahlah semua ini membuat Aisyah sedih.