KEYLA menarik napasnya dalam-dalam saat melihat Raynzal yang saat ini tengah berjalan masuk ke dalam sebuah minimarket langganan mereka berdua.
Mencoba menenangkan dirinya sendiri saat pipinya semakin terasa ngilu, tak ingin membuat Raynzal khawatir dengan menangis seperti anak bayi. Jadi sebisa mungkin, gadis itu berusaha berpura-pura kalau dirinya kini tengah baik-baik saja.
Walau Keyla yakin kalau Raynzal tahu yang sebenarnya.
Menunggu Raynzal di dalam mobil milik Richard yang tadi cowok itu pinjam. Tak ingin membawa Keyla dengan motornya mengingat kondisi gadisnya itu yang tengah tak baik.
Sesekali dirinya meletakkan ponselnya di depan wajah, melihat apakah memarnya semakin menjadi atau tidak.
Menyadari kalau pipi kanannya itu sudah berubah warna menjadi kebiruan, menandakan sekuat apa lelaki b******k itu memukulnya tadi. Dan ketika ingatannya kembali pada beberapa menit yang lalu, lagi-lagi mata gadis itu berkaca-kaca.
Tak lama memang, karna Keyla secepat kilat merubah ekspresinya ketika Raynzal sudah kembali duduk di sebelahnya. Membawa sekantong belanjaan yang entah isinya apa.
Sempat menutupi lebam itu dengan anak rambutnya sebelum menyambut Raynzal dengan riang.
"Ada?" Keyla bertanya antusias, kembali berakting di hadapan si tampan.
Maniknya tak mau menatap mata indah itu, jadi Keyla memilih sibuk mengubrak-ngabrik belanjaan yang barusan Raynzal bawa. Mencari es krim rasa vanillanya dengan bersemangat.
Dan begitu menemukannya, gadis itu segera membuka bungkusnya, lalu tanpa jeda mulai melahap es krim hasil palakannya pada sang pacar.
Tidak seperti Keyla yang antusias, Raynzal justru masih dengan ekspresi datarnya. Menatap Keyla tajam, seakan gadis itu adalah tersangka utama dalam sebuah kasus pembunuhan.
"Masih sakit?"
Keyla melirik Raynzal singkat, sebelum menggelengkan kepalanya sembari tersenyum, "Enggak kok."
Bukannya merasa lega, Raynzal malah menarik napasnya dalam-dalam. Seakan tak mempercayai omongan Keyla.
"Coba liat." perintah dengan nada datar itu terdengar, menghadirkan tubuh menegang Keyla.
"Gak kenapa-kenapa dibilang. Udah gak sakit juga." tolak Keyla masih dengan kontak mata yang menghindar, tak ingin menatap manik Raynzal.
"Kalo gak apa-apa kenapa gak boleh liat?"
Dari tempatnya, gadis itu menarik napasnya pelan, "Ya karna gak ada apa-apa, makanya gak usah liat. Ngapain?"
Cowok itu menyerah untuk saat ini, membiarkan Keyla melakukan apapun yang dirinya itu mau.
"Maaf."
Keyla menghentikan acara makannya ketika Raynzal kembali bersuara, kali ini dengan nada memelas.
Tak pernah sebelumnya gadis itu melihat sisi Raynzal yang seperti ini.
"Kenapa minta maaf?"
"Karna gak bisa jagain lo," respon Raynzal cepat, "Maaf."
Seukir senyuman Keyla perlihatkan, menyadari jika sikap Raynzal saat ini sedang sangat menggemaskan.
Membuatnya lupa dengan semua hal, bahkan lupa dengan ice cream yang hampir meleleh itu. Memfokuskan seluruh perhatian pada si tampan di sampingnya.
Keyla mememeluk lengan cowok itu, "Gemes banget sih, cepetan nikahin, dong!"
Mendapati kesempatan seperti ini, tak Raynzal sia-siakan untuk dengan cepat menyingkirkan anak rambut yang sedari tadi menghalangi penglihatannya.
Membuat dirinya dapat melihat dengan jelas memar yang berada pada pipi kanan gadisnya. Memar yang secepat itu kembali menghubungkan saraf-saraf emosi di dalam diri cowok itu.
Sementara Keyla yang sudah tertangkap basah, karna berbohong, nampak tak bisa berkutik lagi selain diam dengan kepala menunduk. Tak menyangka jika Raynzal dapat dengan mudah mengelabui perhatiannya.
Puas melihat rasa penasarannya, manik cowok itu kembali pada mata indah di hadapannya.
"Kayak gini bilang gak apa-apa?" tanyanya ketus, marah dengan kebohongan Keyla.
Sebelum gadis itu berucap, Raynzal sudah lebih dahulu mengambil ice cream yang berada di dalam kantong belanjaannya. Mencari yang paling dingin sebelum menempelkannya pada pipi Keyla.
Menghadirkan keterkejutan gadis itu karna rasa dingin yang menyerangnya tiba-tiba.
"Gue beliin ini buat kompres pipi lo, bukan buat dimakan."
Bibir Keyla maju selangkah, menatap Raynzal dengan tajam, "Pelit."
"Jangan sok jagoan makanya. Belajar dulu cara berantem sebelum mulut lo buat ulah."
Pesan menyebalkan itu kembali Raynzal ucapkan. Semakin membuat bibir Keyla maju.
"Ini sakit tau, gak mau ditiup-tiup gitu biar sembuh?" manjanya kumat karna merasa Raynzal tak memperdulikan dirinya.
"Sakit diobatin, bukan ditiup."
"Yaudah," kata Keyla menyerah, digantikan dengan senyum menggodanya, "Jangan ditiup, cium aja gimana?"
Bukan Raynzal namanya jika merespon rayuan maut itu dengan ekspresi menyebalkan.
"Ih, ini di elus-elus dulu biar sembuh!" Keyla masih mencoba, walau iapun tahu Raynzal tak akan luluh.
"Udah dikasih es, nanti juga sembuh."
"IH!" Decak Keyla kesal, "Gak ada sweet-sweetnya sama sekali!" gerutu dirinya dengan nada kencang, atau mungkin lebih tepatnya menyindir dengan cara kasar.
"Kenapa gue bisa suka?" Keyla menggeleng, "Suka banget malah! Sebel!"
^~^~^
"Gue udah dua hari ini gak liat lo bareng sama bodyguard lo deh, Key." Jean beruara, mengalihkan perhatian Keyla yang sedari tadi sibuk menyalin PR milik sabahatnya itu.
Sangking sibuknya berduaan dengan Raynzal, dirinya sampai lupa mengerjakan PR matematikanya. Membuat Keyla harus dengan ekstra berangkat pagi-pagi demi menghindari hukuman dari sang guru killernya.
"Ha?" tanyanya tak fokus, matanya masih sibuk dengan berbagai macam angka-angka di atas kertas itu, "Lah emang gue belom cerita?"
Jean menggeleng, sibuk memakan sandwichnya, "Enggak, apa?"
"Bokap bebasin gue dari bodyguardnya, malah bolehin gue bawa mobil sendiri."
"APA!?" Pekikan kencang itu Jean keluarkan, membuat perhatian seisi kelas beralih padanya.
Menghadirkan tatapan mata tajam dari arah Keyla, "Suara lo gak ada manis-manisnya!"
Dengan menyengir, Jean kembali bereskpresi tenang, "Serius? Kok bisa? Kesambet apaan Bokap lo? Bukannya selama ini lo gak pernah lepas dari bodyguardnya?"
Kembali pada tugasnya, Keyla menggeleng tak perduli, "Gak tau, udah tobat kali."
Jean mengangguk mengerti, sebelum dengan kilat merangkul sahabatnya itu senang, "Jadi?"
"Jadi?" beo Keyla tak mengerti.
"Bisa shopping dong ke mall sama gue?"
Gantian Keyla yang tersenyum girang, mengangkat kedua alisnya sembari melirik Jean, "Kenapa enggak?"
Tak bisa dipungkiri lagi kalau saat ini, Jean kembali berteriak girang. Tak perduli dengan tatapan mata yang kembali pula mengarahnya.
Hanya bisa tersenyum geli saat melihat tingkah sahabatnya itu sebelum perhatiannya teralihkan pada sebuah panggilan yang masuk ke dalam ponselnya.
Menampilkan nama Steve Aaron disana. Walau dengan alis berkerut, Keyla tetap mengangkatnya.
"Halo? Keyla?" Suara dari dalam telfon terdengar terburu-buru, menghadirkan firasat buruk dari dalam hatinya. Entah mengapa.
Segera meletakkan pulpen yang sedari pagi sudah dirinya genggam, "Steve? Iya, kenapa?"
"Hm, lagi disekolah, ya?"
"Iyanih, kenapa? Tumben banget."
"Hm, itu si monyet--" cowok itu menggantung ucapannya.
"Ijal? Kenapa?" Keyla mulai panik, walau dirinya masih berusaha untuk tetap tenang.
"Raynzal--"
"Iya kenapa!? Ijal kenapa!?" Omel Keyla gemas.
"Si monyet--" Steve ragu, "Masuk penjara."
Kabar yang secepat kilat membuat mata Keyla membulat dengan tambahan jantung yang berdegub sangat kencang, "APA!? KOK BISA!?"
Bahkan Jean sampai terkejud karna teriakan nyaring Keyla. Lebih nyaring dari teriakannya tadi.
"Dia mukulin Denzel sampe koma dirumah sakit. Dan keluarganya Denzel nuntut si monyet."
Hembusan napas kasar Keyla perdengarkan, bahkan ia terlihat menggigit bibir bawahnya. Tak menyangka jika Raynzal yang semalam terlihat tak perduli dengannya, melakukan hal itu demi dirinya.
"Sendiri? Kalian gak bantu? Tapi Ijal gak apa-apa, kan?" serbu Keyla dengan berbagai macam pertanyaan.
"Kita gak ada yang tau kalo itu monyet mau nyamperin Denzel. Dianya mah gak apa-apa. Masih tetep jadi k*****t kayak biasanya."
Sedikit kelegaan menyerang hatinya, "Gue kesana, tolong kirimin alamatnya."
"Gak usah--" respon Steve cepat.
"Kenapa?"
"Udah dijemput Bokapnya kok. Tenang aja. Gue cuman mau ngabarin lo. Soalnya kata monyet hpnya ilang pas berantem. Kasian takut lo nyariin."
Ketenangan itu lenyap saat Keyla mendengar kalimat pertama yang Steve ucapkan.
Ketenangan bagaimana yang bisa Keyla rasakan saat Raynzal kini bersama Ayah kejamnya? Apa lagi yang akan Raynzal dapatkan dari perilaku buruknya kali ini?
"Key? Key?"
Lupa dengan sambungan yang masih belum terputus, Keyla kembali menyadarkan dirinya.
"I-iya?"
"Lo tenang aja, ya? Raynzal gak apa-apa kok."
"Iya, makasih ya, Steve."
"Sama-sama. Bye, Key."
"Bye."
Keyla mematikan sambungan. Kembali dengan lamunan buruknya. Tak ingin membiarkan Raynzal terluka sendirian di tempat gelap seperti biasanya.
Untuk itu, sesudah secepat kilat merapihkan peralatan belajarnya, gadis itu berniat untuk pergi dari sana sebelum sambaran pada lengannya menghentikan niat Keyla.
"Mau kemana? Udah mau masuk." Jean bertanya, tak mengerti dengan perubahan sikap aneh Keyla.
"Izin, tolong izinin gue, ya. Bilang gue sakit. Thanks, Je."
"Key!" Jean memanggil, "Nanti ada ulangan Kimia!" bentaknya walau di akhir ia hanya bisa pasrah ketika menatap punggung Keyla yang menjauh.
^~^~^