18| Scopperloit

1868 Kata
SEBUAH hal baru Keyla temukan saat motor milik Raynzal berhenti tepat di sebuah jembatan penyebrangan jalan dengan kondisi yang cukup terang akibat terkena sorotan lampu jalan. Tak menyangka jika para malaikat tampan itu memiliki style yang cukup unik dalam memilih tempat untuk berkumpul. Keyla fikir, para lelaki tampan berkeluarga kaya raya itu hanya akan berkumpul di cafe atau tempat elite lainnya. Namun ternyata dugaan dirinya salah. Dengan manik yang sibuk menatap sekitar, Keyla melangkahkan kakinya turun dari atas motor ninja milik Raynzal. Dirinya terlalu kagum dengan pemandangan sungai yang berada tepat di bawah jembatan sepi ini. "Kalian suka nongkrong disini?" tanya Keyla takjub, masih dengan fokus pada sekitar. "Kalo malem, disini sama sekali gak ada kendaraan lewat. Jadi enak aja buat kumpul." Raynzal yang masih setia berada di atas motornya menjawab, walau matanya sibuk memperhatikan tingkah laku Keyla. Puas memanjakan matanya, gadis itu kembali mengalihkan pandangnnya, "Tau dari mana ada tempat bagus kayak gini?" "Si Al waktu itu nyasar dan nemuin tempat ini." Keyla mengangguk mengerti ketika Raynzal memberikan penjelasan singkat itu. "Yakin mau gabung? Bokap gak bakal tau kalo lo kabur dari rumah?" Raynzal bertanya ragu, tidak seperti Keyla yang malah memasang wajah santainya. "Tenang, guekan jagonya kabur-kaburan." Ucapan itu berhasil membuat Raynzal percaya, karna walau terlihat cuek, si tampan satu itu pastilah memiliki rasa khawatir atas sikap tak baik yang sering Keyla lakukan pada malam hari ini. Keduanya sempat terdiam beberapa saat sebelum suara knalpot dari arah motor yang mendekat terlihat mengalihkan perhatian kedua orang itu. Mendapati Al dengan motor ninja berwarna hijaunya berhenti tepat dibelakang motor milik Raynzal. "Nyet, mobil Richard mogok. Tolongin gih." si tampan berambut keriting itu bersuara ketika dirinya selesai membuka helm yang bersarang di kepalanya. "Dimana?" Raynzal bersiap, sudah lebih dulu memakai kembali helmnya. "Deket, dua tikungan dari sini." Setelah mengangguk mengerti, Raynzal sempat melirik ke arah Keyla dan berpesan singkat ; "Sama Al dulu, gue tinggal bentar." Hanya anggukan kepala singkat yang bisa Keyla balas sebagai jawaban atas pesan manis itu. Sebelum si tampan menghilang dari jangkauannya, pergi meninggalkan dirinya dan Al. Keyla bersandar pada tiang jembatan, maniknya melirik Al singkat yang saat ini terlihat sedang sibuk menyalakan korek api, berniat merokok. "Al?" Cowok berambut keriting itu menoleh saat dirinya berhasil melakukan pekerjaannya, "Apa?" "Kalo lagi nongkrong, biasanya cowok ngapain aja, sih?" rasa penasaran yang selalu Keyla fikirkan itu akhirnya terluapkan. Merasa ini adalah waktu yang tepat untuk bertanya. Al sempat mendengus singkat, "Cewek biasanya ngapain?" "Cewek?" ulang Keyla dengan kening berkerut, "Ngobrol, ngomongin orang yang dibenci atau ngomongin cowok ganteng, terus makan. Biasa sih gitu. Kenapa?" "Ya sebelas dua belas lah sama cewek. Cowok juga gitu. Emang mau ngapain lagi?" Al bertanya balik. "Selain itu?" pancing Keyla yang nyatanya masih belum puas dengan jawaban mainstream yang Al katakan. "Hm--" si tampan berambut keriting berfikir, "Kalo Raynzal biasanya sih ngajak ngerusuh, nanti ujung-ujungnya berantem sama rombongan lain." Tak bisa dipungkiri lagi kalau saat ini Keyla tengah tersenyum gemas, "Ijal emang rusuh, ya?" "Emang di depan lo enggak, ya?" Jelas saja Keyla menggeleng. "Sifat aslinya diatuh rusuh, gak bisa diem, petakilan, cari gara-gara mulu sama guru, sama orang asing, sama siapa ajalah pokoknya," Al bercerita tanpa jeda, seperti memiliki kesempatan untuk membicarakan Raynzal karna sang empunya nama tengah tak berada di dekatnya. "Seharusnya si monyet itu bersyukur karna gue masih nerima doi apa adanya. Ya gak, Key?" Keyla diam. Tak menanggapi pertanyaan yang dilemparkan kepadanya. Karna saat ini, kepalanya tengah sibuk mengatur memori mengenai cowok bertatto itu. Menghubungkan semua kenangannya dengan Raynzal yang nyatanya tak sama dengan apa yang baru saja sahabatnya itu katakan. Saat bersamanya, Keyla tak pernah menemukan hal-hal menyenangkan di dalam pribadi Raynzal selain cowok yang galak, dingin dan ketus. Belum lagi hubungan tak baiknya dengan sang Ayah. Dan tadi, sahabatnya itu bilang; sifat aslinya? Jadi sebenarnya, yang mana sifat asli Raynzal? Si tampan dengan segudang sifat menyenangkan, atau si tampan dengan sifat yang dingin dan memikili sejuta rahasia? "Key!?" Bentakan itu berhasil mengembalikan fokus Keyla, dengan mata membulat, gadis itu menoleh ke arah Al, "Iya? Apa?" "Lo bengong?" Al bertanya dengan kening berkerut, "Kesambet tau rasa." Berusaha menyembunyikan kegundahan di hatinya, gadis itu berusaha mengalihkan suasana dengan menunjuk ke arah belakang Al. "Itu udah pada selesai." Al ikut memutar kepalanya, mendapati tiga buah motor dengan suara knalpot nyaring tengah berjalan mendekati mereka. Dan seketika, tubuh cowok itu membeku dengan tatapan lurus mengarah pada objek yang Keyla tunjuk. Menyadari perubahan ekspresi Al, membuat Keyla berjalan mendekati cowok itu. "Lo kenapa?" Tak ada respon langsung dari Al, cowok itu masih terlihat kaku, "Itu--bukan monyet-monyet." Sontak, pandangan Keyla kembali pada tiga buah motor itu. Maniknya nampak ia pertajam, mencoba melihat dengan jelas di tengah kondisi yang remang-remang seperti ini. "Terus siapa?" Keyla ikut bertanya panik, apalagi saat ketiga motor itu terlihat berhenti tepat di samping motor milik Al. Berjajar rapih layaknya tengah baris berbaris. "Denzel sama anak buahnya." ucapan terakhir Al sebelum beberapa orang yang tadi menaiki motor berbeda jenis itu nampak turun lalu berjalan menghampiri kedua mangsanya. Walau sebenernya takut, namun Al tak mau menjadi pengecut dengan bersembunyi di belakang wanita. Jadi sebelum lelaki berambut putih bernama Denzel itu sampai di hadapan wajah mereka, Al sudah lebih dahulu menarik lengan Keyla untuk membawanya tepat ke belakang punggungnya. "Mau apaan?" tak berbasa basi, Al bertanya. Pertanyaan yang sedetik kemudian menghadirkan tawa renyah dari arah lawan bicaranya. "Tumben sendiri--" Lelaki bernama Denzel itu mengalihkan pandangannya ke arah sekitar, "Mana kakak-kakak lo?" "Lo mau mati?" kedua kalinya Al bertanya, yang kali ini mendatangkan cengkraman kuat pada kerah jaketnya. "Salah--" Denzel berucap, bibir berkumis tipisnya nampak tersenyum melecehkan, "Harus yang nanya gitu, gue," Tak ingin kalah, Al ikut melambungkan senyuman miringnya, "Gue bakal mati, tapi enggak di tangan lo." Mendengar ucapan itu membuat Denzel semakin menguatkan cengkramannya, "Nyali lo boleh juga untuk si kecil yang dapet julukan anak bawang." Tak ada alasan bagi Al untuk tak melayangkan sebuah pukulan mantap ke arah pipi lawan bicaranya. Membuat lawan bicaranya itu sempat terhuyung ke belakang walau tak jatuh. Hal yang jelas saja menghadirkan pekikan tertahan dari arah Keyla. Tak menyangka dengan apa yang baru saja Al lakukan. Tak ingin kalah, jelas saja Denzel melakukan hal yang sama. Walau kali ini di akhiri dengan tendangan membabi buta ke arah Al yang sudah terbaring lemah diatas aspal. Melihat dengan jelas kejadian itu, tak bisa membuat Keyla berdiam diri layaknya patung. Jadi sebelum Denzel melakukan tendangan terakhirnya, Keyla sudah lebih dahulu mendorong tubuh itu agar menjauh dari tubuh Al. Hal yang seharusnya tak Keyla lakukan disaat lawannya itu tengah terpancing emosi dengan tekanan yang tinggi. Karna sesudah mengeluarkan tawa setannya, Denzel kembali pada korban kedua. Tak memperdulikan Keyla yang posisinya adalah seorang wanita, dengan entengnya menarik kerah jaket jeans milik gadis itu. Membuat pemiliknya membulatkan matanya dengan jantung berdegub kencang kala wajah mereka berdekatan, "Seharusnya lo gak ikut campur, cantik." Keyla tertawa meremehkan, seakan menyembunyikan ketakutan di dalam dadanya, tak ingin terlihat lemah. "Gue baru tau kalo ternyata kata 'cantik' itu bisa terdengar menjijikan," dengan mata berkaca-kaca, Keyla masih berusaha untuk tetap menampilkan wajah menyeramkannya, "Apa karna yang ngucapin adalah manusia bermulut sampah?" Api yang membara itu meledak ketika Keyla dengan sembarang menyiramkan minyak tanah di atasnya. Ucapan yang membuat Denzel terpaksa harus melayangkan sebuah tamparan kencang ke arah pipi kanan Keyla. Tamparan yang jelas saja mengakibatkan tubuh gadis itu terjatuh ke atas aspal. Menahan tangis saat merasakan pipinya yang memanas. Hanya bisa mengusap-ngusapnya sebelum samar-samar, dirinya mendengar bunyi klakson dari sebuah kendaraan lain. Tak tahu siapa, yang jelas saat ini, ketiga motor asing itu nampak menancapkan gas untuk kemudian beranjak dari tempatnya. Meninggalkan Keyla dan Al yang saat ini masih setia berada di atas aspal. "Key!?" suara tak asing itu berhasil mengalihkan perhatian Keyla. Perlahan tapi pasti, kepala tertunduknya nampak terangkat. Mendapati wajah khawatir Raynzal di hadapannya. "Lo kenapa!?" cowok itu kembali bertanya, tangannya terlihat menyingkirkan anak rambut di daerah wajah Keyla agar dirinya dapat melihat gadisnya dengan puas. Dan begitu semua anak rambut tersingkirkan, Raynzal dapat melihat dengan jelas sebuah memar di bagian pipi kanan Keyla. Menghadirkan mata membulat penuh amarah dari arah Raynzal. Tanpa mengatakan apapun pada Keyla, cowok itu terlihat berpindah ke arah Al. "Siapa?" Raynzal bertanya pada Al ketika sobatnya itu sudah dibawa berdiri oleh Arkan dan Steve. Nada bicara yang penuh emosi itu berhasil menghadirkan perhatian dari seluruh mata, "Siapa b*****t yang udah berani nyentuh cewek gue?" "Nyet?" Arga meraih pundak Raynzal, sangat paham dengan emosi yang tengah sahabatnya itu rasakan. Namun secepat kilat, tangan itu Raynzal singkirkan, "Gue lagi pengen bunuh orang, jangan sentuh gue." "Oke--" Balas Arga mengerti, "Lo tenang dulu," Secepat kilat Raynzal berpaling ke arah Arga, mata merahnya menatap Arga tajam, "Tenang?" Si tampan bertatto tertawa meremehkan, "Anjing itu berani nyentuh cewek gue, lo pikir gue bisa tenang?" Tak mau kalah dengan emosi yang tengah dilanda Raynzal, Arga sekuat tenaga menurunkan egonya, "Tapi lo gak bisa gegabah, balas dendam itu dipikirin pake kepala dingin." "Gak ada kata kepala dingin buat b*****t yang udah berani nyakitin cewek gue." ucapan penuh penekanan di setiap kalimatnya itu kembali Raynzal ucapkan. Kebiasaan cowok itu jika tengah naik pitam. "Denzel, mereka Denzel sama anak buahnya." ditengah arena tatap-tatapan itu, Al bersuara. Mengalihkan perhatian Raynzal singkat sebelum maniknya kembali pada Arga, "Telfonin pengacara yang paling hebat, kasus gue kali gak bakal cuma mukulin orang, tapi matiin orang." Selesai mengatakannya, cowok itu beranjak dari tempatnya. "Nyet!?" sebuah suara menghentikan langkah Raynzal, dengan geram cowok itu melirik Arkan yang tadi memanggilnya. "Kalo lo cuman mau nyuruh gue tenang, mending lo tutup mulut." "Siapa yang mau bilang gitu?" Arkan membalas dengan diikuti senyum geli, "Mainnya gak mau ngajak-ngajak? Udah lama juga gak olahraga." Richard ikut tersenyum, sebelum dirinya terlihat melemaskan otot-otot di lehernya, "Ikut, bosen juga gue dengerin Al cerita bokep mulu." "Si Ransel itu yang mukulin lo?" Steve ikut bersuara, bertanya pada Al, "Lupa gue mukanya yang mana, tunjukin, buruan." "Kita masuk penjara terakhir kapan?" dari tempatnya, Derren bersuara, membuat semua orang berfikir. "Waktu si goblog ngajak kita lemparin batu ke cafe orang." Al berucap, menghadirkan tawa semua orang ketika mengingat kejadian beberapa bulan silam. Tepatnya saat Steve merencanakan ide busuk yang nyatanya tak berjalan mulus. Respon terakhir ada di Arga, untuk itu, ketika semua mata menatap Arga, cowok tampan itu dengan pasrah menganggukan kepalanya. Menyetujui ide balas dendam ini. Kekompakan yang berhasil membuat sudut bibir Raynzal tertarik ke atas walau dengan singkat. Lalu tanpa ampun, kembali berniat melangkahkan kakinya. Walau untuk kedua kalinya, ia harus kembali menahan dirinya saat sebuah sambaran pada tangannya nampak terasa. Mendapati Keyla sudah berdiri tepat di belakangnya, tersenyum manis walau dengan dihiasi bibir yang pucat. Senyuman yang membuat d**a Raynzal semakin terasa sesak. "Temenin beli es krim, yuk? Takut bengkak, jadi harus di kompres pake yang dingin-dingin, kan?" suara manis itu terdengar meneduhkan hati Raynzal. "Nanti gue temenin. Sekarang lo balik dulu sama Al, ya?" Saran itu segera mendapatkan penolakan dari lawan bicaranya. "Sekarang aja," Keyla menggeleng dengan menahan tangis, "Bakal cepet sembuh kalo lo yang beliin es krimnya." Raynzal terdiam untuk sesaat. Sekuat tenaga berusaha menurunkan emosinya ketika melihat pipi lebam gadisnya. "Ya? Mau, ya?" Belum ada respon saat ini, si tampan terlalu sibuk dengan pikirannya sendiri. Berdebat dengan malaikat baik di otaknya. Namun ketika lagi-lagi Keyla menampilkan senyum menggemaskannya, tak ada kata tidak yang bisa Raynzal ucapkan.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN