SELESAI dengan rambut dan seragam sekolahnya yang nampak rapih di depan sebuah cermin besar, barulah gadis itu melangkahkan kakinya keluar dari dalam kamar miliknya.
Berjalan santai menuruni anak tangga, menuju ruang utama rumahnya yang pastilah sudah dihuni oleh sang Ayah dan para bodyguardnya yang beberapa diantaranya ada yang akan pergi mengingtili Keyla ke sekolah.
Hal menyebalkan yang setiap hari harus Keyla jalani karna dirinya tak memiliki pilihan lain selain menurut.
Berdiam di tempatnya ketika lelaki berumur itu berjalan menghampiri. Tak ada niatan untuk menatap kedua mata sang Ayah meskipun keduanya sudah berhadapan.
"Hari ini, kamu boleh pergi dan pulang sekolah sendiri."
Kepala Keyla sontak mendongak, matanya membulat dengan bibir yang sedikit terbuka.
"A-apa? Keyla bertanya ragu, takut jika pendengarannya itu salah tangkap.
"Pakai mobil kamu, sudah lama mobil itu tidak keluar dari garasi."
Lagi, Keyla semakin memperlihatkan ekspresi tak percayanya.
Bagaimana tidak, selama hidup, tak pernah sekalipun Keyla diperbolehkan berangkat sekolah seorang diri. Tanpa pengawal yang menemani dan memantaunya dari jarak dekat maupun jauh.
Jadi tak heran jika Keyla merasa ini adalah mimpi. Mimpi indah yang disemogakan menjadi nyata.
"Aku?" Keyla bertanya masih dengan tak percayanya, "Boleh nyetir mobil sendiri ke sekolah?"
Pertanyaan yang segera mendapatkan anggukan kepala dari sang Ayah, "Kenapa? Kamu tidak mau?"
Secepat kilat Keyla menggeleng, "Mau. Mau banget."
Jelas saja tak ada penolakan. Yang ada hanya senyum yang mengembang lebar. Tanpa ingin merusak suasana pagi hari yang indah ini, Keyla terlihat berjalan pergi ke arah susunan kunci yang berada di dalam sebuah lemari kecil.
"Aku berangkat." Keyla pamit, sempat melirik beberapa bodyguard Ayahnya untuk kemudian memeletkan lidahnya.
Merasa sudah memenangkan jackpot, berlari kecil menuju garasi rumahnya sebelum memasuki satu-satunya mobil di garasi rumahnya ini yang memiliki warna putih.
Karna dari sekian banyak koleksi mobil sang Ayah, hanya mobil milik Keyla lah yang memiliki warna cantik, selainnya hanya mobil besar dengan berpoleskan warna hitam metallic.
Duduk di dalam kursi kemudi dengan tak percaya, bahkan gadis itu sempat mencubit pipinya sendiri yang berakhir dengan rasa nyeri.
"Gue gak mimpi?"
Pertanyaan diotaknya itu ia ucapkan. Menyadari hal ini benarlah nyata, menghadirkan pekikan tertahan di bibir Keyla.
Bahkan gadis itu nampak bergoyang-goyang girang hingga membuat kepalanya terpentuk langit-langit mobil.
Refleks, tangannya terlihat mengelus-ngelus puncak kepalanya. Walau sakit, namun bibir gadis itu senantiasa melengkungkan senyuman.
Hingga sedetik kemudian, secuil ide picik kembali terlintas di otak kecilnya. Tersenyum layaknya devil dengan mengangkat kedua alisnya.
"Ketemu pangeran, ah."
^~^~^
Sesudah memarkirkan mobilnya asal di depan sebuah pagar megah milik salah satu sahabat Raynzal, gadis itu nampak turun dengan bersenandung kecil.
Pilihannya untuk membolos sekolah dan menghampiri sang kekasih dirasa adalah pilihan yang tepat.
Tanpa merasa takut dan canggung sedikitpun, Keyla terlihat memasuki rumah mewah itu. Rumah mewah yang hanya baru beberapa kali ia kunjungi, namun Keyla merasa bahwa rumah dihadapannya ini adalah rumah miliknya.
Tak ada dosa ketika kaki berbalut sepatu sekolah itu melangkah masuk ke dalam ruang tamu utama. Berjalan seenak jidat ke dalam ruang tengah, atau bisa dibilang ruang bermain karna memang di dalam ruangan itu terdapat bermacam-macam permainan layaknya di timezone.
Semakin dekat dengan ruangan yang ingin dituju, semakin jelas pula suara yang Keyla yakini berasal dari arah Al. Lelaki berambut keriting yang memiliki tampang luar biasa.
Walau menurut Keyla, Raynzalah yang tetap paling tampan diantara ke tujuh malaikat itu.
"Terus, si cewek mulai buka baju warna pinknya--" samar-samar Keyla mendengar ucapan Al, menghadirkan kerutan di dahi Keyla.
"Terus-terus buruan! Jangan setengah-setengah! Udah mau k*****s ini, anjing!" Suara Steve ikut terdengar tak santai.
Suara yang entah mengapa membuat Keyla semakin ingin mempercepat langkahnya. Tak sabar bertemu pangerannya membuatnya mencoba untuk menghiraukan perbincangan aneh itu.
"Terus abis buka baju, si cewek mulai buka--"
"HAI!"
Perhatian ke-tujuh orang yang saat ini tengah duduk melingkar di depan meja berbentuk bundar itu sontak teralihkan.
Menatap Keyla dengan mata membulat, belum lagi beberapa diantaranya nampak mengelus-ngelus dadanya karna merasa terkejud atas kehadiran tiba-tiba cewek satu itu.
"Kaget, gue! Astagfirullah!" Al masih sibuk mengusap d**a dengan mata terpejam.
"Lo gak pantes ngomong Astagfirullah, gila." sambar Richard yang nampak menahan tawanya.
Al melirik Richard ganas sebelum kembali pada Keyla, "Lo jalan melayang ya, Key? Kok gak ada suaranya?"
"Si k*****t, udah mau enak, masuk lagi, kan!" Steve mangacak rambutnya frustasi, menatap Keyla tak suka.
Dengan dahi berkerut, Keyla nampak berfikir keras, "Apa yang mau enak dan apa yang masuk lagi?"
"Ya--"
Tak berhasil mengeluarkan jawabannya karna Raynzal sudah lebih dahulu membekap mulut Steve. Kemudian nampak bangkit dari posisi duduknya sebelum berjalan cepat ke arah Keyla.
Lalu tanpa aba-aba terlihat menutup kedua telinga Keyla menggunakan telapak tangannya, sebelum menggiring gadis itu menuju ruangan lain.
Merasa kondisi di ruangan ini sedang sangat tak baik dan positif, membuat tekad Raynzal untuk menjauhkan Keyla dari manusia-manusia bejad alias sahabatnya sendiri itu tumbuh.
"Mau kemana, Zal!? Kelarin dulu, atuh!" dengan isengnya Steve berteriak, menghadirkan tatapan mematikan dari arah Raynzal yang masih juga menutup kedua telinga Keyla.
Semakin mempercepat langkahnya, tak perduli kala teman-temannya kini menertawakan dirinya.
Sesampainya di tempat aman, barulah Raynzal melepaskan tutupannya. Kemudian terlihat berjalan ke arah kulkas.
"Apa yang di kelarin?" sesudah duduk di atas kursi bar, Keyla bersuara.
Yang hanya dijawab Raynzal dengan deheman cukup kuat, "Gak usah pengen tau-an."
Bibir gadis itu melangkah maju dengan mata menyipit. Kesal dengan jawaban Raynzal.
Sementara si tampan saat ini terlihat meletakkan sekaleng soda di hadapan Keyla yang baru saja dirinya ambil dari dalam kulkas.
Sedangkan dirinya terlihat meminum sekaleng minuman keras, tak memperdulikan tatapan iri dari arah Keyla.
"Mau yang itu, gak mau soda." Keyla bersuara, tangannya menjauhkan minuman yang tadi Raynzal letakkan di hadapannya.
"Masih kecil, gak usah banyak gaya--" lagi, hanya kalimat pedas saja yang dapat Keyla dengar, "Lo kok kesini? Cabut?"
Bibir manyun itu digantikan dengan senyum sumringah, kembali mengambil minuman soda yang tadi dirinya jauhkan, "Bokap bolehin gue bawa mobil sendiri!"
Dahi Raynzal berkerut, "Bodyguard lo?"
"Hari ini gak ikut, makanya gue bisa kesini pagi-pagi," Keyla menjeda ucapannya, menyisihkan waktunya untuk meneguk minumannya, "Aneh, gak sih?"
Walau otaknya yang sibuk berfikir, namun wajah Raynzal masih terlihat biasa saja, seakan tak memperdulikan keanehan itu, "Siapa tau bokap lo udah sadar."
Keyla mengangguk, "Semoga."
Setelahnya, gadis itu nampak melompat turun dari kursi bar yang ia duduki. Kemudian berjalan ke arah kulkas, tempat dimana Raynzal bersandar.
"Mau liat coba ada makanan apa, laper Keyla belom sarapan." Gadis itu meminggirkan tubuh Raynzal sebelum membuka kulkas besar itu.
Memperlihatkan isinya yang penuh dengan minuman keras, menghadirkan mata tak percaya Keyla. Terlalu sibuk memandangi hal langka di hadapannya hingga dirinya tak menyadari kalau saat ini tengah di tatap tajam oleh Raynzal.
Keyla menoleh ke arah si tampan yang saat ini terlihat berkali-kali lipat semakin tampan karna dipandang dalam jarak yang sangat dekat, "Wow, sehat banget minuman kalian."
Tak ada respon atas sindirian jelas itu, hanya tatapan mata tajam saja yang menjadi respon atas 'pujian' Keyla.
Ekspresi membingungkan yang hanya bisa Keyla balas dengan wajah tak mengerti, "Hm? Gak ada makanan?
Lagi, gadis itu kembali tak mendapatkan respon. Bahkan ketika manik Raynzal turun menatap ke arah bibirnya, gadis itu hanya bisa bungkam.
Hingga didetik berikutnya, terdengar helaan napas dari arah Raynzal dengan tambahan gelengan kepala dan mata yang terpejam.
"Gue gak bakal dengerin cerita Al lagi." guman cowok itu yang terdengar sangat putus asa.
"Cerita apa?" Keyla yang masih tak mengerti nampak semakin terasa bodoh dengan situasi ini.
Pertanyaan yang menghadirkan tatapan dari arah Raynzal sebelum cowok itu terlihat mengacak rambutnya gemas.
"Masih kecil, gak boleh tau."