16| Glower

966 Kata
SESUDAH menangis sepuasnya di dalam pelukan cowok tampan yang saat ini tengah sibuk menyetir, keheningan nampak tercipta diantara keduanya. Tak ada suara yang keluar dari arah Raynzal, hanya tatapan penuh kekesalan saja yang saat ini dapat Keyla tangkap dimatanya. Dengan takut-takut, gadis itu terlihat menyentuh pelan pundak Raynzal, mencoba mengalihkan perhatian kekasihnya itu dari fokus menyetirnya. Namun sudah dua kali melakukan hal yang sama, tetap saja Keyla tak mendapatkan respon yang artinya; Raynzal tengah marah dengan dirinya. "Jal?" panggilan pertama dari arah Keyla terdengar sangat kecil ditelinga Raynzal, hampir kalah dengan suara deru mesin mobil yang terdengar kencang. Hening kembali menjadi respon atas perbuatannya. Raynzal memilih diam dengan tatapan tajam ke arah depan, fokus dengan jalanan malam yang terlihat sepi. "Marah, ya?" Kedua kalinya tak mendapatkan respon, meyakinkan Keyla kalau cowok tampan disampingnya ini benar-benar tengah marah kepadanya. Dan sepertinya Keyla tahu apa yang membuat cowok itu marah. "Gara-gara gue kelayapan malem-malem pasti, yakan?" tebakan yang Keyla yakini benar itu kembali terdengar, menghadirkan tarikan napas tajam dari arah Raynzal. Tarikan napas mematikan yang sangat tak Keyla sukai. Memilih diam untuk sesaat, mengatur otaknya agar dapat berfikir cerdas disaat kondisi yang tengah kritis seperti ini. Jadi bibirnya harus pintar-pintar mengeluarkan ucapan kalau tak mau habis dicaci maki oleh mulut pedas si tampan. Karna memendam amarah tanpa mengucapkan sumpah-serapah dalam isi hati terasa lebih menakutkan. Karna bom yang disimpan itu dapat meledak sewaktu-waktu, dan Keyla tak mau hal itu terjadi. Untuk itu, dengan penuh keyakinan, Keyla memilih mengeluarkan jurus andalannya. "Laper. Belum makan dari tadi sore." Suara dengan tambahan nada memelas itu Keyla ucapkan, maniknya sesekali melirik ke arah Raynzal. Masih belum mengeluarkan respon apapun selain tarikan napas dalam-dalamnya. Menunggu untuk beberapa saat sebelum bibir gadis itu nampak maju lima langkah. Cemberut karna merasa cara terakhirnya gagal total. Memilih menabrakan punggungnya kasar pada punggung kursi kemudian melipat kedua tangannya didepan d**a. Sebal sendiri dengan situsi saat ini. Pandangannya terfokus ke arah luar kaca, tak ingin bersuara lagi karna merasa kalau hal itu akan sia-sia. Menunggu hingga emosi Raynzal sembuh dengan sendirinya. Menghadirkan keheningan yang kembali tercipta untuk waktu yang cukup lama sebelum mobil sport berwarna putih itu berhenti tepat di depan sebuah restoran yang buka selama 24 jam. Menghadirkan mata membulat Keyla yang nampak menatap Raynzal dengan tak percaya. Sebelum senyuman sumringah terlihat di bibir gadis itu. Memandangi Raynzal yang saat ini sudah turun terlebih dahulu dari mobil yang dirinya kendarai. Berjalan menuju ke dalam restoran burger itu tanpa mengatakan apapun. Meninggalkan Keyla yang masih setia berada di dalamnya dengan senyum yang semakin mengembang. Sebelum dirinya ikut turun dari dalam mobil milik Raynzal kemudian terlihat berlari kecil mengikuti cowok itu yang sudah lebih dahulu duduk tenang di salah satu bangku kosong didalam restoran tersebut. Masih dengan senyum, Keyla nampak ikut duduk di hadapan Raynzal. Sementara si tampan masih dengan ekspresi datarnya, sibuk dengan ponsel ditanganya. "Permisi," seorang pelayan restoran menghampiri, berniat mencatat pesanan, "Ingin pesan apa?" "Double cheese burger sama lemon teanya dua ya, Mba." "Double cheese burger dengan lemon teanya dua," pelayan itu mengulang pesanan, "ada tambahan?" Keyla sempat melirik Raynzal yang masih sibuk bermain ponsel sebelum kembali pada pelayan restoran itu, "Itu aja." "Baik, silahkan ditunggu." "Terimakasih." Manik itu kembali pada sang tokoh utama. Bahkan kali ini, Keyla terlihat menopang dagunya dengan pandangan lurus ke arah Raynzal. Seakan tak ada objek lain yang bisa gadis itu lihat di dunia ini. Tak bersuara sampai pesanan keduanya datang yang segera Keyla sambut dengan penuh semangat. Segera melahap burgernya tanpa ampun. Hal yang tanpa sadar membuat perhatian Raynzal beralih. Mulai melirik kelahapan Keyla yang kini sudah tak lagi memperdulikan kehadirannya. Terlalu lapar membuat gadis disampingnya ini lupa diri. Bahkan sampai tak menyadari kalau saus yang berantakan itu hampir mengenai sweater berlengan panjangnya. Untuk itu, tanpa mengatakan apapun, Raynzal terlihat mengulurkan tangannya dan tanpa aba-aba menggulung lengan sweater Keyla agar tak terkena saus sambal juga mayonnaise. Hal tiba-tiba yang jelas saja membuat gadis itu terdiam untuk sesaat. Membiarkan Raynzal melakukan aksi romantisnya yang jelas saja kembali menghadirkan senyum manis dibibir itu. Tak perduli kondisi bibirnya yang saat ini terlihat berantakan akibat mayonnaise juga saus. Fokusnya terlalu tertuju pada Raynzal yang saat ini semakin terlihat tampan di mata Keyla. "Lain kali hati-hati, atau gue gak akan maafin lo." Hanya kalimat itu yang Keyla dengar, kalimat sederhana yang mampu menghadirkan degupan kencang di jantung Keyla. Hampir meledak bahkan rasanya. Terdiam layaknya orang yang tengah terkena hipnotis. Tak berkedip bahkan saat Raynzal sudah menatap maniknya sesaat sebelum turun ke arah bibir berlumuran saus itu. Kembali mengulurkan tangannya untuk mengambil sebuah tissue dihadapannya lalu kemudian membersihkan kotoran yang tertempel dibibir gadisnya. "Jangan pernah makan burger sama cowok lain." ucapan itu berhasil mengembalikan nyawa Keyla yang tadi sempat melambung tinggi. "Kenapa?" Keyla bertanya dengan nada manja, tangan kotornya terlihat meletakkan burger yang sudah tersisa setengah lagi itu, sebelum Raynzal menariknya. Beralih membersihkan kedua telapak tangan kotor Keyla menggunakan tissue yang berbeda. "Lo jealous?" Pertanyaan yang menghadirkan decihan dari arah Raynzal, "Lo jorok kalo makan burger, pasti langsung ditinggal pulang sama itu cowok." Bibir gadis itu maju selangkah mendengar kebenaran yang nyata, walau sedetik kemudian kembali tersenyum, secepat kilat memeluk lengan Raynzal ketika cowok itu selesai membersihkan kedua telapak tangannya. "Gak bakal juga makan sama yang lain, kan udah ketemu pangeran." goda Keyla kumat, nampak menyamankan posisinya. Tak perduli kala keduanya menjadi pusat perhatian beberapan pelayan di restoran ini. "Gak usah bercanda, gue beneran," peringatan itu membuat Keyla kembali menatap mata Raynzal lekat dengan jarak dekat. "Beneran apa?" "Jangan makan burger sama cowok lain," peringatan dengan nada ancaman itu kembali Keyla dengar, yang kali ini segera mendapatkan persetujuan dari lawan bicaranya. "Iya, janji!" "Jangan kelayapan malem-malem lagi kalo gak sama gue." Dengan mengeratkan pelukan pada lengan bertato cowok itu, Keyla menganggukan kepalnya yang saat ini dirinya letakkan nyaman di bahu Raynzal. "Iya, sayang."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN