SETELAH memastikan bahwa kali ini, Keyla membawa uangnya, barulah gadis berhoodie putih dengan balutan celana pendek itu melangkahkan kakinya ke dalam minimartket tercinta.
Tempat dimana dirinya pertama kali dipertemukan oleh seorang Raynzal Faroza yang saat ini sudah resmi menjadi kekasihnya.
Sempat mengusap bahunya sendiri akibat cuaca malam hari yang menusuk, sebelum dirinya mulai mengambil sebungkus cokelat dan sebuah minuman berkaleng di dalam lemari pendingin.
Setelahnya terlihat melangkahkan kaki berbalut sneakers itu dengan penuh percaya diri ke arah kasir, seakan ingin pamer kalau kali ini dirinya tidak perlu untuk menggadaikan cincin berharganya kepada sang Mba-Mba penjaga kasir itu.
Sementara Mba-Mba yang tengah Keyla tatap saat ini, hanya terlihat fokus menghitung total belanjaan dari orang asing di hadapannya itu. Mengenal Keyla saja, dirasa tidak.
"Jadi, tiga puluh ribu, Mba." Sang penjaga kasir bersuara yang segera Keyla respon dengan meletakkan selembar uang seratus ribuan diatas meja, tambahan bibir tersenyum puasnya entah mengapa malah menghadirkan kernyitan di dahi lawan bicaranya itu.
"Sisanya ambil aja, saya cuma beli ini." Kalimat yang pernah Raynzal katakan itu secepat kilat meluncur dari bibir Keyla, dan setelahnya, ia terlihat membawa kantong plastik berwarna putih itu sebelum beranjak dari tempatnya.
Berjalan stay cool dengan senyum yang mengembang, merasa sudah berhasil membalaskan dendamnya. Sementara sang penjaga kasir hanya menatap punggung gadis aneh itu dengan bingung.
Sesampainya di area parkir, manik Keyla sempat melihat ke arah kanan dan kirinya, baru menyadari kondisi menyeramkan yang tengah mengelilinginya saat ini. Menyesal sudah meminta taksi yang tadi ia tumpangi untuk pergi.
Sekarang ia tak tahu harus meninggalkan perkomplekan ini menggunakan apa.
Merasa tak ingin berlama-lama di daerah asing ini, Keylapun terlihat mengeluarkan ponselnya dari dalam saku hoodie miliknya, berniat untuk menghubungi taksi online agar dapat membawanya pulang dengan segera.
Tak ingin membuat orang rumahnya curiga dan akhirnya mengetahui kalau 'Rapunzel' mereka sudah tak ada di dalam kamarnya.
Namun niat itu ia urungkan ketika perlahan, Keyla merasakan ada seseorang yang mengikutinya. Mencoba menenangkan dirinya dengan berfikir kalau ini hanyalah firasat belaka tak membuat Keyla mengurungkan niatnya untuk kemudian diam-diam memutar kepalanya.
Sontak bulu kuduk gadis itu segera berdiri kala maniknya mendapati dua orang laki-laki dengan balutan topi dan sebuah masker berwarna hitam tengah berjalan mendekat ke arahnya. Tambahan gerak-gerik yang mencurigakan membuat langkah pastipun Keyla ambil.
Tak ingin terlihat gegabah, membuat Keyla melangkah dan berperilaku dengan hati-hati.
Berusaha untuk mencari tempat yang ramai dan pilihannya, jatuh pada sekumpulan orang yang saat ini tengah berada di dalam sebuah pos ronda yang terletak sangat jauh dari posisinya sekarang.
Walau tak ingin berprasangka buruk, Keyla tetap saja mengambil sebuah keputusan.
Memilih untuk menghubungi panggilan cepat nomor satu yang segera menuju pada nomor milik Raynzal.
Menunggu cowok itu mengangkat telfonnya dengan segudang perasaan tak enak yang berkecamuk dalam dadanya. Merasa kalau dua orang itu semakin mempercepat langkahnya.
Tak ingin berlari atau berteriak, karna hal itu hanya akan mempercepat tindak kejahatan yang bisa saja dilakukan oleh orang-orang jahat itu.
Dalam hening Keyla menggigiti kuku jarinya sendiri, menyesali perbuatannya untuk melakukan kebiasaan buruknya; keluar malam dan kelayapan tak jelas, adalah hal bodoh yang seharusnya tak pernah Keyla lakukan.
"Halo?"
Mata Keyla membulat saat suara bariton milik Raynzal menyapa telinga. Secercah harapan muncul saat itu juga.
"Halo, Ayah?" Acting di mulai, berharap kalau Raynzal dapat menangkap 'sinyal' yang dirinya berikan saat ini.
"Ayah? Salah sambung?" dari ujung telfon, Keyla dapat menebak ekspresi seperti apa yang tengah Raynzal tunjukan saat ini.
"Ayah udah di depan? Aku udah selesai nih," tanpa merespon pertanyaan Raynzal, Keyla masih berusaha konsisten dengan percakapan tak nyambung itu.
"Lo gila ya nelfon jam segini terus manggil gue Ayah?"
Sebelum melanjutkan ucapannya, Keyla terlihat menelan salivanya susah payah, "Udah sampe, kan?"
"Apaansi? Gue tutup."
Jantung Keyla berdetak cepat ketika Raynzal berkata seperti itu, secepat kilat ia memutar otaknya, "Iya! Di minimarket yang waktu itu. Inget, kan?"
Sebuah petunjuk besar Keyla ucapkan dengan nada lantang, petunjuk yang sepertinya dapat Raynzal terima dengan aman.
"Lo dimana?" kali ini nada yang cowok itu keluarkan terdengar berubah serius.
"Minimarket yang waktu itu, aku udah deket nih mau nyamperin mobil Ayah. Ayah sama siapa?"
"Lo gak apa-apa? Gue kesana. Jangan matiin telfonnya." pesan terakhir yang Keyla dengar sebelum samar-samar, gadis itu mendengar deru mesin dari mobil sport milik cowok itu yang sepertinya dikendarai dengan kecepatan penuh.
"Kenapa Ayah selalu bawa bodyguard, sih? Siapa juga yang mau nyulik aku? Badan bodyguard Ayahkan gede-gede."
"Ada yang ngikutin lo?"
Susah payah Keyla menahan rasa untuk tak menangis karna terlalu tersentuh dengan kepekaan Raynzal, "Iya, Ayah-- Waktu itukan aku di jagain sama dua bodyguard Ayah."
"Dua orang? b*****t!" u*****n penuh emosi dengan tambahan pukulan pada stir kemudi dapat Keyla dengar dari ujung telfon, "Ada orang gak deket situ?"
"Iya, mobil Ayah keliatan kok dari sini, tapi kok rasanya jauh, ya?"
"Jauh? Teriak gak bisa?"
"Kalopun Ayah bunyiin klakson juga kayaknya gak bakal kedengeran."
"s**t!" cowok itu kembali mengumpat, dari suaranya, Keyla dapat mengetahui kalau Raynzal sedang menahan emosinya sekuat mungkin, "Gue udah mau sampe."
Berakhirnya kalimat yang Raynzal ucapkan, berakhir pula acara 'penguntitan' pada malam hari ini.
Karna ketika perlahan Keyla menoleh ke arah belakangnya, gadis itu sudah tak mendapati lagi kedua orang yang tadi mengikutinya.
Membuat kelegaan itu muncul dalam satu waktu dengan tangis yang menghiasi wajahnya.
Dengan kaki yang tiba-tiba terasa lemas, Keyla berjongkok. Mengeluarkan tangisnya, lupa dengan Raynzal yang saat ini masih dapat mendengar suaranya dari ponsel miliknya.
"Lo kenapa!? Gue sampe."
Sambungan terputus tepat saat sebuah mobil berhenti di sampingnya. Menghadirkan sosok tampan dengan balutan kaos hitam yang segera berlari menghampiri dirinya.
Ikut berjongkok di samping Keyla dengan tangan yang berusaha mengangkat kepala tertunduk gadis itu.
"Lo gak apa-apa?" Raynzal bertanya panik, matanya sibuk memeperhatikan setiap detail wajah Keyla, mencari sesuatu yang tak beres dari wajah cantik itu.
Setelah puas, barulah matanya menatap sekitar, "Mana orangnya? Homo anjing beraninya berdua!"
Bukan jawaban yang Raynzal dengar, melainkan sebuah pelukan erat yang tiba-tiba menyapa tubuhnya.
Gadis itu terdengar semakin menangis sejadi-jadinya, merasa sudah aman dengan adanya kehadiran Raynzal disampingnya.
Tubuh yang gemetar di dalam pelukannya itu membuat d**a Raynzal ikut terasa sesak. Entah mengapa. Sehingga dirinya memilih untuk mengusap-ngusap kepala Keyla, berusaha menenangkan gadisnya.
Sempat menarik napasnya dalam-dalam, mencoba menghilangkan emosi yang tadi sudah hampir meledak. Menyadari situasi saat ini yang sedang tak tepat.
"Jangan nangis, superhero lo udah dateng."