DERING telfon yang berkali-kali terdengar nyaring di telinganya, tak mengurungkan niat Keyla yang sudah bulat; menghampiri Raynzal dirumahnya untuk mengetahui kabar dari kekasihnya itu. Sama sekali tak memperdulikan panggilan masuk yang datang dari arah Jean.
Tanpa takut, diberhentikannya mobil yang dirinya kendarai itu tepat di samping sebuah pohon rindang yang posisinya berada di seberang jalan rumah milik Raynzal. Karna tadi, maniknya sempat melihat sebuah mobil asing yang terparkir di dalam gerbang yang sedikit terbuka itu. Mobil yang Keyla yakini adalah milik Ayah Raynzal.
Menunggu dengan gelisah membuat Keyla berkali-kali menggoyangkan kakinya, dengan bantuan telinga yang diperdengarkan oleh sebuah musik bergenre pop. Sengaja agar perhatian Keyla sedikit teralihkan.
Melirik ponselnya berkali-kali, berharap bahwa Raynzal akan menghubunginya walau dirinya tahu hal itu mustahil mengingat pesan yang Steve kabarkan mengenai hilangnya ponsel Raynzal. Setengah jam berlalu dengan sangat lambat, kali ini Keyla benar-benar merasa waktu tengah mempermainkannya. Hingga pergerakan muncul tepat saat Keyla ingin menerobos pagar kokoh itu.
Mengurungkan niatnya ketika melihat mobil hitam yang sedari tadi ia perhatikan mulai berjalan pergi meninggalkan rumah mewah itu.
Tak bisa menunggu lebih lama, Keylapun segera melangkahkan kakinya. Berjalan turun dari dalam mobilnya sebelum berlari kecil ke arah pagar kokoh yang kali ini sedang terbuka lebar. Masuk ke dalamnya tanpa permisi, tak perduli jika ternyata saat ini Raynzal memelihara seekor anjing galak atau buaya buntung yang dapat menerkamnya hidup-hidup.
Walau baru sekali kesini, namun entah mengapa Keyla dapat mengingat dengan jelas seluk beluk rumah asing ini. Berjalan tanpa jeda menuju pintu besar yang berada setelah ruang keluarga. Jantungnya bedegub kencang, bahkan ia merasa tangannya mulai dingin dan berkeringat. Menarik napasnya dalam-dalam sebelum tangannya mulai tergerak untuk meraih gagang pintu kemudian membukanya.
Tak perlu mencari, karna sosok yang ia ingin temui saat ini tengah berdiri tak jauh dari posisinya. Sibuk melepaskan kaos putih polos yang dimata Keyla sangat amat jelas terlihat bercak-bercak berwarna merah disekitarnya. Manik Keyla berkaca-kaca, bahkan ia terlihat menggigiti bibir bawahnya sendiri. Memandangi punggung penuh tatto itu dengan menahan tangis.
Penderitaan apalagi yang Keyla bawa untuk Raynzal kali ini?
Bibir gadis itu bergetar, jadi sebelum meledak, Keyla memutuskan untuk berlari kecil menghampiri cowok itu kemudian memeluk punggung Raynzal erat. Melepaskan tangisnya tanpa ampun dengan kepala yang ia tenggelamkan dipunggung cowok itu, membuat Raynzal sempat terkejud untuk sesaat. Tak menyangka jika sosok yang saat ini memeluknya adalah Keyla.
"Kok lo bisa disini?" pertanyaan itu jelas saja tidak Keyla jawab, dirinya masih terlalu sibuk dengan tangisnya.
Sampai saat Raynzal melepaskan pelukan erat itu sebelum kemudian memutar tubuhnya agar dapat memandangi Keyla dengan jelas, gadis itupun masih tak ada niatan untuk berhenti menangis.
Kepalanya tertunduk dengan sesegukan yang sesekali terdengar, menghadirkan senyuman kecil di bibir Raynzal.
Tangan kokohnya bergerak, menyingkirkan anak rambut yang menutupi kedua sisi wajah gadisnya, "Kenapa nangis?"
Masih tak ada jawaban, bahkan saat Raynzal berniat untuk mengangkat wajah Keyla agar mau menatapnya, gadis itupun menolak. Menyingkirkan tangan Raynzal dengan cara memalingkan wajahnya ke arah lain.
"Gak mau liat gue?" tanya Raynzal lagi, kali ini Keyla menjawab, walau hanya dengan sebuah gelengan kepala singkat.
Semakin menghadirkan senyum gemas dari arah Raynzal, "Gue gak ngelakuin ini untuk liat lo nangis."
Ada sedikit jeda sebelum sebuah suara menggemaskan itu terdengar, "Terus buat apa?" kata Keyla tiba-tiba dengan kepala yang terangkat.
Menatap Raynzal dengan mata sembabnya, "Buat memar-memar kayak gini?" lanjutnya dengan tangan yang menunjuk bagian membiru di pipi Raynzal.
"Bukan juga," jawab Raynzal santai, hingga sedetik kemudian, cowok itu terlihat menarik Keyla ke dalam pelukannya, "Tapi buat ini."
Kalimat terakhir yang terdengar sebelum kedua orang itu terdiam dengan pikirannya masing-masing. Tak ada yang bersuara, hanya pelukan saja yang terasa menghangatkan. Dalam-dalam Raynzal menghirup aroma shampoo yang gadisnya pakai. Rasa buah yang membuat dirinya betah berlama-lama di dekat gadisnya itu.
"Mau janji satu hal gak sama gue?" disela-sela pelukan, Keyla bersuara lemah.
Suara yang membuat Raynzal dengan tak rela melepaskan pelukan itu agar maniknya bertemu manik indah milik Keyla, "Apa?"
"Jangan pernah bahayain diri lo lagi buat gue, apalagi sampe Bokap lo tau." Permintaan konyol yang Raynzal balas dengan senyuman, sebelum gelengan pasti terlihat.
"Gue cuman ngejaga apa yang seharusnya gue jaga, apa yang salah dengan itu?"
"Jelas salah, karna lo harus jagain diri lo sendiri sebelum lo jagain orang lain," Keyla kembali berucap, "Apa gue bisa nerima niat baik lo dengan senang hati kalau setelah itu, lo yang bakal tersakiti nantinya?"
Lagi, senyuman yang sejarang bulan purnama itu kembali Keyla lihat, "Dipukulin Bokap gue gak buat gue tersakiti, Key. It's okay, gue udah biasa."
Kali ini Keyla menggeleng putus asa, berdebat dengan Raynzal selalu membuat dirinya kehabisan kata-kata, "Gue gak mau lo kena imbas dari masalah yang terjadi sama gue."
Dengan gemas, ditangkupnya wajah sembab gadis itu, sengaja agar Keyla dapat mendengarkan ucapannya dengan sebaik mungkin. "Siapa dan apapun yang berurusan sama lo, apalagi sampe nyakitin lo, itu udah jadi masalah gue juga--" ucap Raynzal mantap, seakan memberitahu Keyla kalau tak ada penolakan dari apa yang baru saja dirinya katakan.
"Jadi mulai sekarang lo harus terbiasa dengan memar-memar dipipi gue. Karna gue akan ngelakuin hal yang sama, kalo sampe ada yang berani nyentuh lo."
Tidak ada kalimat yang bisa Keyla sampaikan atas ucapan mantap yang baru saja Raynzal katakan. Menolak keputusan manis yang baru saja dirinya dengar rasanya tak mungkin.
Jadi untuk saat ini, diam adalah salah satunya hal yang dapat Keyla lakukan sebagai bentuk 'tak setuju' atas apa yang baru saja Raynzal katakan. Melihat gadisnya melamun, Raynzal dengan gemas menarik hidung mancung Keyla. Menghadirkan kerutan di dahinya.
"Mau es krim?"