Rumah Om Kalvin sangat besar dan megah. Aku memperhatikan fotonya dan Ibu yang tersenyum. Ukurannya sangat besar sampai aku menganggap itu seperti bayangan mereka. Ruangan tengah ini sangat lebar. Ada televisi besar yang bisa membuat puas penontonnya. Ada beberapa lemari yang tampaknya berisi piagam dan piala. Saat melihat rumah Om Kalvin dari luar, aku sudah terkagum-kagum. Maklum saja, aku besar dalam keluarga sederhana. Ini sesuatu yang sedikit mengagumkan. Om Kalvin bahkan memiliki beberapa asisten rumah tangga. Sejauh yang aku lihat, setidaknya ada lima atau enam yang sudah muncul. Entah kalau masih ada yang bertugas di tempat lain. Dengan bangunan sebesar ini, aku yakin butuh banyak orang untuk mengurusnya. Aku juga tidak akan sanggup kalau harus menata rumah sebegini besar. Membe

