Mataku masih mengamati nisan yang bertuliskan Davin Fahreza Iluminado. Aku ingat dulu Om Davin yang lebih sering menemaniku ke sekolah. Mulai mengantar di hari pertama sekolah, mengambil rapor, sampai mewakili Papa untuk rapat wali murid jika Papa berhalangan hadir. Mengingat semua itu, aku ingin marah dan menangis bersamaan. Dulu, aku begitu mengagumi Om Davin yang selalu memiliki waktu untukku. Dia mengabulkan semua permintaanku saat Papa memilih untuk menunda. Papa juga sering mengajukan Om Davin ketika aku mengamuk. Om Davin punya seribu cara agar aku tenang. Kalau diperhatikan, aku lebih dekat dengan Om Davin, dari pada Papa. Padahal Om Davin juga mengurus perusahaan. Memang tidak sebesar milik Papa, tapi dia lumayan sibuk. Beberapa kali, Om Davin menunda, bahkan membatalkan rapat,

