37. Arvino

2172 Kata

“Aku titip ini, ya,” ujarku pada Hafiz. Hafiz membolak-balik amplop putih yang kuserahkan dengan kening berkerut. Lalu, matanya membaca deretan huruf yang tertulis di bagian depan. Dia menoleh padaku begitu selesai mengamati titipanku. Aku tersenyum lebar sambil mengedipkan mata, tahu apa yang menjadi pertanyaan Hafiz. “Katanya buat Adila,” kata Hafiz. Wajah Hafiz sedikit cemberut. Aku tertawa singkat. Ketika aku mengatakan kalau aku ingin menitip surat untuk Adila, Hafiz terlihat tidak suka. Mungkin dia berpikir jika apa yang aku pelajari dengannya selama ini sia-sia. Hafiz sudah berpesan aku harus menjaga hati dan pandangan. Pesan yang sangat sulit aku turuti. Yah, walaupun pada kenyataannya aku memang sudah beberapa kali melanggar. Hafiz tidak pernah tahu kelakuanku di belakangnya.

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN