Aku masih terduduk lesu di salah satu bangku taman kampus Adila. Sepertinya aku benar-benar sudah kehilangan akal. Maksudku, apa yang baru saja aku lakukan tidak dapat dipercaya. Apa yang merasukiku sampai aku bisa melakukan hal seperti tadi. Mengapa aku menuruti saran Danu tanpa berpikir dua kali. Oke. Ini memang salahku. Tapi aku tidak akan nekat kalau Danu tidak memancing. Mengapa sahabatku itu justru menjerumuskan ke dalam jurang kesalahan. Apa dia tidak serius dengan perkataannya. Lagi pula, aku tadi memang mengerjainya. Pasti Allah marah, makanya aku langsung diberi peringatan. Wajah Adila saat aku mengungkapkan perasaan tidak bisa dilupakan dengan mudah. Aku bisa melihatnya bingung karena perkataanku yang tidak sopan. Bagaimana lagi aku menyebutnya? Perbuatanku itu memang tidak so

