“Adila!” Sebuah tepukan keras di pundak menghentikan langkahku. Aku mengerjap beberapa kali, lalu menoleh pada orang yang membuatku sadar dengan tindakan yang kulakukan. Dia tampak asing bagiku. Walaupun aku yakin pernah melihatnya, aku tetap tidak ingat di mana aku menemukan wajah itu. “Kamu baik-baik saja?” tanya orang itu. Seorang wanita dengan gamis biru tua. Aku hanya diam. “Kamu melamun? Kamu hampir menabrak tong sampah itu.” Benar saja. Aku pasti sudah terlalu sering mendengarkan setan, sampai aku melamun sambil berjalan seperti ini. Keterlaluan. Aku membaca istigfar berulang kali, memohon ampun atas setiap dosa yang telah aku lakukan. Sungguh! Ini memalukan sekali. Bagaimana bisa aku berjalan tanpa memperhatikan tujuanku. Seakan aku tersihir oleh sesuatu. Tentu saja. Setan tela

