Dengan harapan yang baru saja terbit, Patra segera berjalan menuju tempat dimana Cella berada. Wanita itu melamun menikmati keramaian taman yang baru kali ini dilihatnya. "Akhirnya punya waktu untuk kesini juga, dan sekarang aku sadar betapa sedihnya hidup di tengah keramaian tanpa bisa merasakan keramaian itu sendiri," gumam Cella. Kala itu, sebuah tangan kekar menutup kedua matanya. Ya, tangan kanan Patra terulur menutup kedua mata Cella dari belakang sedangkan tangan kirinya memegang bunga mawar yang akan diberikan untuk wanita di depannya. Sekali lagi, Patra menyembunyikan bunga di belakangnya dengan penuh kehati-hatian agar dua cincin miliknya tidak jatuh. Kedua tangan Cella memegang tangan yang menutup matanya. Dari aroma parfum yang tercium, Cella yakin itu Patra. "Patra, kamu

