Bab 1. Pengkhianatan dan Balas Dendam
Hotel Das Vellurium, Sorevia, 2025
Duk!
“Aakh! Siapa yang melempar?!” pekik seorang pria nyaris tanpa busana sambil memegangi kepalanya. Dengan refleks, ia menjauh dari perempuan yang barusan ia cumbu mesra di atas sofa.
“b******n kau, Nik!” sahut Dasha dengan tatapan tajam dan mata memerah, karena amarah yang nyaris meledak setelah melempar hadiah yang telah ia siapkan untuk tunangannya.
Nikolai membalikkan badan, dan wajahnya langsung memucat saat melihat Dasha berdiri tepat di belakangnya. Sementara itu, perempuan yang bersama Nikolai langsung melarikan diri ke kamar mandi, panik, sembari menutupi dadanya.
“Sa-sayang ... ka-kamu kok bisa ada di sini?” ucap Nikolai tergagap, panik, dan bingung tak tahu harus berbuat apa.
Plak!
Tamparan keras mendarat di pipi Nikolai. Dasha melakukannya dengan penuh amarah. Nikolai hanya bisa terpaku, meringis sambil memegang pipinya yang mulai memerah, terasa perih, bahkan ada sedikit luka gores akibat cincin yang dikenakan Dasha.
Dasha memalingkan wajah, enggan melihat tubuh tunangannya yang hanya setengah telanjang, d**a terbuka dan celana hampir melorot.
“Pakai bajumu, b******k! Tega sekali kau mengkhianatiku, Nik. Aku benar-benar muak padamu,” teriak Dasha, suaranya bergetar karena marah dan terluka.
Dengan gugup, Nikolai segera meraih kemejanya dan mengenakannya. Ia membenarkan celananya lalu mencoba mendekati Dasha.
“Sa-sayang, kamu salah paham. Pe-perempuan itu yang mulai duluan ... dia yang menggodaku,” ucapnya terbata, berusaha menyentuh tangan Dasha, namun Dasha dengan cepat menghindar.
“Kau kira aku bodoh, b******k? Aku melihat segalanya dengan mata kepalaku sendiri. Kalian berdua b******u dengan mesra tanpa rasa bersalah. Menjijikkan,” ucap Dasha dengan sorot mata penuh rasa kecewa dan jijik.
“Sayang ... aku khilaf. Tolong maafkan aku,” ujar Nikolai lirih, suaranya penuh penyesalan dan permohonan.
Dasha menatapnya dengan mata yang nyaris basah oleh air mata, dadanya sesak menahan sakit. “Aku datang jauh-jauh dari Lazvenia ke Sorevia hanya untuk memberimu kejutan di hari anniversary kita yang kesepuluh. Tapi nyatanya, kau malah memberiku kejutan paling menyakitkan yang tak pernah bisa kubayangkan.”
Wajah Dasha mengeras. “Kau benar-benar b******n, Nik. Aku muak padamu ... dan mulai sekarang, semuanya selesai. Kita putus!”
Tak ingin mendengar pembelaan apa pun dari Nikolai yang hanya bisa berdiri terpaku dengan wajah pucat dan bingung, Dasha menarik cincin tunangan dari jari manisnya, lalu melemparkannya ke arah Nikolai. Ia segera membalikkan badan dan melangkah pergi, meninggalkan kamar itu bersama luka yang tak terlihat.
Namun Nikolai tak tinggal diam. Ia memungut cincin itu, lalu segera mengejar Dasha dan menarik tangannya saat mereka tiba di koridor.
“Lepaskan, Nik! Aku tak akan pernah memaafkanmu,” seru Dasha, suaranya bergetar oleh amarah dan luka yang dalam. “Kau menghancurkan hubungan yang kita bangun selama sepuluh tahun. Kau bahkan takkan pernah bisa membayangkan betapa hancurnya hatiku sekarang. Selama ini, hanya aku yang bertahan dan setia.”
Air mata mulai mengalir di pipinya, dan dengan mudah ia menarik tangannya dari genggaman Nikolai yang mulai melemah.
“Tolong ... beri aku satu kesempatan saja, Sayang. Aku mencintaimu. Sungguh. Aku hilang kendali karena perempuan itu yang memancingku,” ucap Nikolai dengan suara parau, penuh keputusasaan.
“Cukup!” potong Dasha tajam. “Aku tak ingin mendengar satu kata pun lagi darimu. Mulai detik ini ... jangan pernah muncul dalam hidupku lagi.”
Tanpa menoleh ke belakang, Dasha melangkah pergi. Tapi kali ini ia tak berjalan, ia berlari kecil sambil menyeka air matanya yang tak kunjung berhenti jatuh.
Bruk!
Kepala Dasha menabrak sesuatu yang keras. Ia mendongak dan mendapati seorang pria tampan berdiri tegak di depannya, menatapnya dengan sorot mata dingin dan wajah datar tak terbaca.
“Maaf, Tuan. Saya tidak sengaja,” ucap Dasha tergesa, menunduk dengan gugup sembari menghapus air matanya. Di belakangnya, langkah kaki cepat dan suara napas berat Nikolai semakin mendekat.
“Tunggu, Sayang! Jangan pergi! Aku tak bisa kehilanganmu. Pernikahan kita tinggal tiga minggu lagi. Tolong ... pikirkan lagi,” teriak Nikolai, tak menyadari kehadiran pria yang berdiri begitu dekat dengan Dasha.
Dasha melirik pria asing di depannya yang masih diam, seperti tak peduli. Tapi detik berikutnya, ia mengangkat kepala dan menatap Nikolai dengan sorot penuh tekad, lalu beralih pada pria di depannya.
“Maaf, Tuan ... tolong bantu saya sekali ini saja,” bisiknya hampir tak terdengar. Tanpa menunggu izin, Dasha berjinjit dan melingkarkan tangannya ke leher pria itu, menariknya ke bawah hingga bibir mereka bersentuhan.
Mata pria asing itu membelalak karena terkejut. Sementara Nikolai hanya bisa terpaku dengan mata melotot dan tangan mengepal kuat menahan emosi. Sedangkan Dasha memejamkan matanya, mencium pria asing itu dengan hati yang masih gemetar. Itu adalah ciuman pertamanya, dan ia memberikannya pada seseorang yang bahkan tak ia kenal. Selama sepuluh tahun pacaran dengan Nikolai, ia tidak pernah membiarkan pria itu mencium bibirnya. Kontak fisik mereka hanya sebatas cium pipi, berpelukan, dan mengenggam tangan.
Dengan penuh amarah dan rasa tidak terima, Nikolai menarik tubuh Dasha menjauh hingga ciuman spontan itu terputus. Namun keterkejutannya bertambah saat ia melihat lebih jelas wajah pria yang baru saja dicium Dasha.
“Ka-ka-kapten Callahan?” gumamnya kaget. “Maaf ... tunangan saya tadi bertindak di luar kendali. Dia sedang emosi,” tambah Nikolai gugup, buru-buru menundukkan kepala saat menyadari pria itu adalah atasannya langsung.
Namun sang kapten tak menanggapi permintaan maafnya sedikit pun. Sebaliknya, ia justru meraih lengan Dasha yang masih menunduk malu, wajahnya memerah karena bingung dan panik. Dengan satu tarikan ringan, tubuh Dasha jatuh dalam pelukannya.
Tanpa peringatan, Dimitri Callahan kembali mencium bibir Dasha. Kali ini dengan kasar dan mendominasi. Ciuman yang membuat tubuh Dasha membeku, dan Nikolai terpaku tak percaya.
Dasha tersentak, tapi saat matanya melirik ekspresi Nikolai yang menahan marah dan cemburu, seulas senyum muncul di balik ciuman itu. Ia pun mulai membalas sentuhan bibir pria asing itu, membiarkan dirinya larut dalam permainan penuh balas dendam.
Saat oksigen di paru-parunya hampir habis, Dasha perlahan mendorong d**a Dimitri memintanya berhenti. Pria itu menatapnya heran, alisnya sedikit berkerut.
“Apakah Anda sudah memesan kamar, Tuan?” bisik Dasha dengan suara manja dan menggoda, matanya menyala penuh tantangan.
Ucapan itu membuat Nikolai kembali membeku di tempat. Wajahnya pucat, nyaris tak berdarah.
Tanpa berkata sepatah pun, Dimitri mengangguk, lalu tiba-tiba mengangkat tubuh Dasha ke dalam gendongannya. Dasha spontan melingkarkan kakinya di pinggang pria itu. Dengan gerakan gesit, Dimitri menempelkan kartu akses ke sensor. Begitu lampu hijau menyala, ia mendorong pintu kamar dengan kaki panjangnya.
Pintu terbuka. Mereka masuk, meninggalkan Nikolai yang jatuh terduduk di lantai koridor, lemas dan hancur. Matanya nanar menatap pintu yang perlahan menutup.
Untuk pertama kalinya, ia merasakan sakit yang sama seperti yang pernah ia torehkan di hati Dasha. Melihat orang yang dicintai berciuman dengan orang lain tepat di depan matanya, dan ia tak bisa berbuat apa-apa.
Di dalam kamar 2427, Dasha masih berada dalam pelukan pria yang dipanggil Kapten oleh Nikolai. Tubuhnya kini terjepit di antara d**a bidang pria itu dan dinding kamar yang dingin. Sorot mata pria itu menatapnya dalam, seolah mencoba membaca pikirannya.
Dasha yang mulai menyadari posisi mereka terlalu intim, merasa gugup. Ia segera membuka mulut, berusaha menjaga suaranya tetap tenang.
“Sepertinya ... Anda bisa menurunkan saya sekarang, Tuan. Pria b******n itu sudah tidak melihat kita,” ucapnya pelan, nada suaranya canggung, jelas menunjukkan ketidaknyamanan.
Dimitri menyunggingkan senyum miring, matanya menyipit menatap Dasha. “Jadi sekarang kau ingin membuangku begitu saja setelah memanfaatkanku dan merampas keperawanan bibirku, ya?” ucapnya, nada suaranya terdengar sinis dan sedikit kesal.
Dasha menelan ludah dengan gugup. Ia nyaris tak percaya kalau pria sehebat itu dalam berciuman ternyata mengklaim itu adalah ciuman pertamanya, dan ia bisa merasakannya sendiri betapa piawainya pria itu dalam bermain bibir.
“Saya minta maaf karena telah menyeret Anda ke dalam kekacauan ini. Saya hanya ingin membalas dendam pada b******n itu,” ujar Dasha pelan, menghindari tatapan pria itu. “Kalau perlu, saya akan memberikan kompensasi. Tapi ... tolong, turunkan saya dulu.”
Dimitri akhirnya mengangguk pelan, lalu menurunkan tubuh Dasha dengan gerakan lembut dari gendongannya. Begitu kakinya menyentuh lantai, Dasha menghela napas lega. Tapi kelegaan itu hanya berlangsung sejenak.
Tiba-tiba, Dimitri menempatkan satu tangannya di dinding tepat di atas kepala Dasha, membuat tubuhnya kembali terkunci di antara dinding dan sosok tinggi pria 195 cm itu. Dasha tersentak, terkejut dengan jarak yang kembali begitu dekat.
“Kompensasi, ya?” ucap Dimitri dengan nada mencemooh, satu alisnya terangkat. “Kompensasi macam apa yang kau pikir bisa menebus ciuman pertamaku yang kau curi tadi, Nona?”
Bersambung ....