Bab 2. Tawaran Gila dari Pria Misterius

1559 Kata
Dasha menelan ludah gugup saat Dimitri makin mendekat, hingga jarak di antara mereka tinggal tiga sentimeter saja. “Bisakah Anda mundur sedikit, Tuan? Sulit bagi saya untuk berbicara jika wajah Anda sedekat ini,” ujar Dasha dengan suara bergetar, sambil memalingkan wajah, mencoba menyembunyikan kegugupannya. Dimitri menyeringai tipis, lalu sedikit menarik diri, tapi hanya sejauh yang ia inginkan, tetap menjaga jarak yang cukup dekat untuk membuat Dasha salah tingkah. “Ayo, katakan. Kompensasi seperti apa yang hendak kau berikan padaku, Nona?” tanyanya sambil mengangkat satu alis, penuh selidik. Dasha terdiam sejenak, berpikir keras. Matanya bergerak menelusuri pria itu dari kepala hingga kaki, mencoba mencari tahu bentuk kompensasi yang pantas untuk seseorang seperti Dimitri. “Dia jelas bukan pria biasa. Dari penampilannya saja, pakaian yang ia kenakan menunjukkan kelasnya,” batin Dasha, menatap pria itu dengan waspada. “Dan tadi ... si b******n Nikolai memanggilnya kapten. Jangan-jangan ... dia seorang kapten pilot.” Pikirannya makin terasa tertekan oleh kenyataan yang ia hadapi. Dimitri memperhatikan Dasha yang tampak berpikir keras, lalu menyeringai penuh makna. “Kau tampak kesulitan memikirkan bentuk kompensasi yang pantas. Sepertinya memang tak ada yang cukup layak, ya? Bagaimana kalau ... kau mendengar tawaranku saja?” ujarnya dengan nada menggoda dan pandangan yang menusuk. Dasha mengerutkan alis, heran. “Tawaran? Dia yang harusnya menuntut malah ingin memberi tawaran? Ya sudahlah, dengar saja dulu,” gumamnya dalam hati, mencoba bersikap santai meskipun rasa penasaran mulai menggelitik. “Tawaran apa yang Anda maksud?” tanyanya dengan suara datar, berusaha menyembunyikan rasa ingin tahunya yang kian besar. "Biarkan aku membantumu membalas dendam," ucap Dimitri penuh keyakinan. "Aku rela kau manfaatkan, asal kau bersedia menjadi istriku." Mendengar pernyataan mengejutkan dari pria tampan di hadapannya, mata Dasha membelalak lebar. Ia nyaris tak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya. “Tolong katakan kalau Anda hanya bercanda, Tuan. Memang, saya tadi memanfaatkan Anda untuk membalas Nikolai ... tapi menjadi istri Anda? Itu hal yang sama sekali berbeda. Kita bahkan baru sekali bertemu,” ucap Dasha, tertegun, mencoba mencerna maksud sebenarnya dari ucapan Dimitri. Tanpa berkata-kata, Dimitri melangkah santai menuju ranjang dan duduk di atas kasur king size, dengan tenang seolah situasi sepenuhnya di bawah kendalinya. Dimitri tersenyum tipis. “Baru sekali? Kau yakin kita baru bertemu sekali, Sasha?” tanyanya pelan namun dalam, menyebut nama kecil Dasha dengan mantap. Dasha langsung tersentak. Matanya membesar, terkejut bukan main. “Dari mana Anda tahu nama kecil saya?” tanyanya penuh curiga dan bingung. Dimitri tidak langsung menjawab. Ia hanya memberi isyarat dengan jari, memanggil Dasha agar mendekat. Tapi Dasha tak bergerak. Perasaannya mulai tak tenang. Ia mulai curiga pria itu menyimpan sesuatu, mungkin niat tersembunyi, atau identitas yang tak dia ketahui. Melihat Dasha tetap berdiri membeku di tempatnya, Dimitri bangkit dan berjalan pelan ke arahnya. Spontan, Dasha melangkah mundur. Tapi punggungnya terbentur dinding. Ia buru-buru bergeser ke samping, mundur perlahan menuju arah pintu masuk. “J-jangan mendekat. Tolong, jangan macam-macam pada saya. Saya ....” kalimatnya terpotong saat terdengar suara ketukan keras di pintu kamar. Tanpa sempat bereaksi, Dasha dikejutkan oleh kehadiran Dimitri yang tiba-tiba sudah berdiri tepat di depannya. Ia menutup mulut Dasha dengan tangannya, membuat gadis itu terdiam. Kini mereka berdiri begitu dekat, tepat di depan pintu kamar. “Sstt ... diam dulu. Pria yang ingin kau hindari masih ada di luar,” bisik Dimitri pelan sambil mengintip melalui peephole di pintu. Dasha memberi isyarat agar Dimitri melepaskan tangannya. Dimitri menurut, dan perlahan menarik tangannya kembali. Ia kemudian berbicara, suaranya tenang namun mengandung nada kecewa yang tak disadari Dasha. “Tenang saja, Sasha. Aku bukan orang jahat. Percayalah padaku. Sepertinya ... kau benar-benar tak ingat, ya? Aku akan jelaskan nanti. Tapi sekarang, kita harus usir Tuan Ryker ... dengan cara yang berbeda.” Dasha terdiam. “Haruskah aku mempercayai pria ini? Dari awal dia terlihat tulus ingin membantuku. Tapi ... kata Kak Artur, jangan pernah mudah percaya pada orang asing,” batinnya, bimbang. Beberapa detik kemudian, Dimitri membisikkan sesuatu di telinga Dasha. Awalnya ia menolak, tapi setelah mendengar penjelasan Dimitri, keraguannya perlahan luluh. “Baiklah. Saya percaya ... tapi hanya untuk kali ini,” ucap Dasha akhirnya, sebelum mengikuti langkah Dimitri menuju ranjang dengan perasaan campur aduk. “Kau duduk saja di atas ranjang,” ujar Dimitri sambil mulai membuka satu per satu kancing kemeja putihnya. Melihat gerakan itu, Dasha langsung panik. “K-kenapa harus buka baju? Bukannya kita cuma akting?” tanyanya waspada, alisnya berkerut. Tangan Dimitri terhenti di kancing terakhir, lalu ia tertawa kecil, geli melihat reaksi Dasha. “Kau takut aku akan menidurimu?” tanyanya santai. “Tenang saja. Aku bukan tipe pria yang sembarangan. Aku hanya akan tidur dengan wanita yang benar-benar kucintai ... istriku kelak,” ucapnya serius namun lembut. Dasha sedikit menghela napas lega mendengarnya, lalu membiarkan pria itu melepas kemejanya sepenuhnya, memperlihatkan d**a bidangnya yang atletis. “Ya Tuhan ... tubuh pria ini hot banget,” batin Dasha sambil tanpa sadar menelan ludah. Tepat saat itu, suara ketukan kembali terdengar dari arah pintu. Dengan cepat, Dimitri merunduk dan mengambil posisi di depan ranjang, tepat di lantai. Ia menoleh ke arah Dasha dan memberi isyarat agar mulai melakukan aksinya. Tapi sebelum sempat mereka memulai skenario, Dimitri mengangkat tangan, seolah teringat sesuatu yang penting. “Tunggu dulu! Bukankah semua kamar di hotel ini kedap suara?” ucapnya sambil berdiri, ekspresinya berubah bingung. “Kalau begitu, percuma dong semua akting kita. Target kita nggak akan dengar apa-apa.” Dasha terdiam, lalu matanya menyipit seolah mengingat sesuatu. Ia bangkit dari ranjang dan berjalan cepat menuju dinding kamar. Di sana, ia menonaktifkan perangkat bernama EchoLock, sebuah teknologi baru yang diterapkan di hotel tersebut. Teknologi ini memungkinkan penghuni kamar untuk mengaktifkan atau menonaktifkan fitur kedap suara, sehingga suara dari dalam bisa terdengar keluar, dan sebaliknya. Karena alat ini masih tergolong baru, hanya orang-orang dekat pemilik hotel yang tahu cara kerjanya. Secara default, sistem ini selalu aktif, membuat ruangan sepenuhnya kedap suara. Begitu tombol dinonaktifkan, Dasha kembali ke ranjang dan mengambil posisi seperti semula. “Selesai. Sekarang, dia bisa mendengar apa yang terjadi di dalam sini ... dan sebaliknya,” ucap Dasha dengan senyum penuh makna. Tepat setelah itu, terdengar suara Nikolai dari luar, frustrasi dan keras. Ia kembali mengetuk dan memanggil-manggil nama Dasha, memintanya membuka pintu. Dasha dan Dimitri saling berpandangan sejenak, lalu tersenyum penuh rencana. Tanpa banyak bicara, Dimitri kembali mengambil posisi yang sama sebelumnya seolah sedang melakukan Burpees, kombinasi squat jump dan push-up, sementara Dasha bersiap di atas ranjang dalam posisi duduk di tepi ranjang. Dasha mulai mengangkat pinggulnya dengan gerakan yang sengaja dibuat dramatis, sambil mengeluarkan teriakan kecil yang terdengar seperti erangan kesakitan. Ia menahan tawa di balik wajah menggoda, sementara ranjang yang ia gerakkan dengan sengaja mengeluarkan suara berdecit keras, cukup untuk terdengar jelas dari luar kamar. Di sisi lain, Dimitri sibuk melakukan kombinasi push-up dan squat jump, lengkap dengan desahan palsu di setiap gerakannya. “Ahhh ... uhh ... kau nikmat sekali, baby!” lenguh Dimitri dengan suara yang dibuat-buat, penuh semangat akting. “Ohh yeah ... lebih dalam tuan, ughhh~,” sahut Dasha, masih menahan tawa di balik suara sensualnya. Ia terus menggoyangkan ranjang untuk menambah efek suara, seolah benar-benar terjadi sesuatu yang panas di dalam kamar itu. Sementara itu, di koridor luar kamar, Nikolai mendengar segalanya dengan jelas. Wajahnya menegang, rahangnya mengeras, dan matanya memerah karena marah. Suara yang menggema dari balik pintu itu membuat dadanya sesak dan amarahnya memuncak. Tak sanggup lagi menahan perasaan jijik dan hancur, Nikolai akhirnya berbalik dan berjalan menjauh dengan langkah berat, menyimpan bara dendam dalam hatinya. Begitu suara ketukan pintu dan teriakan frustrasi Nikolai tak lagi terdengar, Dasha dan Dimitri menghentikan aksi sandiwara mereka. Tatapan mereka bertemu, lalu keduanya terkekeh pelan, lega sekaligus geli. Dasha turun dari ranjang dan berjalan ke pintu. Ia mengintip melalui peephole dan menghela napas lega saat mendapati koridor sudah kosong, Nikolai benar-benar pergi. Namun saat ia hendak berbalik, tubuhnya justru bertabrakan dengan sesuatu yang hangat dan padat. Dimitri rupanya berdiri tepat di belakangnya, ikut mengintip dari balik peephole. Tanpa sengaja, wajah Dasha menabrak dadanya yang telanjang dan kali ini, bukan hanya wajahnya yang menyentuh, melainkan bibirnya pun sempat bersentuhan dengan d**a berotot dan wangi, yang sedikit ditumbuhi bulu halus itu. Tubuh Dasha langsung kaku karena canggung, sedangkan Dimitri hanya diam, menatapnya dengan ekspresi sulit ditebak. “Setelah bibirku ... sekarang dadaku juga kau ambil keperawanannya. Sepertinya kau benar-benar harus bertanggung jawab, Nona,” ujarnya dengan nada menggoda, sebelum menyentuh dagu Dasha dan mengangkatnya pelan agar mata mereka bertemu. Dasha jelas gugup, wajahnya memerah, dan ia menelan ludah kasar. “K-kali ini sungguh nggak sengaja. Saya minta maaf,” ujarnya gugup, buru-buru memalingkan wajah, berusaha menghindari sorot mata pria itu. “Apa kau benar-benar tak mengingatku, Sasha?” tanya Dimitri lembut, kedua tangannya kini membingkai wajah Dasha dengan penuh harap, seolah mendesak agar kenangan lama kembali. Dasha mengernyit, mencoba mencerna maksud di balik pertanyaan itu. Sebelumnya pria ini juga sempat menyinggung hal yang sama. Namun kali ini, ia benar-benar memperhatikan wajah Dimitri dengan seksama. Matanya terpaku pada sepasang mata coklat terang yang jernih, terbingkai bulu mata panjang dan lentik. Pandangannya lalu turun ke hidung mancung dan tegas pria itu, kemudian berakhir di bibir yang sempat ia kecup dalam situasi dramatis di depan Nikolai. Tatapannya semakin lekat, dan dalam keheningan yang menggantung, potongan memori lama perlahan muncul di benaknya seperti tirai yang terbuka sedikit demi sedikit. Sebuah perasaan familiar menyelusup ke dalam pikirannya. Bersambung ....
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN