“Kak Dimi? Itu ... kamu?” tanya Dasha pelan, mulutnya sedikit terbuka karena terkejut. Ingatan masa lalunya mulai jelas, tentang seorang pria yang pernah ia kagumi dua belas tahun lalu.
Senyum hangat terbit di wajah Dimitri saat mendengar panggilan akrab itu. “Iya, Sasha. Ini aku, Dimi ... Dimitri,” jawabnya pelan namun pasti.
Dasha berkedip beberapa kali, mencoba memastikan dirinya tidak salah lihat. “Serius? Kak Dimi ke mana aja baru muncul selama ini? Kak Artur bilang kakak pernah menetap di Iskendria.”
Dimitri perlahan menurunkan tangannya dari wajah Dasha, lalu menggenggam jemarinya dan membimbingnya ke sofa. Dasha menurut tanpa perlawanan, masih tenggelam dalam keterkejutan sekaligus rasa haru. Sementara itu, Dimitri mengambil kemejanya dan memakainya kembali dengan tenang.
Begitu duduk di samping Dasha, ia menjelaskan, “Sebenarnya aku sudah kembali ke Lazvenia dua tahun lalu. Hanya saja ... kita belum sempat bertemu. Aku hanya pernah bertemu beberapa kali dengan Artur dan kakekmu."
Mendengar penjelasan Dimitri, ada sedikit rasa kecewa mengalir dalam hati Dasha. Bagi Dasha, Dimitri bukan sekadar teman kakaknya, ia salah satu orang spesial baginya. Dimitri adalah sahabat dekat Artur, kakak kandung Dasha, dan pertama kali mereka bertemu saat Dasha masih berusia tiga belas tahun. Sejak saat itu, Dasha mengagumi pria itu diam-diam. Dimitri adalah cinta pertamanya. Bukan hanya karena ketampanannya, tapi juga karena sikapnya yang perhatian dan lembut.
Namun, hubungan mereka perlahan renggang. Dimitri berhenti menghubunginya, dan tiba-tiba saja menghilang, pindah ke Iskendria tanpa kata perpisahan. Dasha baru tahu belakangan bahwa Dimitri ternyata melanjutkan studi di akademi penerbangan di sana, berbeda dengan jurusan sebelumnya, jurusan bisnis.
Kembali ke situasi sekarang.
“Jadi ... Nikolai Ryker itu tunangan yang selama ini kau banggakan? Sampai rela menolak perjodohan yang diatur oleh kakekmu?” tanya Dimitri, nadanya agak dingin, sorot matanya tajam menusuk ke arah Dasha.
Dasha mengerutkan dahi, bingung. “Kak Dimi tahu soal perjodohan itu? Siapa yang bilang ... Kak Artur? Atau kakek?” tanyanya agak kesal, mengingat kembali kejadian dua bulan lalu saat kakeknya memaksanya bertunangan dengan pria asing meskipun tahu ia sudah memiliki pacar.
Dimitri menghela napas, lalu menatap Dasha lurus-lurus. “Aku pria yang dijodohkan denganmu, Sasha. Dan jujur ... aku kecewa. Kau memilih pria seperti Nikolai daripada aku. Dan lihat sekarang ... bagaimana kau diperlakukan oleh pria itu.”
Mata Dasha membulat, tak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya. “Hah?! Jadi pria yang dijodohkan denganku itu ... Kak Dimi? Bagaimana mungkin?” tanyanya, benar-benar terkejut.
Dimitri hanya mengangkat bahu sedikit. “Aku pun tak tahu harus menjelaskannya bagaimana. Tapi sekarang aku ingin tahu ... apa yang akan kau lakukan tentang Nikolai? Katanya kalian akan menikah tiga minggu lagi.”
Dasha mendengus kesal. “Tentu saja pernikahan itu batal. Tidak mungkin aku mau menikah dengan pria pengkhianat seperti dia. Jijik rasanya. Aku benar-benar muak, dan ... betapa bodohnya aku. Sepuluh tahun bersama dia, dan semuanya sia-sia,” ucapnya penuh emosi, suara getir dan marah menggema di setiap katanya.
Dimitri tersenyum tipis mendengar penuturan Dasha, lalu berkata dengan nada tenang namun penuh makna, “Jangan batalkan pernikahannya. Jalankan saja seperti rencana semula. Hanya saja ... pengantin prianya adalah aku.”
Dasha kembali tercengang. Kejutan demi kejutan terus datang dari pria di hadapannya. Bersama Dimitri, jantungnya terasa berdegup tak menentu. Setiap kata yang keluar dari mulut pria itu selalu tak terduga.
“Tolong, Kak Dimi, jangan bercanda,” ujar Dasha dengan suara serius. “Apa benar Kak Dimi mau menikah denganku? Kalau ini hanya karena rasa kasihan, lebih baik tarik kata-kata itu. Aku sedang tidak dalam kondisi untuk dijadikan bahan candaan.”
Tatapan Dimitri menjadi lebih dalam dan serius. “Aku tidak main-main, Sasha. Aku tahu rasa sakitmu tak bisa hilang dalam sekejap. Tapi dengar ... aku tak mengusulkan pernikahan ini karena iba. Aku benar-benar ingin menikah denganmu.” Ia menarik napas, lalu melanjutkan, “Dan ... kalau kau ingin membalas dendam pada Nikolai, manfaatkan aku saja. Kau mungkin belum sadar sepenuhnya, tapi Nikolai itu bawahanku. Aku bisa membuat hidupnya penuh penyesalan sampai ke tulang-tulang.”
Dimitri kemudian meraih kedua tangan Dasha, menggenggamnya dengan lembut namun mantap, seolah menegaskan ketulusan niatnya.
“Aku percaya pada Kak Dimi. Aku juga ingin memberi pelajaran pada Nikolai b******k,” ucap Dasha pelan, “tapi sekarang ... aku sudah menganggap Kak Dimi seperti kakakku sendiri. Aku merasa tidak pantas memanfaatkan kebaikan Kak Dimi begitu saja.”
Dimitri menatapnya lekat-lekat, lalu bertanya pelan, “Sasha ... apa kau percaya kalau sejak pertama kali kita bertemu, aku sudah menyukaimu?”
Dasha terdiam, terkejut lagi oleh pernyataan tak terduga itu. Bukan karena ia tak percaya, tapi karena kenyataannya begitu mengejutkan.
“Serius? Tapi waktu itu aku masih tiga belas tahun, Kak,” ujarnya ragu.
Genggaman Dimitri di tangan Dasha semakin erat, hangat dan mantap.
“Aku serius,” jawabnya tegas. “Perasaan itu memang kupendam diam-diam, karena waktu itu kamu masih kecil. Aku takut orang salah paham, dibilang aneh atau macam-macam, padahal jarak usia kita cuma lima tahun. Tapi sekarang ... kamu sudah tumbuh dewasa. Dan aku bisa mengungkapkan semuanya tanpa ragu.”
Dasha hanya terdiam. Ucapan tulus Dimitri barusan perlahan melembutkan hatinya, namun luka yang baru saja ditorehkan oleh pengkhianatan Nikolai masih terlalu segar. Ia tak bisa begitu saja membuka hati, terlebih setelah sepuluh tahun kepercayaannya dihancurkan oleh pria yang dulu ia cintai.
“Berikan aku waktu untuk memikirkan semuanya, Kak Dimi,” ucap Dasha pelan namun tegas. “Ini bukan hal sepele. Aku butuh waktu untuk memastikan ... karena aku tidak ingin mengalami luka yang sama lagi.”
Dimitri mengangguk memahami. “Aku mengerti,” jawabnya tenang. “Ambil waktu yang kamu butuhkan. Tapi ... jangan pernah bandingkan aku dengan Nikolai. Aku bukan pria sebrengsek itu. Aku berjanji tak akan mengkhianatimu, apalagi membuatmu menangis.” Nada suaranya mantap, dan sorot matanya menunjukkan kesungguhan yang tak main-main.
Senyum haru merekah di wajah cantik Dasha. Hatinya hangat melihat Dimitri kembali hadir dalam hidupnya. Pria yang dulu dikenalnya sebagai sahabat kakaknya yang dulu datang ke rumah sebagai sosok pemuda penuh semangat, kini telah berubah. Dimitri di hadapannya bukan lagi pemuda yang dulu ia kenal, melainkan seorang pria dewasa, jauh lebih tampan, dan memancarkan karisma yang membuatnya sulit untuk menolak.
“Kamu belum check in kamar, 'kan?” tanya Dimitri begitu melihat emosi Dasha mulai mereda.
Dasha menggeleng pelan. Ia berniat berbicara, namun Dimitri seolah sudah menebak apa yang akan ia katakan dan langsung memotong.
“Tenang saja, kamu bisa tinggal di sini. Aku yang akan cari kamar lain,” ujarnya sambil tersenyum tipis.
Dasha melirik jam di pergelangan tangannya, sudah pukul 12 malam. Pantas saja rasa kantuk mulai menyerang.
“Baiklah ... aku akan tidur di sini. Terima kasih, dan maaf kalau merepotkan, Kak Dimi,” ucapnya dengan nada sungkan.
“Tak masalah. Tidurlah. Aku akan pergi setelah kamu terlelap,” jawab Dimitri tenang.
Meski sempat ragu, Dasha akhirnya mengangguk. Ia bangkit dari sofa, lalu membaringkan tubuh lelahnya di atas ranjang. Sementara itu, Dimitri tetap duduk di tempatnya, sesekali melempar pandang ke arahnya.
Setelah memastikan Dasha terlelap, Dimitri pelan-pelan keluar dari kamar. Ia sudah menginstruksikan anak buahnya untuk memesan kamar kosong di sebelah, dan kini orang itu sudah menunggu di depan pintu. Tanpa suara, Dimitri mengangkat kopernya agar tidak menimbulkan bunyi yang bisa membangunkan Dasha. Rasanya seperti mimpi, akhirnya ia bisa kembali dekat dengan seseorang yang sudah lama ia nantikan.
Begitu pintu terbuka, Dimitri langsung meraih kartu akses yang disodorkan anak buahnya, lalu memberi isyarat agar pria itu pergi. Tanpa membuang waktu, ia menempelkan kartu pada sensor pintu, mendorongnya hingga terbuka, dan masuk.
Di dalam, Dimitri meletakkan koper di atas ranjang, membukanya, lalu mengambil MacBook. Ia berjalan menuju sofa dan menjatuhkan diri di atasnya.
Saat itu juga, ponselnya bergetar. Sebuah pesan singkat dari nomor tak dikenal muncul di layar:
Pesta selesai.
Senyum tipis terukir di wajah Dimitri. Ia meletakan ponselnya di sampingnya, lalu mengalihkan fokus pada layar 14 inci di pangkuannya. Begitu masuk ke sebuah server rahasia, jemarinya mulai mengetik cepat, sementara sorot matanya menjadi sedingin es.
***
Sorevia International Aiport
“Tunggu aku nanti setelah pesawat mendarat di Lazvenia. Aku akan mengantarmu pulang,” ujar Dimitri sambil menarik kopernya, berjalan sejajar dengan Dasha.
Saat ini, mereka berada di Sorevia International Aiport, bersiap untuk kembali ke Lazvenia.
Dasha hanya mengangguk sambil tersenyum kecil. Ia baru sadar bahwa pesawat yang ia tumpangi sebelumnya ternyata dikemudikan oleh Dimitri sendiri. Kini, ia akan pulang menaiki pesawat yang sama, dengan pilot yang sama pula. Seragam pilot yang dikenakan Dimitri tampak sangat cocok di tubuh tegapnya, seolah memang dibuat khusus untuknya. Dasha tak bisa menahan kekaguman dalam hati.
Namun, suasana tenang itu mendadak terusik ketika Nikolai muncul dari arah belakang, juga menarik kopernya dengan suara dramatis. Spontan, Dimitri dan Dasha menoleh bersamaan. Dasha segera memalingkan wajah, enggan menatap mata Nikolai yang tampak penuh kepedihan.
“Nikolai b******k! Gayanya seperti dia yang paling tersakiti,” gumam Dasha dengan nada kesal. Meskipun lirih, kalimat itu masih cukup terdengar oleh Dimitri di sebelahnya.
Tatapan Dimitri berubah dingin saat matanya menangkap kehadiran Nikolai. Tanpa berkata apa-apa, ia meraih pinggang Dasha dan menariknya mendekat hingga tubuh mereka bersentuhan. Dasha terkejut, matanya membesar, dan refleks ingin menjauh. Namun, bisikan pelan Dimitri membuatnya menahan diri dan membiarkan tangan pria itu tetap melingkar di pinggangnya.
Sementara itu, dari belakang mereka, Nikolai mengepalkan tangannya dengan kuat, penuh amarah. Dengan cepat, ia mengeluarkan ponselnya dan diam-diam mengambil foto Dasha dan Dimitri yang tampak begitu intim. Sebuah senyum licik muncul di sudut bibirnya. Dalam benaknya, ia sudah menyusun rencana balas dendam. Jika foto itu tersebar, Dasha bisa dituduh berselingkuh, dan citranya akan hancur. Lalu, ia yakin, Dasha akan kembali padanya dan memohon seperti yang ia harapkan.
Bersambung ....