Bab 4. Skandal di Hari Pernikahan

1539 Kata
Mansion Keluarga Lennox “Aku sudah memutuskan, Kek. Aku akan menikah dengan Kak Dimi,” ucap Dasha tegas, memecah ketegangan yang menggantung di ruang keluarga mansion mewah itu. Sejak Dasha melangkah masuk ke rumah bersama Dimitri, atmosfer di ruangan itu terasa berat. Ivan Lennox, sosok pria paruh baya dengan wibawa kuat, sekaligus pengusaha paling berpengaruh di Lazvania. Ia terlihat bingung, menatap cucu perempuannya dengan sorot mata penuh tanda tanya. Apalagi setelah mendengar bahwa pria yang akan dinikahi Dasha bukanlah nama yang selama ini ia dengar. “Tunggu dulu! Kakek benar-benar tak mengerti. Bukankah sebelumnya kau bersikeras ingin menikah dengan pacarmu yang kau bela mati-matian itu? Bahkan kau rela meninggalkan rumah ini, menolak segala bantuan dan uang dari kakek dan mendiang orang tuamu hanya demi pria itu,” ujar Ivan dengan nada penuh keterkejutan. “Dan sekarang ... kau kembali dan bilang ingin menikah dengan Dimitri? Kakek rasanya tak bisa percaya dengan semua ini.” Sementara itu, Dimitri yang duduk di sisi Dasha tetap diam, memilih untuk tidak ikut campur dan memberi ruang bagi Dasha serta kakeknya menyelesaikan ketegangan yang masih menggantung akibat konflik lama. Dasha menarik napas panjang, lalu berkata, “Aku membatalkan pernikahanku dengan Nikolai. Dia sudah mengkhianatiku, Kek. Dia selingkuh,” ujarnya dengan nada getir, kemarahan masih terasa saat menyebut nama pria itu. Mendengar penuturan Dasha, Ivan menggeleng pelan lalu terkekeh, namun tawanya terdengar hambar dan penuh ironi. Dasha dan Dimitri saling melempar pandang, bingung dengan reaksi sang kakek. Dasha lalu kembali menatap Ivan, menanti ucapannya. “Kakek sebenarnya sudah punya firasat kalau pria itu bukan orang yang tepat untukmu, Sasha,” ujar Ivan dengan nada getir. “Dan sekarang kamu merasakannya sendiri akibat dari keras kepalamu. Seandainya sejak awal kamu mau mendengar nasihat kakek dan menerima perjodohan dengan Dimitri. Tidak akan terjadi hal seperti itu ... setidaknya kamu belum terlalu lambat menyadarinya.” Ia menarik napas panjang, seakan mencoba meredam rasa kecewanya. Dasha hanya tertunduk. Tak ada perlawanan seperti biasanya setiap kali Ivan menentang hubungannya dengan Nikolai. Kini, diamnya menjadi bentuk pengakuan bahwa sang kakek benar. Ivan lalu melontarkan pertanyaan lain, lebih pelan namun menusuk, “Apa pria itu sudah tahu siapa kamu sebenarnya?” Dasha menggeleng pelan. Selama sepuluh tahun menjalani hubungan dengan Nikolai, ia belum pernah mengungkapkan jati dirinya yang sesungguhnya. Rencananya, rahasia itu baru akan ia ungkapkan pada hari pernikahan mereka. Saat usianya baru lima belas tahun, Dasha memutuskan untuk hidup mandiri dan menolak menggunakan kekayaan keluarganya. Ia memilih bekerja paruh waktu demi mencukupi kebutuhan hidupnya sendiri, bahkan tak segan membantu Nikolai secara finansial ketika pria itu sedang kesulitan. Keputusan ini awalnya ditentang oleh keluarganya. Bagi mereka, Dasha seharusnya fokus pada pendidikan dan menikmati fasilitas sebagai anak dari keluarga terpandang, bukan bersusah payah bekerja. Namun, orang tuanya akhirnya membiarkannya, berpikir Dasha akan kembali pulang jika lelah menjalani kehidupan itu. Namun yang terjadi, gaya hidup mandiri Dasha berlangsung selama tiga tahun. Ia baru pulang ke rumah setelah peristiwa tragis menimpa kedua orang tuanya, mereka tewas dibunuh oleh sosok tak dikenal, dan hingga kini pelakunya masih belum terungkap. Setelah itu, ia kembali hidup mandiri sampai sekarang. Selama ini, Nikolai tak pernah mengetahui siapa Dasha sebenarnya. Ia percaya bahwa Dasha hanyalah gadis dari keluarga sederhana, yang rela banting tulang demi dirinya. Bahkan biaya untuk masuk akademi pilot pun datang dari Dasha. Tanpa Nikolai tahu, uang itu berasal dari tabungan keluarga paling kaya di Lazvania. Tiga minggu kemudian. Serenity Vila Langit biru cerah menaungi taman vila megah yang terletak di puncak Lazvenia. Hamparan rumput hijau membentang luas, dipenuhi tenda-tenda putih berkanopi emas, berjajar elegan di tengah taman yang ditata sempurna. Deretan bunga peony, anggrek putih, dan mawar merah muda menghiasi setiap sudut, memancarkan keharuman yang lembut namun elegan. Sebuah altar mewah berdiri kokoh di tengah taman, dihiasi kristal gantung dan rangkaian bunga raksasa. Karpet putih gading terbentang dari gerbang utama hingga altar, diapit oleh barisan kursi akrilik berlapis sutra, lengkap dengan hiasan emas dan pita berlogo inisial pengantin. Para tamu berpakaian formal kelas atas, berjalan di bawah lengkungan bunga sambil diiringi alunan musik live dari orkestra mini yang tersembunyi di balik semak artistik. Gelas-gelas sampanye berkilau di atas meja prasmanan mewah yang dipenuhi hidangan internasional dan kue-kue kecil berlapis emas. Di tengah semua kemewahan itu, sang pengantin wanita muncul dalam gaun couture bertabur kristal di dampingi oleh sang kakek, turun perlahan dari balkon vila bergaya klasik modern. Sang mempelai pria menanti dengan setelan hitam eksklusif, tersenyum saat melihat sang pujaan hati dari jarak agak jauh, dan melangkah perlahan menghampirinya. Di deretan kursi tamu, Nikolai duduk dengan wajah yang tak mampu menyembunyikan gejolak hatinya. Ia hadir di pernikahan itu karena menggantikan salah satu pramugara yang berhalangan datang. Kesempatan itu tak ia sia-siakan. “Itu ... seharusnya aku di sana,” gumamnya lirih, matanya terpaku pada sosok Dimitri yang berdiri gagah di depan altar, menanti mempelai wanitanya. Para tamu terpukau saat Dasha muncul. Kecantikannya bagaikan bidadari turun dari langit, membuat seisi taman seolah terdiam. Dimitri tak mampu menyembunyikan senyumnya, matanya berbinar saat melihat sosok wanita yang kini akan menjadi istrinya. Dengan langkah anggun, Dasha berjalan perlahan, lengan rampingnya digandeng erat oleh Ivan. Pandangan Ivan lurus ke altar, namun sebelum menyerahkan cucunya kepada Dimitri, ia menoleh dan menatap wajah Dasha dengan penuh haru, lalu mengalihkan pandangannya pada calon cucu menantunya. “Aku titipkan cucuku padamu, Dimitri,” ucap Ivan dengan suara bergetar namun tegas. “Jaga dia sebaik mungkin. Jangan sampai setetes pun air matanya jatuh karenamu. Kalau itu terjadi, aku sendiri yang akan datang mencarimu.” Dimitri mengangguk pelan sambil tersenyum hangat. “Saya berjanji, Kek. Saya akan menjaga Dasha, mencintainya, dan memperlakukannya lebih dari saya memperlakukan diri saya sendiri,” ucapnya dengan penuh keyakinan. Ivan membalas anggukan itu dengan tatapan puas. Ia lalu menyerahkan tangan Dasha kepada Dimitri sebelum berbalik dan melangkah turun dari altar menuju kursinya yang berada di samping Artur dan Sergio Callahan, kakek Dimitri. Kini, di hadapan pastor dan para tamu undangan, Dimitri dan Dasha berdiri berdampingan. Wajah mereka saling menatap dalam, bersiap untuk mengucap janji suci dalam pemberkatan pernikahan. Sang pastor membuka upacara dengan membacakan doa dan penggalan kitab suci yang berbicara tentang makna dan keagungan pernikahan. Setelah selesai membaca, pastor menoleh kepada Dimitri. “Dimitri Callahan, apakah engkau datang ke tempat ini dengan penuh kerelaan hati untuk menerima Dasha Lennox sebagai istrimu, dan berjanji mengasihi serta menjaganya, baik dalam suka maupun duka, dalam sehat maupun sakit, sampai akhir hayatmu?” “Ya, saya bersedia,” jawab Dimitri dengan lantang dan penuh keyakinan. Pastor kemudian mengalihkan pandangannya kepada Dasha. “Dasha Lennox, apakah engkau datang ke tempat ini dengan penuh kerelaan hati untuk menerima Dimitri Callahan sebagai suamimu, dan berjanji mengasihi serta menjaganya, baik dalam suka maupun duka, dalam sehat maupun sakit, sampai akhir hayatmu?” Dasha sempat terdiam sejenak. Ia melirik Dimitri yang memberinya senyum lembut dan menenangkan. Tatapan itu membuat hatinya menguat. Ia menarik napas, lalu menjawab dengan suara mantap, “Ya, saya bersedia.” Pastor menatap para tamu undangan dengan senyum penuh berkah. “Dengan otoritas yang diberikan kepada saya, saya nyatakan kalian sebagai suami dan istri. Dimitri Callahan, silakan mencium pengantinmu.” Dimitri perlahan menghadap Dasha yang berdiri gugup di hadapannya. Jantung Dasha berdebar tak karuan sejak tadi. Saat tangan Dimitri menyentuh bahunya dengan lembut, tubuhnya refleks tersentak kecil. Ia mendongak, menatap wajah pria yang kini resmi menjadi pasangan hidupnya. Masih terasa seperti mimpi bahwa mereka benar-benar berdiri di altar bersama. “Izinkan aku menciummu, Istriku,” bisik Dimitri lembut. Para tamu mulai bersorak pelan, menantikan momen sakral yang penuh cinta itu. Setelah Dasha memberikan anggukan kecil, Dimitri mendekat dan melingkarkan lengannya di pinggang sang istri. Bibirnya kemudian menyentuh bibir Dasha dalam sebuah ciuman lembut. Dasha spontan memejamkan mata, membiarkan dirinya larut dalam hangatnya ciuman itu. Tidak seperti ciuman sebelumnya yang penuh emosi, kali ini terasa manis, tenang, dan tulus. Riuh tepuk tangan dan sorakan bahagia dari para tamu ikut bahagia setelah menyaksikan janji suci yang sakral itu. Dimitri dan Dasha melepaskan ciumannya dan tersenyum lebar, membalas tatapan penuh suka cita dari orang-orang yang menyaksikan hari bahagia mereka. Tiba-tiba, layar LCD besar yang semula menampilkan foto-foto prewedding Dimitri dan Dasha, berubah secara drastis. Gambar berganti menjadi foto-foto Dasha bersama Nikolai. Ada tanggal, bulan, dan tahun saat foto itu diambil. Yang paling mencolok, foto Dasha mencium pipi Nikolai di pantai, dengan wajah Nikolai yang terlihat sangat jelas. Setelah itu, gambar berganti menjadi foto Dasha bersama Dimitri saat di bandara. Lengkap dengan tanggal, bulan, dan tahunnya juga. Suasana seketika menjadi hening sebelum berubah menjadi riuh. Para tamu terkejut, saling melirik, dan mulai berbisik satu sama lain. Sebagian mengernyitkan dahi, lainnya menatap tak percaya ke arah layar. Dimitri dan Dasha, yang tengah berbincang santai dengan para tamu, otomatis ikut menoleh ke arah layar. Keduanya saling menatap dengan ekspresi terkejut. Dasha yang langsung sadar siapa dalang di balik semua ini, mengepalkan tangannya dengan emosi yang memuncak. Pandangannya menyapu tamu undangan mencari sosok Nikolai, namun pria itu sudah menghilang entah ke mana. "Sialan! Nikolai benar-benar sudah kelewatan. Ini belum selesai. Aku pastikan dia akan menyesal!" geram Dasha dalam hati. Ivan, Sergio, dan Artur segera mendekat ke arah pengantin baru itu. Wajah Ivan tampak serius, sorot matanya tajam menatap sang cucu. Ia berdiri di hadapan Dasha, lalu berkata dengan suara tegas namun terkendali, “Sasha, Kakek beri kamu kesempatan. Jelaskan semuanya sekarang juga!” Bersambung ....
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN