Dasha mengangguk pelan menanggapi perintah Ivan. Wajahnya tetap tenang, meski di dalam hati amarahnya sudah membara. Andai bukan hari pernikahannya, mungkin dia sudah pergi mencari Nikolai dan menghajarnya sampai tak bisa berdiri lagi.
Tatapannya menyapu para tamu hingga berhenti pada sosok yang tak asing. Laura, perempuan yang berselingkuh dengan Nikolai. Perempuan itu berdiri sendiri dengan ekspresi puas seolah menikmati kekacauan yang terjadi.
Dengan langkah anggun tapi penuh ketegasan, Dasha berjalan mendekati Laura. Tanpa sadar, Laura baru menyadari kehadiran Dasha saat wanita itu sudah berdiri tepat di hadapannya.
Seketika ekspresi Laura berubah menjadi datar, mencoba menyembunyikan kegugupannya. Namun Dasha hanya menatap tajam dan dingin.
“Ke mana pacar mokondomu itu?” ucap Dasha, suaranya tegas dan penuh tekanan.
Flashback on
Perjalanan pulang kali ini terasa berbeda bagi Dasha. Tempat duduknya kini berada di kelas bisnis, jauh lebih nyaman dibandingkan sebelumnya yang hanya di kelas ekonomi. Rupanya semua itu sudah diatur diam-diam oleh Dimitri. Dasha sempat berniat berhemat dengan membeli tiket kelas ekonomi agar tak perlu memakai uang keluarganya, tapi akhirnya ia memutuskan untuk menikmati fasilitas yang sudah ada, toh semuanya sudah terlanjur dibayar.
Lagipula, pikirannya sudah berubah. Setelah hubungannya dengan Nikolai benar-benar tak bisa diselamatkan, ia tak ingin terus menyiksa diri sendiri.
Saat Dasha hendak memejamkan mata untuk tidur sejenak, seorang pramugari berpenampilan mencolok tiba-tiba berdiri di depannya. Tanpa sepatah kata pun, wanita itu menyodorkan secarik kertas pada Dasha. Setelah memastikan kertas itu berpindah tangan, pramugari itu segera berbalik dan pergi.
Dasha mengernyit bingung. Ia memandangi kertas di tangannya, lalu perlahan membukanya dan mulai membaca isinya.
Temui aku di dekat toilet. Aku ingin bicara denganmu. Ini penting!
Itulah isi singkat pesan yang ditinggalkan Laura sebelum berlalu.
Namun bukannya menuruti ajakan itu, Dasha justru meremas kertas kecil tersebut hingga membentuk bola, lalu melemparkannya sembarangan tanpa peduli.
"Siapa dia kira dirinya? Berani-beraninya menyuruhku datang. Dasar wanita muka tembok!" gerutu Dasha pelan. Ia menghela napas kesal, membetulkan posisi duduknya, lalu menyandarkan kepala ke sandaran kursi, berusaha melupakan gangguan itu.
Saat matanya hampir terpejam, tiba-tiba terdengar teriakan disertai sensasi basah yang mengalir di bagian perutnya. Begitu membuka mata, Dasha mendapati Laura telah menumpahkan segelas wine ke bajunya.
"M-maaf, saya nggak sengaja," ujar Laura cepat, sambil berpura-pura panik membersihkan noda dengan tisu. Tapi bukannya bersih, cairan merah itu justru semakin menyebar, lebih mengotori bagian baju Dasha.
"Hentikan!" bentak Dasha sambil menepis tangan Laura dan mendorongnya menjauh.
Tanpa menghiraukan wanita itu, Dasha segera bangkit dari tempat duduk dan berjalan menuju toilet. Sementara di belakangnya, Laura menyeringai licik, lalu dengan tenang mengikuti langkah Dasha.
Di dalam toilet, Dasha menggosok bajunya dengan kesal, berusaha menghapus noda wine yang membekas. Namun, upayanya sia-sia. Noda itu tak juga hilang sepenuhnya. Frustrasi, ia akhirnya membiarkannya, lalu mencuci tangannya dan keluar dari bilik toilet.
Di luar, Laura sudah berdiri menunggunya dengan ekspresi tenang.
"Kamu sengaja 'kan, numpahin wine ke bajuku?" sindir Dasha tajam, tatapannya menusuk.
Laura hanya menanggapinya dengan senyum tipis, sama sekali tak menunjukkan rasa bersalah.
"Aku sudah berusaha bicara baik-baik, tapi kamu malah songong dan jutek. Nggak heran Nik akhirnya berpaling darimu," jawab Laura dengan nada sinis.
Dasha mengepalkan tangannya, menahan dorongan untuk menarik rambut wanita di hadapannya.
"Kau mau Nik? Silakan ambil. Aku nggak butuh cowok sampah macam dia. Lagian kalian cocok kok ... wanita pelakor dan pria mokondo. Pasangan b******k yang sempurna," balas Dasha ketus, melontarkan istilah gaul yang membuat Laura kebingungan. Istilah gaul itu ia dapatkan dari sahabatnya.
Laura mengerutkan dahi. "Pelakor dan mokondo? Maksudmu apa? Kamu lagi ngatain aku dan Nik, ya?" tanyanya, tak kalah tajam.
“Kau nggak perlu tahu, pelakor! Ambil aja Nikolai. Urusan kita sudah selesai,” ujar Dasha tajam, lalu berbalik hendak kembali ke tempat duduknya. Namun Laura kembali menghalangi langkahnya.
“Aku belum selesai ngomong,” ucap Laura dengan nada licik. “Mau tahu kenapa Nik bisa jatuh ke pelukanku?”
Dasha mendengus kesal. “Aku nggak peduli. Aku dan Nikolai udah nggak ada hubungan apa-apa. Bahkan kalau kalian mau pamer adegan ranjang di depan umum pun, aku nggak peduli.”
Ucapan Dasha membuat Laura tersinggung, tapi ia tetap tak membiarkannya pergi.
“Pantes aja Nik berpaling. Kau terlalu angkuh dan kaku. Dia pernah bilang, kau bahkan nggak ngizinin dia cium bibirmu, apalagi kalau dia ngajak yang lebih dari itu ... selalu kau tolak. Kau pikir pria nggak butuh perhatian fisik? Sepuluh tahun hubunganmu sama Nik nggak ada artinya dibanding dua bulan bersamaku. Kami udah tidur bareng beberapa kali. Kasihan banget kamu,” tutur Laura, penuh rasa bangga dan sinis.
Mendengar ucapan Laura, Dasha justru terkekeh dingin. “Luar biasa,” katanya dengan nada sarkastik. “Baru kali ini aku lihat orang sebegitu tak tahu malunya. Bangga, ya, bisa tidur sama tunangan orang? Parah banget, nggak ada obat.”
Dengan tatapan tajam, Dasha lalu mendorong tubuh Laura ke samping, menyingkirkan halangannya, dan berjalan pergi tanpa menoleh lagi.
Laura hanya bisa mengepalkan kedua tangannya dengan wajah memerah karena marah dan malu. Ia tak menyangka Dasha tidak goyah sedikit pun. Di benaknya, ia mengira Dasha adalah tipe perempuan lemah yang mudah diinjak. Tapi ternyata, ia salah besar.
Flashback off
Menyadari banyak pasang mata tertuju padanya dan Dasha, Laura sempat terlihat gugup. Tapi rasa canggung itu cepat menghilang, tergantikan oleh sikap percaya dirinya. Ia mengangkat dagunya dengan pelan.
“Saya tidak tahu siapa yang Anda maksud, Nona. Saya hanya hadir sebagai tamu undangan. Saya datang bersama rekan-rekan sesama pramugari,” jawab Laura dengan suara halus, sambil melirik ke arah rekannya yang berdiri tak jauh. Ia berlagak polos, seolah tidak tahu-menahu apa pun.
Dasha hanya bisa memutar bola matanya. “Drama apa lagi ini?!” gerutunya dalam hati. Lalu ia bertanya, “Kamu tahu ke mana Nikolai pergi?”
Laura perlahan menggeleng. “Saya tidak tahu siapa yang Anda bicarakan. Kalau maksud Anda adalah co-pilot Ryker ... sepertinya sejak tadi beliau memang tidak terlihat di sini,” sahutnya tenang.
Sementara itu, suasana di antara para tamu masih ramai dengan bisik-bisik. Meskipun layar LCD sudah dimatikan sejak beberapa menit lalu, foto-foto Dasha bersama pria lain yang tadi ditampilkan masih menjadi bahan perbincangan mereka.
Dasha melangkah makin dekat hingga hanya berjarak sejengkal dari Laura. Ia membungkuk sedikit dan berbisik di telinganya, “Beri tahu aku ke mana Nikolai. Kalau tidak ... kariermu bisa tamat!”
Laura hanya menanggapinya dengan ekspresi santai, sama sekali tak terpengaruh. Bagi Laura, ancaman itu tak lebih dari gertakan semata, apalagi Dasha bukan orang yang punya wewenang menjatuhkannya. Selain itu, pamannya merupakan kepala manager bandara tempatnya bekerja.
“Kau pikir aku akan takut hanya karena ucapanmu itu? Jangan mimpi,” balas Laura dengan suara rendah tapi tajam. “Kau cuma kebetulan jadi istri Kapten Callahan. Aku penasaran apa yang kau tawarkan padanya sampai dia mau menikahimu.” Ia lalu mendekat sedikit, matanya melebar seolah terkejut namun nadanya justru menusuk. “Oh, hampir lupa ... kalian 'kan sempat tidur bareng di Sorevia, ya? Jangan-jangan pernikahan buru-buru kalian ini karena kau hamil anaknya?”
Plak!
Dengan penuh amarah, Dasha melayangkan tamparan keras ke pipi Laura. Suara tamparan itu menggema, membuat semua mata langsung tertuju pada mereka dengan ekspresi terkejut.
Dimitri, yang berdiri tak jauh dari sana, segera melangkah cepat ke arah Dasha dan menggenggam tangannya dengan lembut. Tatapannya menusuk ke arah Laura, namun berubah tenang saat menatap Dasha.
“Kamu nggak apa-apa? Tangan kamu nggak sakit, 'kan?” ujarnya, lalu mengecup pelan telapak tangan Dasha.
Momen manis itu sontak membuat para tamu undangan terhanyut dalam suasana, meskipun ketegangan masih terasa di udara.
Dasha menggeleng pelan, lalu menarik tangannya dengan pipi yang mulai merona malu. Amarahnya yang tadi menggelegak seketika reda, semua karena kehadiran dan perhatian Dimitri di sisinya.
Sementara itu, Nikolai muncul ditarik paksa oleh beberapa orang suruhan Dimitri membuat para tamu undangan mengalihkan pandangan. Melihat wajah Nikolai membuat mereka paham siapa pria itu sebenarnya.
"Lepaskan aku! Aku tidak bersalah!" ucap Nikolai, berusaha untuk melepaskan dari dua bertubuh besar darinya.
Kedua orang suruhan Dimitri lalu melepaskan tubuh Nikolai tepat di depan sang bos. Semua tamu undangan menyaksikan suasana menegangkan tersebut.
“Katakan yang sebenarnya! Kau yang sengaja menampilkan foto-foto itu di layar, 'kan?” tanya Dimitri dengan nada tajam dan penuh tekanan.
Bersambung ....