Nikolai membalas tatapan Dasha sejenak sebelum akhirnya menatap lurus ke arah Dimitri. “Benar, tapi saya punya alasan pribadi, Kapten. Wanita yang Anda nikahi hari ini sebenarnya adalah wanita yang seharusnya menikah dengan saya. Tapi dia membatalkannya secara sepihak dan tiba-tiba memilih Anda sebagai pengganti,” ucapnya, mencoba mengungkapkan aib Dasha di hadapan semua orang.
Dasha mengepalkan tangannya, berusaha menahan emosi. Dimitri segera menggenggam tangannya erat, memberikan ketenangan lewat sentuhan hangatnya.
“Dan apakah kau tahu alasan di balik keputusan Dasha membatalkan pernikahan kalian?” tanya Dimitri dengan suara yang tenang namun menusuk.
Tak jauh dari situ, Ivan dan Artur tampak tak bisa menahan emosi mereka. Mereka ingin sekali maju dan memberi pelajaran pada Nikolai yang telah merusak acara bahagia ini. Namun Sergio segera menahan mereka.
“Tenang saja, Van ... Artur. Biarkan Dimi yang tangani,” kata Sergio dengan nada tenang namun meyakinkan.
Ivan mengangguk pelan. Ia sebenarnya bisa saja langsung membubarkan para tamu dan menghentikan tontonan memalukan ini, tapi ia tak ingin nama baik keluarga, terutama cucunya ternoda karena ulah si buntut monyet itu, Nikolai.
Dimitri kini menoleh ke arah Dasha yang berdiri di sisinya. Jemarinya masih erat menggenggam tangan sang istri, enggan melepaskan.
“Benarkah apa yang dikatakan Tuan Ryker, Sasha? Kamu seharusnya menikah dengannya hari ini, dan aku hanyalah pengganti? Apakah aku tak lebih dari pria cadangan bagimu?” tanyanya dengan nada tenang namun sarat emosi, sorot matanya sulit ditebak.
Di sisi lain, senyum tipis terukir di wajah Nikolai. Ia merasa di atas angin, yakin bahwa Dasha pada akhirnya akan kembali padanya.
Dasha memandangi Dimitri dengan lembut, lalu mengalihkan pandangannya ke Nikolai dengan tatapan penuh jijik.
“Ya. Saya memang berniat menikah dengan Tuan Ryker hari ini,” ucap Dasha sambil berhenti sejenak, memberikan ruang untuk keheningan yang menggantung.
Tamu undangan yang mendengar pernyataan itu tampak terkejut. Beberapa menggeleng tak percaya. Sementara itu, Nikolai tersenyum lebar, merasa puas karena Dasha tidak membantah ucapannya.
“Tapi ... rencana pernikahan itu sudah saya batalkan sejak tiga minggu lalu. Setelah saya sendiri melihat tunangan saya, Tuan Ryker ... b******u mesra dengan wanita yang sekarang berdiri di sana,” ucap Dasha lantang, sambil menunjuk ke arah Laura.
Laura langsung menundukkan kepala, berusaha kabur saat tatapan para tamu mulai penuh cela dan cemooh. Namun, langkahnya cepat dihentikan oleh penjaga yang bekerja di bawah Ivan.
“Bohong! Itu fitnah. Dia memfitnah saya. Saya tidak pernah melakukan hal seperti itu, dan saya bahkan tak kenal dengan wanita itu!” Nikolai membela diri dengan suara meninggi.
Dasha hanya terkekeh pelan, nyaris mengejek. Dimitri masih terdiam, membiarkan Dasha mengambil kendali atas situasi yang memanas itu.
“Fitnah, katamu?” balas Dasha dengan suara sinis. “Menurutmu apa untungnya bagi saya menyusun cerita seperti ini, Tuan Ryker?”
"Jelas ada untungnya,” sahut Nikolai tajam. "Kau mendapatkan pria kaya seperti Kapten Callahan. Kau tinggalkan aku hanya demi kekayaannya. Jangan kira aku tak mengerti cara berpikirmu, Dasha. Kau sama saja seperti wanita materialistis lainnya ... lebih memilih hidup mewah daripada setia. Kau cuma kasir supermarket, tapi bermimpi menjadi Cinderella.”
"Artur, maju!" perintah Ivan, suaranya bergetar menahan amarah. Ia sudah tak sanggup lagi mendengar hinaan kejam yang ditujukan pada cucu bungsunya. Dengan geram, ia memerintahkan cucu sulungnya untuk turun tangan.
Tanpa ragu, Artur melangkah cepat ke depan dan langsung melayangkan pukulan keras ke wajah Nikolai. Karena tidak siap, tubuh Nikolai terpental ke samping, menabrak kursi dengan keras. Laura sempat ingin menolong, namun buru-buru mengurungkan niatnya. Ia tak ingin ikut terlibat lebih jauh dalam kekacauan itu.
"b******k! Siapa kau berani-beraninya memukulku, hah?!" bentak Nikolai sembari terhuyung, mencoba berdiri dengan wajah memerah.
Para tamu undangan yang sempat berseru kaget kini terdiam tegang. Sebagian dari mereka mulai melangkah kaki pergi, namun para penjaga menahan mereka dengan sopan namun tegas, mencegah agar tidak ada berita hoax tersebar ke luar.
Sementara itu, Dimitri tetap tenang menyimak semuanya. Dasha sibuk menelepon seseorang, sementara Artur masih berdiri tegap di depan Nikolai.
"Siapa aku?" Artur menyeringai dingin. "Aku adalah nenek moyangmu yang dikirim khusus untuk memberimu pelajaran tentang akibat menyebar fitnah!" Ia hampir saja melayangkan pukulan kedua, tetapi kali ini Dimitri segera menahan lengannya.
"Sudah cukup, Art," bisiknya pelan tapi tegas. "Orang seperti dia lebih pantas menerima hukuman batin daripada sekadar tamparan fisik. Serahkan semuanya padaku dan istriku."
Artur mengangguk mantap, lalu menepuk bahu sahabatnya dengan keyakinan penuh. Ia percaya sepenuhnya bahwa sahabat yang kini menjadi adik iparnya itu mampu menyelesaikan semua kekacauan dengan kepala dingin.
"Saya minta seluruh hadirin untuk mengarahkan perhatian ke layar. Ada sesuatu yang menarik untuk disaksikan," ucap Dasha lantang, memecah suasana yang sempat membeku.
Semua mata kini tertuju ke layar besar yang tadinya gelap. Perlahan, layar menampilkan rekaman CCTV koridor lantai hotel Das Vellurium, Sorevia, tepat di depan kamar 2425.
Dalam video itu, terlihat Laura muncul di koridor, menoleh ke kiri dan kanan seolah memastikan tak ada yang melihatnya, lalu mengetuk pintu kamar. Tak lama, seorang pria wajahnya buram akibat sudut kamera membukakan pintu, menarik Laura ke dalam, lalu menutup pintunya rapat. Lima menit berlalu dalam sunyi. Tak ada tanda-tanda Laura keluar dari kamar itu.
Mata Laura membelalak. Ia menatap Nikolai, yang terlihat semakin tegang. Keringat dingin mulai membasahi pelipisnya. Pandangan keduanya saling bertemu, panik dan rasa ketakutan terpancar jelas.
Video berlanjut. Kali ini, Dasha muncul di rekaman. Ia berhenti di depan kamar yang sama, mengeluarkan kartu akses dari sakunya dan mendorong pintu perlahan. Begitu pintu terbuka, Dasha masuk dan menutup pintunya kembali. Semua terekam tanpa satu pun potongan.
Dalam rekaman, koridor kembali sepi. Namun kegaduhan nyata kini mulai mengguncang di taman.
Nikolai tampak mulai bergerak mundur, berniat melarikan diri dari situasi yang makin sulit. Namun sekali lagi, anak buah Dimitri sudah bersiaga dan langsung menghadang, menatapnya dengan dingin penuh ancaman. Tak ada celah untuk kabur kali ini.
Kali ini, rekaman CCTV menampilkan Dasha yang keluar dari kamar dengan ekspresi marah dan menangis, diikuti oleh Nikolai yang tampak berusaha memberikan penjelasan sambil mengejarnya. Berbeda dari sebelumnya, wajah Nikolai terlihat sangat jelas di bagian rekaman ini. Tidak bisa disangkal ataupun dibantah.
Ketika video berhenti, suasana acara pernikahan dipenuhi gumaman tak percaya. Para tamu undangan serempak menatap tajam ke arah Nikolai dan Laura, ekspresi mereka berubah menjadi jijik dan kesal.
"Anda semua telah menyaksikan sendiri," ucap Dasha dengan suara lantang dan tenang. "Rekaman CCTV tadi membuktikan segalanya. Saya tidak pernah memfitnah Tuan Ryker ... semua yang saya katakan adalah kebenaran. Kalian lihat sendiri siapa wanita yang bersamanya di dalam kamar." Ia mengangkat tangannya, menunjuk ke arah Laura yang kini hanya bisa berdiri lemas, menunduk dalam rasa malu.
"Tuan Ryker telah berselingkuh. Dan itulah alasan sebenarnya mengapa pernikahan kami dibatalkan. Bukan karena saya menginginkan pria lain secara tiba-tiba. Saya menikah dengan suami saya bukan karena ia pengganti siapa pun," lanjutnya tegas, suaranya bergetar dengan emosi namun tetap terkontrol.
"Saya memilih menikah dengannya karena kami berdua saling menginginkannya. Kami sudah saling mengenal selama dua belas tahun. Keluarga kami dekat dan hubungan ini bukan sesuatu yang instan. Ini adalah hasil dari perjalanan yang panjang."
Setelah kata-kata itu, Dasha menoleh dan menatap lembut ke arah Dimitri. Pria itu membalas tatapannya dengan senyum tipis namun penuh makna, sebuah pengakuan diam-diam bahwa ia bangga pada keberanian istrinya.
Para tamu undangan memberikan tepuk tangan kecil yang terdengar tulus. Penjelasan Dasha yang lugas dan penuh keteguhan berhasil menyentuh hati mereka. Kini, mereka sepenuhnya yakin bahwa pernikahan antara Dasha dan Dimitri bukanlah hasil pelarian dari luka, melainkan pertemuan dua jiwa yang memang telah ditakdirkan untuk bersama sejak lama.
Usai semua penjelasan, Dasha dan Dimitri dengan rendah hati memohon maaf atas kericuhan yang sempat terjadi di tengah acara bahagia mereka. Ivan dan Sergio pun turut angkat bicara, meminta maaf atas kejadian yang kurang mengenakkan dan memohon kepada para tamu agar tidak menyebarluaskan apa yang telah mereka saksikan. Mereka ingin menjaga martabat kedua keluarga dan mencegah rumor liar beredar.
Para tamu satu per satu mulai meninggalkan tempat dengan pemahaman yang utuh dan hati yang lega. Suasana pun perlahan mereda.
Namun, di depan Dasha dan Dimitri, Nikolai masih terduduk di atas rumput dengan pandangan kosong. Semua yang ia miliki telah lenyap. Nama baik, hubungan, dan harga diri. Tapi pikirannya tak bisa diam. Ada sesuatu yang terasa ganjil, sesuatu yang belum bisa ia cerna sepenuhnya.
Bagaimana bisa pria seperti Dimitri Callahan, seorang pewaris terpandang sekaligus kapten pilot yang sangat disegani mengenal wanita sederhana seperti Dasha? Bagaimana mungkin rekaman CCTV dari hotel sekelas Das Vellurium bisa didapatkan dengan mudah, apalagi tanpa izin pemilik? Dan yang paling membingungkannya, bagaimana Dasha bisa memiliki kartu akses ke kamarnya?
Dengan suara serak dan penuh curiga, Nikolai akhirnya angkat bicara, menatap Dasha penuh tanda tanya. "Di mana kau dapat rekaman CCTV sekaligus kartu akses kamarku, Dasha? Hotel itu terkenal ketat soal privasi. Tak mudah mendapatkan akses seperti itu.
Bersambung ....