14 | Just a Dream

2232 Kata

“Tidak selalu apa yang kita miliki, benar-benar tercipta untuk kita. Terkadang, takdir hanya ingin melihat sebuah pengenalan, bukan menjadikannya bersatu.”   Seina menutup lembaran buku catatan yang baru saja ia goreskan dengan tinta penanya. Dahinya mengerut, memikirkan apa yang baru saja ia tuangkan dalam catatan kecilnya. Kedua matanya melirik pintu kamar Tristan yang masih tertutup, lantas mendesah. Akhir-akhir ini, Seina memang gemar menulis. Entah itu isi hatinya atau apa pun yang ada dalam pikirannya saat itu. Dulu, kertas-kertas di dalam buku itu digunakan Seina untuk meninggalkan pesan buat Tristan. Dan Tristan akan menunggunya dengan khawatir kalau ia melanggar janjinya untuk pulang cepat.        Ya, itu sebelum Teressa datang, mengusik semuanya. Seina merindukannya. Tapi ti

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN