Clarina berdesis, bibirnya mengerucut menahan rasa kesal yang semakin menjadi-jadi. Nada dering ponselnya terus berbunyi, memecah keheningan malam yang seharusnya menjadi waktu istirahatnya. Ia berguling ke sisi lain ranjang, mencoba mengabaikannya, tetapi suara itu begitu menyebalkan, memaksa kesadarannya perlahan-lahan kembali. Ia tentu tahu jam berapa sekarang tanpa perlu melihat layar ponselnya. Ia bahkan bisa menebak dengan mudah siapa yang mencoba mengganggunya di waktu yang tidak masuk akal ini. Pandangannya masih berat, kelopak matanya enggan terbuka sepenuhnya. Tubuhnya terasa begitu lelah, pegal-pegal masih tersisa akibat jadwal syuting yang begitu padat seharian tadi. Ia baru saja memejamkan mata dua jam yang lalu, berharap bisa menikmati istirahat walau hanya sebentar. Namun,

