5. Tutor Period (3)

1446 Kata
Chapter 5 : Tutor Period (3) ****** SELURUH menteri pun secara serentak menundukkan kepala mereka dan berkata, “Terima kasih, Yang Mulia.” Sang Raja lantas mengangguk dan menjawab, “Ya. Tidak masalah.” Setelah Raja mengatakan itu, para menteri pun berdiri tegak kembali. Namun, Raja mulai melanjutkan, “Kalau setelah pengecekan nanti kalian tidak menemukan apa pun yang buruk atau mencurigakan, maka nona ini akan resmi menjadi perempuan yang diberi misi untuk menyusup ke Kerajaan Seiju. Ini adalah sebuah misi dari Kerajaan Hanju dan anggaplah ini sebagai sebuah pekerjaan untukmu, Nona.” Raja Zyran menatap Kikyo. Kikyo lantas mengangkat kepalanya dan menatap Raja Zyran dengan mata yang melebar. “A—Ah… Baik, Yang Mulia,” jawab Kikyo singkat, ia menundukkan kepalanya dengan sopan lagi. Raja Zyran pun mengangguk dan kembali tersenyum simpul. “Jika nanti kau resmi menjadi perempuan yang akan menyusup ke Kerajaan Seiju, seluruh pelatihanmu dilaksanakan di rumah Menteri Personalia saja. Kau bersedia, Jion?” Salah satu menteri yang berdiri di tengah-tengah, Tuan Jion, lantas melebarkan mata dan menundukkan kepalanya ke arah Raja, lalu mengangguk mengerti. “Baik, Yang Mulia. Suatu kehormatan bagiku apabila aku bisa melakukan sesuatu untuk negeri kita.” Mata Kikyo juga melebar. Rumah Tuan Jion…berarti sebuah istana bangsawan yang ada di ujung Desa Hondae. Kikyo pernah melihat rumah itu; rumah itu sangat besar dan luas. Itu adalah istana bangsawan yang tampak begitu megah. Kikyo selama ini tahu bahwa rumah itu adalah rumah milik Menteri Personalia, tetapi baru kali ini Kikyo melihat rupa menteri personalia itu secara langsung. Rambutnya berwarna mustard dan ia memiliki berewok yang tipis. Tubuhnya tinggi dan tegap. Ia cukup tampan untuk ukuran pria paruh baya. “Terima kasih,” jawab Sang Raja seraya memberikan seulas senyuman kepada Tuan Jion meskipun Tuan Jion tidak bisa melihat senyuman itu karena kepalanya tertunduk. “Sama-sama, Yang Mulia.” Tuan Jion pun mengangguk, lalu pria itu berdiri tegak lagi dan kembali ke posisinya semula. Yang Mulia Raja pun kembali melihat ke arah mereka bertiga—Kikyo, Tuan Dae, dan Tuan Yunho—lalu berkata, “Nona Kikyo, jika kau terpilih, kau nanti akan dilatih di rumah Jion sampai kau bisa tata krama, menyulam, dan lain sebagainya. Kau harus berlatih agar bisa lolos tes untuk menjadi seorang dayang di Seiju. Jangan khawatir, kau akan dijaga oleh Jion selama kau tinggal di rumahnya. Kau hanya perlu fokus belajar. Gunakanlah waktumu sebaik mungkin selama berlatih di sana. Kau hanya memiliki waktu sebanyak dua bulan. Apakah Yunho atau Dae sudah memberitahumu segalanya termasuk posisi dayang apa yang minimal harus kau incar?” Kikyo merunduk hormat dan mengangguk. “Sudah, Yang Mulia. Aku akan berlatih dengan sungguh-sungguh. Terima kasih atas kebaikannya, Yang Mulia.” “Hm.” Raja Zyran mengangguk. Namun, sesaat kemudian…tiba-tiba kedua mata Raja Zyran mulai menyipit tajam. Tatapannya pada Kikyo itu mendadak terasa setajam dan setipis silet. Senyuman di bibirnya juga tiba-tiba menghilang. “…dan jika kau berani berkhianat…” Mendengar suara berat Sang Raja beserta perkataannya yang terdengar mengintimidasi, suasana di aula itu tiba-tiba berubah jadi mencekam. Seluruh menteri, Tuan Dae, dan Kikyo lantas melebarkan mata di balik kepala mereka yang tertunduk. Tiba-tiba bulu kuduk mereka semua berdiri; mereka merinding akibat situasi yang mencekam itu. Kikyo yang tahu bahwa Raja Zyran sedang berbicara padanya jelas saja langsung merasa takut. Wajah Kikyo mendadak tegang; jantungnya berdegup kencang. Lidahnya kelu. Ia meneguk ludahnya dengan susah payah. Setelah itu, Sang Raja pun melanjutkan, “…aku sendirilah yang akan membunuhmu.” Kontan wajah Kikyo memucat. Tubuhnya mematung. Satu detik. Dua detik. Tiga detik. Kikyo pun kembali meneguk ludahnya dengan susah payah. Beberapa detik sudah berlalu. Namun, Kikyo tahu bahwa ia harus segera menjawab Sang Raja; ia tidak boleh diam saja meskipun ia merasa sangat takut. Raja Zyran dan seluruh kekuasaannya tentu bukanlah tandingan Kikyo. Kikyo yang hanya seorang diri di dunia ini—tanpa kehadiran kedua orangtuanya—tentulah harus menjaga dirinya baik-baik. Akhirnya, Kikyo pun mengangguk dan semakin menundukkan kepalanya. Ia pun memberanikan dirinya untuk menjawab Sang Raja. “Baik, Yang Mulia.” ****** Beberapa hari kemudian, di sinilah Kikyo, berdiri di depan sebuah rumah yang sangat besar dan luas bak istana milik Tuan Jion. Kikyo pernah melihat istana bangsawan ini dari kejauhan, tetapi tak pernah Kikyo sangka kalau suatu hari nanti Kikyo akan menginjakkan kaki ke dalamnya. Rumah ini merupakan sebuah bangunan besar yang dibangun dengan kayu dan batu sebagai bahan utamanya. Setelah pengecekan latar belakang yang dilakukan oleh para menteri, akhirnya Kikyo pun resmi menjadi perempuan yang akan menyusup ke Kerajaan Seiju. Kikyo pun mem-packing seluruh barang-barang pentingnya setelah Tuan Dae mengabarinya bahwa ia resmi terpilih. ‘Besok orang-orang dari kediaman Tuan Jion akan menjemputmu,’ kata Tuan Dae kemarin. Keesokan harinya—yaitu hari ini—benar saja. Ada sebuah kereta kuda yang bertengger di depan rumah Kikyo. Kikyo langsung keluar dari rumahnya dan gadis itu melihat ada seorang pengawal yang tengah berdiri di samping kereta kuda itu, menghadap ke arah Kikyo. Pengawal tersebut langsung memberikan salam kepada Kikyo dan mengatakan bahwa ia telah diperintah oleh Tuan Jion untuk menjemput Kikyo hari ini. Kikyo lantas mengangguk, merunduk hormat, lalu berterima kasih kepada pengawal itu. Gadis itu lantas mengangkat seluruh bawaannya (dengan dibantu oleh pengawal itu), memasukkannya ke kereta kuda, dan akhirnya mereka pun berangkat ke rumah Tuan Jion. Tak butuh waktu yang lama untuk sampai ke kediaman Tuan Jion. Buktinya sekarang Kikyo sudah berdiri di depan rumah Tuan Jion. Gadis itu memperhatikan rumah Tuan Jion dengan takjub. Rumah itu dibatasi oleh pagar kayu yang cukup tinggi dan kokoh. Kikyo berdiri di depan pagarnya; pagar itu sudah terbuka lebar tatkala kereta kuda yang Kikyo naiki sampai di sana. Barang-barang Kikyo sudah ada di dekat kakinya, sudah dikeluarkan semua dari dalam kereta kuda. Tak lama kemudian, sang pengawal—sekaligus kusir—di kereta kuda milik Tuan Jion itu pun mulai menghampiri Kikyo yang masih sibuk memperhatikan rumah Tuan Jion dengan kagum. Rumah itu memang luas sekali. Tidak bertingkat, tetapi sangat luas dan terdiri dari tiga bangunan panjang yang membentuk U. Sang pengawal itu pun berkata, “Nona? Mari masuk, Nona. Aku akan membantumu membawa barang-barangmu.” Kikyo tersentak dan langsung menoleh kepada pengawal itu. Matanya tampak membulat karena terkejut. “Eh? Oh, y—ya!” Kikyo mengangguk dengan cepat. “Baiklah. Terima kasih, Tuan.” “Ayo, Nona,” ajak pengawal itu seraya tersenyum kepada Kikyo. Ada tiga buah tas Kikyo yang telah ia jinjing. “Ba—baik,” ujar Kikyo, lalu ia mengangguk dan membalas senyuman pengawal itu. Sang pengawal lantas berjalan mendahuluinya setelah sebelumnya mempersilakan Kikyo untuk masuk melalui gestur tubuhnya. Kikyo pun masuk (melewati pagar yang tinggi itu) dan kini ia sudah berjalan di halaman rumah itu. Di sepanjang jalan, Kikyo terus saja terpesona, padahal tadi ia sudah menghabiskan banyak waktu untuk mengagumi rumah itu dari luar pagar yang terbuka. Ia memandang ke sekeliling area rumah bangsawan itu dan menemukan keindahan yang luar biasa. Bangunannya, halamannya yang luas, pepohonan serta taman bunganya, kolam ikannya, air mancur buatannya…semuanya bagus. Mewah. Terawat. Setelah berjalan melewati halaman rumah itu, Kikyo pun sampai di bagian terasnya. Kikyo naik ke teras rumah tersebut, lalu sang pengawal mulai mengetuk pintu berdaun dua yang ada di hadapan mereka. Setelah mengetuk pintu, sang pengawal pun lantas membuka pintu berdaun dua itu. Ia langsung membukanya karena mengira kalau saat itu di ruang tamu sedang tidak ada orang. Jam segini para pelayan memang sedang sibuk bersih-bersih dan memasak. Banyak yang sedang bekerja. Tepat ketika pintu rumah berdaun dua itu terbuka, Kikyo langsung melihat bahwa ternyata ada tiga orang di ruang tamu itu yang sedang duduk bersama. Mereka duduk beralaskan bantal duduk; mereka duduk di tengah-tengah ruangan. Mereka bertiga langsung menoleh kepada Kikyo dan sang pengawal tepat ketika pintu rumah itu terbuka. Di antara ketiga orang tersebut, ada Tuan Jion. Kikyo kontan membulatkan matanya. Ia langsung menatap pengawal yang berdiri di depannya, lalu ia melihat pengawal itu merunduk hormat kepada Tuan Jion. Sontak Kikyo pun melakukan hal yang sama. “Salam, Tuan. Nona Kikyo sudah sampai. Maafkan aku karena telah membuka pintu terlebih dahulu, Tuan,” ujar pengawal itu kepada Tuan Jion. Kikyo pun langsung berkata, “Selamat siang, Tuan.” “Hm,” deham Tuan Jion seraya mengangguk. “Angkat kepala kalian.” Setelah mendapatkan perintah dari Tuan Jion itu, Kikyo beserta pengawal itu pun menegakkan tubuh mereka kembali. Tuan Jion menatap pengawal itu dan berkata, “Bawa barang-barang Nona Kikyo ke kamar yang sudah disiapkan, ya.” “Baik, Tuan,” jawab pengawal itu. Ia dengan sigap menundukkan kepalanya, lalu pergi ke ujung sana. Menjauh dari mereka. Kikyo langsung menoleh kepada Tuan Jion lagi. Tuan Jion kini sudah berdiri berhadapan dengannya. Pria paruh baya itu lantas tersenyum kepada Kikyo. “Selamat datang, Nona Kikyo.” []
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN