6. Tutor Period (4)

1567 Kata
Chapter 6 : Tutor Period (4) ****** KIKYO kontan membelalakkan mata. Ia spontan menggerakkan kedua tangannya ke kanan dan ke kiri sebagai gestur untuk mengatakan ‘jangan’. “Tu—Tuan, maafkan aku, tetapi dari kemarin aku agak merasa aneh ketika dipanggil dengan sebutan ‘Nona’. Aku bukan bangsawan, Tuan. Panggil aku Kikyo saja.” “Tidak ada hubungannya dengan bangsawan, Nona,” ujar Tuan Jion, pria paruh baya itu tertawa renyah. “Yang Mulia Raja juga memanggilmu begitu.” “Iya dan hal itu membuatku merasa agak aneh, Tuan,” jawab Kikyo seraya menyatukan alisnya. Tuan Jion kembali tertawa. Tiba-tiba ada seorang gadis yang berlari mendekati Tuan Jion. Gadis itu tampak sangat excited, matanya berbinar-binar tatkala melihat Kikyo. Dia langsung berdiri di samping Tuan Jion, lalu dengan bersemangat dia berkata, “Ayah, apakah ini yang namanya Nona Kikyo? Nona yang akan latihan di rumah kita??” Oh, ini anaknya Tuan Jion, ya. Wah, cantik sekali. Rambutnya berwarna mustard, sama seperti rambut Tuan Jion. Setahu Kikyo, gadis itu sejak tadi memang duduk bersama Tuan Jion. Tuan Jion tadinya duduk bersama dua orang perempuan: yang satu tampak sudah separuh baya dan yang satunya lagi merupakan seorang gadis muda yang cantik. Jika gadis muda ini adalah anaknya Tuan Jion, maka yang satu lagi…adalah istrinya Tuan Jion. Kikyo menatap anak gadisnya Tuan Jion yang tampak seumuran dengannya itu, lalu merunduk hormat seraya tersenyum dengan sopan. “Halo, Nona.” Saat Kikyo mengangkat kepalanya kembali, Kikyo melihat istrinya Tuan Jion sudah melangkah juga ke samping Tuan Jion. Jadi, Tuan Jion sekarang berdiri di tengah-tengah istri dan anaknya. “Iya, ini Nona Kikyo,” jawab Tuan Jion; ia menatap anak gadisnya itu sejenak, lalu melanjutkan, “Ayo perkenalkan dirimu.” Anak gadisnya Tuan Jion itu lantas mengangguk dengan antusias kepada ayahnya, lalu menoleh kepada Kikyo dan mengulurkan tangannya di depan Kikyo. “Halo, Nona Kikyo. Namaku Yexian!” “Ah—iya, Nona, namaku Kikyo,” ujar Kikyo, matanya melebar dan ia menyambut uluran tangan Nona Yexian. “Panggil aku Kikyo saja, Nona.” Yexian terkekeh; dia cantik sekali. “Kalau begitu, kau juga harus menghilangkan embel-embel ‘Nona’ saat kau memanggilku. Panggil aku Yexian saja.” Mata Kikyo membulat sempurna. “T—Tapi, Nona, mana mungkin aku memanggilmu seperti it—” Yexian menggeleng kencang dan langsung memotong ucapan Kikyo, “Uh-oh, tidak boleh. Kau harus memanggilku Yexian supaya kita bisa jadi lebih akrab!” Kikyo menganga. Dua detik kemudian, Kikyo mendengar ada suara kekehan. Kikyo melihat ke samping Nona Yexian dan menemukan bahwa ternyata Tuan Jion beserta istrinya sedang terkekeh karena tingkah mereka. “Baiklah. Kalau begitu, mari kita sepakat untuk menghilangkan embel-embel ‘Nona’ di sini agar lebih akrab,” putus Tuan Jion kemudian. Tuan Jion pun tersenyum manis. Sontak mata Yexian berbinar. Semangatnya berkobar-kobar. Ia langsung melompat kecil karena kegirangan. “Hore!!” Setelah itu, Yexian langsung memeluk Kikyo dengan erat; gadis itu tertawa bahagia. Entah mengapa…sepertinya Yexian senang sekali atas kedatangan Kikyo ke rumahnya. “Salam kenal, Kikyo. Senang bertemu denganmu!” Kikyo, yang ngang-ngong saja dan sedang kebingungan itu, hanya bisa mengedipkan matanya berkali-kali bak orang t***l. Ini…betulan, nih, dia disambut dengan sehangat ini? ****** Sudah satu minggu sejak Kikyo tinggal di rumah Tuan Jion. Tidak ia sangka-sangka, ternyata kehidupannya di rumah Tuan Jion terasa begitu nyaman dan tenteram. Ia makan makanan enak setiap harinya bersama keluarga Tuan Jion, bermain dan mengobrol bersama Yexian, mengikuti kelas-kelas tutornya, dan tidur dengan nyaman di kasur yang sangat lebar dan empuk. Dia diperlakukan bak seorang nona muda di rumah itu, seperti tamu yang diistimewakan. Dia juga diberikan kamar yang bagus. Kikyo berpikir, mungkin alasan dia diperlakukan seperti ini adalah karena dia merupakan suruhan Raja yang sedang diberikan sebuah misi, tetapi jika dilihat-lihat lagi, sepertinya alasannya bukan hanya itu. Keluarga Tuan Jion memang merupakan keluarga yang baik hati. Tuan Jion itu tegas, tetapi dia tidak bersikap dingin kepada siapa pun. Dia mengajak Kikyo mengobrol dengan ramah setiap harinya meskipun biasanya dia akan terlihat saat makan pagi dan makan malam saja karena sibuk bekerja. Istri Tuan Jion juga begitu baik dan ramah kepada Kikyo. Namun, orang yang paling sering menghabiskan waktu bersama Kikyo adalah Yexian. Yexian hampir selalu berada di dekat Kikyo. Meskipun ia adalah seorang nona muda di istana bangsawan itu, Yexian selalu membantu Kikyo dalam kelas-kelas tutornya. Kikyo mengikuti beberapa kelas, yaitu Kelas Menyulam, Kelas Membaca Buku Klasik, Kelas Kosakata dan Baca Tulis Bahasa Seiju, dan Kelas Tata Krama. Kikyo akan mempelajari satu hingga dua kelas setiap harinya. Guru yang didatangkan untuk Kikyo hanyalah satu orang guru, tetapi guru itu benar-benar terampil dan terkenal di seantero Hanju. Dia adalah seorang perempuan berkacamata yang bernama Nyonya Yori. Selama mengikuti kelas-kelas Nyonya Yori, Yexian sering ikut duduk di dalam kelas untuk menemani dan membantu Kikyo. Setelah kelas berakhir, Yexian akan mengajak Kikyo untuk menghabiskan waktu berdua. Entah itu pergi ke kamar Yexian, ke kamar Kikyo, ke taman bunga, ataupun ke ruangan-ruangan lain yang ada di dalam istana itu. Mereka jadi berteman baik. Sangat baik, malah. Seperti saat ini. Kikyo baru saja keluar dari ruangan belajar—yang dijadikan sebagai ruang kelas di istana milik Tuan Jion—itu bersama Yexian di sampingnya. Mereka sedang berjalan di koridor. Kikyo menghela napas; tubuhnya membungkuk. Ia merasa lelah minta ampun karena hari ini ia banyak sekali mengalami trial dan error saat belajar tata krama. Wajahnya kelihatan begitu lelah. Dia kehabisan tenaga; energinya terkuras hingga nyaris habis. Yexian terkekeh ketika melihat Kikyo yang tomboi itu menghela napas lelah. Ternyata…bagi Kikyo, belajar tata krama lebih melelahkan daripada bermain gulat. Ya...soalnya gagal terus, sih. Kikyo, kan, orangnya sering membabi buta. Tomboi. Sebenarnya, mana bisa dia menjadi perempuan yang feminin dan sopan santun luar biasa seperti para dayang kerajaan. Makanya, profesi dayang itu patut diacungi jempol. Dia yang tomboi ini benar-benar sulit untuk mempelajari tata krama perempuan dengan benar. Yexian lalu mengusap punggung Kikyo dengan lembut. Ia tersenyum manis pada Kikyo, kedua matanya tampak nyaris tertutup seolah ikut tersenyum. “Sudah, sudah. Semangat, ya, Kikyooo! Besok kau pasti bisa melakukannya dengan lebih baik.” Kikyo menarik napasnya, lalu mengembuskannya lewat mulut. Mulutnya terbuka. Dia sampai-sampai memiliki kantung mata saking lelahnya. Agaknya, tubuhnya mulai mengeluarkan aura negatif. Dia kelihatan seperti baru saja keluar dari gua hantu. “Ergh… Susah sekali… Besok rasanya aku mau kabur saja…” Yexian sontak tertawa. Gadis itu menepuk pundak Kikyo singkat, lalu menutupi mulutnya yang sedang tertawa kencang. Ia benar-benar tertawa lepas seolah tak memiliki beban. “Ya ampuuuun. Ayo, deh, kalau begitu.” Yexian menatap Kikyo dengan antusias. Mata gadis itu terlihat berkilat sejenak dan ia menaikturunkan alisnya. “Ayo kita kabur, tetapi jangan sampai ketahuan Ayah!” Kikyo pun terkekeh. Dengan mata lelahnya itu, ia pun merespons Yexian dengan sebuah gelengan. “Tidak jadi, deh. Takutnya nanti aku dibunuh duluan oleh Raja Zyran, bahkan sebelum ayahmu memarahiku.” Yexian pun menghadap ke depan dan tertawa lagi. Setelah puas tertawa, gadis itu pun mengembuskan napasnya dengan lega. Ia sangat menikmati hari-harinya selama satu minggu terakhir. Kikyo orangnya lucu, tomboi, dan tidak membosankan. Yexian sebenarnya merupakan seorang putri bangsawan yang cantik, imut, baik, dan juga menyenangkan, tetapi ia selalu bertemu dengan putri-putri bangsawan yang terlampau menjaga image mereka. Jadi, Yexian tidak begitu memiliki teman selama ini. Makanya, ketika Yexian mendengar ada seorang gadis dari desa bernama Kikyo yang akan datang ke rumahnya untuk belajar, dia sangat senang sekaligus penasaran. Gadis dari desa…pasti sering bermain bersama teman-temannya yang ada di desa, bertualang, ataupun melakukan hal-hal yang seru di luar sana. Tidak seperti Yexian yang menghabiskan sebagian besar waktunya hanya di rumah. Yexian sangat gembira begitu mengetahui bahwa ia akan tinggal serumah dengan Kikyo yang berasal dari Desa Hondae. Selain itu, kata ayahnya, Kikyo ini adalah seorang pegulat yang hebat! Jelas saja ia jadi sangat menantikan kedatangan Kikyo. Beberapa detik kemudian, Yexian sedikit menunduk. Ia tersenyum dengan lembut, matanya melihat ke bawah—memandangi langkah kakinya sendiri—dengan menerawang. Sebenarnya, ia tidak benar-benar memandangi langkah kakinya sebab pikirannya sedang berkelana ke hal lain. Akan tetapi, tatapan mata Yexian itu terlihat…penuh kasih. Kedua mata indah milik Yexian yang berwarna hijau itu tampak begitu bersinar di bawah cahaya matahari senja itu. Bola matanya tampak seperti sebuah permata berwarna hijau yang sangat bening, indah, dan bercahaya. Rambut Yexian yang berwarna mustard itu juga ikut-ikutan bersinar di bawah cahaya matahari senja itu. Koridor yang sedang mereka lewati ini adalah area terbuka; di sisi kiri koridor itu ada sebuah taman dan air mancur buatan. Untuk yang kesekian kalinya, Kikyo sadar bahwa Yexian ini benar-benar cantik. Kikyo merasa terpukau untuk sesaat; ia betul-betul mengagumi kecantikan temannya yang satu ini. Akan tetapi, tiba-tiba saja Yexian berhenti berjalan. Kikyo lantas menaikkan kedua alisnya karena merasa heran. Gadis itu ikut berhenti melangkah, lalu ia menatap Yexian seraya memiringkan kepalanya. “Ada apa, Yexian?” Yexian hanya diam. Kikyo mengernyitkan dahi. Ia lantas kembali membuka suara, “Ye—” “Kikyo,” panggil Yexian tiba-tiba, memotong perkataan Kikyo. Mata Kikyo melebar. Setelah itu, Kikyo menyaksikan Yexian yang perlahan-lahan mulai menegakkan kepalanya kembali untuk menatap lurus-lurus ke wajah Kikyo. Yexian menatap Kikyo dengan lembut, tetapi ada sebuah rasa penasaran yang tersirat dari tatapan itu. Yexian bernapas samar. Dua detik kemudian, gadis itu pun kembali berbicara. “Setelah misimu selesai, apakah kita bisa bertemu lagi?” Mata Yexian berkedip satu kali, lalu gadis itu meneguk ludahnya perlahan. Matanya menatap Kikyo seraya menyimpan puluhan permohonan. “Atau…bisakah kita bertemu saat kau liburan ke sini?” []
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN