Chapter 7 :
Beauty of the Moon (1)
******
DUA MINGGU KEMUDIAN
“NONA Kikyo, tolong ulangi lagi,” ujar Nyonya Yori dengan tegas saat Kikyo menjatuhkan buku tebal yang ada di atas kepalanya. Suara Nyonya Yori terdengar hingga ke seluruh sudut ruangan meskipun dia tidak berteriak. “Jangan menjatuhkan buku yang ada di atas kepala Anda.”
Di balik kacamata tebalnya, tatapan mata Nyonya Yori tampak begitu tajam. Dia tidak membentak atau menghina Kikyo, tetapi dia akan selalu menatap Kikyo dengan tajam tiap kali dia mengajari Kikyo. Di tangannya, ia juga selalu memegang tongkat kayu kecil, membuatnya terlihat seperti nenek sihir yang tidak berjubah. Pakaiannya rapi, rambutnya disanggul, dan wajahnya sudah agak keriput. Nyonya Yori tidak akan membentakmu, tetapi tidak akan ada keringanan untukmu di setiap kelasnya. Dahulu, banyak muridnya yang tidak kuat mengikuti kelas-kelasnya yang superketat; mereka akan menangis atau bahkan kabur begitu saja. Namun, percayalah, tidak ada guru di Hanju (atau mungkin di seluruh area Haewa) yang sepintar dia. Dia dikenal sebagai pendidik bagi putra-putri bangsawan, termasuk anggota kerajaan.
Well, bagi para bangsawan saja itu sulit, apalagi bagi Kikyo yang merupakan warga biasa. Bagaimana tidak, Kikyo yang selama ini cara berjalannya seperti seorang pendekar, tiba-tiba disuruh berjalan dengan anggun seperti wanita bangsawan.
Kikyo pun mengambil buku tebal itu di lantai, lalu menaruh buku itu kembali ke atas kepalanya. Dia tertawa canggung, lebih kepada menertawakan dirinya sendiri.
“Punggung Anda harus tegap…” kata Nyonya Yori sambil mendorong punggung Kikyo dengan tongkat kayunya, membuat mata gadis itu membulat. Namun, punggung gadis itu memang langsung tegap kembali. “…seperti ini. Oke. Mulailah berjalan.”
Menarik napasnya dalam-dalam, Kikyo pun mulai berjalan lagi ke ujung ruangan, ke arah jendela.
“Tutup kakimu, Nona, wanita tidak berjalan dengan mengangkang.” Nyonya Yori berkomentar dengan suara yang besar.
Yexian yang duduk di ujung ruangan, di salah satu kursi, kontan tertawa terbahak-bahak. “Kikyoooo! Astagaaa! Jangan mengangkaaanggg! Hahahahaha!”
Urat-urat di leher dan pelipis Kikyo langsung keluar semua. Lagi-lagi dia tertawa hambar, menertawakan nasibnya yang amat s**l. Dia kesal sekali dengan pelajaran ‘berjalan-dengan-anggun’ ini, tetapi dia tak mau memperpanjang masalah dengan melawan Nyonya Yori. Syukur-syukur Nyonya Yori tidak menghinanya. Ingatlah, Kikyo! Ini adalah sebuah misi yang mempertaruhkan nyawa, jadi kau tidak boleh berteriak ataupun kabur lewat jendela meskipun itu terdengar sangat menggiurkan!
Oke, Kikyo sukses menahan dirinya, tetapi ekspresi wajahnya sudah kelihatan muak minta ampun.
Sial, lebih enak bertanding gulat daripada berjalan dengan anggun seperti ini. Semangat Kikyo jadi hilang total. Kalau tidak ada Yexian, pasti dia akan kehilangan motivasi hidup. Dia yang biasanya bersenang-senang dan tertawa lepas di desa bersama Kano, kini seakan-akan jadi kehilangan jati dirinya. Tidak adakah bagian di Kerajaan Seiju yang kerjanya di bidang kekuatan? Mengangkat pasokan makanan atau mengangkat kayu-kayu bakar, misalnya. Kikyo bekerja di situ saja, deh.
Maunya, sih, begitu.
Apa boleh buat, yang diperintahkan kepadanya adalah menjadi dayang istana, bukan menjadi tukang panggul.
Kikyo menoleh kepada Yexian yang terus menertawainya, lalu berdecak kesal kepada Yexian. “Berhentilah tertawa, Yexian, astaga! Kau mau mengajakku ribut, ya?!”
Sialnya, Yexian yang sudah kebal dengan ketomboian Kikyo itu justru semakin tertawa. Agaknya, Yexian juga jadi gila semenjak bergaul dengan Kikyo. Ke mana gadis manis yang waktu itu Kikyo kenal pertama kali? Tiga minggu bersama membuat kecanggungan di antara mereka betul-betul menghilang sekaligus membuat Yexian jadi gila.
Lagi pula, mengapa Yexian terus-terusan ada di setiap kelas yang Kikyo ikuti, sih? Gadis itu betul-betul menonton dan mengikuti setiap kegiatan Kikyo seolah-olah tidak ada kegiatan lain yang lebih menyenangkan untuknya.
“Kembalilah ke ruanganmu, Nona Yexian yang Terhormat,” ujar Kikyo dengan ekspresi datar. “Sampai kapan kau mau menontonku?”
“Umm…” Yexian pura-pura berpikir sebentar, lalu gadis itu kembali menatap Kikyo dan tersenyum manis. “Sampai kau selesai?”
Kikyo langsung menggeleng. “Kau benar-benar terhibur, ternyata.”
Yexian spontan tertawa. “Aku lebih senang menghabiskan waktu bersamamu. Kegiatan apa pun akan terasa seru jika ada kau.”
Kikyo menganga. “Memangnya aku pelawak?”
“Hahahahah! Kau mau jadi pelawak? Aku akan mendukungmu!” teriak Yexian.
“Gadis ini pasti sudah gila. Salahku. Iya, ini pasti salahku.” Kikyo berbisik pelan kepada dirinya sendiri seraya menggeleng tak habis pikir. Dia memandangi Yexian yang masih tertawa di ujung sana, entah apa yang begitu lucu. Mungkin, wajah Kikyolah yang lucu seperti badut.
Kikyo pun mendengkus, lalu mengalihkan pandangannya. Dia kembali menghadap ke arah jendela, siap mengikuti intruksi Nyonya Yori lagi.
“Baiklah, Nona, sekarang ulangi lagi. Tidak akan ada orang dari Istana Kerajaan Seiju yang mau merekrutmu dengan gaya berjalan seperti itu. Di sana, kau juga akan memakai rok, bukan memakai celana. Kau tidak akan lulus menjadi dayang kalau kau tidak memperbaikinya. Belajarlah dengan lebih serius,” jelas Nyonya Yori.
Buset.
Tajam sekali ucapannya!
Yexian menahan tawa, sementara Kikyo kontan kembali menganga.
Apa…katanya?
Bukankah dari tadi Kikyo sudah serius?
Nyonya Yori benar-benar tidak berbelas kasihan. “Ayo berdiri dengan tegap, Nona.”
Saat membenarkan posisi buku itu lagi di kepalanya, Kikyo mencengkeram buku itu sampai buku itu jadi penyok (dia kesal dengan buku itu karena terus terjatuh), tetapi Nyonya Yori tiba-tiba berkata, “Kalau buku itu hancur, saya akan memberikan Anda sebuah buku yang tiga kali lipat lebih tebal daripada buku itu, Nona Kikyo.”
Kikyo tersentak, matanya kontan membulat. Ada sebuah panah yang seakan-akan baru saja menusuk jantungnya.
Waduh.
Dengan tawa canggungnya, Kikyo pun berkata, “Ah—haha… Tidak kok, Nyonya. Bukunya belum rusak.” Kepalakulah yang mau rusak.
Ya bagaimana, ya, sampul buku itu sepertinya licin sekali. Buku itu jatuh terus dari kepala Kikyo dan membuat Kikyo stuck di pelajaran ini dari pagi sampai siang! Bisa diganti tidak, sih, bukunya?
“Baiklah. Mulailah berjalan. Tegakkan punggung serta kepala Anda. Melangkahlah dengan anggun dan stabil. Kerajaan Seiju adalah kerajaan yang besar; Anda harus punya kualifikasi yang luar biasa untuk bisa menjadi salah satu dayang di istana mereka. Tidak ada yang salah dengan buku itu, Anda sendirilah yang belum stabil.”
Kikyo mencoba untuk menghadapi Nyonya Yori. “Itu susah sekali, Nyonya. Kepala saya, kan, bentuknya bul—"
“Memangnya ada kepala manusia yang berbentuk persegi, Nona?” potong Nyonya Yori. Yexian spontan tertawa kencang di ujung sana. Oke, gadis itu memang menjadikan Kikyo sebagai badut. Mungkin, baginya Kikyo itu adalah pelawak pribadinya atau sesuatu sejenis itu.
Kikyo pun akhirnya menghela napas. Meskipun wajahnya sudah terlihat lelah dan enggan, ujung-ujungnya Kikyo tetap menjawab, “Baiklah…Nyonya.”
Oh, wahai Dewa Gulat yang mungkin badannya gendut, tolong selamatkan aku.
Nyonya Yori mengangguk. “Silakan ulangi lagi.”
Kikyo lantas mengulanginya hingga dua jam ke depan, sampai akhirnya ia bisa berjalan dengan benar. Ia baru diperbolehkan makan siang oleh Nyonya Yori setelah bisa berjalan dengan benar. Oleh karena itulah, mau tidak mau dia harus belajar dengan sungguh-sungguh atau perutnya akan keroncongan sepanjang hari.
Setelah selesai makan siang—sebenarnya saat itu sudah jam dua siang—Kikyo pun kembali menyambung kelasnya. Hari ini, setelah Kelas Tata Krama, Kikyo akan belajar kosakata dan baca tulis Bahasa Seiju.
Selama tiga minggu belakangan, hal yang paling sering diajarkan kepada Kikyo adalah baca tulis Bahasa Seiju. Dia akan pergi ke daerah Seiju, jadi dia harus belajar Bahasa Seiju sampai lancar. Bahasa Seiju dan Hanju sebenarnya tidak terlalu berbeda, tetapi tidak juga sama. Belajar baca tulis adalah hal yang urgensi untuk Kikyo. Dia harus menyusup ke daerah orang lain; dia harus berbaur di sana. Maka dari itu, hal pertama yang harus dia kuasai adalah: bahasanya.
Di kelas, Nyonya Yori—bersama Yexian—membantunya mengenal kosakata Bahasa Seiju. Kikyo juga belajar menulis meskipun tulisannya belum benar-benar rapi. Dia hanya punya waktu dua bulan, jadi dia harus menguasai semuanya dengan cepat.
Jemari tangan Kikyo juga banyak yang luka akibat tertusuk jarum saat mengikuti Kelas Menyulam. Sulaman Kikyo masih jelek minta ampun; terkadang, bunga yang dia buat malah terlihat seperti laba-laba bunting.
Di malam hari, Yexian sering tidur bersama Kikyo sambil membawa buku-buku klasik daerah Seiju untuk mereka baca bersama. Tuan Jion mencarikan buku-buku itu khusus untuk kegiatan belajar Kikyo. Buku-buku klasik itu biasanya memuat sejarah tentang daerah-daerah Seiju serta legenda-legenda apa saja yang ada di sana. Isi buku-buku itu cukup menarik, Kikyo akan membacanya dengan santai bersama Yexian (hitung-hitung sambil belajar) sebelum tidur.
Proses belajar Kikyo penuh akan trial dan error, tetapi meskipun sangat sulit, Kikyo tetap mengikutinya dengan tekun. Satu-satunya hal yang memotivasinya adalah: dia tak tahu bagaimana respons Raja Zyran apabila dia gagal tes. Jika tak mampu menjawab harapan Raja Zyran beserta para menterinya, Kikyo tak tahu dia akan dihukum seperti apa. Raja Zyran memang terkenal baik dan bijaksana, tetapi ada rumor yang mengatakan bahwa dia pernah membunuh tiga beruang sekaligus.
Bagaimanapun caranya, bagaimanapun sulitnya, dan bagaimanapun mengesalkannya, Kikyo harus lulus tes.
Kikyo harus berhasil menjadi dayang di Istana Kerajaan Seiju. []