8. Beauty of the Moon (2)

1258 Kata
Chapter 8 : Beauty of the Moon (2) ****** KALAU kemarin Kikyo baru selesai belajar pada jam tujuh malam (karena kelamaan belajar berjalan dengan anggun), hari ini Kikyo selesai belajar di sore hari. Sore, saat sinar matahari tidak terik lagi, sekitar jam setengah lima sore. Senja belum tiba, jadi Kikyo dan Yexian masih memiliki waktu luang sebelum mandi dan makan malam. Yexian lantas mengajak Kikyo ke taman yang ada di tengah-tengah bangunan rumahnya. Taman terbuka itu berbentuk persegi dan dikelilingi oleh koridor; di tengah-tengah taman itu terdapat sebuah air mancur. Banyak sekali bunga yang tumbuh di taman itu. Tukang kebun di rumah Yexian benar-benar merawatnya setiap hari. Yexian dan Kikyo duduk di pinggir taman, di sebuah kursi panjang yang menghadap ke air mancur. Mereka baru saja duduk di sana setelah berkeliling melihat bunga. Rasanya, sudah tiga minggu Kikyo tinggal di rumah Yexian, tetapi baru kali inilah Kikyo benar-benar melihat bunga-bunga itu dari dekat. “Huaaaah, melelahkan sekaliii!” Yexian mengangkat kedua tangannya ke atas, lalu meregangkan otot-ototnya. Dia melakukan itu sambil tersenyum. “Akhirnya, kita bisa bersantai jugaaa!” “Hahaha!” Kikyo tertawa lepas. “Perasaan, sejak tadi kau hanya sibuk menontonku, deh.” Yexian ikut tertawa. “Kan menonton itu melelahkan juga, Kikyooo! Aku lelah melihatmu salah terus.” Kikyo berdecak. “Oi! Kok malah jadi kau yang lelah?! Lagi pula, sejak kapan kau jadi suka mengejek begini?!” Yexian lagi-lagi tertawa. “Sejak ada kau di sini! Aku, kan, selalu mengikutimu ke mana-mana. Lihat, tidakkah aku merupakan seorang teman yang luar biasa?” Kikyo mendengkus, lalu memasang wajah datar. “Luar biasa apanya? Kalau begitu, ayo ikut aku ke kloset juga. Biar kita buang air besar berdua sekalian.” Tanpa diduga, mata Yexian justru berbinar. “Kita mandi berdua saja, bagaimana? Di sebelah timur ruangan Ayahku ada ruangan khusus untuk kolam berbatu. Ayo berendam di sana! Nanti akan kuminta para pelayan untuk mengisinya dengan air hangat—” “Aku mengajakmu buang air besar berdua, Yexian, bukan mandi di kolam,” potong Kikyo. Yexian kemudian merengek. “Hnngggg, ayolahhh, Kikyooooo. Mumpung kau agak senggang hari iniiii! Kapan lagi kita punya waktu bersama? Kau akan berangkat ke Seiju satu bulan lagiii!” “Masih ada waktu sekitar empat puluh hari lagi, Yexian,” koreksi Kikyo. “Lagi pula, bukankah kita sudah bersama sepanjang hari?! Kau selalu ada di setiap kelasku!!” “Hehehe…” Yexian cengar-cengir. Waduh, Kikyo benar-benar sudah memberi pengaruh yang buruk untuk Yexian. “Ayolaaah, hmmm?” Yexian menatap Kikyo dengan tatapan memohon, dia terlihat seperti anak anjing yang sedang memasang ekspresi imut—dia mewek sedikit—agar Kikyo segera menyetujuinya. Kikyo akhirnya menghela napas. “Ya sudah.” “Horeee!” Yexian bersorak, lalu menghambur ke pelukan Kikyo. Dia segera mendekap Kikyo erat-erat dan tersenyum bahagia. Mata Kikyo kontan membulat karena kaget, tetapi akhirnya dia membalas pelukan Yexian dan ikut tersenyum. Rasanya seperti memiliki saudara perempuan dadakan. Saudara perempuan yang sikapnya manis sekali, keterbalikan dari Kikyo sendiri. Saat pelukan itu terlepas, Yexian pun memegang tangan Kikyo dan kembali menghadap ke depan. Dia terlihat bahagia untuk sesaat, tetapi sekitar enam detik kemudian, tatapan matanya—yang sedang memandangi air mancur itu—tiba-tiba berubah menjadi sendu. Senyuman di wajahnya masih tersisa, tetapi tatapan matanya tampak sedih. Dia melihat ke depan, tetapi sebetulnya tidak benar-benar melihat ke sana. Tatapannya menerawang. Kikyo memperhatikan Yexian dengan saksama. Apa yang sedang Yexian pikirkan? Setelah beberapa saat terdiam, Yexian pun mulai bersuara. “Kau tahu, Kikyo?” katanya. “Melihatmu belajar dengan sungguh-sungguh…membuatku jadi menyadari kebodohanku sendiri.” Kikyo menyatukan alisnya. “Maksudmu?” Yexian tertawa pelan, lalu menghela napas. Rambutnya sedikit tertiup angin sore yang sepoi-sepoi; dia terlihat begitu indah. “Aku…selalu beranggapan bahwa aku sudah berusaha keras. Aku sudah mencoba untuk berperilaku layaknya gadis bangsawan, mencoba untuk ikut ke berbagai perkumpulan gadis bangsawan dan juga…selalu menjaga sikapku. Namun, aku tetap tidak cocok bergaul dengan gadis-gadis itu. Aku selalu menyalahkan mereka karena kupikir…pasti merekalah yang salah. Pasti merekalah yang terlalu berlebihan. Terlalu tinggi hati, terlalu menjaga citra mereka, dan sebagainya. Soalnya, kupikir perilakuku sudah oke. Usahaku sudah besar. Kupikir, aku tidak salah.” Yexian tersenyum. Kikyo masih mendengarkannya dengan setia. “Akhirnya, karena aku menganggap bahwa dunia luar itu tidak cocok untukku, aku pun selalu berada di rumah. Ayah akhirnya membiarkanku melakukan itu. Kini, aku baru sadar bahwa akulah yang salah. Aku terlalu cepat puas, aku terlalu lemah. Seharusnya aku bisa membawa diriku di mana pun aku berada. Seharusnya aku bisa menyesuaikan diriku di mana pun, bagaimana aku harus bersikap, dan sebagainya. Bukan mereka yang berlebihan, melainkan akulah yang tidak tahu apa-apa. Kalau aku mampu mengatasi semuanya, pasti…Ayahku akan lebih bisa mengandalkanku.” “Yexia—” “Melihatmu berusaha seperti itu, Kikyo,” potong Yexian, gadis itu menoleh kepada Kikyo seraya tersenyum. “membuatku sadar bahwa aku harus lebih berusaha meskipun aku tak ingin. Aku harus menghadapi segalanya meskipun aku tak menyukainya. Dengan begitu, akan banyak ilmu dan pengalaman yang kudapatkan. Sama sepertimu.” Kikyo melihat kedua mata Yexian yang berwarna hijau terang, seperti sebuah permata yang begitu indah. Seperti jade; warnanya begitu cantik. Rambutnya juga masih beterbangan karena tertiup angin. Namun, sama seperti Kikyo yang sedang mengagumi keindahan Yexian, Yexian pun mulai menatap Kikyo dengan kagum. Matanya perlahan-lahan melebar, berbinar…lalu memandang ke sekeliling wajah Kikyo. Ke rambut Kikyo yang berwarna hitam pekat, ke kedua mata Kikyo, lalu ke leher Kikyo yang jenjang. Dia menatap Kikyo dengan takjub, tanpa berkedip. Mulutnya sedikit terbuka. “Kikyo…” panggil Yexian pelan. “Kau…cantik sekali.” Mata Kikyo membeliak. Gadis itu lantas menggeleng, tidak mengerti sama sekali. “Yexian, apa maksud—” “Meskipun kau tomboi, kau sangat cantik,” puji Yexian. “Rambutmu panjang dan berwarna hitam pekat. Kulitmu putih dan bersinar. Matamu berwarna gelap dan sangat jernih, hampir sama seperti rambutmu. Kau mengingatkanku dengan…rembulan.” Rembulan…? Tercipta sebuah kerutan tipis di dahi Kikyo, tetapi sebelum Kikyo sempat membalas apa pun, Yexian kembali berbicara. “Bulan akan bersinar di kegelapan malam. Kau…terlihat seperti bulan. Apabila pada pertemuan pertama kita…aku melihatmu sedang mandi di sebuah sungai yang jernih di bawah sinar bulan, mungkin aku akan mengira bahwa kau adalah seorang dewi. Dewi Bulan.” Mata Kikyo melebar. Apa...yang sedang Yexian bicarakan? Mengapa dari kata-katanya…Kikyo terdengar seperti…seorang gadis yang sangat cantik? Lagi pula, Kikyo? Dibandingkan dengan Dewi Bulan? Terdengar seperti delusi. Kano mungkin akan muntah kalau mendengar ini. Yexian pasti perlu memakai kacamata. Ya, dia perlu sebuah kacamata. Kikyo pernah melihat beberapa kacamata bagus yang dijual saat festival kota beberapa bulan yang lalu. Seharusnya Yexian membeli salah satu kacamata itu. “Ha?” ujar Kikyo seraya memasang ekspresi datar. “Mana mau Dewi Bulan disamakan dengan kuli bangunan sepertiku.” Yexian tertawa. “Aku serius, lho!” “Oh, begitu…” Kikyo mengangguk, pura-pura menanggapi Yexian dengan serius. “Gawat, ayo kita pergi ke tabib. Tuan Jiooon! Mata anak gadis Anda sepertinya bermasalah!” Yexian spontan semakin tertawa. Dia langsung merangkul Kikyo, lalu mereka tertawa bersama di taman itu. Mereka tidak tahu bahwa Tuan Jion baru saja lewat di koridor yang ada di belakang mereka dan memutuskan untuk berhenti sebentar. Tuan Jion memperhatikan mereka berdua seraya tersenyum. Pembicaraan itu ia dengar dengan jelas; ia jadi tertawa kecil akibat teriakan Kikyo. Di dalam hatinya, ia benar-benar berterima kasih kepada Kikyo. Yexian terlihat sangat ceria semenjak ada Kikyo di rumah mereka. Namun, bagaimana kalau nanti Kikyo sudah pergi? Apa yang akan terjadi pada Yexian? Semoga semuanya baik-baik saja. Semoga…Kikyo juga bisa menjalankan tugasnya di Kerajaan Seiju dengan baik sehingga suatu saat nanti ia bisa bertemu dengan Yexian lagi. []
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN